12. Pria itu sepupunya

1079 Kata
Sebenarnya untuk tinggal dirumah super mewah ini. Aiko memiliki kesulitan ketika hendak mencari kamar tidur untuk dirinya. Karena dia cuma bertanya kamar, Leo. Tapi tidak dengan kamarnya. Sekarang sudah sangat larut dan Aiko masih saja kelimpungan mencari kamar tidur. Rumah mewah ini terlihat sepi ketika malam semakin larut. Saat berjalan menelusuri rumah ini, ada hawa dingin dan aneh yang menyeruak. Aiko jadi parno sendiri, tapi dengan segera dia menepis semua pikiran tersebut dan lanjut berjalan. Melihat semua ukiran mewah yang terpahat di dinding rumah itu. "Pak Leo suka yang klasik-klasik, ukiran sulur China gini ternyata." Ujar Aiko setelah menyentuh sulur tersebut. Blam! Lampu tiba-tiba mati, Aiko mematung ditempat. Wanita itu mengambil ponsel dari saku blazernya. Menyalakan senter dan berjalan kembali ke kamar, Leo. Lebih baik tidur dikamar Leo, toh juga orangnya gak mungkin macam-macam. Ceklek! Aiko membuka pintu bercat putih itu perlahan. Dia tidak ingin terlalu menimbulkan suara, yang mungkin saja menganggu Leo, membuat pria itu terbangun dan Aiko harus repot lagi. Aiko menatap sofa single panjang. Sepertinya pilihannya untuk tidur jatuh pada sofa tersebut. Aiko berusaha memejamkan mata, berharap pagi segera datang menjemputnya. Keesokan paginya, Aiko terbangun karena sinar matahari yang mulai naik dan menyilaukan. Aiko cukup terkejut, ketika dia melihat arloji ditangannya, menunjukan pukul 7 pagi. Kalau Aiko masih dirumah, mungkin saja mamanya sudah mengomel habis-habisan. Aiko bangkit dan terduduk sejenak. Membiarkan nyawa dalam tubuhnya menyatu dengan raga. Jemarinya mengusap kotoran yang ada disudut mata. Setelah itu, Aiko bangkit dan melihat Leo masih nyenyak tidur mengenakan Jasnya semalam. Aiko mematung ditempat, yang ada dipikirannya sekarang, Bagaimana Aiko akan mengatakan pada sekretaris Leo kalau Leo tidak masuk kerja hari ini? Tidak mungkin Aiko membawa Leo ke kantor dalam keadaan sakit seperti ini. Membayangkan Leo yang akan terus menempel padanya, lalu menjadi bahan perbincangan kantor, sudah cukup membuat Aiko bergidik ngeri. "Tidak." Ujar Aiko lalu melangkah pelan keluar dari kamar. Baru saja keluar dari kamar, Aiko sudah mendengar suara bising yang diciptakan dibawah sana. Hatinya mendadak was-was dan takut maling tiba-tiba masuk kedalam rumah ini. Aiko berlari untuk melihat sumber kebisingan tersebut. Ketika melihat siapa yang ada disana, Aiko bernafas lega. "Selamat pagi, nona." Sapa wanita paruh baya dengan atasan kemeja putih dan rok span selutut berwarna hitam. Dengan canggung, Aiko menyapa balik dengan senyum kakunya. Dia hendak balik ke tempat untuk membangunkan, Leo. Tapi suara wanita paruh baya itu sudah lebih dulu memanggilnya. "Nona, anda ingin sarapan apa?" Aiko berbalik, lalu menggeleng pelan, "Tidak usah repot-repot, saya akan kembali kerumah sebentar lagi." Wanita itu tersenyum. "Tinggalah sebentar, tidak usah sungkan. Terimakasih sudah mau membantu tuan muda Leo." Aiko terheran mendengar ucapan wanita paruh baya ini. Sepertinya, dia sudah sangat dekat dengan Leo. "Sama-sama, itu sudah tugas saya membantu." Balas Aiko. "Nona harus ikut sarapan, ini memang sudah menjadi tugas saya." Aiko tampak berpikir, "Baiklah, buatkan saya apa yang Pak Leo makan saja." Setelah mengatakannya, Aiko segera pamit untuk membangunkan Leo. Dia berjalan dengan sangat cepat untuk sampai didalam kamar, Leo. "Pak bangun." Ujar Aiko begitu mendekat dan melihat Leo yang masih tertidur pulas diatas ranjang. "PAK LEO BANGUN!" Aiko sengaja berteriak agar lelaki itu bangun. Namun dia tidak mendapat respon apapun. Demi apapun! Leo tidur sudah seperti orang mati. "Astaga, gimana cara gue, buat bangunin dia sih?" Tukasnya kesal. "Pak." Plak! Plak! Karena tepukan kencang tangan Aiko pada lengan Leo, pria itu akhirnya terbangun dan mengerjabkan pelan matanya. Bibirnya menekuk dan menatap Aiko dengan tatapan kesal. "Kamu kok jahat?" Ujarnya Leo manyun. Aiko geli sendiri, "Bangun pak, udah pagi. Bapak gak masuk kantor hari ini udah saya izin ke Mas Deka." Leo mendekat, "Sun!" "Hah?" Aiko mengernyit kebingungan. Chup! "Selamat pagi." Aiko menegang, memegangi bibirnya yang kembali ternoda oleh Leo. Ini sudah yang ketiga kalinya bibir mereka bersentuhan. *** Aiko kira, hal yang paling menjengkelkan di dunia ini, adalah ketika kakakmu lebih baik darimu. Tapi ternyata dia salah, karena salah satu faktor yang membuatnya menahan kesal, tidak lain sikap Leo yang kekanakan dan sangat manja. Aiko tahu kalau Leo begini juga karena penyakit anehnya. Tapi, Aiko benar-benar risih. Dia hanya ingin pulang sebentar untuk mengganti pakaian dan mandi. Lihat! Leo bahkan tidak membiarkannya beranjak barang sedetik pun. "Pak, bisa lepas gak?" Tanya Aiko. Leo menggeleng dengan wajah lugunya dan masih memeluk Aiko, sembari bermain game di iPad miliknya. "Pak saya harus pulang." "Gak boleh!" Leo melepaskan pelukannya dan berselekap d**a. Mengamati wajah lusuh Aiko karena belum mandi dan berganti pakaian sama sekali. Tanyakan saja, siapa penyebab dirinya menjadi seperti ini. "Jangan tinggalin Kenzo." Pintanya yang tiba-tiba sudah berubah ekspresi. Matanya berbinar dengan bibir menekuk karena sedih. Lihat, bagaimana menggemaskannya atasan yang selalu membuat Aiko tengsin. "Kenzo gak berani sendiri." Tambahnya dengan lirih, memainkan jemari yang menaut ditangannya. "Kan ada Bu Asri yang jagain." Balas Aiko, melirik kearah wanita paruh baya yang baru saja diketahui namanya. "Nggak mau! Bu Asri gak bisa dipeluk. Nanti Kenzo mau peluk siapa kalau bukan, Aiko." Suaranya bahkan berubah imut. Katakan pada Aiko, PENYAKIT APA YANG SEBENARNYA MEMBUAT ATASAN SUPER MENJENGKELKANNYA INI BERUBAH?! "Tapi Saya harus pulang mandi pak." "Tidak apa-apa nona, saya akan menyiapkan pakaian anda. Anda tinggalah disini untuk menemani tuam muda." Sahut Bu Asri. Padahal bukan ucapan itu yang ingin Aiko dengar dari wanita itu. Ketika dirinya menatap Leo yang tertunduk lesu, akhirnya Aiko menyerah. "Oke, saya gak akan pergi." Leo mendongak dengan wajah berbinar, senyum merekah dan dia langsung memeluk Aiko dengan kencang, membuat wanita itu kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh diatas sofa. Bukannya bangkit lagi, Leo malah keenakan memeluknya diatas sofa. Hal itu membuat Aiko jadi risih dan berusaha bangkit, beruntung Leo kurus dan mudah didorong. Ting tong! Bell pintu rumah berbunyi, hal itu membuat Aiko terkejut bukan main, dengan segera ia menjauh dari Leo. Apalagi ketika seorang pria masuk dan tampak terkejut melihat Leo memeluk, Aiko. "K-kalian? APA YANG KALIAN LAKUKAN?" Ujarnya heboh. Pria yang tampak familiar dimata Aiko, mendadak heboh dan terkejut. Hal itu lantas mengundang tanda tanya didalam benak Aiko. "Apa yang terjadi pada sepupuku?!" "S-sepupu?" Aiko mengulang, pria itu mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Alen!" Seru Leo dengan wajah berbinar dan senyum mengembang. Hal yang membuat Aiko menganga lebar sekarang adalah, Leo yang tiba-tiba loncat ditempat dan berlari memeluk Pria bernama Alen. "Alen, Kenzo rindu Alen!" Alen melotot terkejut, "Habislah! Dia kumat lagi." ### Chalenge! Aku bakalan bikin fyp t****k book ini kalau sudah sampai 100 love wkwkwk Jangan Lupa Love dan Komentarnya ya! Kalian gak tau betapa berharganya sebuah komentar membangun untuk author??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN