"Jadi anda itu sepupunya, Pak Leo?"
Pria itu mengangguk, lalu menoleh kearah sang sepupu yang sekarang mengajaknya bermain tanpa henti. Padahal, Alen sudah berusaha lepas dari Leo. Kebetulan ada Aiko yang membantunya mengurus sepupu, yang kalau kumat, berulah kaya gini.
"Memangnya, kamu kira saya ini siapanya dia? Bukannya kita sudah pernah bertemu sebelumnya di kantor?" Tanya Alen pada Aiko, wanita itu terlihat gugup ketika Alen mengajaknya mengobrol.
"Kamu santai saja, saya tidak akan menerkam kamu seperti dia." Ujarnya dengan santai, hal itu malah membuat Aiko terkejut bukan main.
"Alen, mainnya yang serius dong!" Protes Leo, ketika Alen tak memainkan perannya dengan benar. Lihat, bagaimana pria seperti Leo bersikap seperti anak kecil. Salah satu keajaiban yang paling langka.
Aiko hendak tertawa melihat kedua pria yang bermain permainan Lego. Aiko bahkan tercengang melihat banyaknya Lego yang berserakan di lantai karena ulah, Leo.
"Iya ini main, lagian mana ada sih main-main yang serius, namanya juga main!" Tukas Alen, yang hanya dibalas dengusan oleh Leo.
Melihat keduanya yang tampak asik, dan Aiko hanya diam seperti ibu yang sedang mengawasi anaknya bermain. Membuat Aiko memilih untuk pamit pulang. Dia tidak benar-benar menyetujui saran Bu Asri, mau bagaimanapun Aiko harus segera pulang jika tidak ingin dicari oleh sang mama.
Baru saja bangkit sebentar, mata elang itu sudah berhasil menangkap mangsanya, "Mau kemana?" Aiko berbalik dan menatap Leo.
"Mau pulang." Jawabnya polos.
"Gak boleh! Sayangnya aku gak boleh pergi." Tukas Leo, melepaskan puing mainan Lego nya, lalu melipat tangannya di d**a.
Alen melongo tak percaya mendengar ucapan, Leo. "Bocah sok-sokan main sayang-sayangan." celetuk Alen.
"Diam kamu!"
"Aduh, saya harus pulang pak. Nanti mama saya nyariin. Saya gak mau denger dia ngomel-ngomel, cukup bapak yang bikin kepala saya pusing." Alen hendak tertawa mendengar ucapan Aiko.
Leo bangkit dan segera berhambur memeluk, Aiko. Gilanya, Leo memeluk Aiko tepat didepan Alen. Pria itu bahkan berdehem dengan senyum menggoda.
"Modusnya lancar ya."
"Pak Alen, bantuin saya dong. Dia meluk saya terus dari kemarin." Ujar Aiko, meminta bantuan pada Alen.
Pria itu mengendikan bahunya acuh, "Sayangnya, saya cuma bisa bilang. Kamu yang sabar ya." Setelahnya Alen tertawa kecil melihat ekspresi Aiko yang memelas karena Leo tidak mau melepaskan pelukannya.
"Bisa mati kaku saya kalau dipeluk terus, pak main sama sepupunya lagi ya. Saya gak akan pergi kok." Setelah mengucapkan hal itu, barulah Leo percaya dan melepaskan pelukannya lalu bermain bersama dengan Alen.
Lebih tepatnya menarik Alen untuk kembali bermain bersamanya. Aiko tersenyum penuh kemenangan melihat raut wajah pasrah, Alen.
Pada umumnya Leo memang berubah menjadi salah satu sisi lain dirinya yaitu, Kenzo. Dia mudah merengek, manja, bersikap kekanakan, penuh cinta dan kasih sayang, dan jangan lupa dia sangat posesif! Dia akan bersikap seperti anak kecil dan suami idaman disaat yang bersamaan. Itulah sisi Kenzo yang baru Aiko pahami sekarang.
Sementara sisi satunya, Aiko belum terlalu memahami karena mereka tidak sedekat Aiko bersama dengan sisi lain Leo, yang bernama Kenzo.
Setelah lelah bermain, Leo akan tidur siang di kamarnya. Setidaknya Aiko harus membacakannya sebuah buku cerita berjudul "Hansel and Gretel" sebelum Leo benar-benar terlelap.
"Bagaiman menurutmu?"
Aiko terkejut saat membuka pintu kamar dan menemukan Alen yang berdiri didepannya, sembari melipat tangannya di d**a.
"Maksud anda?"
"Dia sangat menyebalkan ketika kumat, dan aku ingin kamu tidak memanfaatkan hal ini untuk memeras dan mengancamnya." Ujar Alen pedas.
Aiko memutar bolamatanya jengah, pria ini ternyata lebih nyinyir dari yang dia duga. Tidak disangka dia punya berbagai macam ekspresi.
"Menurut anda, saya orang yang akan melakukan hal itu?"
Alen mengendikan bahunya, "Tentu, aku tidak mungkin tahu secepat ini kan?" Aiko menghela nafas berat.
"Terserah anda, saya ingin pulang saat ini juga."
Alen hendak bersuara namun segera dipotong terlebih dahulu dengan suara, Aiko.
"Jangan katakan apapun atau meminta saya untuk tetap tinggal sampai dia bangun. Karena ada anda disini untuk menemaninya, Sejujurnya saya ingin pulang untuk istirahat, dia sangat merepotkan!" Tukas Aiko lebih tajam dan pedas dari sebelum pergi dari sana.
Alen sampai melongo tak percaya mendengar ucapan Aiko yang lebih tajam.
***
Aiko sampai dirumah dengan sebuah tatapan penuh selidik. Mamanya melihat pakaian Aiko yang kusut dan juga rambutnya yang tak rapi.
Untungnya tidak ada Kakaknya yang menyebalkan itu disini. Kalau ada Erika, Aiko mungkin sudah kabur ke kamar lebih dulu daripada harus menahan malu diomelin mama didepannya.
"Jujur sama mama, kamu habis dari mana dan ngapain?" Tanya Mamanya itu, sorot mata dingin tidak lepas dari pandangannya.
Aiko menghela nafas, "Baru pulang diomelin, mama ngajak ribut." Gumamnya kesal. Hal itu tentu tertangkap radar pendengaran mamanya.
"Nah, ngelawan kamu ya!"
Aiko berdecak sebal, "Gak ngelawan ma, aku kan gak nyerang mama pake jurus seribu bayangan." Bantahnya.
Mama menggeleng dengan mata memicing, tangannya bahkan berkacak pinggang. Posisinya Mama berdiri sementara Aiko duduk.
"Kamu kalau dibilangin orang tua, suka nyahut terus. Gak capek apa durhaka sama mama? Gak kasihan sama malaikat yang nyatet dosa kamu." Aiko cemberut dan bersandar pada sofa yang ada dibelakangnya.
"Iya kasihan capek, makanya kalau ada kesempatan aku mau pecat dia."
"Heh! Sembarangan kamu kalau bicara. Gini nih, yang mama gak suka dari kamu. Coba kaya kakak kamu tuh, yang kalau dikasi tahu itu denger gak usah melawan." Ujar Mamanya panjang lebar.
Aiko sudah menduga, pasti mamanya akan memuja-muja sang kakak sialannya. Mamanya gak tahu aja, kalau Erika dulu pas SMA pernah nyoba minum alkohol. Sayang aja, karena posisinya Aiko disini adik yang baik, dia gak berani bikin Mamanya mendadak jantungan.
"Ma, Aiko mau mandi sama ganti baju. Ngomelnya bisa ditunda sebentar kan?"
Mama terdiam, hingga saat Aiko masuk kedalam kamar. Barulah teriakan lengking itu terdengar. Aiko yang sudah berada di kamar mandi saja sampai bergidik ngeri karena mendengarnya.
"Mama serem juga ya kalau teriak. Gak kebayang kalau dia tahu, gue nginep di rumah pak bos. Bisa-bisa dibabat habis gue sama dia." Ujarnya bergidik.
Aiko memilih untuk berbaring dan hendak memejamkan matanya. Tidur setelah mandi adalah hal paling nikmat yang pernah dia rasakan.
Drrt...
Wanita itu harus kembali membuka mata setelah mendengar suara ponsel yang bergetar diatas nakas. Ini memang pukul 11 siang, tapi Aiko ingin istirahat sebentar saja, Apa tidak boleh?
Setelah melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, Aiko mengernyit pelan karena tidak terdaftar pada kontak handphonenya.
"Siapa nih?"
Aiko takut telepon itu penting, akhirnya dia menggeser tombol berwarna hijau dan seperti yang dia duga, hal itu memang penting.
"AIKO GAWAT! ATASANMU NGAMUK!"
Aiko terkejut bukan main dan segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya kalau tidak ingin budeg sejak dini Astaga! Apalagi sekarang?
###
Kalau ada apa-apa kalian boleh dm aja ke ig aku yak wkwk
Instagram : @im_yourput