“Nirmala…” biasnya tanpa berpikir panjang saat mendengar panggilan bibiku itu aku akan segera menghampirinya, namun kini sebaliknya. Aku begitu takut menemuinya dan melihat wajahnya. “Nirmala….” panggil bibiku untuk kedua kalinya. Kali aku tak bisa mengabaikannya lagi walau aku ingin melakukan itu. Aku harus keluar dan bergabung bersama bibi, paman dan Ryuzaki. Sedari tadi aku sudah membiarkan Ryuzaki berperang sendiri, kini aku harus membantunya walau mungkin aku tak akan bisa. “Sini duduk…” ucap bibiku saat melihatku sudah menghampirinya. Mengikuti perintah bibi, aku duduk di gazebo didekat pamanku. Ryuzki tersenyum padaku, wajahnya terlihat biasa saja padahal kuyakin dia mungkin baru saja melewati badai. “Jadi begini, Mal. Paman, bibi dan Ryuzaki sudah berbicara. Paman tidak tahu

