PART 32 - ISI HATI & MASA LALU

1924 Kata
“Dia orang yang special untuk saya.” aku menoleh kearah Ryuzki lagi. Dia menatapku dan memberikan senyumnya padaku. Andai dia tahu kalau setiap kata yang keluar dari bibirnya begitu mempengaruhi hati dan pikirkanku. “Dia sangat spesial.” tambah Ryuzaki dengan tatapan yang terkunci padaku. Aku mencoba mencari kebenaran dari tatapannya, apakah pria dihadapanku ini sedang berpura-pura atau mengatakan kebenaran, apakah dia mengarang ucapannya atau itu memang berasal dari hatinya. Aku tak tahu, aku yakin, aku tak percaya. “Saya ingin bisa terus bersamanya, menjaganya dan melindunginya.” duniaku terasa berputar dan berpindah ketempat yang begitu sunyi saat medengar ucapan Ryuzaki. Aku seakan tak bisa mendengar apapun lagi selain suara dari bibirnya, keramaian disekelilingku seakan hilang menyisakan kami berdua. Aku terhipnotis masuk dalam ucapannya. “Wow, bro, kamu gak pernah begini sebelumnya. Kurasa aku akan menerima undangan dari kalian tak lama lagi.” ucapan teman Ryuzaki itu menyadarkanku akan lembaian perasaanku, menyadarkanku akan dunia sebenarnya. “Hahaha… Saya harus memastika itu dulu ya.” tawa Ryuzaki cukup keras hingga membuat beberapa tamu melihat kearah meja kami. “Oh ya, kita belum berkenalan. Namaku Hendra.” Aku berdiri untuk menyambut Hendra yang berdiri dan mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri padaku. “Namaku Nirmala.” balasku. Aku menatap Hendra yang berbicara tanpa logat Bali. Aku pikir dia mungkin bukan orang asli sini. “Aku temannya Ryuzaki, dulu kami berkenalan saat aku kuliah di Jepang.” ucap Hendra. “Aku tidak menduga ternyata kapal yang dibawa Ryuzaki bisa berlabuh juga didermaga, karena dulu aku selalu berpikir bahwa pria sepertinya tak akan bisa bertahan pada satu tempat.” Hendra mengucapakn kalimatnya sambil menunju lengan Ryuzaki. “Hai, saya tidak separah itu ya.” Protes Ryuzaki dengan nada bercanda. “Ayolah, semua orang yang mengenalmu tahu kamu itu separah apa.hahaha.” aku hanya menatap kedua pria itu, mereka tertawa dengan gembiranya membahas sesuatu tentang Ryuzaki yang aku masih tidak pahami. “Oh, jadi Ryuzaki punya kapal?” tanyaku pada Hendra, penasaran. “Aku tidak tahu soal itu, setahuku tidak ya memangnya kenapa?” Hendra nampak bingung dengan ucapanku. “Tadi dibilang kalau kapal milik Ryuzaki sudah bisa berlabuh didermagakan.” jawabku . “Hahahahah….”tawa Hendra sangat keras diikuti Ryuzaki. “haha, bukan kapal itu maksudku, kapal yang lain.”ucapnya. Aku hanya menggangguk-angguk mendengar ucapan Hendra sambil berpikir kapal seperti apa yang dimaksud teman Ryuzaki ini. “Bro, aku paham sekarang kenapa kamu bisa jatuh hati dengannya. Curang kau ya, bagi satulah aku yang seperti ini!.” tinjuan pelan dilayangkan kembali oleh Hendra kelengan Ryuzaki untuk kedua kalinya. Mendengar ucapannya kali ini, aku mulai menyadari kalau Hendra pasti ada sarah bataknya, karena logatnya yang terdengar jelas. “Ini semua tergantung faktor keberuntungan ya.” ucap Ryuzaki dengan santai. Ia diam sebentar untuk menyesap minuman digelasnya lalu melanjutkan kalimatnya. “… dan kamu kurang beruntungnkan untuk hal seperti ini.” “Hahaha, kurang ajar kau.” mereka berdua tertawa lagi bersama-sama. “By the way, sudah berapa lama kalian saling kenal?” Hendra ikut menyesap minuman digelasnya dan bertanya lagi tentang hubunganku dengan Ryuzaki. Sepertinya dia cukup tertarik perihal kami. “Baru ya, kurang dari 2 bulan saya rasa.” Ryuzaki lagi-lagi menatapku saat menjawab pertanyaan Hendra padahal orang yang bertanya ada disebelahnya. “Oh, baru ya. Artinya Nirmala hebat bisa taklukan kamu dalam waktu sesingkat ini.” ucap Hendra. “Aku? hebat? Aku tidak pernah taklukan siapa-siapa ya." sautku pada ucapan Hendra. “Hahahah, kamu polos sekali Nirmala. Maksudku bagaimana ya jelaskannya… Begini, ehm… kamu sudah bisa rebut hatinya Ryuzaki dalam waktu singkat, begitu kurang lebih.” ucap Hendra lagi. Aku menatap pria yang sangat ramah dan bersahabat ini.”Memangnya aku sudah rebut hatinya?” tanyaku. Hendra mengucapkan kata-kata yang masih tak kumengerti. Aku tahu Ryuzaki sangat baik padaku, namun jelas itu hanya sebagai teman tidak lebih. “Kenapa malah tanya balik padaku, Nirmala? Kamu yang alami kan.” ujar Hendra. Ia tiba-tiba melirik jam ditangannya  lalu bangkit berdiri. “Wuah, aku harus pergi ini. Next time, kita luangkan waktu lebih lama untuk berbicara ya.” Hendra melemparkan pandangannya padaku dan Ryuzaki lalu menyentuh pundak temannya itu. “Bro, aku balik dulu ya. Jaga dia baik-baik, rugi kau kalau kehilangan dia.” ucap Hendra. “Sampai jumpa Nirmala.” Hendra tidak lupa untuk untuk berpamitan padaku juga. Aku tak menyangka ternyata dia sangat baik padaku yang jelas sangat berbeda level dengannya. Dia pasti orang dari kalangan atas, itu semua terlihat jelas dari pakaian yang ia gunakan dan ceritanya tadi tentang kuliah di Jepang, namun caranya memperlakukan sangat baik, berbeda dangan perlakuan mbak Cynthia padaku. “Dia sangat baik.” aku memastikan Hendra sudah menghilang dari pandangan kami lalu mulai berbicara dengan Ryuzaki. “Iya, dia sangat baik ya. Dia banyak melakuan kegiatan sosial juga.” ujar Ryuzaki. “Oh ya? keren dong." aku sungguh tidak menyangka kalau pria semudanya sangat peduli pada kegiatan-kegiatan sosial seperti itu. "Ehm... Ryuzaki. boleh saya tanyakan sesuatu?” aku pikir ini waktu yang tepat untuk menanyakan arti ucapan Ryuzaki pada temannya tadi. Jemariku menggenggam ujung gaunku, membantuku memberi sedikit kebranian untuk menanyakan hal ini. “Iya tentu, mau tanya apa?” Ryuzaki membalikan badannya sedikit, hingga kami bisa bertatapan. “Ehm… kenapa kamu mengatakan kepadanya kalau aku orang yang spesial untukmu?” entah datang darimana keberanian ini hingga aku bisa menanyakan hal ini begitu lancarnya tanpa ragu sedikitpun. “Karena kamu memang orang yang spesial untuk saya ya.” jawab Ryuzaki dengan cepat tanpa berpikir dua kali dalam mengucapkan kalimatnya itu. Terlihat jelas kalau ia sangat yakin dengan ucapannya. “Maksudnya spesial seperti apa? Kita hanya bertemankan.”aku butuh jawaban yang lebih jelas akan maksud ucapannya. “Mungkin kita baru saling kenal, namun saya tahu Nirmala bukanlah tipe wanita yang memikirkan tentang hubungan kepada lawan jenis saat ini. Jika suatu saat nanti Nirmala sudah memikirkan hal itu, saya ingin Nirmala memikirkan saya untuk bisa berada disisi Nirmala, karena saya ingin Nirmala menjadi bagian dalam hidup saya, saya ingin bisa menjaga dan memberi kebahagian untuk Nirmala. Seperti itu spesial yang saya maksudkan.” Ryuzaki menyentuh kedua tanganku. Aku merasakan tangannya sedikit berkeringat padahal udara malam ini terasa cukup dingin, apalagi kami sedang berada di luar ruangan, jadi dapat merasakan angin yang cukup kencang karena hotel tempat kami berpesta saat ini berada didekat pantai. “Mengapa Aku? Bukankah banyak wanita yang lebih baik dan lebih cantik dariku?” aku menahan gejolak perasaanku saat ini. Perasaan penuh kebahagian yang entah darimana timbul seketika, namun kucoba untuk tak menampilkannya. Aku takut ini semua hanya cara Ryuzaki untuk mempermainkanku seperti kata kak Andi tentangnya. “Mungkin ini terdengar tak masuk akal untuk Nirmala, namun kalau saya boleh jujur, saya merasa sangat jatuh hati padamu sejak melihatmu menolong anak-anak sekolah itu dijalanan. Saya melihat semuanya, bagaimana kamu berani mengorbankan dirimu untuk menyelamtakan orang lain. Tidak semua orang bisa melakukan itu.” “Hanya karena itu?” aku sedikit tak percaya dengan ucapan Ryuzaki. Aku sadar, Ryuzaki memang mulai perhatian padaku sejak aku berada dirumah sakit, namun rasanya tidak mungkin ia jadi menyukaiku karena hal itu. Aku yakin banyak orang yang melihat kejadian itu, namun tidak ada yang seperti Ryuzak, yang jadi jatuh hati padaku karena itu semua. Ryuzaki menatapku lebih dalam, genggaman tangannya terasa semakin erat. “Saya punya kakak perempuan yang usianya limat tahun diatas saya. Ia meninggal saat saya masih muda, sangat muda masih SD.” Mata Ryuaki mulai berkaca-kaca, ada kesedihan yang tempak jelas disana. Ia menarik nafasnya dalam lalu melanjutkan ceritanya. “Ia meninggal karea menyelamatkan saya yang hampir tertabrak saat menyebrang jalan. Saya yang salah karena menyebrang tidak pada tempatnya, namun kakak sayalah yang menerima akibatnya. Saat melihatmu menyelamatkan anak-anak itu, saya merasa seperti melihat kakak saya. Saya jadi ingin menjagamu, melindungimu, membahagiakanmu dan terus bersamamu.” Aku mungkin tidak berkedip saat mendengar cerita Ryuzaki. Aku membayangankan  bagaimana sosok Ryuzaki kecil harus melihat kakaknya meninggal karenanya. Pasti ada luka, rasa sedih yang dalam, serta rasa bersalah yang mungkin belum sembuh hingga hari ini. “Maafkan saya karena harus mengatakan semua ini.” Ryuzaki melepaskan gengaman tangannya lalu mengusap wajahnya. Ia jelas mencoba menghilangkan rasa sedih yang sudah menguasai dirinya. “Gak apa-apa. Terima kasih sudah menceritakan hal itu. Aku yakin pasti sangat sulit untuk mengijinkan dirimu mengingat itu semua.” reflek tangan kananku mengusap bahu Ryuzaki. Aku begitu sedih melihatnya, rasanya aku seperti melihat pria lain dihadapanku, bukan Ryuzaki yang selalu terlihat santai dan begitu percaya diri namun sosok yang begitu rapuh dan membutuhkan pelukan dan dukungan. *** Sepanjang perjalanan pulang, tak banyak yang aku dan Ryuzaki bicarakan terutama setelah ia mengatakan isi hatinya dan menceritakan masa lalunya. Ia lebih banyak diam dan hanya sesekali berbicara padaku, dia bahkan lebih banyak melamun, sangat berbeda dengan sebelumnya. Aku merasa bersalah dengan semua ini, kalau aku tidak bertanya mungkin dia tidak harus mengingat masa lalunya itu. “Karenamu aku bisa makan-makanan enak malam ini.” aku pikir, aku harus mencairkan suasana antara kami berdua, sangat tidak nyaman berada didalam mobil dengan keadaan saling diam seperti saat ini. “…dan yang paling kusuka, karena semua itu gratis.” tambahku. Aku melihat wajah Ryuzaki, menanti responnya akan ucapanku. Aku cukup senang saat melihat senyumannya yang mengembang lagi. “Saya akan sering-sering ajak kamu pergi ketempat seperti ini ya.” ujar Ryuzaki dengan nada suara yang sudah terdengar santai seperti biasanya. “Oke, janji ya. Lain kali aku akan berpuasa dulu seharian agar bisa makan lebih banyak lagi.” balasku sambil mengusap perutku yang sudah membesar ini. Gaun yang kugunakan terasa snagat ketat sekali ditubuhku. “Hahaha, jadi saya harus kasi kabar sehari sebelumnya ya, jadi kamu punya waktu untuk berpuasa.” Perasaanku begitu bahagian hanya dengan mendengar pria disebalahku ini tertawa. Rasanya hilang sudah bebanku. “Iya, harus ya. Lain kali tolong infokanku jauh-jauh hari ya, jadi aku bisa mempersiapkan perutku untuk makan lebih banyak.” “Hahaha, oke-oke.”kami berdua akhirnya bisa tertawa bersama dan hal itu menjadi awal mencairnya suasana diantara kami berdua kamipun mulai membahas lebih banyak topik lainnya. “Oh iya, aku tadi mau tanyakan ini tapi lupa.” “Soal apa?” tanya Ryuzaki. Ia tampak waspada saat mendengar pertanyaanku. “Soal mbak Cynthia. Mengapa dia begitu cepat menghilang. Aku pikir kalian berdua akan lama berbicara.” “Oh Cynthia. Saya menyuruhnya untuk pergi dari meja kita, karena saya tidak nyaman dengan perilakunya ya.” “Maksudnya kamu mengusirnya?” aku begitu terkejut mendengar ucapan pria dibalik kemudi ini. Aku pikir mereka memiliki hubungan yang dekat. “Iya, saya mengusirnya dan saya juga bilang kalau dia harus belajar tata krama.” ucap Ryuzaki dengan santainya seakan tak ada penyesalan dihatinya. “Beneran? Kamu mengatakan hal itu padanya? Ryuzaki, dia pasti sangat sedih mendengar ucapanmu.” aku benar-benar dikejutkan oleh sikap pria ini. Dia memiliki perilaku yang tak mudah ditebak. “Saya tidak peduli ya, dia memang butuh pelajaran. Fisiknya memang sangat cantik, namun sikap dan sifatnya sangat jelek. Tidak imbangkan.”  Aku setuju dengan ucapan Ryuzaki soal ini. Mbak Cynthia benar-benar cantik, sangat cantik, begitu luar biasa bak Dewi namun sayang sikapnya tidaklah secantik penampilannya. Tak terasa kami sudah sampai didepan Home stay, perjalan pulang kali ini sangat menyenangkan. Rasanya aku ingin lebih lama bersama Ryuzaki didalam mobil agar lebih banyak hal yang bisa kami bicarakan. “Terima kasih banyak untuk hari ini ya.” aku membuka sabuk pengaman dam memperbaiki selendang dibahuku, bersiap untuk turun mobil. “Sama-sama. Saya juga terima kasih karena sudah mau pergi bersama saya ya.” ujar Ryuzaki. “Iya. Ya udah, aku turun ya.” “Tunggu sebentar.” Ryuzaki cepat-cepa turun dari mobil dan berlari. Ia membukakan pintu mobil untukku dan tak lupa mengulurkan tangannya. “Terima kasih.” aku tak bisa menahan senyumkan akan tindakan manisnya padaku. “Sama-sama.” jawab Ryuzaki tanpa melepaskan genggaman tanganku. “Oke… aku masuk ya. Kamu masuk kedalam mobil aja.” aku mencoba melepaskan genggaman tangan Ryuzaki. Pria ini memang paling bisa  membuatku merasa gugup seperti ini. “Sebentar lagi.” ucap Ryuzaki. “Apa lagi?” tanyaku penasaran. “Seperti yang saya bilang, saya akan menunggumu ya.” ucapnya. Aku sadar, Ryuzaki bukanlah orang pertama yang mengatakan hal ini, karena ada mas Tomo yang menjadi pertama, namun tak bisa aku pungkiri aku begitu senang mendengar hal ini dari bibir pria dihadapanku ini. “Oke. Tapi saat ini aku belum…” “Sstttt, saya paham kok.” Ryuzaki seakan tidak mengijinkanku mengatakan kalimat selanjutnya.  “Masuklah, selamat malam.”entah karena efek lampu taman yang membuat wajah Ryuzaki terlihat lebih menawan atau apa, namun senyumannya kali ini terasa lebih menghipnotisku. “Ahh iya. Selamat malam.” balasku. Rasanya aneh, sangat aneh. Ucapan selamat malam tidak pernah seindah ini terdengar ditelingaku sebelumnya. Rasnya aku ingin terus bisa mengucapkan kalimat ini padanya. Bukan hanya malam ini, namun malam-malam seterusnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN