PART 33 - PERTENGKARAN

1950 Kata
Sejak malam itu, aku menyadari sebuah kisah baru telah dimulai. Kisah yang kupikir tak akan pernah menghampiri gadis sepertiku… “Sudah sampai mana persiapan ujiannya, dek?” mas Tomo sore ini datang ke home stay yang katanya ingin dengan bertemu denganku setelah aku menyelesaikan pekerjaan di home stay. “Sudah lumayan, mas, buku dari mas Tomo setengahnya sudah kupelajari semua.” aku meremas jemariku karena angin sore ini terasa sangat dingin, apalagi karena aku dan mas Tomo sedang berada di taman, tempat terbuka yang sangat mudah tersentuh cuaca. “Bagus kalau begitu, ada soal yang dek Mala kurang paham?” “Ada beberapa mas, tapi sedang kucoba selesaikan sendiri dulu.” “Oh, nanti kalau gak bisa, jangan sungkan tanya ke mas ya.” “Iya mas, makasi ya.”kutundukan kepalaku sedikit sebagai caraku untuk mengucapkan terima kasih padanya. “Oh ya dek, mas masih simpat rapat rahasia kita berdua lo.” mas Tomo mulai membahasa hal yang sejujurnya tidak nyaman aku bahas. “Ah iya mas.” “Mas juga gak cerita ke Andi.” tambah mas Tomo lagi. “Iya mas.” jawabku singkat berharap mas Tomo akan berhenti membahas hal ini. “Mas gak percaya, kita berdua akan mengalami hal itu, rasanya seperti agen rahasia ya dek.” nada suara mas Tomo mengeras, terlihat begitu bersemangat menceritakan hal yang sudah kuminta untuk rahasiakan. “Iya mas.” jawabku datar. “Kejadian ini gak akan mas lupakan, dek. Apalagi pas kita diam-diam ikuti pasangan itu dan pas polisi datang dan tangkap penjahat, itu keliatannya keren banget dek! Seumur-umur mas baru pertama kali lihat polisi menangkap penjahat secara langsung biasanya dari TV.” mas Tomo masih bersemangat membahas rahasia kami berdua, aku berharap ia lebih bisa memahami nada ucapanku yang tak acuh ini. “Mas…” aku harus mengentikannya sebelum ada orang yang mendengar hal itu. Aku tidak ingin bibi dan paman tahu kalau aku dan mas Tomo sudah berurusan dengan orang yang melakukan tindakan kriminal. “Iya dek?” “Mas, bisa tolong jangan bahas hal itu lagi?” aku mengucapkan kalimat itu dengan sangat hati-hati sambil memperhatikan wajah mas Tomo. Aku khawatir akan menyinggung peraaannya. “Ah iya dek, maaf ya.” balas mas Tomo. Ia merapikan rambutnya yang sudah sangat rapi lalu menatapku. Ia mungkin merasa tidak nyaman atau merasa bersalah. Suara motor memasuki halaman home stay sore itu, kupikir itu motornya kak Andi, namun ternyata bukan. Pria dengan gaya pakaian santai yang sangat kukenal itu turun dari motornya dan menyelipkan jemarinya dirambut berulang kali hingga rambutnya terlihat lebih rapi setelah melepas helmnya. “Hai, Nirmala.” Ryuzaki menyapaku sambil berjalan dari parkirn motor menuju bangku taman yang tak jauh dari tempatnya berada. “Hai Tomo.” Ia juga menyapa mas Tomo dengan ramahnya. “Ngapain kesini?” balas mas Tomo dengan nada ketus pada Ryuzaki. Aku tidak mengerti mengapa mas Tomo begitu tidak menyukai Ryuzaki dan memperlakukannya seakan sudah melakukan kesalahan besar. “Saya mau bertemu Nirmala.” Ryuzaki menjawab pertanyaan cetus mas Tomo dengan santai. “Ngapain kamu mau ketemu dek Mala? Gak lihat apa aku sedang asik ngobrol sama dek Mala?” ucap mas Tomo dengan nada yang lebih cetus lagi. “Saya akan pergi kalau Nirmala tidak ingin bertemu saya ya.” jawab Ryuzaki. Ia menatap kearahku dan menunggu responku akan perkatannya. “Aku punya waktu luang ya, jadi bisa bertemu dengan siapa saja saat ini.” ucapku sambil menatap bergantian pada Ryuzaki dan mas Tomo. “Tuh kamu dengar kan? dek Mala Cuma mau bertemu denganku.” mas Tomo mengatakan hal yang jelas sangat berbeda dengan maksud perkataanku. “Dia bilang kalau dia bisa bertemu dengan siapapun kan.” koreksi Ryuzaki. Ia lalu dengan santainya hendak duduk di salah satu bangku taman yang ada didekatku dan mas Tomo. Bangku yang sedang kami duduki adalah  lima buah bangku taman yang mengelilingi sebuah meja bundar dari semen bercatkan cokelat kayu. “Ini tempat tasku.” Mas Tomo segera mnaruh tasnya diatas bangku dimana Ryuzaki akan duduk. Sebelum aku memprotes tindakan mas Tomo yang menurutku sangat berlebihan dan kekanak-kanakan ini, Ryuzaki yang masih terliat santai tertawa dan berpindah kebangku lainnya. “Mas….” aku mencegah mas Tomo untuk melakukan hal yang sama saat Ryuzaki akan duduk di bangku lainnya. Mas Tomo menatapku lalu mengangkat tasnya dan memindahkannya ditemoat lain. “Oke….” ucap Ryuzaki saat ia akhirnya bisa duduk satu meja dengan kami. “Kamu ngapain sih ganggu kami berdua? “ tanya mas Tomo sambil menggeser tubuhnya agar menjauh dari Ryuzaki. “Saya mengganggu?” Ryuzaki malah menatapku, seakan menunggu konfirmasi dariku bukan dari pemilik ucapan itu. “Ah, gak mengganggu kok.” balasku. “Ya ganggulah dek, kita kan lagi asik-asik ngobrol berdua, terus si peganggu datang. Ngerusak suasana aja.” nada kekesalan dari mas Tomo kini lebih parah dibandingkan sebelumnya. “Saya minta maaf, tapi Nirmala tidak terganggu dengan kehadiran saya, atau kalian bicara saja, saya tidak akan mengganggunya.” ujar Ryuzaki. Ia menganggkat tangannya dari atas meja dan melipatnya diatas dadanya. “Iya begitu aja, begitu lebih baik, kamu jangan ganggu kita.” balas mas Tomo. Ia mengabaikan Ryuzaki dan menatap fokus padaku. “Oh ya dek, kapan-kapan kita nonton film bareng lagi ya?” “Iya mas.” aku melirik kearah Ryuzaki yang sedang mengeluarkan sesuatu dari kantong celannya sambil menatap kearah langit langit yang banyak dihiasi dengan kawananan burung dara yang betebrangan. “Iya, kita pergi berdua aja kaya waktu itu. Berdua.” mas Tomo mengeraskan nada suaranya lalu melirik Ryuzaki yang kini sedang mengetaik sesuatu di ponselnya. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakukan mas Tomo ini. “Oh ya, saya tadi bertemu dengan Hendra, dia sampaikan salam untukmu.” ujar Ryuzaki tiba-tiba padaku. “Hendra siapa?” potong mas Tomo dengan nada penasaran. “Hendra itu teman baruku mas, temannya Ryuzaki.” jawabku cepat. “Oh ya, tolong nanti salamkanku balik, tolong bilang kalau aku senang bertemu dengannya.” “Iya, nanti saya sampaikan ya. Dia juga katakan ingin bertemu dengan kita lagi karena kemarin kita hanya berbicara sebentar aja.” tambah Ryuzaki. “Dek Mala memangnya pergi sama dia, kemarin?” tubuh mas Tomo semakin dekat kearahku dan matanya membesar, membuatku mendorongnya  sedikit agar kami lebih berjarak. “Iya mas.” jawabku jujur. “Kamu ngapain ajak Mala pergi-pergi?” mas Tomo bankit berdiri dari kursinya dan menghadap kearah Ryuzaki. “Memangnya kenapa? Asal Nirmala tidak masalah, saya bisa tetap ajak dia kan?” tak ada rasa takut atau cemas dari nada ucapan Ryuzaki. “Duduk mas.”aku menarik tangan mas Tomo agar ia bisa kembali duduk lagi. Namun mas Tomo mengabaikan ucapanku dan tetap berbicara dengan Ryuzaki dengan posisi berdiri. “Eh, dek Mala itu sudah sama aku. Kamu jangan ganggu-ganggu dia ya.” Ya Tuhan… Inginku menarik mas Tomo agar ia menghentikan ucapannya kali ini. Aku merasa sangat malu dengan perbuatannya kali ini. “Mas, sudah, duduk sini.” kutarik lagi tangan mas Tomo namun masih ia abaikan. “Nirmala single kan, dia bebas bersama siapa saja yang dia mau.” Ryuzki masih tetap duduk dan tidak sedikitpun terpancing dengan ucapan mas Tomo. “Kamu pikir kamu siapa? Orang asing yang sok kenal sama dek Mala.” “Saya memang orang asing ya, tapi saya ingin berteman dnegan Nirmala. Saya pikir itu tidak ada yang salahkan?” aku takt ahu bagaimana cara Ryuzaki bisa begitu tenangnya menghadapi mas Tomo yang seakan ingin memukul wajahnya. “Ya salahlah, aku tuh sudah dapat informasi tentangmu ya. Kamu itu pria playboy yang sangat suka main-mainkan cewek aja. Kamu pikir aku tidak tahu? Hah?” “Mas Tomo sudah.” aku akhirnya bangkit berdiri juga dan memegang lengan mas Tomo agar dia bisa mengehentikan ucapannya. “Dek, mas ini lagi berusaha melindungi kamu dari pria playboy ini.” Mas Tomo melepaskan paksa genggaman tanganku dari lengannya. Aku begitu terkejut karena mas Tomo melakukan hal ini padaku ditambah juga ini kali pertama ia berbicara dengan nada setinggi ini padaku. “Saya tidak pernah berpikir untuk bemain-main dengan Nirmala ya.” Ryuzaki bangkit berdiri dan menatapku.Ia terlihat khawatir padaku. “ Kamu pikir aku percaya? Namanya playboy ya tetap playboy. Aku tidak ingin pria sepertimu ini mengganggu dek Mala. Sebaiknya kamu pergi saja.” “Kamu tidak berhak menyuruh saya pergi dari tempat ini ya, karena ini bukan milikmu, kalau Nirmala mau saya pergi, saya akan pergi sekarang.” Ryuzaki mengunci tatapannya padaku. Dari matanya aku merasa ia sedang menyampaikan sesuatu, andai aku bisa mengetahuinya. “Dek, mas lakukan ini demua kebaikanmu. Mas sangat peduli sama kamu, kamu tahu itu kan.” mas Tomo juga mengunci tatapannya padaku. Kedua pria ini memubuatku begitu bingung. Mengapa mereka harus bertengkar saat memiliki kesempatan untuk saling berbicara dengan tenang. “Kalain berdua pulanglah.” ucapku tegas. Aku tidak ingin semakin memperkeruh dan merusak suasana sore yang indah ini dengan membiarkan kedua pria ini saling berdebat satu sama lain. “Kamu dengarkan? Dek Mala mau kamu pulang! Sana pulang!” “Mas juga pulanglah.” ucapku pada mas Tomo. “Lah, kenapa aku pulang juga to dek? Dia aja yang disuruh pulang.” protes mas Tomo. “Gak, mas pulang juga. Aku gak enak kalau ada tamu home stay yang sampai dengar keributan disini.”  aku melihat sekelilingku, berharap tidak ada tamu atau keluargaku yang melihat kejadian ini. Aku tidak ingin home stay milik dan paman jadi rusak kenyamanannya karena ulahku. “Kalau begitu saya akan pulang saja ya.” Ryuzaki tersenyum kearahku. Ia sepertinya sangat memahami perasaanku saat ini, kuharap mas Tomo juga bisa melakukan hal yang sama. “Iya, maaf ya aku tidak bermaksud mengusir, namun waktu kita yang belum pas aja.” aku menurunkan nada suaraku agar tidak terkesan cetus dan galak pada Ryuzaki yang sudah bersikap tetap baik padaku. “Iya, tidak apa-apa, saya paham. Saya bisa datang lain waktukan.” Ryuzaki tersenyum kembali padaku. Ia lalu berpamitan padaku dan juga pada mas Tomo. “Saya pulang dulu ya Nirmala. Tomo saya minta maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung, namun saya benar-benar tidak ingin mempermainkan hati Nirmala.” ucapnya dengan begitu sopan. “Iya, hati-hati.” baladku. Mas Tomo mengabaikan Ryuzaki, ia bahkan tidak membalas ucapannya itu. “Mas, pulanglah, aku akan masuk kedalam rumah.” “Kenapa sih dek Mala masih bersikap baik begitu sama cowok seperti dia?” mas Tomo seakan tidak mempedulikan perminataanku padanya. Ia malah menunjuk Ryuzaki yang sedang menyalahkan mesin motornya dan terus mengatakan hal yang tak ingin kudengar. Kuharap Ryuzaki tidak mendengar ucapan mas Tomo tentangnya. “Kala bisa berbuat baik pada orang lain, kenapa kita harus memilih bersikap tidak baik mas?” aku membalas lambaian tangan  Ryuzaki padaku saat ia akan meninggalkan home stay. “Ya tapi, dia pria yang gak abaik dek.” mas Tomo begitu kukuh dengan pemikirannya yang menganggap Ryuzaki adalah pria yang tidak baik dan aku harus menjauhinya. “Terima kasih banyak mas Tomo sudah khawatir padaku. Aku akan berhati-hati pada Ryuzaki. Tapi kalau boleh jujur, sampai detik ini aku mengenal Ryuzaki, dia orang yang baik, mas. Tidak seburuk yang mas Tomo pikirkan.” aku mengatakan hal ini pada mas Tomo bukan bermaksud membela Ryuzaki, aku hanya mengatakan fakta yang sudah kualami dan kulihat secara langsung. “Ya sudah terserah dek Mala aja, mas capek omongnya, yang pasti mas gak suka kalau dek Mala dekat-dekat dia.” mas Tomo meninggikan suaranya lagi. Aku membuang nafasku dalam-dalam. Rasanya begitu capek membahas hal ini. “Iya mas, mas pulang aja ya. Istirahat, aku juga harus bantu bibi untuk masak makan malam.” “Ya sudh, mas pulang aja dari tadi diusir terus.” mas Tomo mengambil tasnya lalu berjalan menuju motor vespa birunya diparkiran. Ia tidak tersenyum kearahku seperti yang biasa ia lakukan, bahkan ketika pulang ia juga tidak melambaikan tangannya padaku. Aku tidak ingin berpihak pada siapapun kali ini. Tidak ingin menyalahkan siapapun, karena aku sadar kedua pria ini pada dasaranya adalah pria yang kurasa adalah orang baik yang hanya memiliki persepsi salah, dan belum saling kenal dengan baik. Namun jujur, aku sangat begitu terkesan dengan sikap Ryuzaki yang masih bisa begitu tenang dan tak emosi menghadapi mas Tomo yang sikapnya begitu meledak-ledak. Aku tahu umur mereka memang berbeda, Ryuzaki sudah 29 tahun sedangkan mas Tomo yang mungkin seusia dengan kak Andi, baru berumur 22 atau 23 tahun. Mungkin inilah yang membuat keduanya memiliki cara yang berbeda saat menghadapi masalah atau keadaan yang kurang nyaman seperti tadi. Kupandangi langit sore yang sudah memerah sambil berjalan menuju kerumah. Pemandangan sore ini sangat indah andai pertemuan kami bertida tadi juga bisa seindah ini. Aku alihkan pikiranku denganmemikirkan apa yang sedang ibu dan adik-adikku lakukan sore ini di rumah, karena aku tidak ingin merusak pikiranku semakin dalam dengan terus memikirkan hal-hal yang terjadi padaku, mas Tomo dan Ryuzaki. Fokusku kesini adalah untuk bekerja dan bekuliah, agar aku bisa membantu dan membahagiankan keluarga, bukan tentang hal-hal asmara seperti ini. Aku mengingatkan diriku lagi tentang tujuanku berada di Bali saat ini.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN