Aku tak menyangka hari ini Ryuzaki akan menemuiku lagi. Kupikir karena kejadian kemarin, ia akan menjaga jarak dariku, namun ternyata tidak. Ia tetap bersikap seperti biasanya.
Sosoknya yang terlihat begitu menarik pandangan berjalan mengampiriku di home stay disaat aku sedang beristirahat diatas sofa ruang tunggu sambil menunggu bli Ade yang sedang makan siang dibelakang.
“Hai…”sapanya. Ia terdengar begitu bersamangat hari ini.
“Hai, Ryuzaki.” balasku. Ryuzaki duduk disatu sofa denganku, tepat disebelahku.
“Tadi saya menelpon ibu Ayu untuk bertanya kapan jadwalmu libur bekerja.” aku cukup terkejut mendengar ucapan Ryuzaki yang sangat to the point tanpa ada basa-basi dulu seperti orang Indonesia kebanyakan. Iya, aku tahu dia Jepang, aku masih belum terbiasa dengan sikapnya itu.
“Untuk apa kau bertanya hal itu pada bibi?” tanyaku padanya.
“Saya ingin mengajakmu berjalan-jalan hari ini.” balas Ryuzaki cepat. Ia mengahadap kearahku lalu dengan penuh keyakinan mengatakan kalimat berikutnya “Saya harap kamu mau pergi denganku hari ini karena kata ibu Ayu kamu libur hari ini, itu artinya kamu free kan.”
“Aku libur?” tanyaku heran. Aku bahkan tidak tahu kalau aku punya jadwal libur sejak bekerja disini.
“Iya, kamu liburkan hari ini?” Ryuzaki malah bertanya balik padaku.
Aku mencoba mengingat-ingat apakah bibiku pernah berkata kalau aku libur setiap hari Rabu atau tidak seperti kata Ryuzaki, namun seingatku, bibi atau paman belum pernah mengataka hal itu sama sekali. “Mungkin iya.” jawabku ragu.
“Bagus kalau begitu. Saya sudah minta ijin pada ibu Ayu untuk mengajakmu jalan-jalan. Jadi kamu mau pergi bersamaku hari ini kan?” tanya Ryuzaki lagi dengan nada yang masih penuh semangat.
Kamu benar-benar sudah tanyakan pada bibi?"
"Iya, apa kamu saya tanyakan lagi?"
"Jangan...jangan... Oke, ayo kita pergi” aku menatapnya masih sedikit bingung dan sedikit kurang percaya. Baru beberapa hari yang lalu aku pergi dengannya dan hari ini aku akan pergi dengannya lagi, apakah bibiku begitu percaya padanya hingga dengan mudah mengijinkanku pergi dengannya.
“Jadi kamu tidak siap-siap dulu?” ucapan Ryuzaki menyadarkanku dari lamunan dan saat tersadar kulihat Ryuzaki sedang memandangiku. Aku segera reflek bangkit berdiri, aku harus bersiap-siap dulu sebelum pergi dengan pria ini.
“Kita akan kemana hari ini?” tanyaku. Aku teringat akan pesan bibiku tentang aku harus bertanya kemana aku akan pergi sebelum aku menerima ajakan seseorang.
“Saya sudah ada planning, tapi Nirmala sendiri ada tempat yang ingin dikunjungi?”
“Gak ada ya, aku tidak memikirkan tempat yang khusus untuk kukunjungi di Bali.” aku memang bukan tipe orang yang suka-berjalan-jalan kalau bukan karena sangat ingin. Selama tinggal di Lombokpun tidak banyak tempat wisata yang kukunjungi.
“Oke, kalau begitu, kita akan ke pantai terus pergi makan ya. Nirmala siap-siap saja, saya kan tunggu ya.”
“Oke.” aku segera meninggalkan home stay menuju rumah. Aku melihat pakaian yang kugunakan, kaos polo berwarna putih dan celana kain berwarna hitam. Aku terlalu terlihat formal untuk jalan-jalan, jadi kuputuskan untuk berganti baju dengan kaos oblong biasa berwarna putih dan menggunakan rok pendek selutut dengan motif bungan matahari. Aku menyisir rambutku dengan cepat dan menggunakan lipstik merah muda yang diberikan Dewi padaku. Tak lupa aku mengambil tas mungkilku yang hanya cukup ditaruh beberapa barang kecil saja seperti dompet milikku.
Dengan cepat aku berlari kembali menuju home stay, namun saat baru sampai halaman rumah, aku baru sadar kalau aku lupa mengambil helmku. Jadi aku segera berlari mengambil helm hitam punya bibi yang sudah diberikan padaku.
Saat sampai dihalaman home stay, Ryuzaki ternyata sudah duduk diatas motornya. “Tidak bawa jaget?” tanyanya padaku saat melihatku berlari menghampirinya.
“Hari ini sangat panas, lebih baik kamu bawa jaget.”
“Begitu? Oke.” entah mengapa aku bisa begitu menuruti ucapan Ryuzaki. Aku segera kembali kerumah dan mengambil jaket yang kugantung dijemuran samping karena baru kemarin kucuci. Saat kurasa jaketku ini sudah cukup kering, aku segera memakainya dan berlari kembali menuju halaman home stay.
“Sudah..” nafasku begitu berburu karena aku terus berlari dari tadi.
“Kamu tidak perlu terburu-buru seperti ini.” Ryuzaki menggosok rambutku beberapa kali lalu mengambil helm ditangaku dan memakaiannya dikepalaku. Aku mulai terbiasa dengan hal ini, dengan perhatiannya dan dengan segala kebaikannya.
“Naiklah.” mintanya dan tampa perlawanan lagi aku segera naik ke atas motor.
***
Aku tak bertanya ke pantai mana kita akan pergi siang ini. Namun dari jalan yang dilewati, pamtai Kuta bukanlah tujuan kami. Aku tak begitu mengeal jalan-jalan di Bali, jadi aku terus memandangi nama setiap jalan yang kami lewati ini, sambil menghafalnya.
“Kita akan kepantai di Nusa Dua ya, yang dekat-dekat saja. Saya sudah pesan tempat untuk kita d Hotel yang kemarin kita datangi.” ucapan Ryuzaki membuatku terkejut.
“Maksudmu kita akan berada di kamar hotel berdua? Seperti itu?” aku meninggikan suaraku agar Ryuzaki bisa mendengar ucapanku.
“Hahaha, tidak bukan kamar hotel. Maksud saya, saya sudah pesan bagian restorannya. Ada yang didekat pantai. Nirmala bilang sangat menyukai makanan disana kan, jadi saya pikir untuk membawa Nirmala kesana lagi untuk makan.” aku begitu tersentuh dengan ucapan Ryuzaki. Aku tidak menyangka ia akan mengingat perkataanku malam itu padahal aku mengatakannya tidak serius, hanya untuk menghiburnya saja.
Aku merasa begitu familiar ketika memasuki halaman hotel ini. Aku bahkan baru menyadari betapa indahnya hotel ini, mungkin karena terakhir kali aku datang kesini saat malam hari, aku jadi tidak bisa melihat lebih jelas keindahan desain, bangunan, warna dan keindahan taman dihalaman depan hotel ini.
Aku memandangi bagian timur hotel, pandanganku terfokus oleh pohon rambat yang bertumubuh subur dan memenuhi tiang-tiang kayu yang berjejer berpasangan panjang hingga membentuk terowongan menuju bagian lain hotel ini.
“Lihat apa?” Ryuzaki mengikuti arah pandangku.
“Itu, indah ya.” aku menunjuk pemandangan yang sedang kulihat.
“Iya, cantik ya. Mau lewat sana?” tanya Ryuzaki.
“Memangnya boleh? Aku kira kita akan lewat lobi.”
“Boleh, kita bisa ke restoran lewat sana.” balas Ryuzaki seakan dia begitu mengetahui tempat-tempat di hotel ini atau mungkin dia sudah sering kesini jadi dia cukup tentang Hotel ini.
Akupun berjalan mengikuti Ryuzaki. Aku begitu senang saat melewati terowongan tumbuhan rambat ini, dari dekat terlihat lebih indah karena ada bunga-bunga kecil berwarna kuning yang sedang bertumbuhan. Aku tak tahu tanaman apa ini, namun aku menyukai ide penataannya. Selesai melewati terowongan, aku sampai didepan kolam berenang yang kulihat beberapa malam yang lalu. Warna biru muda kolam ini membuat pemandangan ini sangat menyegarkan. Perpaduan warna-warni bunga, rerumputan hijau dan birunya kolam menggugah seleraku untuk bersantai disini. Rasanya aku ingin berenang disana.
Aku melihat sebuah halaman yang cukup luas didekat kolam berenang. Halaman dengan rerumputan hijau dan dihiasi oleh pohon kelapa dipinggirnya. Melihat itu aku menyadari bahwa disanalah tempat peresmian pembukaan hotel ini, yang membedakan adalah tidak ada tenda yang dipasang seperti malam itu. Didekat kolam terdapat cukup banyak kursi panjang bagi tamu yang ingin berjemur atau sekedar bersantai, tampak harmonis dengan payung-payung besar warna fanta yang berpasangan manis dengan kursi-kursi panjnag itu.
Ryuzaki terus berjalan dan aku terlalu menikmati pemandangan indah hotel ini. Aku bahkan bisa mendengar suara debur ombak yang begitu dekat dan aroma khas pantai yang begitu kental. Ini tempat yang sangat cocok bagi mereka yang ingin menikmati alam, kemewahan dan tetap menginginkan ketenangan. Aku menatap beberap wanita asing yang sedang beransantai didekat kolam, mereka menggunakan bikini yang cukup seksi dan tampak sibuk dengan buku bacaannya.
Saat menghadap kedepan, aku terkejut ternyata Ryuzaki sudah duduk santai dibagian restoran Hotel ini. Restoran itu benar-benar terbuka, tidak ada tembok yang menghalangi. Para pengunjung bisa langsung merasaka hembusan angin yang begitu menyejukkan. Didekat restoran itu juga ada mini bar yang terlihat begitu lengkap dengan koleksi minuman-minumannya.
“Sini…” Ryuzaki mengeluarkan kursi rottan dengan alas busa agar kubisa duduk disebalahnya.
“Terima kasih.” ucapku dengan pandangan yang masih terfokus pada desain restoran yang didominasi dengan warna cream, warna kayu, putih dan abu-abu ini.
“Silahkan.” seorang pelayanan memberikan buku menunya kepadaku dan Ryuzaki. Aku membuka buku menu itu dan ingin rasanya menutupnya lagi. Harga-harganya terlalu mahal. Sangat tidak masuk akal. Aku memperhatikan bagian menu nasi, didalamya ada nasi goreng dan harganya. Aku tak sanggup mengatkannya. Harga segitu aku bisa beli tiga sampai lime porsi nasi goreng dipinggir jalan.
“Mau makan apa?” Ryuzaki menatapku.
Aku mendekati tubuhku ke Ryuzaki dan berbisik padanya. “Harganya mahal-mahal.”
“Hahaha, iya tidak apa-apa. Pilihlah yang kamu mau.” ucap Ryuzaki dengan wajah yang terlihat begitu gembira.
“Kamu saja yang pilihkan ya.”
“Kenapa saya? Kan Nirmala yang mau makan. Tidak apa, pilihlah yang kamu sukai.”
“Oke.”aku memperhatikan menu-menu yang ada dan mencoba mencari makanan dengan harga yang paling murah. “Aku mau ini ya.” aku menunjuk gambar soto pada Ryuzaki yang menurutku paling murah harganya.
“Hanya soto dan nasi? carilah yang lain juga.”
“Ini saja cukup.” jawabku. Aku tidak ingin membuka buku menu ini lagi. Bukunya cukup tebal dan didalamnya dibagi menjadi beberapa bagian yaitu makanan Indonesia, ada masakanan China juga, Jepang dan Eropa. Benar-benar lengkap.
“Lalu minumnya?” tanya Ryuzaki.
“Es teh.” jawabku cepat. "Eh, ice tea." aku membenarkan kalimatku yang sebelumnya. Di buku menu tidak ada nama es teh, tapi ddikasi nama dengan bahasa Inggris jadi ice tea.
Ryuzaki memberitahukan pesanan kami pada pelayanan. Aku mendengarnya untuk mengetahui apa saja yang ia pesan, dan ternyata ia memesan cukup banyak makanan yang kebanyakan berbahasa Inggris. Aku tak tahu apakah nama makanan itu yang panjang atau memang Ryuzaki sudah memesan begitu banyak menu.
Saat pelayanan pergi, aku segera membuka jaketku dan meletakannya dikursi disebelahku dan menikmati lagi pemandangan di restoranl ini. Siang ini sudah jam 2 siang, sebenarnya agak telat untuk jam makan siang, namun masih ada tamu-tamu hotel yang sebagian besar adalah orang asing sedang menyantap makanannya. Hotel ini pasti sangat luar biasa, karena baru beberapa hari setelah pembukaannya, ia sudah memiliki tamu seperti saat ini.
“Saya suka suasana disini ya.” ucap Ryuzaki.
“Iya,aku juga.” balasku.
“Kalau kita sampai sunset disini, mau?” tanyanya.
“Memangnya gak apa-apa kalau kita sampai sunset disini?” aku khawatir kalau dia mungkin akan sibuk dan memiliki kegiatan lainnya. Aku juga takut kalau mungkin kita akan kena biaya tambahan kalau terlalu lama disini.
“Tidak apa-apa ya. Hari ini memang saya khususkan untuk bersama Nirmala.” ujar Ryuzaki. Aku menatap wajahnya dar samping yang sedang melihat kearah pantai yang tampak begitu panas dan menyilaukan.
“Terima kasih.” balasku. Aku begitu tersentuh mendengar ucapan pria ini.
“Permisi.” pelayanan tadi datang kembali bukan dengan membawa buku menu namun dengan membawa minuman pesananku dan Ryuzaki. Aku tak tahu apa yang Ryuzaki pesan, warnanya hijau dan kental seperti jus, tapi aku tak tahu itu jus apa.
“Mau coba?” Ryuzaki menawarkan minumannya. Mungkin ia menyadari aku terus menatap minumannya.
“Tak, memangnya itu apa? Jus Kiwi?” tanyaku penasaran dan mencoba menebaknya karena ada potongan buah kiwi dipinggirannya.
“Ini mix juice. Ada kiwi, apel, dan nanas juga. Enak sekali. Mau coba?” ucap Ryuzaki.
“Tak usah, aku minum ini saja.” aku menganduk es tehku dan segera meminumnya. Rasanya pas sekali tidak terlalu manis, begitu segar sangat cocok saat udara panas begini.
“Kau manis sekali.” ucap Ryuzaki. “Saya sangat suka melihat ekspresi wajahmu saat menikmati makanan atau minuman.” tambahnya.
“Memangnya wajahku kenapa?” aku merasa tidak ada yang spesial dari wajahku saat sedang makan atau minum.
“Wajahmu sangat menunjukan rasa makanan dan minuman yang kamu sedang nikmat. Itu manis sekali.” ujarnya lalu mengelus rambutku lagi pelan.
“Permisi.” pelayanan datang kembali dan membawa sebuah troli besi bertingkat-tingkat yang didalamnya sudah ada makanan.
Salad sayur, lalu soto dan nasiku, kemudian ada makanan yang aku tak tahu namanya, dan ada lagi, ada lagi, hingga meja kami hampir dipenuhi oleh makanan pesanan kami.
“Kita akan habis makan sebanyak ini?” tanyaku khawatir karena ada lima menu dimeja dihadapanku. Porsinya memang terlihat sedikit, namun tetap saja aku khawatir tidak akan snaggup menghabiskannya. Mungkin Ryuzaki akan kuat menghabiskan semua ini kalau aku tak kuat lagi.
“Porsi makanmu cukup banyakkan.” ucap Ryuzaki.
“Aku? gak kok.” Bantahku
“Saya memperhatikanmu saat pesta waktu itu, kamu bisa memakan banyak menu dan masih kuat untuk makan snack dan dessert. Jadi kupikir segini saja akan kurang ya. Tapi nanti kita bisa pesan lagi.”
“Tapi aku tidak terlihat rakuskan?” aku serius mananyakan hal ini, selama makan aku tidak memikirkan bagaimana ekspresiku dan juga tidak memikirkan bagaimana orang akan melihatku.
“Hahaha, rakus itu artinya gila makankan? Bukan itu ya, mungkin kamu lebih terlihat menyukai makanan dan bisa menikmati makanan yang kamu makan. Seperti itu.” ujar Ryuzaki.“Jangan pikirkan hal yang negatif ya, nikmati saja makanannya.” Ryuzaki mengusap rambutku lagi.
“Iya…” aku menyendok soto yang porsinya sangat sedikit ini, aku merasa bisa menghabiskannya dalam waktu singkat. Rasanya begitu ringan namun tetap gurih. Soto ini rasanya benar-benar enak. Lebih enak dari yang kuperkirakan, bahkan lebih enak dari soto langgananku di Lombok.
“Enak?” tanya Ryuzaki.
“Iya, enak sekali. Mau coba?” tawarku sambil menyodorkan mangkuk sotoku.
“Tidak, kamu makan saja ya. Saya senang kalau kamu bisa nikmati makanannya.” Ryuzaki menikmati salad sayur yang terlihat tak kalah enaknya.
Rasanya seluruh panca inderaku benar-benar dimanjakan dengan semua ini, tempat yang indah, penataan makanan yang cantik, aromanya yang sangat lezat serta rasa makanannya yang begitu menggugah selera. Sangat nikmat, mungkin inilah yang orang-orang sebut dengan surga dunia.