PART 35 - BUKAN PERPISAHAN

1823 Kata
Aku tidak mengira kalau makanan-makanan yang Ryuzaki pesan akan habis lebih cepat dari yang aku perkirakan padahal menurutku kami memesa banyak makanan dan ditambah makanan penutup juga. Selesai menikmati semua makanan-makan itu, aku dan Ryuzaki berdiam diri sejenak. Rasanya begitu kenyang hingga sulit untuk bergerak dan yang paling parah adalah saat terkena hembusan angin, membuatku sangat terlena dan ingin rasanya untuk tidur. Kulirik kearah Ryuzaki, matanya juga terlihat sayu, ia mungkin merasa kantuk juga. Kami berdua kini duduk disebuah kasur panjang berebentuk ayunan didekat kolam. Ryuzaki memesan kelapa muda untuk kami berdua lalu ia berbaring disana dan tak lama kemudian tertidur. Melihatnya tertidur, aku berjalan menuju kolam berenang dan menenggelamkan kaki disana. Beberapa kali aku menguap namun saat merasakan air kolam yang dingin ini rasa kantukku hilang. Rasa dingin air kolam ini sangat berbanding terbalik dengan cuaca yang begitu panas hari ini. Mungkin akan luar biasa kalau aku bisa berendam disini namun sayang aku tidak membawa baju ganti. Saat tengah bermain air dipinggir kolam, aku melihat seorang anak kecil yang sepertinya berusia 5 tahun tengah bermain dipinggir kolam juga. Rambut anak itu berwarna pirang dan ikal, ia berbicara dengan kakak perempuannya yang memiliki rambut pirang juga. Melihat itu, aku jadi teringat dengan adikku Anggun dan Surya. Aku disini menikmati makanan yang enak dan berada di Hotel yang mewah, namun adik-adik dan ibuku tidak bisa makan seenakku disini, tidak bisa merasakan kenyamanan sepertiku kini.  Aku bangkit berdiri dan berjalan menuju tempat dimana Ryuzaki yang masih tertidur. Ia tampak begitu tenang, rambutnya terlihat bergoyang mengikuti hembusan angin. Aku ingin pulang namun tidak enak untuk membangunkannya. Akhirnya aku kembali lagi kekolam dan duduk disana, menunggu Ryuzaki hingga terbangun. Matahari yang tadinya ada diatasku berlahan berpindah menuju ke timur, udara panas semakin berkurang dan membuat air kolam terasa semakin sejuk. Kubalik badanku menuju arah restoran, disana ada jam besar yang ditempel ditengah-tengah ruangan. Baru jam setengah 4 ternyata, sudah hampir setengah jam Ryuzaki tertidur, dan sudah hampir setengah jam juga aku bermain-main air sambil menikmati pemandangn hotel seorang diri. Rasanya jadi sedikit membosankan. “Nirmala…” Ryuzaki ternyata sudah bangun tanpa kusadari. Ia duduk bersamaku dipinggir kolam dan masih menguap beberapa kali, wajahnya benar-benar tampak berantakan seperti orang yang baru bangun tidur. “Lagi apa?” tanyanya . “Gak ada, lagi duduk-duduk aja disini.” jawabku. “Maaf saya tadi ketiduran.” ucap Ryuzaki dan menguap kembali. “Gak apa-apa kok. Suasana disini memang pas untuk tidur, apalagi kalau udh makan banyak kaya tadi.” kugoyang-goyangkan kakiku didalam air. “Iya… hahaha..” Ryuzaki mengikutiku, ia menggoyang-goyangkan kakinya. “Mau berenang?” tanyanya lagi. “Mau, tapi aku gak bawa baju ganti.” ucapku lesu. “Mau beli baju untuk berenang dulu? Didekat Lobi hotel ada toko-toko baju untuk oleh-oleh, disana kita bisa beli baju.” aku baru tahu kalau dihotel juga ada toko-tokonya seperti itu. Kupikir tak ada yang berjualan di dalam hotel. “Tidak usah, gak apa-apa. Main air begini aja sudah cukup kok.” “Oh, oke.” Ryuzaki mengelus kepalaku lagi, entah sudah berapa kali ia mengelus kepalaku hari ini. “Selain membaca dan makan, Nirmala suka apa lagi?” aku tak menduga ia akan menanyakan hal ini tiba-tiba. Pertanyaan Ryuzaki membuatku ingin tertawa. Dia mungkin sengaja bertanya itu untuk menggodaku. “Semua orang suka makan, bukan aku saja.” balasku sambil tertawa. “Hahaha, iya-ya… Maksud saya, kamu suka apa lagi?” tanya Ryuzaki. “Aku suka membaca, suka bunga, suka nonton film, aku suka menulis juga.”aku menjawab pertanyaannya dengan cepat, lalu bertanya balik padanya. “Kalau Ryuzaki?” “Saya suka surfing, suka pantai, saat ini saya juga sedang suka Nirmala.” Aku menoleh kearah Ryuzaki. Wajahnya sedang menghadapku dan kedua matanya sedang menatapku. Wajahku terasa memanas hingga kututup dengan kedua tanganku. Aku tak mau Ryuzaki melihat wajahku memerah seperti kepiting resbus atau tomat matang, dia mungkin akan menggodaku saat melihatnya. “Kamu benar-benar manis.” puji Ryuzaki dan tak menggodaku sama sekali. “Kenapa kamu suka menulis?” “Ehm… karena aku bisa membuat karakter yang memiliki kehidupan lebih baik dariku. Aku bisa mengendalikan nasib tokoh di ceritaku. Aku bisa mempengaruhi para pembacaku sekaligus mengirimkan pesan kepada mereka. Namun yang peling penting, aku suka menulis karena aku ingin orang-orang bisa terhibur dengan ceritaku.” Aku tak menyangka akan mengatakan hal sepanjang ini pada Ryuzaki. Ini pertama kalinya aku mengukapkan keinginan terbesarku pada seseorang. “Jadi kamu memiliki mimpi menjadi penulis?” “Iya, aku ingin jadi penulis seperti idolaku, ibu N.H Dini.  tapi rasanya tidak mungkin ya.” “Kenapa tidak mungkin? Itu mimpi yang baguskan?” “Kata orang-orang disekelilingku, menjadi penulis itu tidak bisa memberiku kehidupan yang baik. Sangat tidak mungkin aku bisa menjadi penulis terkenal yang bisa memghasilkan banyak uang seperti penulis-penulis Indonesia yang hebat.” pikiranku menerawang akan kenanganku selama di Lombok, saat ayah masih hidup. Saat itu aku bilang padanya kalau aku ingin menjadi penulis, tapi ayah dan ibuku tidak setuju, dan bilan kalau aku lebih baik fokus pada akademikku saja. “Kamu belum coba kan, jadi kita belum tahu kamu bisa atau tidak.” ucap Ryuzaki. “Saat ini, keadaan keluargaku sedang sulit, aku harus bekerja dan menghasilak uang untuk membantu mereka. Karena itu aku tidak berpikir untuk menjadi penulis lagi dan ingin berfokus untuk bekerja dan berkuliah saja.” Apa aku bisa membantumu untuk meringankan masalah keluargamu?” aku terkejut mendengar ucapan Ryuzki. Aku tidak menyangka kalau ia akan sebaik dan sepeduli itu padaku dan keluargaku. “Tak perlu, ini urusan keluargaku, aku tidak bisa membiarkanmu kesulitan karenaku. Terima kasih sudah menawarkan bantuan.” aku menolak tawaran Ryuzaki sehalus mungkin. “Baiklah, tapi kalau suatu saat kamu membutuhkan bantuan, saya bisa membantu.” ucap Ryuzaki lagi. “Oh ya, kalau Nirmala mau jadi penulis, apa sebelumnya pernah menulis sesuatu?” Ryuzaki bertanya lagi soal mimpiku yang penulis. “Pernah, waktu masih SMA, aku ikut lomba menulis cerpen, beberapa cerpenku berhasil memenangkan lomba.” rasanya begitu membahagia bisa mengingat hal-hal ini, mengingat dimana aku masih bisa menulis dengan bahagianya. “Cerpen itu apa ya?” tanya Ryuzaki. Aku tersenyum mendengar pertanyaan polosnya. Aku lupa kalau dia orang Jepang, jadi dia mungkin tidak mengetahui semua kata-kata Bahasa Indonesia. “Cerpen itu cerita pendek. Bukan Novel. Short Story.” aku menjelaskan arti cerpen sebisaku berharap Ryuzaki akan memahaminya. “Oh.. short story. Saya tahu kalau itu. Jadi kamu pernah menang lomba menulis cerita pendek itu?” “Iya.. tapi itu dulu waktu sekolah. Saat itupun aku pinjam computer di sekolah untuk mengetik ceritaku.Tapi setelah tamat SMA, aku gak punya computer, jadi aku kadang menulis di buku, tulis tangan seperti itu. Namun sekarang sudah tidak pernah lagi.” “Oh… Saya pikir, kamu tidak masalah untuk menulis lagi ya. Kamu bisa etetap bekerja dan melakukan aktivitas lainnya, saat memiliki waktu luang, bisa gunakan untuk menulis.” Ryuzaki terdengar serius saat mengatakan ucapannya. Aku paham kalau ia sangat mendukungku untuk menulis, namun kurasa aku tetap tidak bisa melakukannya lagi saat ini. “Entahlah, saat ini fokusku bukan untuk menulis. Aku sudah melupakan mimpiku itu juga.” jawabku. Jujur, aku memang sudah nyaris lupa akan mimpiku itu, aku juga tidak ingin menipu diri sendiri tentang angan-anganku itu. “Aku tidak bisa hidup dalam mimpiku lagi, aku harus hidup sesuai realita yang ada..” sambungku pada Ryuzaki. “Iya, itu kuputusan Nirmala ya. Saya tidak bisa paksakan, saya hanya berpikir kalau punya skill sayang untuk disia-siakan.” balas Ryuzaki. “Kamu sendiri kenapa sangat suka surfing?” aku mengganti topik pembicaraan kita, dan mulai membahas mengenai pria disampingku ini. “Surfing itu sangat seru ya, aku bisa menikmati waktuku sendiri di alam, bisa rasakan adrenaline. Saya sangat suka rasakan puas saat bisa taklukan ombak. Itu olahraga juga.” aku dapat melihat ada kebahagian yang terpancar jelas di wajah Ryuzaki saat menceritakan hobinya itu. “Oh, Ryuzaki suka surfing sejak kapan? Udah lama?” tanyaku lagi, Rasanya begitu senang saat melihat ekspresi bahagia dari wajah pria ini. “Sudah lama ya, sekitar 5 atau 6 tahun. Teman saya dulu ajak saya pertama kali surfing di Jepang. Saat itu saya langsung menyukai surfing.” “Terus? Udah pernah surfing kemana aja?” “Saya pernah keliling Autralias, sudah pernah ke Amerika Selatan juga, Thailand, termasuk Indonesia ya. Cukup banyak tempat.” “Wuaaahhh, enak sekali. Jadi bisa jalan-jalan gitu.” “Hahaha, iya-ya. Tapi memang fokus saya hanya di surfing dan alam saja ya.” tambah Ryuzaki. Aku kini merasa seperti pemawancara yang sedang mencoba mengumpulkan informasi dari seorang nara sumber. “Kamu pasti memiliki hidup yang sangat baik karena bisa mengabiskan banyak waktu dan uang untuk menikmati hobi aja.” ucapku jujur tanpa bermaksud ingin menyindirnya. “Saya menabung dari hasil kerja saya, dan saya juga luangkan waktu ya. Jadi ketika bekerja, saya benar-benar serius bekerja hingga nanti saat liburan, saya juga akan benar-benar serius liburan.” Ryuzaki tertawa mengucapakan kalimatnya, begitupun dneganku yang mendengar. “Iya.. ya… aku paham. Serius liburan ya.” aku mengulang lagi kalimat Ryuzaki dan membuat kami tertawa lagi bersama-sama. Waktu terasa begitu singkat, saat begitu menikmati waktu oborlan kami berdua. Aku bahkan tidak menyadari langit diatasku sudah tidak semenusuk dan seterang sebelumnya. Kini langit mulai sedikit menguning, dan kulihat beberapa tamu hotel berjalan kepinggir pantai dan mulai berenang. “Sudah sore.” ucapku saat melihat jam direstoran sudah meunjukan jam lima sore lebih. “Iya, ayo kepantai kita jalan-jalan sambil menunggu sunset.” Ryuzaki bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantuku bangkit berdiri. Aku menggapai tangannya dan mengucapkan terima kasih padanya. Kami berduapun mulai menyusuri pinggir pantai, merasakan pasir pantai dan merasakan deburan ombak yang berlalu lalang sambil menanti langit menjadi lebih berwarna dan mentari menghilang tergantikan bulan. “Besok aku harus kembali ke Jepang.” Ryuzaki membuka obrolan kami dengan sebuah kalimat yang begitu mengejutkanku. “Besok, hari kamis ini?” tanyaku masih tak pecaya. “Iya, besok pagi saya akan kembali ke Jepang.” “Jadi karena itu kamu ingin kita bertemu? Karena besok kamu akan balik ke Jepang?” tanyaku dengan tak berselera. Aku memandang lurus kedepan, membiarkan pikiranku melayang dan mencoba mengabaikan hatiku yang mulai berbisik akan rasa yang tak ingin kurasakan kini. “Iya, saya ingin betemu Nirmala dulu sebelum saya pergi besok.” aku tahu Ryuzaki mungkin tidaklah nyaman dengan hal ini, aku dapat mendengar bagaimana nada suaranya menjadi begitu tidak bersemangat seperti sebelumnya. “Oh…” aku menunduk melihat pasir dipantai yang kulewati. Hatiku mulai merasa tidak nyaman saat terus mendengarkan hal ini. “Saya harus urus pekerjaan saya di Jepang.” “Oh…” aku masih tak sanggup melihat wajahnya. Aku benar-benar sedih menerima fakta ini. “Nanti saya akan kembali ke sini ya.” ucapan Ryuzaki kali ini memberikanku sedikit kelegaan, namun tetap rasa sedih yang menguasai hati ini. “Kapan? Kapan akan kembali?” tanyaku cepat. Aku menoleh kearah wajah Ryuzaki. Ia sedang menatapku ternyata dengan tatapan yang sulit dijelaskan. “Belum tahu, sampai pekerjaanku selesai, baru bisa kembali kesini.” “Oh…” kalimat itu bahkan tidak bisa membuat hatiku menjadi lebih baik, malah sebaliknya. Aku akan berpisah dengannya dan entah kapan aku bisa bertemun dengannya lagi. Aku mungkin akan sangat merindukan pria ini. “Ini bukan perpisahan ya, saya akan kembali lagi untuk bertemu Nirmala.” ucap Ryuzaki. Ia pasti bisa melihat kesedihanku yang tergambar jelas diwajahku. “Iya…” jawabku pelan. Aku menatapnya lalu mencoba tersenyum padanya. Senyum yang dipaksakan yang pasti tidak akan bisa menutupi perasaan ini. Aku tidak ingin mengganggu pikirannya dengan menunjukan kesedihanku namun ternyata begitu sulit untuk berbohong akan perasaan ini. "Nanti saya kembali. Saya janji." Ryuzaki menarik tanganku dan menggenggamnya erat. Aku membiarkannya, ingin kulepas namun tak bisa. Aku ingin mengingat rasa ini agar kelak ia tak ada aku tetap bisa mengingatnya. Aku tak paham... Aku merasa seperti kehilangan padahal aku belum memilikinya. Aku ingin melarangnya untuk pergi, namun siapakah aku untuk mencegahnya. Aku ingin memeluknya namun layakah aku untuk melakukannya. Perasaan ini seharusnya tak boleh kurasakan, namun rasanya sangat sulit untuk kuhentikan. Ya Tuhan… mengapa aku begitu takut ditinggal pria ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN