Teman baru

1014 Kata
Tekan love bisa?  Happy reading...  **** Mendapai omelan pedas dari guru memanglah hal yang paling dihindari saat berada disekolah,apalagi guru yang notabe nya adalah guru killer. Guru yang paling ditakuti oleh seantaro sekolah. Begitulah nasib Elzata, ia dimarahi pak cipto, guru yang di sebut sebagai killer karena pakaian dan wajahnya. Elzata juga baru menyadari bahwa kenapa dia berpenampilan seperti ini.  Dengan lesu, Elzata berjalan mencari keberadaan Indah. Hampir satu jam ia diceramahi, dan kini bel pulang sudah berbunyi, Elzata berharap indah masih di sini. Saat berjalan dilorong-lorong, keadaan sunyi sekali, membuat bulu kuduk Elzata merinding, karena ia Orang yang cukup parno akibat nonton film horror. Elzata mempercepat langkah nya, apalagi mendengar suara telapak orang berjalan, percaya lah, ini bukan cerita horror tapi kenapa Elzata merasa takut sendiri. Mungkin ia harus vakum menonton film seperti itu.  " DUAR! " " Kambing berkepala babi! " latah Elzata membuat seorang yang mengagetkan nya tadi tertawa puas. Sedangkan Elzata masih menetralkan jantung nya yang berdegup kencang, serasa ingin copot dari tempat nya. Beberapa detik, ia menatap marah kearah cowok yang sok cool dihadapan nya ini. Cowok itu masih tertawa, padahal tidak ada yang lucu.  " Untung aja gue gak meninggal mendadak! " umpat Elzata.  Cowok itu menghentikan tawanya. Lalu menatap Elzata dengan satu tangan mengusap matanya karena merasa puas tertawa sehingga mengeluarkan air mata sedikit. " Ekspresi lo ngakak bener! " celutuknya. " Lo ngagetin Njir! " " Santai bro. Gue emang iseng Orang nya. Btw, kenalin gue Dimas. Lo bisa manggil gue 'Mas' " kenal Dimas dengan pd nya membuat Elzata meringis geli.  " Selain iseng, lo punya tingkat kepercayaan diri yang akut ya. " timpal Elzata mendapat kekehan.  " Itu lah gue, apa adanya. " Elzata tersenyum. Orang seperti ini lah yang sangat digemari gadis bersurai panjang itu. Ia ingin bersahabat dengan orang-orang yang santai, tidak jaim. " Gue Elzata, lo bisa manggil gue El. " " El? Seperti nama panggilan cowo. Beda sekali dengan tampilan lo yang kek kupu-kupu malam terbang melayang.. " Entah sindiran atau hanya becandaan, Elzata hanya tersenyum menanggapi nya. Menyadari raut wajah gadis itu berubah, Dimas berdehem mencairkan suasana." Maaf El. " jawabnya sungkan.  " It's okey. Mungkin besok-besok gue harus perhatiin penampilan gue lagi. Oh iya, gue mau pulang duluan ya. " pamit Elzata pada dimas.  " Gue boleh temenan sama lo kan? "  Elzata mengangguk antusias, " Tentu. Besok kita bisa bertemu kembali. " Dimas mengangkat tangannya membentuk bulat menandakan 'oke '. Setelah itu mereka sama-sama berlalu meninggalkan area sekolah. Elzata berjalan menyurusi parkiran yang sudah mulai sepi. Saat sampai di penghujung gerbang, Elzata tersenyum ramah pada satpam penjaga sekolah yang juga sudah bersiap-siap untuk pulang.  " Siang pak. "  " Siang neng. Baru pulang? " tanya nya.  Elzata menganguk, " Iya pak. Kalo gitu saya duluan ya pak " Mendapat anggukan dari pak satpam, Elzata berjalan kembali menuju halte karena biasanya ia menaiki bus. Sambil memainkan handphone, suara klakson motor yang sangat kencang membuat Elzata menoleh. Disana seorang duduk diatas motornya, tidak lupa senyum sinis nya pada Elzata. Elzata memicingkan mata melihat orang tersebut. Saat mengetahui, Elzata kaget dan lebih memilih kembali ke layar ponsel nya.  " Lo mau pura-pura ngga kenal lagi? " tebak Alter. Elzata berusaha menulikan telinga, ia tidak mau mencari masalah dengan Alter. " Gimana masalah lo? Udah kelar? Besok-besok jangan pakai berpenampilan seperti itu lagi ya. " ledek Alter.  Selang beberapa menit, Elzata mendekati kearah alter lalu dengan lancang nya, menaiki jok bagian belakang motor. " Turun lo! " titah Alter.  " Panggil aku Eliza. " jawab Elzata tanpa menghiraukan ucapan Alter. Membuat Alter menyesal sudah mengganggu gadis aneh ini.  " Turun gak! " " Apasih, aku mau nebeng pulang kerumah, boleh kan?  Oh iya, motor kamu klasik juga ya. " Alter menghela nafas jengah, ia turun dari motor, kemudian menarik kerah baju belakang Elzata, hingga gadis itu protes tidak terima. " wei wei! Gue bisa jatoh!!!" " Makanya turun! " " Pelit banget! Nebeng pulang kerumah aja gak boleh! " celutuk Elzata ketika kakinya sudah menginjak jalan kembali. Ia harus turun dari motor Alter kalo tidak ingin badannya bergulir diatas jalanan.Setelah Elzata turun, Alter menaiki motornya kembali. " ni motor tua, punya bokap gue. Kalo ketahuan gue bonceng orang, bisa digorok gue ntar. " " Kalo calon mantu nya yang bonceng, aku jamin gak bakal marah papi mertua aku. " Alter menatap Elzata datar. " Mimpi lo! " ketika ingin menancap gas, Elzata menghadang motor Alter. " Awas lo jaenab! "  " gak mau!"  " Kalo itungan ketiga lo gak minggir, bisa dipastiin ni motor udah bawa lo ke neraka "Elzata tidak peduli, ia masih berdiri dengan gagahnya, seakan nyawanya ada dua. " satu.." " Dua. " sambung Elzata.  Alter memasang smirk nya. " Dua!! Lo masih punya kesempatan buat minggir. " " aku tetep kekeuh sampai kamu mau nganterin kerumah. " " Tiga! " Elzata menutup matanya ketika motor Alter sudah melaju dengan kecepatan tinggi, hingga- " BNGST LO! GILA LO ALTER! " teriak Elzata marah. Jantung nya berpompa cepat ,ia pikir kini riwayat nya sudah mati, ternyata tuhan masih ingin memberi Elzata kesempatan untuk bertobat,motor Alter melaju disampingnya dengan jarak yang cukup mengambil resiko. Sedangkan yang mengendarai motor itu sendiri, tersenyum sinis. Ia merasa puas melihat bagaimana ekspresi gadis yang meminta untuk dipanggil Eliza padahal namanya Elzata. Memang benar-benar gadis yang aneh pikir Alter.  Alter berhenti di sebuah warung yang cukup sederhana, disana sudah ada Gavin dan Laksa-sahabatnya. Alter memarkirkan motor nya di pinggir jalan, lalu berjalan mendekat ditempat Gavin dan Laksa.  " Bro! " sapa Gavin ketika Alter sudah tiba.  " Tumben manggil gue. Ada apa? " tanya Alter setelah ber'tos ria dengan Laksa serta Gavin.  " Duduk dulu, sini. " instrupsi Laksa. Alter mengangguk. " Sekolah sebelah mau tawuran sama genk Eater. " Eater adalah sebuah genk brandal dari sekolah SMA Candra Gunawan. Genk ini selalu mencari keributan. Kadang guru sampai jengah melihat sikap mereka yang tidak bisa di atur.  " Al, kalo lo nggak mau cegah eater, gapapa. Kami gak maksa. " ujar Gavin.  " betol Al. Lagian lo selalu banggain Candra Gunawan tanpa mikir resiko nya apa. " Tambah Laksa.  Alter mengedik kan bahunya, " memang itu tugas gue selama dua tahun Inikan? Gue nggak bisa biarin perusak, ngejelek'in sekolah tempat gue nuntut ilmu. " Laksa menepuk bahu Alter beberapa kali dengan pelan. " Lo anak baik Al. " Alter melirik sinis. " Jijik anjng! "  **** Maaf gajelas. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN