Mulai hari-hari bersekolah

1000 Kata
Tekan love bisa?  Happy reading...  **** Pukul tujuh pagi, Alter baru bangun dari tidur nya. Ia bergegas mengambil handuk lalu masuk kedalam kamar mandi, tidak peduli kasurnya yang masih berantakan. Karna waktu nya tinggal 15 menit lagi sebelum gerbang ditutup. Ini gara-gara Seto, akibat memukul Hidung nya, kepala Alter sangat pusing malam tadi sehingga tidak dapat tidur dengan nyenyak. Ia baru bisa tidur sekitar dini hari.  Tanpa membutuhkan waktu lama, karena Alter hanya menggosok gigi dan mencuci muka, Alter keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang basah. Ia mengambil seragam kebanggaan nya, lalu dengan cepat-cepat memakai pakaian itu.  Setelah nya, Alter bergegas menuju meja makan yang sudah ada mama dan papa nya disana. Yolanda yang menyadari anak nya baru bangun lantas memerintah kan Alter cepat-cepat duduk dan ikut makan.  " Yaampun Al, kamu kenapa terlambat? Gini nih, kalo mama yang ga bangunin." tutur Yolanda melihat Alter cepat-cepat memakan makanannya. Alter memang sengaja, untuk Hari ini tidak ingin dibangunkan mama nya, karena kalo Yolanda yang membangun kan nya, wanita paruh baya itu pasti akan memeriksa setiap inci wajahnya, apakah ada luka atau tidak.  " Al pengen mandiri Ma. " jawab Alter ngeles.  Abraham yang tampak hikmat ,menoleh kearah Alter sebentar sebelum menyeruput kopi dihadapan nya. " sok'sok an mau mandiri. Kalau baju aja mama yang nyuciin. " ledek Abraham tentu saja mendapati kan tatapan protes dari Yolanda.  " Jangan gitu dong Pa. Mama seneng aja, anak Mama bergantung Sama orang tua nya. " " Lagian Al sudah besar Ma. Kalo bisa papa akan ngasih apartment untuk Al tinggali, kalau niat nya memang ingin mandiri. " ujar Abraham. " Pa! " protes Yolanda.  Alter mendengar kata 'apartment' ia semangat sekali, tanpa peduli sepuluh menit lagi sekolah akan dimulai. " Serius Pa? " " Ngga Al, papa Cuma bercanda. " kacau Yolanda. Ia sangat tidak ingin anak nya pergi jauh dari dirinya. " Al cepetan, bentar lagi udah mulai masuk sekolah, kamu dikunciin pak Iwan nanti. " pak Iwan security sekolah.  Menyadari ucapan Yolanda, Alter berdiri dengan cepat ia menyalami kedua tangan orang tuanya, lalu meraih kunci yang tergantung didinding sebelum kegarasi rumah. " Pa, Al bawa ya! " tunjuk Al sambil menggenggam kunci motor klasik kesukaan papa nya.  " kurang ajar! Jangan dibawa Al! " protes Abraham tidak terima.  " Udah telat Pa. Kalau pakai mobil, yang ada Al bolos sekolah karena Macet. Udah ah, Al pergi dulu. " Alter berlari masuk kedalam garasi, lalu menghidupkan motor itu dan menancap gas dengan kecepatan tinggi. Bunyi yang memekak kan telinga serta jos yang mengeluarkan asap, membuat beberapa pengendara yang menggunakan sepeda motor, mengumpat kearah Alter. Ada yang sebagian tertawa ada juga yang mendoakan Alter jatuh. memang keadaan motor yang dipake Alter terlalu tua untuk dibawa ngebut.  Saat sudah mencapai depan gedung sekolah, pak Iwan sudah menutup gerbang nya. Alter turun dari motornya, lalu berjalan mendekat pada pos penjaga. " Pak, bisa saja lewat? " Pak Iwan yang tadi fokus ke ponsel, menatap alter yang berdiri terhalang oleh besi gerbang. " Alter? Kenapa telat?" tanya pak Iwan heran. Biasanya Alter tidak pernah telat pergi sekolah, walaupun ia datang selallu tepat pada bel berbunyi.  " Tadi malem ga bisa tidur pak.  " Pak Iwan mengangguk lalu membuka kan gerbang untuk Alter. " Tadi ada juga yang telat, dia mohon-mohon untuk bapak bukain pintu. Yaudah bapak buka aja,sebenarnya kan gaboleh, tapi kasihan kayak nya dia anak baru. "  Memang peraturan sekolah, jika ada yang terlambat disaat gerbang sudah ditutup, harus pulang kembali kerumah, tidak usah masuk sekolah tapi untuk anak-anak yang sekali telat, boleh dikasih satu kesempatan. Security bernama Iwan Itu sudah membuka gerbang nya, lalu Alter mendorong motornya untuk diparkirkan. " Makasih Pak. " ujar Alter dibalas anggukan oleh Iwan.  Kemudian, Alter berjalan terburu-buru untuk sampai kekelas nya, tapi saat sampai di pinggir lapangan sekolah, sudah ada Pak cipto yang menghukum anak-anak yang terlambat. Tapi yang menarik perhatian alter, adalah gadis yang memakai cardigan pink bermotif rajut. Mata Alter menyipit, ketika mengetahui itu adalah Elzata, Alter bergumam malas, lalu kembali melangkah menuju kelas nya.  Elzata berdiri di tengah-tengah sambil sesekali menyeka keringat, karna cuaca pagi ini sangat terik. Gadis itu menyesal telah mengabaikan Agata yang membangun kan nya tadi pagi.  " Kalian ini memang tidak bisa menghargai waktu. " tegur pak cipto mengalihkan pandangan Elzata yang menatap bawah menjadi menatap pria berseragam guru itu. " apalagi ada yang baru masuk sekolah sudah terlambat. Memang nya, kalian mau di MOS ulang? " Elzata menggeleng kuat. " Tidak pak. " seluruh perhatian yang melanggar, fokus pada Elzata termasuk pak cipto. Pak cipto berjalan kearah nya, lalu berdiri berkaca-kaca pinggang. " Kamu perempuan lagi, sudah telat, terus kenapa pakai pakaian seperti ini? " pegang pak cipto pada pakaian rajut bewarna pink milik Elzata.  Elzata menunduk dalam, " Maaf pak. Saya sedang sakit kepala pak. "  " Kalau sakit kepala, kenapa pakai jaket ?" " Badan saya menggigil pak. Sekarang sudah sangat lesu. " jawab Elzata pelan. Ia memang merasakan badan nya yang tidak enak sejak kedatangan Tamara efek nya memang selalu begitu. Entah apa yang dilakukan Tamara, tapi yang pasti selalu berdampak pada fisik nya.  " Kamu mau lari dari hukuman ini kan? " tebak pak cipto. Elzata menggeleng, sambil menahan berat bobon nya yang linglung, matanya sudah mulai memburam menatap pak cipto yang terlihat kwatir. " Hei... Hei kamu tidak apa? " Elzata sebisa mungkin membukakan matanya walaupun berat, ia mengangguk lalu sedetik kemudian rebah diiringi pekik'an siswa yang berbaris disekitar nya. Alter yang tadi penasaran kenapa Elzata bisa dihukum, memilih melihat gadis itu sampai gadis itu pingsan Alter berlari mendekat.  " Pak kenapa pak? " tanya Alter masuk kedalam kerumunan siswa yang Mengelilingi Elzata.  " Al, untung ada kamu. Bawa dia ke UKS Al. " panik pak cipto.  Alter mengangguk, dan membopong Elzata ala bridal style. Langkah nya dipercepat agar cepat sampai di UKS. Karena merasa kwatir melihat Wajah Elzata yang pucat dan dingin ditelapak tangan nya.  **** Maaf atas kegajean cerita ini. Maklum bukan penulis handal yang bisa menulis seperti yang diinginkan  semoga kalian suka dan dapat mendukung cerita ini. Alur yang berantakan serba kejadian yang tidak sesuai fakta hanya lah fiksi belaka tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian nyata.  Jangan lupa love ya, dan Ikuti keseruan cerita ini. Salam pembaca. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN