Psikologis

1011 Kata
Tekan love bisa?  Happy reading..  **** Keadaan kantin begitu ramai membuat orang-orang berdesakan menunggu makanan mereka masing-masing, well tidak dengan ketua osis beserta kedua sahabat, Alter, Gavin dan Laksa. Mereka tampak sibuk dengan dunia mereka, yang sedang duduk dipojokan kantin, sambil membicarakan urusan laki-laki tidak peduli hiruk pikuk disekitar nya.  " Al, nanti lo kewarung Abah kan? " tanya Laksa membuat Alter yang sedang menyeruput minuman, menghentikan aktifitas nya.  " gue gabisa kek nya. " Jawab Alter singkat. " yahhh kenapa? Lo sibuk banget akhir-akhir ini. " jujur Gavin. Karena ya memang Alter sangat sibuk belakang ini. Cowok tampan itu sudah jarang bersama mereka, bahkan yang biasa nya kewarung Abah deket sekolah, Alter tidak sempat.  " Gue mau seleksi adek tingkat kita yang dipilih masuk dalam kelas unggul. " terang Alter. Ia juga tidak mengerti dengan pak cipto yang tiba-tiba memberi tugas seperti itu. Lagi pula, di SMA ini tidak memakai kelas unggul, semuanya sama.  " Ngapain Pake kelas unggul? " celutuk Laksa bingung.  Alter mengedik kan bahunya. " Ngga tau. Palingan angkatan Adek tingkat kita sampai kebawah bakal ada kelas unggul. " Gavin dan Laksa sama-sama mengangguk. " btw, lo udah ngomong sama ketua genk Eater? " tanya Gavin.  " Seto? Palingan nanti tunggu dia keluar bp. "Seto adalah pemilik ketua genk Eater itu.  " Jangan main jotos Al. " peringat Laksa ia takut Alter kembali dibuat emosi sehingga cowo itu membogem Seto sampai babak belur sekitar Tiga bulan yang lalu.  " Yang pasti main aman-aman aja. Kalo dia masih ngotot mo tawuran, yaudah biarin aja." Alter menatap Gavin tidak suka. " Mau biarin sekolah kita reputasi nya buruk? Sama aja perjuangan gue dua tahun ini. "Gavin nyengir. Alter hanya mendengus.  " Al itu cewe yang tadi bukan?"  ujar Laksa tiba-tiba sehingga posisi Alter yang membelakangi, menoleh. Ia dapat melihat cewe bersurai panjang serta muka yang imut itu duduk tidak jauh dari keberadaan nya. Disaat bersama pula, mata Elzata tidak sengaja bertabrakan dengan mata Alter, sehingga cepat-cepat Alter memutuskan pemandangan nya. Gavin tidak sengaja melihat Elzata yang melihat kearah mereka " Tu cewe benar-benar pacar lo ya? "  Alter mengeluarkan ponsel didalam saku nya, lalu memainkan benda pipih itu tanpa memperdulikan Gavin yang sudah kesal dan Laksa yang masih menunggu jawaban dari Alter. Karena Laksa berniat mendekati Elzata. " Al, jawab elah. " desak Laksa sendangkan Alter tidak peduli.  " Fix lo udah pacaran. Kasih pj napa Al? " Alter menatap Gavin tajam. " pj pj, mata lo pj. Udah gue bilang, tu cewe bohong. " Laksa terlihat antusias saat Alter mengatakan itu. " Jangan ngada-ngada mau deketin dia Lak! Dia cewe aneh, gasopan, kasar. " Gavin terlihat serius seperti nya ini pembahasan yang menarik, karena cewe itu anak baru yang dengan berani nya mendekati Alter yang bahkan punya banyak fans cewek. " Dia keliatan ga peduli Al. Berani banget deketin lo. Bahkan Sya aja takut-takut deketin  " Sya, panggilan cewe yang kemarin melabrak Elzata dengan lancang nya.  " Itu yang gue bilang, dia aneh. Kadang-kadang sampai kek orang ga kenal sama gue. " " Serius? " tutur Laksa.  " Iya. Udah lah, males gue bahas tu cewe. Mending ikut gue ke rooftops. " Alter berdiri diikuti oleh Gavin dan Laksa. Mereka bertiga memang biasa ngumpul di atap gedung sekolah itu.  **** Pukul 12 siang, semua murid berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing bahkan tidak belajar sekali pun. Memang itu lah hobi anak sekolah, tidak belajar, pulang cepat dan tidur. Tiga kebiasaan itu tidak pernah tinggal. Begitupun dengan Elzata yang baru sampai dirumah, dan memilih berbaring diatas tempat tidur tanpa mengganti baju sekolah nya dulu.  Ia memicingkan matanya sebentar, sambil memikirkan ucapan Dimas yang mengatakan dia 'aneh' dan tidak mengenali Dimas tadi. Selama tiga tahun ini, Elzata hampir tidak mengenali status nya sendiri. Ia juga tiba-tiba dijauhi teman-teman yang dia tidak mengetahui apa penyebab nya.  Saat ingin berkelana lebih jauh, pintu rumah Elzata berbunyi. Ia bangkit dari posisi nya dengan malas lalu berjalan gontai kearah pintu utama yang letak nya berada di lantai bawah. Setiba di belakang pintu, ganggang pintu Elzata putar sehingga nampak dengan jelas perempuan dengan pakaian kerjanya yang tampak lelah dari wajah nya.  " El... " panggil Agata sambil membawa Elzata kedalam pelukan nya. Ia menyandarkan wajah nya dipundak anak semata wayang nya. Seakan menyiratkan rindu yang begitu besar.Elzata tersenyum getir, ia mengangkat tangan nya ragu lalu mengusap punggung ibunya. " Bunda kangen El. " " Iya Bun." jawaban itu yang hanya dapat dilontarkan Elzata. Gadis itu sebenarnya sangat sakit melihat bundanya kerja tanpa memikirkan kesehatan nya sendiri.  Agata melerai pelukan nya, lalu menggiring koper sambil menggenggam tangan Elzata untuk masuk kedalam rumah. Agata melihat sekeliling rumah yang sangat bersih,seperti tidak terjamah oleh penghuni nya. " Selama bunda tidak dirumah, kamu makan apa El? " tanya Agata saat sudah duduk disofa  " Kadang masak." " Masak apa? " " Mie instan. " mendengar itu, Agata tersenyum miris, merasa tidak berguna untuk anak satu-satunya keluarga yang ia punya.  " Maafin bunda. " Tatapan mata sinis, diarahkan pada Agata yang menatap nya lembut. " Udah Puas kerja? Kenapa balik? "  Agata tersentak. " Eliza? " Elzata terkekeh geli. Lalu membuka koper milik Agata serta mengacak-acak isi didalam nya. " Gada oleh-oleh?" " Saya pergi bekerja, bukan pergi belanja. " Elzata menghentikan aksi mengacak-acak nya. " uang kamu kan banyak masa beli oleh-oleh saja tidak mampu. " " Seterah, saya capek tidak ingin berdebat. " Agata berjalan sedikit menjauh dari Elzata, lalu meraih ponsel milik nya kemudian mendial nomor sesorang yang sudah membantu nya selama ini. Saat sambungan tersambung, Agata menempelkan ponsel itu di telinga.  " Halo Tamara. " sapa Agata pelan.  " Iya Ta. Ada apa?tumben nelvon. " " kamu bisa kesinii sekarang? Eliza muncul lagi. "  " Dia muncul? Baguslah, ini saat yang tepat buat dia tertekan. Aku akan pergi Sekarang, mohon untuk menghasut nya Ta, agar setiba nya aku disana, ia masih ada. " " Iya Ra. Makasih. " Agata memutuskan sambungan nya, lalu mendekap ponsel kedadanya. Semoga saja gangguan psikologis Elzata menghilang dan kepribadian jelek yang dimiliki anaknya bisa tenggelam bersama kepribadian Elzata. Agata menghirup nafas nya pelan, lalu menetralkan degup Jantungnya yang berdebar.  **** Maaf atas kegajean nya ya.  Maklum bukan penulis handal yang bisa membuat kalian suka atas cerita ini. Dan cerita ini merupakan fiktif belaka yang kejadian nya benar-benar tidak nyata. Atas nama tempat, dan nama tokoh yang sama, itu hanya kebetulan semata. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN