Duka

2142 Kata
Kecelakaan tragis tersebut telah memakan korban, dari mobil milik keluarga Selina yang mengalami kecelakaan, ternyata beberapa mobil ikut terkena dampaknya. Kejadian tersebut dilihat oleh para warga maupun pengendara lainnya, suara mobil polisi beserta ambulans sudah berada di lokasi, petugas polisi lalu lintas mengatur jalanan, sedangkan petugas medis menangani korban kecelakaan di jalanan tersebut. "Ini ada lagi, bawa kantong jenazah. " Petugas medis kemudian mendekat ke arah Selina, Selina terlihat sudah seperti korban lainnya walaupun dirinya berada di atas pintu mobil, dengan keadaan wajahnya yang sudah berlumuran darah, mereka dengan perlahan mengangkat tubuh Selina menuju ke dalam kantong jenazah. Saat badannya dibaringkan, tak lama Selina terbatuk, para petugas medis tersebut terkejut dan menjauh sedikit dari Selina. "Sakit... " lirih Selina. "Baringkan tubuhnya, dia ternyata pingsan. " Selina tersadar sedikit, ia menatap ke depannya, dirinya dikerubungi para petugas medis, entah mengapa, dirinya masih teringat dengan seseorang yang dirinya cari, perlahan ia menggerakkan kepalanya ke arah samping, kanan maupun kiri, samar-samar dirinya menatap ke arah mobilnya, petugas medis lainnya juga membantu mengevakuasi isi mobil tersebut, dengan samar-samar ia melihat seseorang yang diangkat masuk ke dalam sebuah kantong berwarna orange, dan itu adalah dua kantong. "Mama...Papa... " Tak lama setelah memanggil Hania, Selina lagi-lagi pingsan, para petugas medis tersebut segera menangani Selina dan mengangkat perlahan Selina di atas kasur roda yang ada di ambulans, mereka memasukkan Selina ke dalam mobil ambulans dengan salah satu kantong jenazah yang ikut dimasukkan ke satu mobil dan bersampingan. Beberapa mobil ambulans berjalan dengan cepat, melintasi lokasi kecelakaan tersebut, dengan para pengendara yang memberikan jalan untuk mobil-mobil ambulans tersebut berjalan menuju ke arah rumah sakit. --- 'Ina... ' Suara memanggil nama Selina, Selina yang masih terbaring di atas pintu mobil kemudian menatap ke arah depannya, Gunawan dan Hania yang berada di depannya kemudian menyodorkan tangan mereka ke arah Selina. 'Mama, badan Ina sakit banget... ' Hania hanya tersenyum, sedangkan Gunawan mengangkat tubuhnya untuk bangkit dari atas pintu mobil tersebut. 'Kalian nggak papa kan? Kepala Ina sakit banget, tadi kelempar keluar dari mobil sama pintu ini. ' tanya Selina. 'Ina, kita berdua mau pergi, Ina mau ikut nggak? ' Gunawan bertanya kepada Selina, kedua orangtuanya tampak berdiri bersampingan, sedangkan Selina yang merasa kebingungan sambil memegang kepalanya. 'Maksudnya apa, papa? ' tanya Selina. 'Ina sepertinya gak mau. ' ucap Hania. 'Ina, kami mau pergi, kalau Ina gak mau, kami pergi dulu ya sayang. ' ucap Gunawan. Gunawan dan Hania bergandengan tangan, mereka sambil mengayunkan tangannya ke arah Selina, mereka berjalan pergi dan meninggalkan Selina yang masih duduk di atas pintu mobil. 'Mama, papa, jangan tinggalin Ina, Ina mau ikut. ' Selina merasa kakinya sangat sakit, hingga ia tidak bisa menyusul Gunawan dan Hania yang tiba-tiba berjalan jauh meninggalkannya sendiri. --- Suara memenuhi salah satu ruangan, Selina dengan keadaannya yang masih belum sadar dari pingsannya, bahkan para dokter maupun perawat tampak sibuk menangani Selina, karena denyut jantung Selina sempat menurun sedikit demi sedikit di data monitor mesin tersebut. Tak lama setelahnya, suara denyut jantung kembali ke normal, para dokter maupun perawat merasa bahwa mereka telah berhasil menyelamatkan Selina yang awalnya kritis, mereka memeriksa ulang dan memastikan bahwa pasiennya dalam keadaan normal. Beberapa menit berlalu, perlahan Selina membuka matanya, awalnya terlihat sangat kabur, dengan kepalanya yang terasa sakit, dirinya melihat ruangan rumah sakit. "Dokter, pasien sudah sadar. " Selina menatap ke sampingnya, terlihat bahwa perawat dan dokter berada di sampingnya, kemudian dokter mendekat dan memeriksanya. "Bagaimana? Apa masih terasa sakit kepalanya? " tanya dokter. "Saya kenapa ada di rumah sakit? " tanya Selina dengan nada lemah. "Anda mengalami kecelakaan, dan anda berhasil melewati masa kritis. " Selina ingin duduk, dirinya merasakan sakit di kepalanya, perawat membantu Selina untuk duduk dan membaringkan tubuh Selina dengan perlahan. "Keadaan anda lebih baik dari sebelumnya, dan anda sekarang harus dalam masa pemulihan terlebih dahulu. " Selina melihat ke arah lainnya, dirinya merasa sendirian, dan dirinya masih teringat dengan seseorang yang terakhir bersamanya, yaitu Gunawan dan Hania, papa dan mamanya. "Dimana papa dan mama saya, dok? " tanya Selina. Tak lama setelahnya, dua orang polisi masuk ke dalam ruangan Selina, dokter dan perawat memberikan jalan kepada kedua polisi tersebut, mereka mendekat ke arah Selina. "Selamat siang, dengan saudari Selina Viona Utami? " "Ya, dengan saya. Ada apa, pak? " tanya Selina lirih. "Saya sekedar memberitahukan, bahwa mobil anda dengan beberapa mobil lainnya mengalami kecelakaan, dan anda termasuk dalam daftar korban kecelakaan tersebut. " jawab polisi. "Saya kecelakaan? Apa dengan kedua orangtua saya juga? " tanya Selina. "Benar sekali, anda dengan kedua orangtua anda juga termasuk dalam daftar korban kecelakaan. " "Apakah saudari Selina merupakan anak dari Gunawan Edianto dan Hania Ermawati? " tanya salah satu polisi. Selina sedikit menaikkan tubuhnya, ia menganggukkan kepalanya. "Iya, saya anak mereka, bagaimana dengan keadaan mereka? Apa mereka juga sama seperti saya? Dimana ruangan tempat mereka dirawat? " tanya Selina. Raut wajah dokter, perawat maupun kedua polisi tersebut tampak sendu, sedangkan Selina menunggu jawaban dari mereka. "Sayangnya, hanya anda dan keempat korban lainnya yang mengalami luka ringan dan berat, sedangkan 5 korban lainnya, termasuk kedua orangtua anda meninggal dunia di tempat. " Jawaban tersebut seketika membuat Selina tidak percaya, dirinya yang masih dalam keadaan yang sangat lemah kemudian langsung tersadar, matanya terbelalak ketika mendengar kabar yang tidak ingin ia dengar. "Me--meninggal? " Polisi hanya diam setelah menjelaskan apa yang terjadi pada kedua orangtua Selina, Selina kemudian terlemas, bahkan ia ingin pingsan karena mendengar apa yang terjadi sebenarnya. "Nggak mungkin, mama, papa... " lirih Selina. Tak lama, Selina menangis tersedu-sedu, ia memanggil terus Gunawan dan Hania yang sudah meninggal karena kecelakaan, tersisa hanya dirinya sendiri yang selamat dalam kecelakaan tersebut, sedangkan kedua orangtuanya telah meninggalkannya begitu saja karena kecelakaan yang dialaminya. Selina melupakan rasa sakit di tubuhnya, seluruh hatinya sudah dipenuhi oleh rasa sakit karena ditinggalkan oleh kedua orangtuanya, ia tadi merasa bahwa mimpi barusan seperti nyata, sehingga ia merasa bahwa kedua orangtuanya hanya pergi ke suatu tempat dan meninggalkannya yang tengah terduduk di atas pintu mobil. "Kami turut berduka cita untuk saudari Selina, semoga saudari bisa segera sembuh dari insiden ini. " Kabar duka tersebut terdengar oleh keluarga Gunawan dan Hania, mereka mendatangi rumah duka, di tengah-tengah para pelayat, kedua peti mati disusun bersampingan dengan masing-masing foto kedua pasangan yang telah meninggal itu, dan Selina dengan keadaan yang sebagian badannya masih berbalut dengan perban memeluk kedua peti mati tersebut sambil menangis tersedu-sedu. Selina, diakhir pertemuannya dengan kedua orangtuanya saja tidak dapat melihat kedua wajah orangtuanya, karena dari rumah sakit sudah memasukkan keduanya ke dalam peti, disebabkan kondisi kedua pasangan tersebut sangat mengenaskan. "Mah, pah, kalian kenapa tega ninggalin Ina sendirian? " Selina menangis, terkadang ia meraung-raung memanggil kedua orangtuanya yang sudah berada di peti mati tepat di depannya, keluarga papa dan mamanya ada yang memintanya untuk tidak terlalu meratapi kepergian kedua orangtuanya. "Ina, jangan meratapi terlalu dalam kedua orangtuamu, kasihan perjalanan mereka nanti tidak tenang. " ucap salah satu tante Selina. "Ina, kamu yang sabar ya, ini sudah ajalnya papa dan mamamu. " ucap tante lainnya. Selina tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh para tante-tantenya, dirinya masih terfokuskan dengan kedua orangtuanya yang sudah tiada. "Harusnya Ina masih bisa memandikan mereka berdua, tapi kenapa harus begi--- " Selina langsung pingsan, dirinya yang terlalu lelah karena menangisi kepergian kedua orangtuanya, kemudian para pamannya mengangkatnya untuk menjauh dari peti mati Gunawan dan Hania. "Ina, bangun... " Selina terbangun ketika tangannya diusap, dan hidungnya dihirupkan minyak, sehingga ia tersadar dari pingsannya. "Ina, kamu sanggup ke kuburan, nak? " Selina kemudian menangis lagi, ia menangis tersedu-sedu. "Kenapa ini bukan mimpi saja, dan kenyataannya mama dan papa itu masih hidup? " tanya Selina. Selina meratapi lagi kedua orangtuanya yang sudah tiada, sedangkan para bibi dan pamannya menenangkannya. Prosesi menuju ke kuburan akhirnya dilaksanakan, kedua peti mati milik Gunawan dan Hania dinaikkan ke dalam mobil ambulans, Selina memilih untuk menemani peti milik Hania, sedangkan peti milik Gunawan ditemani oleh salah satu adik Hania. Selina bersandar di pinggir peti milik Hania, ia menatap foto Hania yang ditegakkan di atas petinya, sembari ia mengelus foto mamanya dan mengelus peti mamanya itu. "Mah, kok cepat banget sih pulangnya, mama udah capek ya selalu nasehatin Ina, tapi Ina nggak pernah dengerin mama? " Selina meneteskan air matanya, dengan suara isak tangisnya, dirinya berbicara sendiri di depan foto milik Hania, dengan penuh rasa penyesalan dari ucapannya di depan peti mamanya itu, Selina akhirnya menangis lagi dan melipat kedua tangannya diatas peti tersebut. Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya tiba di kuburan umum yang berada di daerah kelahiran Hania, satu persatu peti dibawa oleh para pelayat menuju ke liang lahat yang sudah digali sebelumnya. Kedua peti tersebut didoakan, sebelumnya, Selina diizinkan untuk menyentuh kedua peti tersebut, selesai dengan pelepasan tersebut peti tersebut perlahan dimasukkan ke dalam liang lahat, Selina yang tengah memeluk foto kedua orangtuanya kemudian menangis, pada akhirnya ia berpisah dengan papa dan mamanya untuk mengantarkan keduanya ke rumah yang baru. Selesai menguburkan kedua peti tersebut, tanah dengan kedua papan yang tercantum nama tertancap di bagian atas, para keluarga maupun Selina sendiri menyirami dan menaburkan bunga diatas kedua kuburan tersebut, dan Selina menaruh kedua foto tersebut di masing-masing nama yang sudah tercantum dan menyenderkannya di depan kedua papan tersebut. Ucapan belasungkawa, sabar maupun penyemangat untuk Selina dilontarkan kepada kerabat, rekan bisnis maupun teman-temannya, Selina hanya menganggukkan kepalanya dengan pandangannya yang masih mengarah pada kedua kuburan orangtuanya. "Sayang, aku turut berduka cita atas kepergian kedua orangtua kamu. Kamu yang sabar ya. " ucap Aris. Selina diam, ia memegang tangan Aris yang mengelus bahunya, dan menggenggamnya. "Ris, coba kemarin kamu bisa bertemu sama papa dan mamaku, mungkin mereka bisa tahu dengan hubungan kita... " lirih Selina. Aris menghela nafasnya. "Sayang, maaf ya jika itu tidak bisa tersampaikan. " "Iya, semuanya nggak bisa kembali seperti dulu lagi. " ucap Selina. Aris melepaskan tangannya, kembali ia mengelus rambut Selina, kemudian pamit untuk pulang. Satu persatu orang-orang yang berada di kuburan tersebut pergi, tersisa hanya Selina, dan salah satu sepupunya, Melissa. "Sel, ayo pulang, kamu hampir setengah jam disini. " ajak Melissa. Selina menatap ke arah Melissa, kemudian memeluk tanah kuburan tersebut dengan mengelusnya. "Aku mau disini aja, temenin mama sama papa... " lirih Selina. "Udah, jangan begini terus, papa dan mama kamu sudah tenang disini, kamu harus terus semangat untuk melanjutkan hidup, jangan buat kedua almarhum sedih melihat kamu yang terus bersedih begini. " ucap Melissa. Selina hanya diam, akhirnya Melissa membantu Selina untuk berdiri dan mengajak sepupunya itu untuk pulang. "Mama, papa, Ina pulang ya, besok Ina bakalan kesini lagi. Tenang ya dirumah baru kalian. " Selina meneteskan air matanya, bersama dengan Melissa, mereka memutuskan untuk segera pulang. Di kediaman Gunawan, satu persatu keluarga akhirnya pulang, tersisa dengan satu pembantu yang membereskan rumah, Selina merasa kesepian, dirinya masih meratapi kepergian kedua orangtuanya. "Nona, apa nona Ina mau makan? Nona sudah seharian nggak makan. " Selina menggelengkan kepalanya. "Nggak, Ina mau langsung tidur aja. " ucap Selina. Selina berdiri dari sofanya dengan lemas, ia berjalan ke arah kamar milik Gunawan dan Hania, kemudian masuk ke dalam kamar kedua orangtuanya dan menatap kamar yang kosong dan dingin itu. Kasur tersebut akhirnya tidak berpenghuni, rapi dan belum tersentuh sama sekali, dengan beberapa koper yang tersusun di samping kasur, koper tersebut ada yang masih bagus dan sudah lecet bahkan rusak, Selina masuk ke dalam kamar orangtuanya dan menutup pintu kamar tersebut, sembari ia ingin memeriksa koper tersebut. Selina membuka koper milik Hania, ia duduk di pinggir ranjang, dirinya membuka koper tersebut dan melihat berbagai macam isi dari dalam koper tersebut. Di dalam koper tersebut, terlihat bahwa koper tersebut berisi bermacam-macam barang yang dibeli oleh Hania saat mengunjungi pasar terbesar di kota Bangkok, isinya berupa tas, baju, aksesoris, perhiasan dan lain-lain. Selina membuka dan mengambil semua isi koper tersebut sambil meneteskan air matanya, begitu banyak kenangan dari Hania, dan saat membuka sebuah kantong berwarna merah berukuran sedang, alhasil Selina merasa penasaran, ia membuka kantong tersebut dan beberapa barang akhirnya keluar dari dalam kantong tersebut. Isi dari kantong tersebut berbeda dari yang lainnya, berisi aksesoris, satu baju, bahkan suvenir yang berbeda dari lainnya, Selina mengambil salah satu suvenir tersebut dan melihatnya. Semua isi dari kantong berwarna merah itu menyangkut pada dirinya, semua hal tentang dirinya, bahkan nama serta harapan yang mengarah padanya, hingga kata-kata yang bertuliskan bahasa Thailand di salah satu suvenir, namun ada bahasa Indonesia di bawah kata-kata tersebut. 'ลูกชายของฉัน ฉันหวังว่าคุณจะพบสิ่งดี ๆ ในชีวิต คุณคือความหวังของเรา. ' '[Anakku, semoga kau dijumpai hal baik dalam hidupmu, kau harapan kami.] ' Selina membaca kata-kata tersebut, air matanya kembali mengalir, begitu dalam rasa cinta dari Hania padanya, setiap kata yang diucapkan oleh mamanya itu merupakan bahasa cinta yang tak batas untuknya, ia akhirnya menangis lagi karena membaca kata-kata yang terukir di suvenir tersebut. "Mama... " Selina menangis dan memanggil Hania, ia memeluk suvenir tersebut dengan erat, tangisannya begitu pilu dan menyedihkan, dirinya sudah kehilangan orang yang sangat dirinya butuhkan, Selina tersadarkan oleh maut yang memisahkan dirinya dan kedua orangtuanya, ia menyesal, karena banyak mengabaikan waktu untuk bersama dengan kedua orangtuanya. ......................................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN