Alarm berbunyi, sehingga membuat pendengaran Selina terganggu, Selina terbangun diawal pagi, dirinya tidur dengan pulas dan merasa bahwa tubuhnya sangat segar, ia juga akan mandi untuk segera bersiap-siap mencari pekerjaan sesuai dengan niatnya semalam.
Saat memasuki kamar mandi, Selina terkejut, dirinya merasa ngeri ketika melihat dinding keramik kamar mandi tersebut tidak sama sekali dibersihkan, alhasil membentuk sebuah lumut di keramik tersebut.
"Ini bahaya banget, apalagi kalau dalam suasana licin. Apa aku beli pembersih kamar mandi ya? "
Selina mencari cara untuk nantinya ia akan membeli sebuah pembersih lumut yang terlihat lumayan membandel di lantai dan dinding keramik kamar mandi kosannya, namun sekarang ia akan membersihkan dirinya untuk pergi ke tempat kerjanya.
Memang membutuhkan waktu untuk Selina membersihkan dirinya, yang dimana ia harus waspada dengan keadaan kamar mandinya, ditambah dengan memang durasi mandinya yang begitu lama karena dirinya yang banyak menggunakan sabun perawatannya.
Selesai membersihkan dirinya, Selina langsung mengganti bajunya, baju kemeja putih dengan rok span berwarna hitam yang sangat bagus ia kenakan, dan sekarang dirinya dengan membawa berkas-berkas yang ia susun di dalam map kertas maupun tas.
"Semoga dengan ini, aku bisa nemuin kerjaan hari ini, itu juga untuk jaminan hidupku sekarang. "
Selina mengambil sepatunya, sepatu mahal miliknya ia gunakan sekarang, hanya sepatu itu yang cocok baginya pada hari itu, karena dirinya tidak punya model lainnya yang baginya cukup formal untuk melamar pekerjaan pada hari itu.
Dengan niat yang sangat kuat, Selina terus menguatkan dirinya, akhirnya dirinya sudah di pencapaian yang diinginkan oleh mamanya dahulu, yaitu dirinya yang mulai mandiri dan bekerja.
Tujuan pertama, Selina memilih perusahaan yang hampir sama dengan jurusannya, dirinya membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk ke gedung perusahaan pertama yang akan dirinya lamar pada hari itu, namun, dirinya harus mengantre begitu lama, karena dirinya juga harus menunggu bersama-sama dengan calon karyawan dan karyawati lainnya.
Rasa lelah dapat Selina rasakan, begitu realita telah menampar kehidupannya sekarang, dirinya juga lebih banyak menguatkan dirinya saat menghadapi kehidupan barunya sekarang.
"Selina Viona Utami. "
Selina menoleh ke arah pintu masuk, namanya dipanggil, karena dirinya yang berhasil diterima berkasnya oleh HRD yang akan menginterview dirinya pada hari itu, ia berdiri dan berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Selamat siang. "
Selina pertama menggucapkan salam, kemudian HRD mempersilahkan Selina masuk dan duduk, Selina duduk dengan rapi dan menatap ke arah orang yang akan menginterviewnya pada hari itu.
"Namamu Selina Viona Utami? "
"Ya, benar pak. "
"Lulusan dari University of Chulalongkorn di Bangkok, dengan GPA 3,81? "
"Benar pak, lulusan dari jurusan Information and Communication Engineering di sana. " jawab Selina.
"Bagus juga, sesuai dengan apa yang sedang kamu apply disini. "
Selina tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya, karena dirinya dipuji dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan di perusahaan tersebut.
"Apa kamu punya pengalaman pekerjaan di perusahaan sebelumnya mengenai informatika? "
Selina langsung diam, dirinya gagap, karena ia ditanyakan mengenai pengalaman pekerjaannya sebelumnya, apalagi dirinya yang tidak terlalu mendalami keahliannya mengenai di bidang informatika.
"Be--belum pak. "
"Kalau begitu, bagaimana dengan skill kamu mengenai keahlian yang ditulis di CV ini? "
Selina lagi-lagi menggelengkan kepalanya, alhasil CV nya ditaruh dengan beberapa berkas lainnya, dan juga terlihat bahwa HRD tersebut menghela nafasnya sembari membereskan berbagai berkas milik Selina.
"Interviewnya sudah selesai, nanti kami kirim lewat email ya mengenai apply milik anda. "
"Baik pak, terimakasih. " ucap Selina.
Selina mengambil tasnya, dirinya juga bangkit dari tempat duduknya dan keluar, sedangkan dari luar, pelamar lainnya masuk untuk diinterview seperti dirinya sebelumnya.
Sendirian, tanpa adanya informasi atau berbagi cerita, itu yang tengah dihadapi oleh Selina, dirinya benar-benar sendirian sekarang, dunianya berbanding balik dari kehidupan sebelumnya, yang dimana dirinya memiliki semuanya, pada akhirnya ia kehilangan semuanya, namun hidup terus berjalan, dan sekarang ia harus bisa berjuang untuk hidupnya sendiri.
Selina merasa lelah, ditambah lagi dengan perutnya yang lapar, dan uang yang dipegangnya mulai sedikit karena itupun sisa tadi malam, hanya cukup untuk dirinya akan pulang ke kosannya.
"Nyari kerja dimana lagi ini? "
Selina duduk di pinggir jalan, tempat yang dahulunya sering ia jauhi, karena merasa tidak sudi untuk duduk di tempat tersebut, namun kali ini tempat tersebut menjadi tempat duduknya yang bisa menopang rasa lelahnya karena mencari sebuah pekerjaan.
Namun, Selina tidak diam begitu saja, ia mencari gedung lainnya juga untuk dirinya lamar juga, dan tidak terlalu ramai dengan gedung sebelumnya, walaupun sudah ada keterangan di pintu gedung tersebut tengah mencari pekerja di perusahaan tersebut.
"Apa aku coba ke sana juga ya? " tanya Selina.
Selina bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan menuju ke gedung tersebut dan membersihkan roknya yang sempat kotor.
"Ada apa datang kemari, mbak? " tanya penjaga.
"Perusahaan ini tengah membuka lowongan pekerjaan? " tanya Selina.
"Benar, apa mbak mau melamar di perusahaan ini? " tanya penjaga tersebut.
"Benar, apa boleh saya masuk? " tanya Selina.
"Silahkan. "
Selina dipersilahkan untuk masuk.
Dugaannya sebelumnya salah, ternyata ia melihat para pelamar kerja lainnya juga berada di perusahaan tersebut, dan kali ini ia harus mengantri di antara yang lainnya.
'Ternyata nunggu lagi, sabar-sabarnya perlu banyak ini. '
Setelah menunggu lama, akhirnya Selina dipanggil, dirinya memasang wajah bersemangat, dengan sebelumnya ia harus memakai make upnya kembali sebelum masuk ke dalam ruangan.
"Skillmu selama menempuh pendidikan ini, apakah sudah mencakup menjadi pelamar disini? "
Selina diwawancarai, namun ia tidak mempunyai skill yang seperti dituliskan sebagai contoh oleh HRD tersebut, namun Selina tidak mengerti, yang pada akhirnya ia ditolak lagi.
"Silahkan mencoba lain waktu. "
Selina keluar dari ruangan, dirinya benar-benar tidak mempunyai harapan lagi, ditambah lagi sekarang dirinya terpaksa untuk mencari tempat pekerjaan lainnya.
Hampir sampai malam hari, sudah 6 perusahaan yang Selina lamar, namun beberapa perusahaan itu menolak Selina karena Selina tidak memiliki skill yang memumpuni seperti yang dibutuhkan di perusahaan, namun dirinya bisa diterima karena universitas dan nilai indeks penilaian kumulatif yang memumpuni, tetapi perusahaan juga pastinya membutuhkan skill untuk pelamar kerjanya bisa bekerja di perusahaan tersebut.
Selina ingin menyerah, dirinya yang sudah kelaparan hanya bisa mengelus perutnya, ingin ia menggunakan uang tabungannya, namun dirinya juga tidak bisa terlalu boros dengan uang tabungan yang ada di rekeningnya, itu juga menjadi cadangan untuknya, kemungkinan bisa beberapa bulan atau setahun dirinya tidak bisa mendapatkan pekerjaan.
Selina pulang dengan jalan kaki, dirinya terpaksa berjalan kaki karena uang untuknya menaiki taksi tidak cukup, karena dirinya membeli makanan menggunakan uang yang ia punyai pada hari itu, dan perjalanan menuju ke kosan juga tidaklah dekat, melainkan hampir 1 kilometer dari tempat bekerja.
Betapa pegalnya rasa kaki Selina, dirinya tersiksa dengan sepatu yang dirinya kenakan, dan sekarang dirinya memilih untuk berjalan kaki tanpa alas, hingga terkadang kakinya luka karena tidak mengenakan alas kaki.
Menunjukkan pukul 10 malam, waktu yang menunjukkan bahwa pintu gerbang kosan akan ditutup, Selina tidak kuat jika dirinya harus meminta orang-orang di dalam tersebut untuk membantunya membuka gerbang.
"Gerbangnya udah ditutup. "
Selina menghela nafasnya, di pinggir gerbang, ia memilih duduk sambil meluruskan kakinya, kemudian membuka makanannya untuk ia memakan makanan tersebut di pinggir gerbang kosannya.
Satu persatu suapan makanan masuk ke dalam mulutnya, Selina memakannya dengan perasaan lapar, pikirannya yang memikirkan tentang kemana lagi ia akan melamar pekerjaan.
"Aku bodoh banget, pantas mama sering marah... "
Selina menangis tersedu-sedu, dirinya akhirnya tersadarkan dengan apa yang diucapkan dan dipesankan oleh Hania sebelumnya, bahwasannya ia harus mengambil kesempatan dikala kuliah dengan mengasah skill dalam bidangnya, namun karena dirinya yang terlalu dimanjakan oleh kedua orangtuanya yang tidak tega ingin membuatnya tersinggung.
"Mah, harusnya Ina denger apa yang mama ucapkan, mungkin ini ketakutan mama yang nggak mau Ina harus menghadapi kejadian kayak gini. "
Selina terus mengusap air matanya, namun karena dirinya yang menangis, pada akhirnya gerbang kosannya dibuka dan yang keluar merupakan pemilik kosan tersebut, yaitu pak Anas.
"Loh, kamu kenapa ada di luar? " tanya pak Anas.
Selina langsung bangkit dari duduknya, ia mengusap air matanya, dan menaruh makanannya ketika pemilik kosan tersebut menghampirinya.
"Gerbangnya ditutup, pak, jadinya saya nggak masuk ke dalam. " jawab Selina.
"Loh, padahal nggak papa manggil yang lainnya kalau memang para penghuni disini belum lengkap, kenapa kamu nggak manggil saya? " tanya pak Anas.
"Maaf pak, soalnya takut mengganggu aja, udah malam juga, saya sendiri yang pulangnya lama karena lagi cari kerjaan. " jawab Selina.
"Begitu ya? Ya sudah, ayo masuk ke dalam, saya tahu kamu sudah lelah hari ini. " ajak pak Anas.
"Terimakasih banyak ya pak, maaf ganggu malamnya. "
Pak Anas membukakan pintu gerbang, kemudian Selina masuk ke dalam lingkungan kosan tersebut, pemilik kosan tersebut mempersilahkan Selina untuk ke kamar kosan dan segera menutup pintu gerbang tersebut kembali.
Selina berjalan ke arah kamarnya, sambil ia mencari kunci kamarnya, dirinya masuk ke dalam ruangan kosannya yang gelap karena belum dihidupkan lampunya.
Di dalam kamar tersebut, Selina tidak melanjutkan untuk membereskan kamarnya, dirinya sudah merasa lelah, dimana ia yang pulang larut malam karena mencari pekerjaan dan juga harus berjalan kaki yang lumayan jauh dari kosannya.
"Harus taruh salep ini. "
Selina menaruh salep ke kakinya, ia merasa lebih baik dari sebelumnya, ia langsung menaruh salep tersebut di samping kasurnya dan memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya, Selina berangkat lebih awal, dirinya berniat lagi untuk bisa di terima di perusahaan yang selanjutnya ia akan lamar.
"Semoga hari ini, ada satu perusahaan yang bisa nyangkut berkas-berkasku ini. " ucap Selina.
Selina berangkat, dengan niat, serta dengan uang terakhir yang ia punyai, ia sudah menyiapkan semuanya dengan sebaik mungkin, dan berharap agar dirinya bisa diterima di perusahaan yang akan dirinya lamar selanjutnya.
Namun, pada perusahaan pertama pada hari ini ia lamar lagi-lagi menolaknya, maupun kedua juga begitu, seharian itu dirinya menghabiskan waktu yang begitu panjang untuk diinterview sampai akhirnya ditolak, tentunya waktunya terbuang begitu saja karena persyaratannya tidak sesuai dengan apa yang ingin dirinya lamar.
"Capek banget kalau terus-terusan begini terus. "
Selina akhirnya memutuskan untuk segera pulang, dirinya merasa lelah karena hari itu dirinya tidak ada diterima, dan pendaftaran pekerjaan online tidak sedikitpun dirinya mendapatkan panggilan, alhasil, Selina menyerah begitu saja.
Sebelum pulang, Selina berencana untuk makan terlebih dahulu, dirinya memilih tempat makan yang terjangkau, ia masuk dan mulai memesan makanan yang ada di etalase.
Saat tengah makan, Selina melihat salah satu gedung perusahaan yang tak jauh dari tempatnya makan, dan kini, ia berniat untuk bisa melamar di tempat kerja tersebut.
'Ya, semoga dengan melamar di sana, aku bisa dapat kerjaan. '
Selesai makan, Selina langsung membayar makanannya, ia lanjut berjalan ke arah perusahaan tersebut dan melihat di depan pintu kaca tersebut tengah membuka lowongan pekerjaan, alhasil, Selina tertarik untuk melamar di sana, apalagi tulisan tersebut baru-baru saja ditempelkan.
"Selamat siang, apa benar disini tengah mencari pekerja? " tanya Selina.
"Benar, apa anda ingin melamar disini? "
Selina menganggukkan kepalanya, ia memberikan keterangan, awalnya penjaga mulai memberitahukan resepsionis, dan pada akhirnya Selina dipersilahkan untuk menjumpai meja HRD.
Selesai memberikan apa yang dibutuhkan, pada akhirnya Selina ditunjuk untuk pergi menjumpai ruangan pemimpin perusahaan, hal tersebut membuat Selina terasa berdegup kencang jantungnya, karena kali itu ia akan berjumpa langsung dengan pemimpin perusahaan.
"Selamat siang. "
Selina sebelumnya mengetuk pintu dan masuk, di meja tersebut, terlihat seorang laki-laki dewasa yang tengah menunggu calon pekerja yang dihubungi oleh bawahannya.
"Masuk, silahkan duduk. "
Selina masuk ke dalam ruangan, dirinya mendekat dan duduk di kursi yang sudah disediakan, dengan beberapa berkas yang ternyata sudah ada di tangan, itu merupakan berkas-berkas milik Selina yang sebelumnya ia berikan kepada orang-orang yang ada di lantai bawah.
"Selina Viona Utami, usia 21 tahun, status belum menikah, lulusan dari University of Chulalongkorn di Bangkok, dengan nilai akhir 3,81. Apakah benar? "
"Iya pak, saya. " jawab Selina.
"Sangat menarik, apa kamu memiliki skill lain dari keahlian yang kamu cantumkan di CV ini? "
Selina kembali bingung, dirinya benar-benar tidak tahu akan menjawab apa dengan skill yang ditanyakan oleh pemilik perusahaan tersebut, dan sekarang, ia menatap ke papan nama yang ada di meja tersebut sambil berpikir.
"Halo? "
"Ti--tidak ada, pak. " jawab Selina.
Jawaban Selina membuat laki-laki tersebut terkejut, begitu cepat Selina menjawabnya, sehingga pemilik perusahaan tersebut merasa heran dengan apa yang sudah tercantum di dalam CV dan data diri milik Selina.
"Terus, ini punya siapa? "
"Punya saya, pak. " jawab Selina.
"Kenapa kamu tidak menjawab keahlian yang ada di dalam CV ini? Apa kamu tidak benar-benar mengambil keahlian dari studi yang sudah kamu tempuh selama di perguruan tinggi bidang informatika? "
Selina hanya diam, sedangkan laki-laki tersebut menatap ke arah Selina, namun tatapannya berbeda.
Laki-laki tersebut bernama Nathan Raditya, berusia 30 tahun, merupakan CEO dari perusahaan yang dilamar oleh Selina, perawakannya yang tinggi dan gagah itu membuatnya begitu menawan, dan sangat cocok dengan penampilannya itu.
Nathan menatap ke arah Selina ke arah lainnya, dirinya terus melihat bagian dari Selina, mulai dari rambut, make up, kulit dan bentuk tubuh gadis muda itu, dirinya tertarik ketika melihat Selina, wanita muda seperti Selina membuat otaknya berpikiran lain, kemudian ia meletakkan berbagai macam berkas milik Selina di atas meja.
"Tampaknya kamu tidak bisa menjawabnya, kan? " tanya Nathan.
"Maafkan saya, saya tidak punya keahlian lain, selain mempelajari excel dan statistika saya tidak bagus, itupun masih pemula. " jawab Selina.
Nathan menatap kembali ke arah Selina, seketika ia berpikiran hal lain ketika melihat Selina.
"Kamu bisa diterima di perusahaan ini, namun, apakah kamu mau menerima persyaratannya? " tanya Nathan.
Selina yang mendengar sebuah kata diterima membuatnya begitu semangat, sehingga ia langsung menjawab pertanyaan tersebut.
"Saya mau pak. Tapi, apa persyaratannya? " tanya Selina.
Nathan tersenyum, kemudian mendekat ke arah Selina.
"Kamu mau jadi yang kedua untuk saya? "
Selina tampak tidak mengerti, ia bertanya sekali lagi.
"Maaf, maksudnya apa, pak? " tanya Selina.
"Jika kamu ingin diterima disini, apakah kamu ingin menjadi istri kedua saya? "
Selina terkejut dengan tawaran tersebut, sedangkan Nathan hanya tersenyum ke arahnya.
"Istri kedua? Tapi, saya ingin bekerja, pak. " jawab Selina.
"Oh, tenang saja, kamu bisa bekerja disini, asalkan kamu ingin menjadi istri kedua saya. Apakah kamu mau? " tanya Nathan sekali lagi.
Selina masih syok, sedangkan Nathan berdiri dan berjalan, laki-laki itu berjalan ke arah pintu dan menguncinya, kemudian berjalan kembali ke arah meja, dan kali ini ia memegang kedua bahu Selina.
"Bagaimana? " tanya Nathan.
"Saya tidak tahu, pak. " jawab Selina.
"Oh ayolah, saya ini berbaik hati denganmu, hanya dengan kamu saja. " ucap Nathan.
"Tapi, tapi kenapa, pak? " tanya Selina.
"Saya tertarik dengan wajahmu, rambutmu dan tubuhmu itu. Saya ingin kamu menjadi istri kedua saya, dan kamu juga akan saya terima bekerja disini, asal kamu ingin menjadi istri kedua saya. Apakah kamu mau? " tanya Nathan.
Selina merasa ragu, dirinya yang kebingungan, dimana ia mendapatkan penawaran yang begitu gila dalam kehidupannya, namun, ia juga membutuhkan pekerjaan dikala dirinya berputus asa ketika sudah menyerah mencari pekerjaan.
"Apa saya akan diterima disini, jika saya menerima tawaran bapak? " tanya Selina.
"Tentu, saya akan menerima kamu. Asal, kamu mau jadi istri kedua saya, bagaimana? " tanya Nathan.
Selina ingin mengambil tawaran tersebut, ia akan mendapatkan pekerjaan, namun, dirinya juga ingin mendapatkan sebuah surat perjanjian untuk menjamin tawaran tersebut.
"Apakah boleh saya meminta sebuah surat perjanjian, jika saya menerima penawaran ini? " tanya Selina.
Mungkin karena Nathan yang sudah tidak tahan dengan bentuk Selina, dirinya akhirnya menyetujui permintaan Selina, namun untuk sekarang, dirinya akan diminta waktunya oleh Selina membuat surat tersebut.
"Baik, tetapi, berikan saya waktu untuk membuatnya. " jawab Nathan.
Selina menganggukkan kepalanya.
"Baik pak, saya mau. " jawab Selina.
Nathan dan Selina saling berjabatan tangan, dengan sebuah tanda tangan sebelumnya yang ditulis di sebuah penerimaan pekerjaan, dan sekarang, Selina menunggu sebuah surat perjanjian yang akan dibuatkan oleh Nathan, itu membutuhkan waktu sejam lebih, hingga akhirnya mereka mendapatkan surat perjanjian tersebut.
"Silahkan, kamu tanda tangani segera. " ucap Nathan.
Selina, gadis muda yang baru beranjak dewasa itu terlalu lugu, dirinya tanpa membaca surat perjanjian tersebut memilih langsung menandatangani surat perjanjian tersebut, dan Nathan yang melihatnya tentu saja tersenyum, karena surat tersebut rata-rata lebih menguntungkan dirinya dibandingkan dengan Selina.
"Apakah saya akan dinikahi secara sah? " tanya Selina.
"Pernikahan kita nantinya akan siri, untuk sah, sepertinya tidak bisa sekarang, karena saya ingin menyembunyikan pernikahan ini dari istri saya. " jawab Nathan.
Selina yang kurang begitu mengetahui perbedaan tentang perkawinan tersebut hanya menuruti keinginan Nathan, Nathan yang merasa berhasil, dirinya tersenyum dan sekali lagi menjabat tangan Selina.
Awal perjalanan baru yang akan dihadapi oleh Selina, dirinya akan menghadapi tantangan baru nantinya.
............................................