Tempat Baru

2015 Kata
Keesokan harinya, Vina membantu Selina membereskan berbagai barang yang masih ada, beberapa Selina tinggalkan, walaupun Vina menyuruhnya untuk membawanya, namun Selina menolaknya, alasannya itu semua hanya untuk Nabilla, adik sepupunya. "Kamu seriusan nggak mau bawa barang-barang ini, Ina? " tanya Vina. "Iya tante, biarin aja, mungkin nanti Billa mau ini, Ina bakalan susah kalau bawa itu juga, apalagi nanti tempat kos-kosan atau kontrakan Ina kecil. " jawab Selina. "Tante banyak-banyak terimakasih ya sama kamu, setidaknya kamu sempat bantuin tante selama di rumah ini. Maaf juga kalau ada ucapan dari om, tante dan kedua anak tante yang mungkin nggak enak di dengar di telingamu. " ucap Vina. Selina tersenyum, ia menganggukkan kepalanya. Selesainya membereskan berbagai barang yang ada, pada akhirnya satu persatu barang tersebut dibawa ke luar, itupun perginya ketika Bastian tidak berada di rumah alias suami Vina itu tengah bekerja. "Sudah dikirim kan lokasi kos-kosan yang tante kasih tadi malam? " tanya Vina. "Iya tan, ini sudah diterima. Makasih ya tante, sudah mau nerima Ina selama sebulan di rumah ini, dan juga udah nyariin tempat lainnya buat Ina tinggalin selanjutnya. " jawab Selina. Vina menganggukkan kepalanya, ia menepuk-nepuk pundak Selina. "Iya, kalau kamu butuh apa-apa, kasih tau tante ya, tante bakal bantuin kamu sebisa tante. " ucap Vina. Selina menganggukkan kepalanya. Selina dan Vina membawa bermacam-macam barangnya ke luar rumah, sesampainya di teras rumah, supir taksi tersebut membantu memasukkan barang-barang milik Selina ke bagasi maupun kursi penumpang, selesainya membereskan barang-barangnya ke dalam taksi tersebut, supir taksi tersebut kembali ke kursi pengemudi. "Tante, kayaknya Ina nggak bisa lama, apalagi nanti tante mau jemput Rehan sama Billa pulang sekolah. " ucap Selina. Selina pamit dengan Vina, tak lupa ia bersalaman dan berpamitan dengan tantenya itu. "Iya, kalau sudah sampai, kasih tau tante ya, nanti tante bilangin sama pemiliknya kalau kamu yang mau nyewa kos-kosannya. " ucap Vina. "Baik tante, Ina pergi dulu ya, makasih banyak. " Selina berjalan masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi pengemudi dan membuka kaca mobil, dan melambaikan tangannya ke arah Vina. "Hati-hati dijalan. " Mobil taksi tersebut berjalan jauh, dari kejauhan, Vina masih melambaikan tangannya, sehingga Selina masih menatap tantenya itu yang masih melambaikan tangan ke arahnya. 'Makasih banyak, tante, aku bakalan ingat sama pesan tante. ' "Perjalanannya kemana, mbak? " tanya supir taksi tersebut. Selina memberikan ponselnya sebagai petunjuk jalan, supir taksi tersebut mencatat lokasi yang akan dituju dengan menggunakan maps yang ada di ponselnya, kemudian memberikan kembali ponsel milik Selina. Perjalanan menuju ke kosan hampir 10 menit, lokasinya yang cukup strategis, yang dimana lokasinya yaitu di dekat jalan raya, mereka berhenti di pinggiran jalan. Selina dibantu lagi untuk menurunkan barang-barangnya, dan sekarang dirinya juga dibantu untuk menemui pemilik kos-kosan tersebut. "Sebentar, saya bantu panggilkan pemilik kosan ini dulu. " "Terimakasih, pak. " ucap Selina. Setelah beberapa memanggil pemilik kosan tersebut dengan membunyikan bel, pada akhirnya pemilik kosan tersebut keluar, dan mereka saling berjumpa. "Maaf, ada apa ya? " tanya pemilik kosan tersebut "Ini, ada yang mau ngekos disini, masih ada kan kamarnya? " tanya supir taksi. "Oh iya, silahkan masuk. " "Ya sudah, mbak langsung bicara saja sama pemilik kosan ini, saya mau lanjut lagi. " "Baik, terimakasih banyak ya, pak. " ucap Selina sekali lagi. Selina dibantu oleh pemilik kosan tersebut masuk ke dalam, mereka mengobrol tentang kos-kosan tersebut, dan Selina diminta untuk mengisi data dirinya. "Disini fasilitasnya apa saja, pak? " tanya Selina. "Di kos-kosan ini tersedia ruang tamu jika ada teman yang ingin berjumpa disini, di dalam kamar terdapat kasur, lemari dan kamar mandi di dalamnya. Dapur dan tempat jemur baju ada di belakang, jadi, jika ingin menggunakan fasilitas disini, hendaknya budayakan mengantri dan tertib. Masalah listrik, air dan internet sudah disediakan langsung. " jelas pemilik kos-kosan tersebut. Selina merasa tempat kos-kosan tersebut cocok dengannya, yang dimana fasilitasnya lumayan, yang terpenting baginya, dirinya tidak menggunakan satu kamar mandi yang sama dengan orang lain. "Berapa perbulannya disini, pak? " tanya Selina. "Sebulan disini 450 ribu, itu sudah pas dengan harga pertahun disini. " jawab pemilik kosan. Selina merasa bahwa harga tersebut cukup terjangkau, dimana sekarang tabungannya yang tersisa sekitar 30 juta, itupun sangat berbanding balik dengan uang asuransi sebelumnya, dan menjadi pegangannya ketika nantinya dirinya belum mendapatkan pekerjaan. "Mau ngambil perbulan atau pertahun? " tanya pemilik kos tersebut. "Saya mau ambil 2 bulan disini. " jawab Selina. Selina mengeluarkan uang sesuai dengan nominal dari sewanya mengambil salah satu kamar, pemilik kos tersebut menerima uang yang diberikan oleh Selina, dan memberikan kunci kamar untuk Selina tempati. Akhirnya, setelah Selina keluar dari rumah tantenya yang sebelumnya menampungnya, dirinya disadarkan untuk bersikap mandiri dan mulai berusaha untuk menghidupi dirinya sendiri, dan sekarang ia sudah menemukan tempat tinggalnya sekarang. Setelah mendapatkan tempat untuk tinggal, Selina mulai masuk ke dalam kos-kosan tersebut, dirinya terlebih dahulu akan berhadapan dengan pemilik kosan tersebut, dan dirinya akan menyewa sebuah kamar karena itu adalah tujuan yang paling utama sebelum ia mencoba untuk melamar pekerjaan. Setelah berjalan ke lorong untuk mencari kamar, Selina dikejutkan dengan bermacam ciri-ciri penghuni kosan tersebut, ditambah lagi dengan lorong yang sangat tidak bersih, sehingga menimbulkan bau yang menyengat. "Anak-anak, lorong ini dibersihkan. " "Kamar ke 3 pak, pengidap suka numpuk sampah. " "Iya pak, nanti dibersihin. " "Ayo, kamarnya nomor 21. " Selina menganggukkan kepalanya, ia diajak menuju ke kamar yang sudah ditunjuk sebagai kamarnya. Kamar Selina berada di dekat dapur umum dan tempat jemuran, sirkulasi udaranya cukup bagus, karena tempat jemurannya begitu menyatu langsung dengan udara yang masuk ke dalam, sehingga tidak sepengap seperti ruangan di lorong lainnya. "Ini kamar untuk kamu, nanti kamu lanjut beresin yang menurut kamu nggak cocok ya. " "Baik pak. " ucap Selina. "Sebelumnya, perkenalkan saya pak Anas, kalau ada perlu apa-apa, kamu bisa minta tolong sama teman-teman kosan lainnya, mereka pasti siap bantuin kamu. " Nama pemilik kosan tersebut adalah Anas, Selina tersenyum dan bersalaman dengan pemilik kosan tersebut, setelah berbincang sedikit, akhirnya Selina membawa semua barang-barangnya menuju ke dalam kamarnya, kemudian ia menutup pintunya untuk langsung membereskan kamar tersebut. Kondisi kamar tersebut hampir sama dengan kamar yang ada di rumah Vina, namun kamarnya itu ditambah dengan kamar mandi di dalam ruangan, sehingga kamarnya diapit oleh kamar mandi serta fasilitas lainnya seperti lemari, kasur ranjang dan meja belajar. Selina merasa lelah, ia memilih untuk beristirahat terlebih dahulu, dirinya menatap ke seluruh ruangan kosan yang dirinya tempati, dan ia terbayang dengan kedua orangtuanya. "Mah, pah, sekarang Ina sendirian disini, nggak dalam pengawasan kalian seperti saat kalian masih hidup dulu. Ina kangen sama kalian, saat dahulu baru masuk ke apartemen di Bangkok kemarin, kalian banyak menelpon Ina untuk bertanya apakah Ina nyaman dengan apartemen yang sudah kalian sewakan untuk Ina tinggalin, itupun Ina masih banyak ngeluhnya karena AC nya sering macet, tapi kalian langsung komplain sama pemilik apartemen untuk segera perbaikin AC nya walaupun mama awalnya meminta Ina biasakan diri. Sekarang, Ina tinggalnya nggak tetap, dari rumah tante Vina, tapi harus sebentar karena om Bastian nggak suka sama Ina, sampai akhirnya Ina tinggal di kos-kosan dengan orang-orangnya yang nggak terlalu perhatian dengan lingkungan kosan ini. " Selina mengambil lembaran foto, tepatnya merupakan foto saat Selina bersama dengan kedua orangtuanya ketika dirinya baru saja selesai mengikuti acara wisuda, dirinya mengelus perlahan lembaran foto tersebut, tepatnya ke arah wajah Gunawan dan Hania, ia mengelusnya dengan pelan. "Ternyata benar kata temen Ina di Bangkok kemarin, hidup tanpa kedua orangtua itu memang nggak enak. Katanya, lebih baik setiap hari mendengar ocehan, daripada setiap hari hanya menghadapi kesunyian. " Selina mencium lembaran foto tersebut, di hati kecilnya benar-benar memendam rasa rindu yang teramat dalam kepada kedua orangtuanya, ia juga meneteskan air matanya lagi ketika melihat foto kedua almarhum orangtuanya. "Ina kangen kalian berdua, tolong datang ke mimpi Ina. " Setelah mengobrol sendiri, Selina karena kelelahan akhirnya tertidur, dirinya tertidur dengan pulas dan meninggalkan kamarnya yang masih belum dibereskan olehnya. Hampir 4 jam Selina tertidur, akhirnya ia terbangun karena suara notifikasi di ponselnya, alhasil Selina terbangun dan melihat jam di ponselnya. "Duh, jam 7 aja sekarang. " Suasana di luar sudah gelap, sekarang, Selina menghidupkan lampu kamarnya, ia bangun dan melihat kamarnya yang belum beres, dirinya memilih untuk membereskan kamarnya itu dan merapikannya sebisanya dengan tenaganya yang masih belum sadar sempurna itu. "Udah, besok lanjut lagi. " Menunjukkan pukul 8 malam, Selina merasa lapar, dirinya berencana untuk keluar membeli makanan dan beberapa snack yang mungkin tak jauh dari kosannya, sembari ia akan mencari tempat fotokopi untuk menggunakan jasa tersebut dalam mencetak berkas-berkas yang akan ia gunakan keesokan harinya untuk melamar pekerjaan. "Semoga aja belum tutup malam ini. " ucap Selina. Selina bersiap-siap dengan sweater rajutnya yang berwarna navy, ia mencari sandalnya dan mengenakannya, kemudian berjalan keluar menuju ke tempat yang ingin dirinya tuju. Kawasan dekat kosan yang dirinya tempati tidak begitu jauh dari tempat jajanan maupun jasa-jasa lainnya, yang membuatnya tidak perlu jauh-jauh berjalan kaki. Tempat pertama yang didatangi oleh Selina yaitu jasa fotokopi, dirinya yang melihat antreannya sangat panjang memilih untuk menitipkan berkas-berkasnya, bersyukurnya, pemilik fotokopi tersebut bisa dititipkan berbagai berkasnya itu, dan sekarang ia akan mencari makanan terlebih dahulu karena perutnya terasa lapar. Semuanya selesai pada jam setengah 10 malam, Selina membawa semua yang dirinya bawa menuju ke kosan. "Syukur udah selesai semua. " Selina membuka pagar kosan, ia masuk ke dalam lingkungan kosannya, dan menutupnya kembali, ia berjalan ke lorong untuk menuju ke arah kamarnya. Namun, saat Selina berjalan, dirinya dihadang oleh beberapa penghuni kosan lainnya, sehingga ia terhenti dan menatap satu-satu orang yang menahannya. "Anak kosan baru disini ya? " "Eh, iya, ada apa ya? " tanya Selina. "Kenalin, kita mahasiswi semester 7, kamu keliatannya anak baru yang mau ikutan ospek di kampus bulan depan ya? " Selina menggelengkan kepalanya, dirinya membuat kebingungan para mahasiswi-mahasiswi yang memperkenalkan diri mereka. "Loh, terus kamu semester berapa? Soalnya rata-rata disini para mahasiswa mahasiswi juga, ada yang kerja, tapi jarang pulang, kayak di nomor 1 sama 9? " tanya para mahasiswi tersebut. "Saya sudah lulus, sebulan yang lalu sudah menempuh gelar S1 di Bangkok, lulusan ilmu komunikasi di sana. Sekarang disini mau sambil cari kerja. " jawab Selina. Mendengar jawaban dari Selina, para mahasiswi tersebut terkejut, mereka salah menanyakan status kepada orang yang mereka tanyai, dan ternyata Selina merupakan lulusan dari luar negeri. "Mohon maaf, kak, kami nggak tau kalau kakak sudah lulus, apalagi lulusan S1 ilmu komunikasi di Bangkok. Kami kirain kakak masih mahasiswi baru. " jawab salah satu mahasiswi tersebut. Selina tersenyum, namun ia ingin memberikan teguran juga untuk para mahasiswi yang baginya kurang sopan kepadanya. "It's okay, tapi saya minta ya kepada kalian, entah kepada yang masih muda ataupun sudah tua, gunakan attitude kalian sebaik mungkin, apalagi kalian adalah seorang mahasiswi semester 7, itu pastinya sudah diajarkan oleh para dosen untuk mengutamakan adab dan etika daripada kepintaran. Kalian mengerti? " Teguran dari Selina membuat para mahasiswi tersebut merasa kapok, namun dirinya tidak tega jika harus membuat para adik-adiknya itu merasa terus bersalah, dirinya mencari cara untuk mencairkan suasana tersebut. "Ya sudah, lupakan. Kalian mau es krim? " tawar Selina. "Eh, nggak usah kak, itu kan punya kakak. " tolak mahasiswi tersebut. "Ambil saja, saya baru ingat, kalau dikosan ini gak ada kulkas. " Selina akhirnya memberikan sedikit makanannya untuk anak-anak kos lainnya, dirinya juga mengobrol sembari berkenalan dengan mahasiswi tersebut, dan menceritakan berbagai pengalaman mereka hingga larut malam. "Sudah, kalian kembalilah tidur, tidak bagus jika tidur terlalu malam. " ucap Selina. "Baik kak, terimakasih es krimnya. " Selina berjalan menuju ke kamarnya, langkahnya tidak terlalu jauh dari tempatnya berkumpul, dan sekarang, ia membuka pintu kosannya dan masuk ke dalam, tak lupa menguncinya lagi. Selina menghela nafasnya, ia merasa lega sudah mengerjakan semuanya, ia juga melihat cara menyusun berbagai berkas yang dibutuhkan dalam melamar pekerjaan di website, dan ia menemukannya, satu persatu Selina menyusunnya dalam waktu yang tak begitu lama. "Semoga saja besok lancar, ini semua demi hutang milik papa lunas, dan mereka bisa tenang disana. " Selina terus berniat di dalam hatinya untuk bisa menyelesaikan hutang kedua orangtuanya, karena dirinya ingin agar kedua orangtuanya bisa tenang di alamnya yang baru tanpa ada sangkut paut urusan di dunia lagi. Selina menaruh berkasnya dan pakaian yang ingin ia kenakan di atas meja, selesai membereskan semuanya, ia menaiki kasurnya dan mulai terlelap. ............................................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN