Menempuh perjalanan 10 menit, akhirnya Selina telah sampai di kediaman tantenya, tepatnya adalah adik kedua dari papanya, dirinya hanya bisa menumpang di rumah bibinya itu saja diantara bibi-bibi lainnya yang ia punyai.
"Tante Vina. "
Selina mengetuk pintu rumah tantenya itu, ia sembari memanggil nama tantenya, dan tak lama, pintu rumahnya terbuka, terlihat tante Vina yang membuka pintu rumahnya.
"Selina? Dengan siapa kamu kemari? " tanya Vina.
Selina bersalaman dengan tante Vina, tante Vina memberikan tangannya, dan ia melihat bermacam-macam barang milik Selina yang begitu banyak dibawa ke rumahnya.
"Kamu kenapa bawa banyak barang ke rumah tante? " tanya Vina.
"Apa boleh Ina obrolkan di dalam sama tante? "
Vina akhirnya mengizinkan Selina untuk masuk, dengan barang-barang yang dibawa oleh Selina, dan sekarang ia membantu keponakannya itu untuk memasukkan barang-barang yang ada.
Selina duduk, dirinya perlahan menjelaskan apa yang terjadi, sedangkan Vina mendengar apa yang dijelaskan oleh Selina.
Selina menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa tinggal di rumah yang sebelumnya dihuni oleh keluarganya, serta ia juga memberitahukan apa yang terjadi setelah kedua orangtuanya telah tiada, bahkan dirinya sudah kehilangan dengan apa yang dimiliki sebelumnya.
"Papamu punya hutang sebanyak itu? " tanya Vina.
"Iya, dan juga semua aset punya papa dijadikan pembayaran semua hutangnya, sampai rumah juga yang jadi pelunasan hutangnya juga. Tapi dari semua itu, masih saja hutangnya ada. " jawab Selina.
Vina berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
"Ina juga minta bantuan kepada tante Vina, untuk izinin Ina tinggal disini sementara, sambil Ina berusaha untuk menyelesaikan apa yang masih ada sangkutannya sama urusan papa dan mama, hanya sama tante Vina aja Ina bisa minta bantuan, tante juga tahu kan kalau adik-adiknya papa itu rata-rata tempat tinggalnya jauh semua? "
"Ya, tante tahu itu, dan juga, kamu termasuk yang sering sama tante dari dulu. " jawab Vina.
Setelah berdiskusi, pada akhirnya Selina diberikan izin untuk tinggal sementara di rumah tersebut, tentu saja Selina merasa bersyukur, yang dimana keluarganya yaitu Vina yang termasuk dekat dengan kedua orangtuanya, dan bisa menjadi tumpuan hidupnya untuk sekarang.
Vina menunjukkan kamar yang akan ditempati oleh Selina, sebuah ruangan yang berada sedikit jauh dari kamar lainnya, namun karena hal tersebut merupakan kesempatannya, Selina tidak akan protes, prinsipnya ia akan menerima apa adanya dengan apa yang sudah diberikan oleh keluarganya.
"Ini kamar kamu, maaf ya kalau kamu nggak bisa di kamar lainnya, soalnya itu kamar anak-anaknya tante. " ucap Vina.
"Iya tan, ini sudah lebih dari cukup, makasih banyak ya, tan. " ucap Selina.
"Kalau begitu, tante ke dapur dulu mau masak, nanti kamu ke belakang aja ya. "
Selina menganggukkan kepalanya, sekali lagi, dirinya mengucapkan banyak terimakasih kepada Vina.
Sekarang, Selina mulai membereskan barang-barangnya, dirinya mengusahakan untuk membereskan kamar tersebut dengan baik dan rapi, walaupun kamar tersebut sangat sempit dan berbeda dari kamarnya dahulu, namun hidup terus berjalan, dan ia sendiri bersyukur karena diizinkan untuk tinggal di rumah tersebut.
Membutuhkan waktu 15 menit, akhirnya Selina selesai membereskan kamar tersebut, dirinya merasa bahwa kamarnya itu sudah bagus.
"Akhirnya selesai juga. "
"Udah selesai? "
Selina menatap ke arah pintu, Vina dengan membawa nampan berisi makanan ke dalam kamar Selina.
"Iya tante, udah selesai. " jawab Selina.
"Ini makanan untuk kamu, tante yakin, kamu pasti belum makan. "
Selina mengambil nampan tersebut, ia mengucapkan terimakasih dengan Vina.
"Kamu makan ya. " ucap Vina.
"Iya tan, makasih banyak. "
Vina meninggalkan kamar yang ditempati Selina, sekarang hanya tersisa Selina, dan sekarang, Selina duduk dan mulai memakan makanan yang diberikan oleh tantenya itu.
Selina menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya, ia mengunyah makanan tersebut, dan terus mengucapkan rasa syukurnya ketika dapat memakan makanan yang biasa, namun baginya sekarang itu merupakan berkah untuknya.
'Nggak papa makanannya beda dari yang dulu, tapi ini enak. ' ucap Selina dalam hati.
Malam harinya, Selina membantu Vina untuk memasak makan malam, tidak lama setelahnya, datanglah suami serta anak-anak Vina, mereka terkejut ketika melihat Selina yang berada di dapur bersama dengan Vina.
"Loh, Selina? "
Suami Vina, Bastian, dirinya baru mengetahui bahwa keponakan istrinya berada di rumahnya dan tengah membantu istrinya memasak.
"Ah, om Bastian. "
Selina bersalaman dengan Bastian, sedangkan laki-laki itu merasa kebingungan dengan keberadaan Selina di rumah tersebut.
"Kak Ina, tumben kakak Ina ada di rumah Rehan sama Billa? "
Bocah laki-laki dan perempuan bernama Rehan dan Nabilla tersebut bertanya kepada Selina, Selina hanya tersenyum ke arah sepupu-sepupunya yang masih kecil itu, sedangkan Vina meminta anak-anak dan suaminya untuk duduk dan makan malam bersama, sembari ia akan menjelaskan apa yang terjadi.
"Jadi, rumah kamu disita sama bank? "
"Iya om, jadinya, sekarang Selina izin tinggal disini dulu. " jawab Selina.
"Berapa lama kak? Kakak bawa nggak boneka-boneka kakak dulu yang banyak banget itu? " tanya Nabilla.
"Billa, diem. " tegur Vina.
Nabilla kemudian diam, sedangkan Bastian kembali bertanya dengan Selina.
"Jadi, sekarang kamu sambil cari kerja juga ini? " tanya Bastian.
"Kalau sekarang, Selina belum ketemu kerjaan, tapi nanti, Selina sambil usahakan untuk cari kerjaan juga. " jawab Selina.
Raut wajah Bastian langsung berubah, sedangkan Vina mengerti, ia menghela nafasnya.
"Yasudah, semoga berhasil ya ketemu kerjaannya, ini juga demi almarhum kedua orangtuamu juga. " ucap Vina.
Selina menganggukkan kepalanya, ia sembari tersenyum ke arah Vina.
"Makasih, tante. "
"Kak Ina kenapa nggak tinggal di rumahnya lagi? " tanya Rehan.
"Kakak Ina sekarang yatim piatu, rumahnya udah nggak ada lagi. " jawab Nabilla.
"Rehan, Nabilla, nanti mama cubit kalian berdua ya, mulutnya nggak bisa dijaga! "
Akhirnya, Vina memarahi kedua anaknya, dan sekarang kedua anaknya diam, ia menyuruh Selina untuk makan lagi, walaupun suasana di dapur itu tidak bagus, ditambah lagi Bastian yang tidak senang ketika mendengar keponakannya yang menumpang namun tidak ada pekerjaan.
Selesai makan malam, Selina membereskan dapur bersama dengan Vina, selesainya membereskan dapur, mereka memutuskan untuk segera beristirahat, dan Selina kembali ke dalam kamarnya kemudian mengunci pintu kamarnya.
Di dalam kamar, Selina masih teringat dengan seseorang, ia membuka ponselnya dan melihat pesannya lagi yang dirinya kirimkan kepada seseorang, tepatnya dengan Aris, kekasihnya.
Pesan yang terkirim sama sekali belum dibaca dengan Aris, alhasil, Selina merasa khawatir dan menelepon kekasihnya itu, walaupun panggilan tersebut ternyata tidak dijawab sama sekali.
"Ris, kok akhir-akhir ini kamu nggak balas pesanku? " gumam Selina.
Selina mengirim pesan kembali, walaupun tidak ada jawaban, namun Selina memiliki rencana, ia akan menghampiri Aris ke tempat yang biasa kekasihnya itu datangi.
"Udah, mau tidur aja sekarang. "
Selina berbaring di atas kasur, dirinya sembari memeluk foto kedua orangtuanya, ia kemudian tertidur karena merasa kelelahan.
Keesokan harinya, Selina sudah bersiap-siap, ia berencana pada hari tersebut ingin menjumpai kekasihnya.
Saat keluar rumah, Selina berjumpa dengan Vina yang tampak baru saja pulang dari pasar, alhasil keduanya saling berpapasan.
"Ina, mau kemana kamu? " tanya Vina.
"Ina mau pergi dulu ya, tante, mau ketemu sama seseorang dulu. " jawab Selina.
"Oh iya, hati-hati dijalan ya. "
Selina menganggukkan kepalanya, ia berjalan menuju ke luar, dan tak lama, taksi yang dipesannya akhirnya sampai dan pergi ke tempat yang dituju sebelumnya.
Tempat yang dituju merupakan taman, dari kejauhan, Selina menatap siluet yang dirinya kenal, itu adalah Aris, namun tidak hanya satu, kekasihnya itu ternyata bersama dengan wanita lain, alhasil, dirinya merasa tidak terima dan berjalan dengan cepat ke arah kekasihnya itu.
"Aris! "
Orang yang dipanggil namanya langsung menoleh, setelah keduanya berjumpa, Selina langsung menampar Aris dengan kencang, wanita yang berada di samping kekasihnya itu terkejut, dan paling mengejutkan, ternyata wanita tersebut adalah salah satu sahabatnya, yaitu Regina.
"B*ngsat! Kamu selingkuh di belakang aku, tapi kamu dulu janjinya mau nikahin aku! "
Selina memukul Aris yang tengah bersama dengan salah satu sahabatnya, yaitu Regina, namun Regina menghempaskan tangan Selina yang memukul Aris.
"Stop! Jangan pukul pacar aku! " bentak Regina.
"Heh, kamu pelakor! Aris ini pacarku, kamu kok nikung aku dari belakang?! Kamu pengkhianat! " teriak Selina.
Saat Selina ingin memukul Regina, Aris menahan tangan Selina, ia menghempaskan tangan Selina, hingga Selina hampir terdorong, alhasil, Selina terkejut melihat kekasihnya itu melakukan hal tersebut kepadanya.
"Aris? "
"Maaf, aku nggak bisa lihat kamu kasarin Regina, dia tunangan aku. " ucap Aris.
Selina terkejut, dirinya menggelengkan kepalanya, ternyata Aris sudah bertunangan dengan sahabatnya itu.
"Si*lan! Kamu mengkhianati aku! Apa kurangnya aku sama kamu, Ris, sampai-sampai kamu selingkuhin aku, kamu sampai mau nikahin sahabat aku?! "
"Kurangnya kamu? Kamu itu anak manja yang cuma bisa menye-menye, kerjaan aja nggak ada, yang ada selalu minta apa-apa sama orangtuamu. " jawab Regina.
"Heh, aku nggak nanya sama kamu ya! " bentak Selina.
Saat kedua wanita itu ingin saling adu jotos, Aris melerai keduanya, dirinya langsung menolak Selina yang ingin melukai Regina.
"Sudah, kita putus saja, aku lebih percaya dengan apa yang Regina ucapkan barusan. " ucap Aris.
"Oke, silahkan, memang sampah sama sampah itu cocok! " umpat Selina.
"Jaga mulut kamu ya! " tegas Regina.
"Sudah Gin, kita pergi aja, jangan diladenin. "
Aris pergi dengan Regina, sedangkan Selina mengumpat keduanya dari belakang.
Selina meneteskan air matanya, ia kemudian menghubungi para sahabat lainnya, karena ingin menceritakan apa yang terjadi dengan hubungannya.
Selina diberitahukan untuk mengunjungi kafe, dirinya akhirnya berjalan di arah kafe yang tak jauh dari taman, sesampainya di kafe yang dimaksud, ia masuk dan mencari dimana para sahabatnya berada.
"Gurls... "
Selina mendekat ke arah para sahabatnya, namun kali ini berbeda, tidak ada sambutan sehangat sebelumnya, alhasil dirinya merasa penasaran.
"Kalian kok... "
"Oh iya, kebetulan kamu ada disini, kita sekalian mau ngasih tau nih sama kamu, Selina. " ucap Clara.
Selina mengerutkan keningnya.
"Ngasih tau apa? " tanya Selina.
Yuni, Inara dan Clara saling bertatapan, kemudian mereka menatap ke arah Selina lagi.
"Maaf juga ya Sel, kita nggak bisa lagi masukin kamu dalam sirkel ini lagi, soalnya kamu kan udah berbeda dari sebelumnya nih. " ucap Yuni.
Selina terkejut, dirinya ternyata sudah ditendang dari pertemanan yang sudah hampir 5 tahun dibuatnya bersama dengan para teman-temannya itu.
"Kenapa? Kalian nggak nerima aku karena aku nggak punya apa-apa lagi? " tanya Selina.
"Ya, bisa dibilang gitu sih. Kamu kan tau, kalau rutinitas kita dulu kan sukanya shopping, perawatan, manicure and pedicure, dan lainnya. Sekarang kan kamu nggak bisa, jadinya maaf ya. " jawab Inara.
Selina berdiri dari kursinya, ia menggebrak meja makan tersebut, dan menatap penuh amarah kearah teman-temannya.
"Kalian, giliran aku nggak ada kedua orangtuaku dan aku kehilangan semuanya, kalian malah ninggalin aku! Kalian cuma sahabat yang mandang harta! " bentak Selina.
"Heh Sel, kalau kamu tau diri kamu sekarang kayak gimana, seharusnya kamu tau diri! Kita semua udah ngasih tau baik-baik, kok kamu malah nyolot? Makanya, nggak heran sekarang kamu jadi miskin dan yatim piatu! " ucap Clara.
Ucapan Clara begitu menyakitkan hati Selina, dan Selina tidak rela dirinya diucap hina seperti itu, alhasil Selina ingin membalasnya, namun para gadis-gadis yang berada di sana melindungi Clara, mereka menahan Selina hingga akhirnya Selina didorong sampai terjatuh.
"Udahlah, kamu pergi sana, kami memang nggak mau nerima kamu, cewek udik! "
Selina ditinggalkan oleh para sahabatnya, dengan hatinya yang begitu hancur, dirinya menangis pilu, ternyata pertemanannya itu memandang soal harta, dan dirinya yang tidak punya apapun lagi sekarang dibuang begitu saja dengan para teman-temannya itu, serta dirinya yang dihina sebagai anak yatim piatu.
"Tuhan, kau berikan aku ujian bertubi-tubi ini apa karena kau berikan aku pelajaran? "
Selina bangkit dari dirinya yang tersungkur, ia masih menangis, karena dirinya yang akhirnya kehilangan semuanya, dan rasa sakit yang bertubi-tubi.
Sebulan berlalu, banyak sekali yang harus Selina hadapi, yang dimana ia telah selesai mengurusi urusan dari tanggungjawab almarhum kedua orangtuanya, semua yang dimiliki olehnya kini hilang sudah, yang mana ia kehilangan orangtua, kekasih, orang-orang yang dianggapnya baik, maupun sahabatnya sendiri, tubuhnya selayak dihujamkan beribu panah tajam yang menusuknya.
Sakit, itu yang hanya bisa tergurat di hati Selina, gadis tanpa arah itu hanya bisa meratapi rasa kesunyian dalam hatinya, dirinya tidak ada lagi rumah untuk berlindung, maupun kedua orangtuanya yang sebagai petunjuk arah jalannya berada.
Dari semua itu, Selina belum sepenuhnya menyelesaikan hutang milik kedua orangtuanya yang ternyata masih banyak, dan sekarang dirinya kebingungan bagaimana membayarnya, sedangkan dirinya kebingungan untuk menemukan pekerjaan yang dia lamar lewat website.
"Duh, jangan sampai nggak ada kerjaan, nanti yang ada aku diteror terus untuk lunasin hutangnya. "
Selina yang tampak kebingungan mencari pekerjaan, dirinya mengusap kasar wajahnya, karena dirinya sampai sebulan ini belum menemukan pekerjaan, ditambah lagi hutang yang perlu dibayarkan segera.
Saat tengah berpikir, terdengar suara ribut dari luar, Selina kaget, dan dirinya mendengar bahwa suara tersebut yang tak lain yaitu suara om dan tantenya.
Selina merasa penasaran, namun dirinya tidak berani untuk keluar, sekarang, ia mendengarkannya dari dalam kamarnya.
'Udah, kamu urus si Selina itu, dia itu cuma keponakan kita, bukan anak-anak kita! '
Selina menjauh, dirinya terkejut, kemudian ia memutuskan untuk segera duduk kembali di kursi dan meja yang ada di dalam kamar tersebut, sembari ia memikirkan apa yang terjadi sebelumnya itu tidak salah dirinya dengar di telinganya langsung.
Pikiran Selina menjadi kalut, dikala dirinya pusing memikirkan pekerjaan maupun hutang, dirinya juga masih terpikirkan dengan apa yang diucapkan oleh Bastian dari luar kamar, dirinya merasakan perasaan yang tidak enak sedang menghantuinya.
'Om Bastian sepertinya nggak senang aku terus ada di rumah ini. '
Tak lama setelahnya, pintu kamarnya terbuka, Selina menoleh ke belakang, terlihat Vina yang memasuki kamarnya.
"Tante? "
"Maaf kalau tante masuk, apalagi tadi kami sempat ribut. " jawab Vina.
"I--iya tan, nggak papa. "
Saat Selina diam, Vina menghela nafasnya.
"Ina, tampaknya kamu nggak bisa tinggal disini lagi, nak. "
Selina terkejut, karena Vina yang mengatakan bahwa dirinya tidak bisa tinggal dirumah tersebut.
"Suami tante tidak ingin ya Ina tinggal disini? " tanya Selina.
Vina menganggukkan kepalanya, ternyata keributan yang sering terjadi itu karena Selina yang tinggal dirumah tersebut, dan dirinya tidak tahu ingin berbuat apalagi selain menuruti apa yang dikatakan oleh pemilik rumah tersebut.
"Dan juga, tante minta maaf banget, mungkin kamu harus tahu dengan apa yang tante ingin sampaikan denganmu. "
"Apa, tante? " tanya Selina.
"Belajarlah untuk mandiri, nak. Sebenarnya, dari apa yang suami tante bilang itu tidak salah, kamu sudah dewasa, sudah menempuh pendidikan tinggi sampai lulus, jadi, jangan sia-siakan gelar yang sudah kamu raih dengan berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan apa yang sudah kamu raih dalam perkuliahanmu dahulu. Kami juga tidak bisa berperilaku seperti apa yang kedua almarhum orangtuamu lakukan kepadamu, kami juga tahu kamu anak yang manja, tapi dunia terus berputar, dan kamu harus punya inisiatif untuk bisa bertahan hidup, apalagi sekarang kamu bukan anak-anak lagi, melainkan orang yang sudah dewasa. Tante berharap, kamu bisa mengerti apa yang tante dan om mu ucapkan dengan kamu, tidak apa kamu mendapatkan hal sepahit ini, ini demi perkembangan hidupmu kedepannya juga. "
Penjelasan Vina sangat nyata, bahkan Selina yang terkenal keras kepala itu merasa apa yang diucapkan oleh Vina sangat menampar kehidupannya sekarang, dirinya itu harus bisa mulai hidup mandiri dengan apa yang sudah ia raih sebelumnya dan melanjutkan jalan hidupnya sendiri mulai sekarang.
"Tapi tenang saja, tante akan bantu kamu menemukan tempat tinggal sambil kamu berusaha mencari pekerjaan, dan juga, kamu tidak akan tante biarkan keluar hari ini, tante akan minta kepada om mu untuk beri waktu sampai tante menemukan tempat tinggal sementara kamu. " ucap Vina.
Selina menganggukkan kepalanya, dirinya menuruti apa yang diberitahukan kepada tantenya itu kepadanya, dan mengucapkan banyak terimakasih karena dirinya selama sebulan ini diizinkan untuk tinggal di rumah tersebut.
"Iya tan, terimakasih sudah menerima Ina selama sebulan ini. " ucap Selina.
............................................