Dear kamu.
Ketika pertama kali kita bertemu, sikapmu membuat hatiku meleleh.
Kamu cuek, tapi sebenarnya kamu rapuh.
Sejak itu aku yakin, kau memang di ciptakan untukku. Aku ingin melindungimu. Aku ingin menjagamu.
***
11 tahun Lalu
"Hai... Kapan kau sampai?" tanya Galih kepada tamunya yang sedang berdiri di depan pintu dengan tangan di rentangkan.
Senyum pria itu mengembang, menyambut pelukan sahabatnya yang sudah hampir 2 tahun tidak bertemu.
"Eugene, How are you?"
Galih merapatkan pelukan pria Bule itu, dan ia mendapatkan tepukan di bahu.
"Silahkan duduk. Kau mau minum apa? Apakah Mocchacino masih favoritmu?," ujar Galih mengajak Nicholas ke ruangan tamu di dalam kantornya. Suara derekan koper mengikuti mereka.
"Yups," sahutnya singkat sambil mendaratkan pantatnya di sofa.
"Baiklah, aku menelpon Febri dulu."
Galih memencet tombol telepon dan tak berapa detik terdengar nada kereta api diiringi suara perempuan.
"Feb, 2 gelas Mocchacino dengan sandwich strawberry. Hantarkan ke ruangan," ujar Galih lalu memutuskan sambungan telepon.
Selang 15menit kemudian, sesosok perempuan muda datang. Ia tampak menarik dengan rambut panjang lurus terurai. Di tambah perawakannya yang kecil, ia sangat lincah dalam melakukan tugasnya. Tidak seperti wanita umumnya, ketika melihat bule luar negeri mereka akan berteriak histeris dan berjingkrak-jingkrak. Perempuan itu tetap tenang seakan tak terjadi apa-apa.
"Ada lagi Bos?"
"Done! Silahkan kembali ke meja kerjamu!"
Gadis itu berpamitan dengan nampan di d**a. Lalu menutup pintu dengan pelan seraya mengangguk dan mengucapkan permisi.
"Who is she? Dia cantik," puji Nicholas .
"Sekretarisku. Itulah maksud aku mengundangmu kesini." Suara Galih terdengar berat.
"Why?Apa hubungannya dengan gadis itu?"
"Banyak karyawan baru yang bergabung di perusahaan.Aku punya rencana ingin membuka Hotel baru di Bali jadi kami memerlukan seorang sepertimu untuk mengajari mereka bahasa inggris yang baik dan benar. Tapi sayangnya aku tak bisa mendampingi kamu kali ini."
Galih tetap tersenyum walaupun merasa tidak enak.
"Why not. Aku bisa sendiri. Kita sudah kenal lama semenjak kamu kuliah di Kanada. Jangan merasa sungkan."
Nicholas bersikap santai agar sahabatnya tidak menganggap dia istimewa .
" Okeh, aku akan meminta Febri untuk mendampingimu beberapa hari, Aku yakin kau akan senang. Dia anak baik."
***
Nicholas Eugene mengerutkan keningnya ketika melirik gadis itu sedang berdebat dengan Galih. Jarak mereka hanya setengah meter di hadapannya.
Gadis itu berdiri dengan sepatu mengetuk dan tangan bersedekap berbicara dengan Galih.
Terlihat gadis itu sesekali mencuri pandang ke arahnya yang duduk di sofa besar. Entah apa yang mereka bicarakan, dia tidak terlalu jelas mendengar.
“Tapi... Pekerjaan aku masih banyak, Bos! Suruh yang lain aja." Perempuan itu terlihat kesal.
“Anggap saja kamu bebas tugas dalam seminggu ini, Feb. Tolong urus hotelnya, makan serta hal lainnya.”
"Namaku Elena Febrianti, Bos. Panggil aku Elena saja."
"Aku panggil kamu Febri saja, biar beda. Aku suka perbedaan," sahut Galih.
Elena Febrianti mendesah. Perempuan itu kini mulai menggigit kukunya, pertanda ia frustasi. Ia mengeluhkan sikap bos-nya yang selalu melimpahkan pekerjaan aneh untuknya. Memang, Galih ini boss barunya, seorang Manager hotel dan turis guide.
Entah bagaimana dia harus menolaknya, dia benci orang asing.
Sungguh Elena merasa risih jika harus berdekatan dengan pria berkebangsaan asing. Di matanya, mereka terlalu banyak menebar pesona di hadapan perempuan-perempuan lokal. Bisa di bilang laki-laki ganjen.
"Tenang Elena, bersikaplah profesional."
Dia seperti berusaha meredam kan kesulitannya sendiri.
“Feb, ini mungkin kelihatan sedikit personal tapi dia teman baik saya selama kuliah di Kanada dulu. Saya berharap kamu bersedia menemani makan siang dan membantu menyiapkan semua kebutuhan selama kita memakai jasanya. Minimal sampai saya menyelesaikan tugas yang lain. ”
Galih terkesan meminta tolong dengan sedikit paksaan, ia menangkupkan tangan di d**a. Rasanya ingin sekali Elena ngeyel, kenapa bukan orang lain saja yang menemani? Namun dia tidak berani. Kebiasaan bos Galih memanggilnya Feby sangatlah membuatnya gusar. Menurut Galih, wajah Elena mirip salah satu anak girl band Blink.
“Duh, gimana ya? Bahasa Inggris saya pas-pasan, Pak,” sanggah Elena dengan harapan tinggi Galih akan membatalkan tugas untuknya.
“Nah, justru untuk itulah perusahaan mengundang dia kemari. Supaya kalian bisa belajar berkomunikasi dengan bahasa internasional dengan percaya diri. Oke?”
“Baiklah.” Elena mengangguk, menyerah. Wajahnya nampak depresi.
Galih tersenyum puas, ia mendekat ke arah Nicholas sementara Elena mengekor di belakang lalu memperkenalkan keduanya.
"Perkenalkan sekretarisku Elena Febrianti, ia akan membantu menyiapkan semua keperluan kamu selama mengajar di sini. Saya minta maaf tidak bisa menemani karena ada tugas kantor yang hampir deadline," ujar Galih.
“It’s okay, Galih. Hai, Elena, senang berkenalan denganmu.”
Nicholas berdiri, mengulurkan tangan dan menyalami Elena lalu tersenyum ramah. Elena menyambutnya dengan hati yang di paksakan, terlihat jelas dari gesture tubuhnya yang tidak betah lama-lama ketika berjabat tangan.
Entah apa yang di pikirkan Nicholas , perempuan yang di hadapannya sekarang terlihat bak bidadari dan terlihat sangat menarik.
“Mari ikut saya, Sir. Saya akan menunjukkan kamar anda," ujar Elena
“Panggil Nicholas saja, please.”
"Saya akan memanggil bell boy untuk mengangkat barang bawaan anda. "
"Sure, thank you," sahut Nicholas .
Kembali Elena mengangguk, tanpa suara, tanpa senyum. Ah, gadis itu … seperti manekin, cantik tetapi beku.
Nicholas mengikuti langkah Elena dengan tatapan dari atas ke bawah. Nicholas kagum dengan penampilan Elena yang lumayan seksi.
Kedua manusia berlawanan jenis dan berbeda kebangsaan itu masih dalam diam ketika berada di depan lift, Nicholas melirik perlahan dan melihat wajah Elena yang sedikit memucat. Ia juga melihat Elena berpegangan ke dinding lift.
"Are you okey?" ujar Nicholas
Elena tak mengindahkan apa yang di ucapkan Nicholas. Ia tetap berpegangan
Pintu lift terbuka, Nicholas mempersilakan Elena masuk duluan. Elena berjalan perlahan kakinya gemetaran.
"Apakah kau baik- baik saja?" Nicholas kembali bertanya.
"Diamlah!" bentak Elena.
Nicholas merasakan hatinya ingin sekali membantu perempuan itu. Ada sesuatu dorongan yang kuat timbul tiba-tiba. Perasaan ingin menjauhka sesuatu yang buruk akan menimpanya. Ingin ia memeluk perempuan itu. Dan melalui ketakutannya bersama-sama.
Elena menarik napas lega ketika sudah menjauh dari lift. Dia berjalan mendahului, Nicholas berada satu langkah di belakangnya. Sepanjang koridor entah sudah berapa pasang mata mengarah kepada mereka.
Elena jengah menjadi pusat perhatian.
See? Itulah kenapa Elena merasa risih Kebanyakan perempuan lokal itu tidak bisa melihat pria asing yang lumayan ganteng, langsung mencari perhatian.
Elena mengakui, Nicholas gantengnya tidak ketolongan. Elena mulai mual ketika melihat para karyawan yang mulai dari mengibaskan rambut, tersenyum-senyum sambil mencuri pandang, atau hanya sekadar melirik hingga tersandung. Dan Nicholas ? Tampaknya ia sudah terbiasa dengan hal itu, terbukti mengangguk dan tersenyum ramah berkali-kali.
"Dasar pria ganjen," gerutu Elena.
"Sorry...what did you just say?" ujar Nicholas dengan langkah kaki yang panjang menjjari Elena.
"Nothing!" ucap Elena tanpa menatap wajah pria itu.