Bukan Yuka Namanya

1462 Kata
Bukan Yuka Namanya   Yuka ikut ke mall bukan karena ingin membeli k****m. Gila saja, mau dia kasih buat siapa coba itu balon? Elrangga saja belum sah menjadi suaminya lagi. Sesat-sesat begini Yuka masih takut dosa. Yuka ingin masuk surga bukan neraka. Yuka, Kushi, dan Kaza menapakkan kaki mereka di marmer mall. Yuka mengenakan kaus putih berlengan pendek. Begitu masuk, pendingin ruangan lantas menyapa kulit pucatnya. Setibanya mereka di rak makanan ringan, tubuh Yuka didorong oleh tangan tak beradap milik Kabhi Kushi Kabhi Gham. ”Sana cari pengaman buat lo nananana biar nggak hamil!” Kushi enggak ingin kencannya dengan Kazasaki terganggu oleh Jakula. Yuka hampir mengumpat. Karena dorongan Kushi, tubuh Yuka menabrak bapak-bapak yang sedang digandeng istrinya. Mata si bapak memindai aset depan Yuka yang tadinya mendarat empuk di lengan hitamnya. Otomatis Yuka menyilangkan kedua tangan di d**a. ”Eeeh lihatin apa Papi heh? Punya Mami lebih bulet dan empuk daripada itu spons bedak punya dia!” Omelan si ibu dibarengi jeweran pada kuping suaminya. Lebih mengesalkannya lagi, si ibu membandingkan d**a Yuka dengan punya dia yang seperti melon akan pecah itu. ”Saya juga ternistakan oleh tatapan lapar mata suami Ibuk ke d**a saya yang khusus saya jaga buat suami tercinta.” Si ibu pura-pura enggak punya telinga. Ia menarik tangan suaminya menjauhi Yuka. Setelah si ibu pergi, Kushi yang melihat kejadian itu terpingkal. ”Gila itu ibu, tahu aja kalau d**a lo memang kayak spons bedak lima ribuan!” ”Mulut sadis kayak lo pantesan jadi jomblo. Kalau lo masih suka ngehina orang, lo nggak akan dapat jodoh! Nggak bakal ada yang tahan sama mulut rombengan lo.” Kushi mengabaikan Yuka. ”Jujur deh, Ka. Lo pakai beha busa biar kelihatan cantik ’kan? Itu si bapak pasti ngerasa beda makanya dia pelototin lo segitunya.” Yuka ingin menendang Kushi ke Lubang Buaya. Dengan bangga Yuka berucap, “Ini asli.” Yuka melihat Kaza yang sejak tadi diam aja, tumben. Supaya enggak didengar Kaza—karena ini menyangkut kehormatan Yuka sebagai anak Pak Apan dan Buk Siyah—Yuka membisiki Kushi rahasianya. ”Asli hasil pijat rutin tangan laki gue sejak gue remaja.” Yuka melirik Kaza dan berharap adiknya tidak mendengar. Bisa gawat urusannya kalau Kaza mengadu soal tingkah laknat Yuka zaman dahulu kala. ”What the hell! Hancur, dasar lo ya, Ka, kid zaman now, nggak nyangka gue lo segatel itu.” Kushi mengusap-usap dadanya. ”Sono lo! Tercemar otak gue gara-gara lo, Jakula!” Kushi menarik tangan Kazasaki mengambil trolley. ”Memang gue males dekat lo pada.” Yuka memunggungi Kushi dan Kazasaki. Dia berbelok ke rak pembalut. Tujuan Yuka ikut untuk membeli barang pribadinya ini. Setelah memasukkan beberapa pack pembalut dua macam ukuran, untuk siang dan malam, Yuka kembali menggila. ”Eh eeeuhm... Bentuknya kayak gimana sih?” Yuka memerhatikan produk pengaman khusus pria yang tersusun di rak sambil mengenang video-video yang dia lihat di youtube. Yuka mengambil produk yang berwarna paling kinclong lalu mencari keterangan cara pakainya. ”Mana aaaih?” Dia menggerutu sendiri karena tulisan di produk itu kecil-kecil. Nasib mata tua yang  ya begini. Sampai memicingkan mata, Yuka belum menemukan cara memakai k****m. ”Sampe sakit mata gue.” Yuka melemparkan pengaman itu ke dalam keranjangnya. Saat ingin membayar ke kasir, Yuka melihat pangerannya mendekat. Elrangga juga habis belanja dan enggak menyadari ada Yuka yang mesem-mesem. ”Hay, Om Elang,” Yuka dadah-dadah manja. For your informations, Yuka mengikuti Kaza yang memanggil Elang kepada Elrangga. Tapi Yuka lebih senang memanggil Ayang El atau Rangga supaya orang pikir Yuka ini Cinta. Menurut Yuka, wajah cantiknya mengalahkan Dian Sastro. Elrangga mendengkus, sudah jelas ia tak ingin melihat wajah imut Yuka. Yuka berlari-lari kecil supaya cepat berdempetan dengan Elrangga. Digandengnya tangan kekar Elrangga yang lagi-lagi hanya memakain kaus polo. Tubuh seksi Elrangga kelihatan minta diraba banget oleh tangan Yuka. Elrangga menepis tangan Yuka. “Jaga tangan kamu!” Ia berdiri menjauh sambil mendorong trolley-nya. ”Nggak bisa. Pengennya raba-raba Om,” bisik Yuka kemudian terkikik ganjen. ”Hay, Yuka. Kamu belanja juga?” Yuka mengalihkan wajahnya dari leher Elrangga yang gerr ke suara wanita cantik milik Ramoona. ”Mau ngapain lagi ini orang beredar di sekitar sini?” Yuka kesal tapi hanya bisa mendumel dalam hati. ”Mau bayar ya, yuk barengan aja. Mumpung ada si bos, minta traktiran sama El dong.” Ramoona mencetuskan ide dan Yuka langsung mengangguk. Otak Yuka bersahabat sekali dengan kata gratis. Mbak kasir mulai menghitung barang belanjaan Yuka satu-satu hingga nampaklah benda terkutuk yang menurut Yuka tadi sudah ia taruh kembali ke rak. Kenapa bisa masuk ke dalam keranjang belanjaannya? Yuka berdeham. ”Hitung Mbak, dia yang bayarin semuanya termasuk itu tuh,” tunjuknya pada benda keramat tersebut. Kemudian Yuka memeluk kantung belanjaannya. “Bayarin, Om.” Dia menunggu belanjaan Elrangga dihitung kemudian mengekor di belakang Elrangga dan Ramoona. ”Mau ikut ke apartemen El nggak?” Ramoona menawarkan hal yang sejak tadi mengganggu kepala Yuka. ”Pokoknya Yuka nggak akan ngebiarin Mbak Moona dan Om El dua-duaan dalam apartemen. Yuka nggak setuju!”   ***   Boleh enggak Yuka tabok mulut Mbak Moona yang enggak berhenti ketawa bareng Om El? Mereka berdua kelihatan asyik banget. Memang sih yang tertawa hanya Mbak Moona saja, tapi yang membuat Ramoona ngakak gitu Om El. Yuka enggak rela mereka akrab begitu karena El itu suami Yuka! Dua makhluk itu selesai menyusun belanjaan ke lemari es. Ramoona memasang celemek untuk memasak makan malam. Biarin aja Ramoona masak sendirian, Yuka akan deketin Om El aja. Bye Mbak Moona. Yuka ke kamar Elrangga yang enggak dikunci. Pria itu entah kemana. Yuka melakukan inspeksi di kamar suaminya, siapa tahu ada foto Yuka nyelip di bawah bantal. Wanita tak beradat itu membongkar-bongkar laci meja, membalik-balik bantal, dan melompat-lompat untuk melihat puncak lemari buku. ”Yuka apa yang kamu buat di sini?!” gelegar suara tertahan Elrangga menghentikan aksi Yuka. ”Eeh Om Elang. Yuka lagi periksa-periksa nih. Om ngumpetin foto Yuka nggak?” Dengan tak tahu malu, cewek berambut pendek itu mengelus d**a Elrangga yang dibalut kaus putih senada dengan yang Yuka pakai. Yuka makin merasa kalau mereka banyak kesamaannya. Elrangga menepis tangan Yuka untuk yang kesekian kalinya hari ini. ”Keluar kamu!” ”Iiih nggak mau. Aku males lihat suami aku bareng wanita sementara akunya dianggurin. Lelah hati Yuka Om.” Yuka menjatuhkan tubuhnya di kasur king size Elrangga dengan kaki menggantung di lantai. ”Ka. Keluar!” bentak Elrangga tapi enggak membuat Yuka bangun dari telentangnya. Tanpa diduga, Elrangga mengangkat pinggang Yuka seperti kemarin, memegang kedua kaki Yuka dan menaikkan ke pundak. Kepala Yuka berada di bawah hingga darahnya terasa ngalir ke kepala. Ibarat rotasi bumi, semua benda yang berada di atas akan jatuh mencari bumi, begitu juga yang terjadi pada aliran darah Yuka, semuanya bergerak turun ke kepala yang terbalik. Dia kira Yuka karung beras kali ya dipanggul dengan cara nggak beradab. Dimana-mana mengangkat wanita cantik itu dengan gaya bridal style bukan macam orang mengangkat karpet yang habis dicuci setelah acara potong kambing begini. Yuka merasa enggak dihargai sebagai wanita cantik. ”Lho El kamu apain Yuka?” ”Tolong gue Mbak, gue mau dilempar ke jendela apartemen ini sama si Om!” Satu pukulan Yuka rasakan di pahanya, kurang ajar tangan Dovan Elrangga! Yuka memukul-mukul punggung Elrangga tapi tak lantas membuat laki babon itu kesakitan. Elrangga sampai di depan pintu dan akan membuka pintu. ”Mbak Moona, lihat, kejamnya Om El! Tolongin gue Mbak, gue belum makan, please biarin gue makan bentar aja di sini.” Akhirnya, Yuka diturunkan juga. ”Gitu dong Om, heeey!!!” Ternyata Yuka sudah berada di luar. Elrangga akan menutup pintu. ”Perasaan kejadiannya gini terus deh. Besok-besok, Yuka nggak boleh dilempar-lempar lagi keluar dari unit apartemen ini,” janjinya. Siapa bilang Elrangga berhasil mengusir Yuka dari apartemen itu? Dengan meminjam kekuatan Queen Elsa, Yuka berlari masuk apartemen lagi. ”El, kamu nggak boleh kasar begitu sama istrimu.” Ramoona sukses bikin Elrangga keselek meat lasagne buatannya. Sebagai istri yang enggak tegaan, Yuka memberikan minum untuk Elrangga tapi sayang ditolak. Pria itu menerima air minum dari Ramoona sehingga hati Yuka berdarah-darah. Apa salah dan dosa Yuka sehingga segitunya Om El nggak mau terima bantuan dari Yuka? Sesi makan-makan selesai. Ramoona membersihkan piring sementara Yuka duduk tenang di bar kecil sambil melihati Ramoona kerja. ”Mbak Moona nggak ada hubungan apa-apa sama Om El?” Ramoona tersenyum kepada Yuka dan bertanya balik, “Apa benar kamu permah menikah sama Elrangga?” Ramoona yang sudah selesai dengan kerjaannya datang ke samping Yuka. ”Hiih, nggak percayaan banget sih! Buat apa gue bohong?! Yaudah sana, pulang, ngapain masih di sini?!” ”Kamu yang harus pergi. Makannya sudah ’kan?” Yuka menengok ke belakang dan melihat Om El kesayangan berdiri dengan berlipat tangan seperti Ryo Yoshizawa, aktor favorit Yuka. Ganteng banget sih, Om.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN