Petir Tanda Tak Hujan
”Eh buset geledek besar banget.” Yuka tengadah ke langit sekeluarnya ia dari apartemen mewah Dovan Elrangga. Di langit ada garis-garis listrik diikuti bunyi gelegar maha dahsyat.
”Ya ampun, laki gue tega banget yah. Masa gue diusir bagai nggak punya harga diri gini, kayak kucing yang ketahuan maling ikan aja.” Yuka mengembuskan napas.
Dia enggak bohong lho, dia takut kilat dan petir yang menyambar-nyambar di langit malam. Malam semakin naik.
”Gue pulang naik apa ya?” Yuka kembali bermonolog.
Ia peluk tubuhnya yang enggak pakai jaket. Diusap-usap lengan telanjangnya yang merinding kedinginan dalam aura cemas. Gadis malang itu enggak tahu bagaimana caranya pulang karena enggak bawa handphone. Tadi ia buru-buru naik ke mobil Kushi dan melupakan ponsel. Enggak bawa handphone artinya enggak bisa menghubungi gojek, grab, dan taksi.
Duaaaaar....
”Astagfirullahal’adzim, Ya Allah.” Yuka menutup telinga, menekan dadanya yang masih berdetak.
Petir tadi dekat banget dengan tempatnya berdiri. Sepertinya ada kunti sedang berayunan di papan reklame depan apartemen ini. Petir itu pasti didatangkan khusus menyambar si kunti. Yuka mulai melantur kemana-mana.
Terlintas di pikiran Yuka untuk kembali ke atas, mengetuk pintu unit apartemen Elrangga. Tapi ia urungkan. Enggak enak ah soalnya sudah malam dan hujan pula. Bisa kejadian nanti yang iya-iya kalau Yuka berada dalam satu kamar bersama Om El.
Tapi... ini Om El loh, Ka, suamimu. Kalau mau balik lagi jadi istri dia, bukannya kamu harus rayu Om El seperti dulu lagi?
”Hiiiihs iblis lo, gue nggak mau!” Entah dari mana datangnya pikiran benar Yuka hingga ia tak mau menerima saran si malaikat hatinya. ”Gue masih ada harga diri. Gue nggak mau ngemis buat masuk ke dalam sana setelah diusir dengan teganya. Lagi pula, Mbak Moona juga udah keluar sebelum gue.”
Yuka tertawa persis setan yang berhasil menghasut dua pasangan yang naik motor tengah malam untuk mampir di semak-semak—sejenis senyuman kemenangan.
Makan tuh kemenangan! Siap-siap aja masuk angin lo, Ka!
”Oh, taksi.” Melihat taksi yang mendekat ke tempatnya berdiri menjadi kebahagiaan luar biasa bagi Yuka. Ia melompat-lompat kegirangan. Dilambaikan tangan kepada taksi yang pintunya baru saja terbuka. Lalu tiba-tiba ada yang mendahului Yuka.
”Eh itu taksi gue,” teriak Yuka kepada laki-laki yang akan menutup pintu taksi.
Laki-laki itu melihat Yuka dari ujung kepala hingga kaki.
”Gue yang dari tadi nuggu.” Yuka menambahkan.
”Jalan, Pak.” Setelah satu kalimat dari laki-laki songong itu, taksi pun melaju kencang di bawah guyuran hujan meninggalkan Yuka Sierra dalam kesendirian.
”Gue mau pulang. Gue takut. Apa gue numpang bobok di kamar Om El aja, ya?” Yuka yang enggak benar kini telah kembali. Ia balikkan tubuhnya melangkah ringan ke arah dalam apartemen.
***
Keluar dari lift, Yuka arahkan sepasang sepatu sneakers-nya ke unit apartemen milik Dovan Elrangga. Dia berjalan dengan hati gembira mendekati pintu apartemen yang tadi tertutup kuat-kuat saat pemilik apartemen itu mengusir Yuka. Yuka melebarkan bibirnya, seulas senyuman parkir di wajahnya. Hati Yuka senang banget karena ia akan bertemu lagi dengan suami kesayangan.
Baru akan mengetuk pintu, pintu itu terbuka lebih dulu. Tangan Yuka ngegantung di udara. Ia melambai menyapa laki-laki yang baru saja membuka pintu. ”Malam, Om.” Sambil tersenyum, Yuka menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
”Hujannya deras banget, Om. Petirnya juga kencang beeeeuuuh. Eeuhm aku... Aku boleh minjam handphone nggak untuk nelpon Kushi?”
Aduuuh Ibuuk, Om El makin ganteng kalau dilihat dari sedekat ini. Mana wajahnya enggak kelihatan dingin-dingin marah lagi seperti tadi. Wajah Om El yang anget-anget gini ngingetin Yuka sama Dovan Elrangga yang dulu. Kok sekarang jadi jadi pengen meluk Om El sih?
Yuka memeluk tubuh tinggi Elrangga yang keras bak asbak tanah lempung yang padat-padat keras. Liat. Dia puk puk punggung Elrangga. Ia tekan wajahnya ke d**a Elrangga yang wanginya manly banget.
”Enak ’kan pelukan sama aku?”
Yuka merusak sesi romantis itu. Padahal, Elrangga belum berniat melepas pelukan itu.
”Kamu kenapa nggak pulang?”
Elrangga melepaskan pelukan Yuka. Ia mundur sedikit ke belakang supaya bisa melihat wajah wanita itu.
”Nggak ada angkutan hujan-hujan gini Om, kompleksku jauh banget jadi nggak bisa pulang jalan kaki. Apa nggak kasihan sama aku yang berdiri di luar sana Om? Petirnya kayak suara Om lho.”
Ledekan itu Yuka dapatkan dari Elrangga sendiri saat mereka masih sayang-sayangan. Waktu itu, Elrangga sebal pada Yuka yang menolak malam pertama. Padahal suara Yuka waktu ditusuk-tusuk setara dengan suara petir—itu menurut Elrangga. Tapi Yuka enggak mengizinkan Elrangga mengoyak perawannya. Peristiwa itu Elrangga sebut sebagai ‘petir tanda tak hujan’.
”Pulang nggak?” Elrangga bersiap menutup pintu dari luar.
”Waah tanda mau diantar pulang nih. Yuka girang tapi—”
”Kalau aku numpang tidur di sini semalam, nggak boleh ya Om?”
Mata Yuka berkedip-kedip memohon supaya diizinkan menginap.
”Katanya tadi mau nelpon temanmu?”
Gubrak!
”Yah mana mau dia jemput malam-malam gini, Om. Kalau jadi dia, aku juga nggak bakalan mau keluar rumah malam-malam dengan hujan segede ini.”
Alasan! Ini usaha Yuka untuk tinggal di unit apartemen Elranga. Siapa tahu habis bobok bareng, mereka menikah benaran.
***
Elrangga mengizinkan Yuka masuk hanya untuk menunggu pria itu menelepon taksi online. Kalau kata emak-emak zaman now, zyal!!
Di sisa-sisa kesempatannya, Yuka berusaha mendapatkan apa yang ia mau. ”Om, nggak bisa apa Yuka nginep di sini semalam aja?” ucapnya dengan wajah sayu-sayu mengantuk supaya Elrangga kasihan.
”Taksinya sudah menunggu di bawah, Ka.”
”Yuka balik ya, Om.” Ia undur diri, maju jalan, keluar dari apartemen mewah milik mantan suaminya itu. Yuka berharap tangannya ditahan dan ditawarkan untuk tidur di apartemen itu saja.
Tapi sampai Yuka melangkah sebanyak sepuluh langkah pun, belum ada tanda-tanda Elrangga ingin menyusulnya apalagi menahan tangannya.
”Dasar suami durhaka. Tega banget ngebiarin Yuka pulang sendirian di tengah hujan lebat begini. Kalau ada apa-apa sama Yuka di jalan, siapa yang bakalan sedih? Pak Apan dan Buk Siyah tentunya, terus Si Upil, dan Om El entahlah.”
Sebuah taksi yang dipesankan oleh Elrangga mengedipkan lampunya. Gadis perawan itu mengembuskan napas. Untuk terakhir kalinya ia melihat ke arah apartemen. Yuka berharap di detik-detik terakhir, Elrangga akan menyusul dan menyuruh taksi pergi lalu Yuka ditarik ke atas untuk tidur bareng.
Yuka masuk ke dalam taksi dengan gontai. ”Jalan, Pak.”
Yuka menyandarkan tubuhnya di jok. Ia tautkan kesepuluh jarinya. Sekali lagi ia melihat keluar.
Sebuah keajaiban pun datang. Elrangga berlari ke arah Yuka dengan menenteng jaket. Yuka mengucek-ucek matanya berharap bahwa ini bukan mimpi.
Seperinya Elrangga cukup perhatian dengan membawakan jaket untuk Yuka. Cukuplah untuk menghibur hati Yuka.
”Ayo!” Elrangga mengucapkan satu kata itu sesudah ia menghempaskan tubuhnya di sebelah Yuka. Jaket itu ia pakai untuk dirinya sendiri.
Yuka melirik ke samping. ”Om,” bisiknya tak percaya. Biar enggak dapat jaket, asal gantinya bisa memeluk Om El.
***