Kisah Benturan Bibir

1535 Kata
Kisah Benturan Bibir   Kesempatan berdempet-dempetan dengan Elrangga dalam mobil enggak disia-siakan Yuka. Janda satu itu merebahkan kepalanya pura-pura tidur di bahu Elrangga. Tangannya melingkar di lengan kekar pria itu. Lalu yang membuat malu peradaban wanita baik-baik adalah Yuka mendusel-dusel mencari kenyamanan tidur seperti kucing malas. Wangi Elrangga masih sama. Wangi yang membikin wanita itu rela enggak mandi sehabis berpeluk-peluk manja dengan Elrangga. Ini serius. Kalau Elrangga memaksa juga, Yuka minta digendong ke kamar mandi. Sayang, Elrangga yang cinta akan kebersihan justru menyeret paksa Yuka. ”Ka, rumah kamu dimana?” Aduhai perasaan Yuka melambung ke nirwana mendengar Elrangga berbisik padanya. Sejak mereka bertemu lagi, Elrangga hanya bicara kalau ingin mengusir Yuka atau menghardik. Yuka enggak menjawab. Dia mengubah posisinya dengan merebahkan kepalanya di pangkuan Elrangga. Biar saja mereka enggak sampai-sampai ke rumah Yuka. Kalau bisa balik lagi ke apartemen. Nanti waktu tiba di apartemen, Yuka pura-pura tidur lagi dan pasti Om El mengangkat Yuka seperti  waktu malam pertama mereka dulu, ala-ala bridal style gitu. Elrangga mengeluarkan handphone. Pria itu menghubungi Vegas menanyakan form data diri Yuka di perusahaan. Dari sana ia mendapatkan alamat Yuka. Ia menyimpan handphone lantas menyebutkan alamat Yuka kepada supir taksi. Sayangnya, Yuka enggak dengar. Wanita itu telah jatuh begitu dalam dalam tidurnya. Setiba di alamat Yuka, Elrangga membangunkan Yuka yang nyenyak sekali. Elrangga berdecak heran melihat Yuka—dia belum berubah—tak bisa dibangunkan sekali aja. Wanita cantik—menurut Elrangga, Yuka memang sangat cantik—tapi tidurnya mendengkur seperti kerbau. Sudut bibirnya keluar air—bagian celana Elrangga dimana wajah Yuka menempel nampak seperti kain terkena rembesan air hujan yang membentuk sebuah pulau. Pada panggilan ketiga belas ditambah tepukan-tepukan pada pipi, Yuka pun duduk. Mata Yuka yang baru saja terbuka berwarna merah khas orang bangun tidur. “El kita udah sampai, ya?” Mendengar Yuka memanggil namanya tanpa om membuat Elrangga terkejut. Tapi itu tak berlangsung lama. ”Bukain dong Om pintunya,” pinta Yuka dengan suara serak persis orang flu dan batuk. ”Kayaknya gue salah dengar,” bisik Elrangga kepada dirinya sendiri. ”Dengar apaan Om?” Elrangga tak menjawab. Ia membuka pintu di sisinya. Niatnya dia akan keluar terlebih dahulu. Yuka  berjalan dengan lutut menghimpit paha Elrangga lalu menghambur keluar dari taksi. Sewaktu Elrangga akan bicara dengan supir taksi, Elrangga mendengar teriakan dari arah dalam rumah. Elrangga menganga karena kaget melihat tubuh kecil Yuka digotong oleh laki-laki tinggi ke dalam. ”KEMANA AJA LO, YUKA SIERRA? KABUR SAMPAI MALAM BEGINI, GUE KIRA LO DICULIK BUAT DIJADIIN SESEMBAHAN ORANG BIKIN JEMBATAN ATAU KEPALA LO YANG b**o ITU DIJUAL KE ARAB BUAT MAKANAN KELEDAI.” ”Sampai sini saja, Pak.” Elrangga mengulurkan beberapa lembar rupiah kepada supir taksi.  Ia berjalan agak cepat ke rumah sederhana di depannya. Dia mengintip percakapan Yuka dengan laki-laki yang memunggunginya. ”....” ”Ya dapatlah, mau apa lo?” Lengkingan suara Yuka didapati Elrangga saat ia tiba di jendela. Sepertinya Elrangga ketinggalan beberapa potong kalimat. ”Jadi bener lo pake tuh pengaman biar nggak hamil?” Suara lelaki itu juga meninggi. ”Apa urusannya sama lo sih bocah?! Buat apa juga gue cerita sama anak kecil. Udah sana tidur! Gue juga mau lanjut tidur.” Yuka masuk ke kamarnya dengan kesal. Adiknya itu sok-sokan jadi body guard. Hello, sudah enggak zaman ya Yuka diatur-atur kapan dia pulang kapan kelayapan. Laki-laki itu berbalik arah mendekat ke pintu dan kaget melihat Elrangga berdiri dekat jendela. Elrangga juga kaget saat kedua mata lelaki itu menatapnya selebar mata Naruto. ”Om Elang?” Hanya satu orang yang selalu memanggil Elang kepadanya—adiknya Yuka. Elrangga memindai dari ujung kaki cowok muda di depannya ini sampai ke kepala. ”Kazasaki ya?” Tinggi Kazasaki waktu itu masih setara pundak Elrangga tapi sekarang hampir menyamainya. Anak zaman sekarang makan apa sih sampai pertumbuhannya cepat sekali? “Iya, ini Kaza Om.” Kazasaki memiliki senyuman mirip Yuka, sama-sama manis. ”Masuk dulu yuk Om!” ”Tapi udah kemalaman Za.” Elrangga enggak enak masuk rumah mantan istri malam-malam. Kazasaki menarik tangan Elrangga ke dalam tanpa mendengar penolakan pria itu. ”Jam segini belum malam, Om. Santai aja.” Mereka duduk lesehan di karpet yan berserakan oleh kulit kacang. ”KAK YUKA BIKININ MAKANAN DONG, GUE BELUM MAKAN KARENA NUNGGUIN ELO PULANG!” Elrangga enggak hanya disukai mati-matian oleh Yuka tapi juga Kazasaki. Kazasaki menjadikan Elrangga panutannya sejak dulu. Agar tak dinilai kurang ajar oleh Om Elangnya sebab nggak sopan sama Yuka, Kazasaki pun memanggil kakak kepada Yuka. ”GUE NGANTUK MAU TIDUR, BIKIN AJA SENDIRI.” Yuka teriak dari kamarnya. ”OM ELANG JUGA MAU MAKAN KATANYA, KAKAK!” Kazasaki sengaja memancing kakaknya biar rajin karena nama Elrangga biasanya mujarab digunakan saat situasi seperti sekarang. Elrangga kini sibuk memerhatikan kepingan DVD yang bertebaran. Yuka yang baru saja cuci muka dan ganti pakaian kebangsaannya saat tidur—daster tipis yang keseringan dicuci hingga memperlihatkan kulit perutnya—langsung siaga. Tanpa memedulikan penampilan yang persis seperti kantong kresek bekas, Yuka segera keluar kamar. Kazasaki mendongak pada Yuka. Matanya membola lalu berdiri menggendong kakaknya kembali ke kamar sebelum dilihat Elrangga. Cepat-cepat dia ambil sarung kotak-kotak lalu dibungkusnya tubuh Yuka dengan kain tersebut. Kazasaki mengikat ujung kain ke leher Yuka. Alhasil, Yuka mirip sangkar burung milik Pak Apan. ”Lo mau nyekek gue hah?” Yuka berusaha membuka ikatan sarung itu tapi ternyata susah banget. ”Buka Kaza!!” Yuka enggak nyaman berselimutkan sarung mulai dari leher. Memang dia lemper apa dibungkus segala! ”Mau ketemu Om El nggak?” ”Jelaslah!” Gila saja si Kazasaki, Om El sudah ada di rumah ini kenapa pula Yuka enggak nemuin suami kesayangan itu?! ”Kalau gitu, jangan dilepas!” Kazasaki mendahului Yuka keluar kamar. Ketika sampai di pintu, dia balik badan lagi ke Yuka. Seperti dugaannya, kakak bandelnya itu sedang berusaha membuka simpul kain sarung. Kazasaki mengancam akan mengunci pintu dari luar. Yuka terpaksa menurut dan keluar dengan berselubung kain sarung. ”Kamu sakit, Yuka?” Sapaan pertama Elrangga saat Yuka tiba di dekat pria menciptakan warna merah pada  telinga Yuka. Duuh Om El perhatian banget sama gue! ”Enggak, cuma kedinginan aja. Butuh diangetin sama Om El nih.” Yuka duduk di samping Elrangga—menempel banget. Kazasaki yang ada di kursi sebelah Yuka dan Elrangga yang duduk lesehan pun menendang pinggang Yuka. ”Lo kurang ajar banget sih jadi bocah!” Yuka berharap Kazasaki enggak pernah datang ke rumah ini dengan begitu tak akan ada yang mengganggu proses Yuka mendekati Elrangga. ”Gue belum makan, Kak. Laper.” Kazasaki memelas membuat Yuka luluh. Bagi Yuka lebih baik Kazasaki balik ke umur aslinya dan enggak sok dewasa seperti tadi. ”Kenapa tadi nggak makan dulu sebelum pulang?” tanya Yuka dengan ketus. Ia malas beranjak untuk membuatkan Kazasaki makanan. ”Kita pesen aja, ya.” Tanpa babibu, Elrangga menekan nomor rumah makan dua puluh empat jam langganannya. Dia mengirim pesan serta berharap selera makanan Kazasaki masih belum berubah. ”Om Elang baik banget, nggak kayak cewek satu ini nih!” Kazasaki menendang pinggang Yuka. ”Kamu nggak panas ya selimutan seluruh badan gitu?” Wanita di samping Elrangga itu berkeringat di pelipisnya, tapi tak berniat melepas sarungnya. ”Tiupin dong Om biar Yuka dingin atau Om El tolong bantuin lap keringat Yuka kayak waktu itu dong.” Yuka menangkap tangan Elrangga dan menyentuhkan ke kening dan pelipisnya untuk mengelap keringatnya. ”Ekheem...” Elrangga melepaskan tangannya lalu menggeser duduk agak menjauh dari Yuka. ”Kamu tinggal di sini atau lagi liburan, Za?” Yuka merasa sebal dan gondok setengah hidup kepada Elrangga. Elrangga kalau diajak ngobrol oleh Yuka pasti jawabnya satu-satu, coba kalau Kazasaki justru Elrangga yang mengajak bicara duluan. ”Aku sekolah di sini, Om, pindah kesini.” ”Woy nggak salah lo, sama abang ipar panggil abang dong jangan om! Emang gue tante lo!” Kazasaki enggak menghiraukan protesan kakaknya. “Aku mau jagain ini perempuan, Om. Bahaya banget melepas ini janda di kota besar.” ”Janda pala lo, ini ’kan laki gue. Iya ’kan Om?” Yuka duduk menempel lebih dekat pada Elrangga. Dilingkarkan tangannya pada lengan Elrangga seperti saat ia minta duit jajan pada Pak Apan. ”Ayah dan ibuk sehat?” Elrangga mengabaikan Yuka yang menusuk-nusuk pipinya dengan telunjuk. ”Itu dia, Om. Mereka sih sehat tapi pikirannya ke anak ini terus. Om tahu lah gimana Kak Yuka, dia itu harus dijagain Om, liar banget orangnya.” Kazasaki memperoleh gamparan cuma-cuma di pipinya dari Yuka. ”Lo kira gue sapi pake dijagain. Lah elu ngomongin gue, gue di sini woy!” Yuka kembali ke samping Elrangga setelah memberikan belaian manja ke pipi adiknya yang mirip upil basah-basah itu. ”Gue nggak perlu dijagain sama lo. Udah ada laki gue di sini. Ya ’kan Om?” Waktu Yuka mendongak pada Elrangga—ternyata pria itu sedang menunduk sehingga terjadilah apa yang selama ini Yuka rindukan.  Yuka beroleh ciuman—walaupun cuma menempel doang—di bibir. Kilatan nakal menari di bola mata Yuka. Dilingkarkan tangannya ke leher Erlangga dan diciumnya pria itu. ”Yu—” Elrangga tak sengaja memberikan Yuka akses mempertemukan lidah mereka. Salah dia juga dulu mengajarkan Yuka cara berciuman sehingga wanita itu mengingat setiap langkah yang ia intruksikan dahulu. ”KAK YUKA!!” Kazasaki bergerak cepat memisahkan tubuh kakaknya dan Elrangga.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN