Bukan Cupang Biasa
Yuka menyatukan kedua jemari tangan, mengangkatnya ke atas kemudian meregangkan otot-ototnya. Bunyi krak tulang punggungnya membuat gadis Jepang KW itu merasa senang. Ia telengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Tubuh Yuka pegal banget soalnya dari pagi pekerjaannya hectic banget. Minggu ini orderan mebel dari perusahaan naik dari minggu biasa. Banyak orderan artinya banyak yang dibeli, seperti playwood dan multiplek buat bahan baku. Yuka mesti membuat laporan keuangan tersebut dengan cepat.
Teman-teman satu divisi Yuka juga terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Perusahaan tempat Yuka bekerja ini—CV FBelline Kriya yang dirintis sendiri oleh Elrangga—merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan penjualan barang mebel serta pelayanan jasa design interior. Sebutlah perusahaan ini FBelline Furniture—merupakan impian Yuka apabila ia menikah dengan Elrangga, pria itu yang mendesain furnitur rumah mereka. Kini dua tahap sudah dilalui yaitu menikah dan membuka usaha furnitur. Yang belum mereka lakukan hanya membuat rumah dan mengisinya dengan furniture buatan Elrangga
”Tapi FBelline itu dapat nama dari mana ya? Jangan bilang itu panggilan sayangnya Elrangga buat mantan pacarnya! Kalau sampai bener begitu, gue akan acak-acak itu plang nama perusahaan di depan gedung biar diganti dengan nama Yuka Sierra aja.”
Pimpinan perusahaan adalah Elrangga sendiri. Hari ini batang hidung mancung Elrangga belum kelihatan di kantor. Kabarnya tadi pagi Elrangga menemui salah satu klien dari perusahaan besar. Pekerjaan pimpinan banyak banget—itu saja sebagian tanggung jawab telah diberikan kepada Vegas. Hoho Yuka akan minta diberikan tanggung jawab juga deh nanti, kayak mengurus baju, mengurus makan, dan mengurus anaknya Om El. Otak Yuka Sierra semakin kacau.
”Woy, kesambet kayu jati yey hah?”
Sebuah tepukan kuat hinggap di pundak Yuka dari Tika. Yuka menoleh kepada wanita yang kini berdiri di sebelahnya itu dengan mulut terkatup menahan kesal.
”Memangnya kenapa?” Yuka pengin banget mematahkan tangan Tika supaya enggak asal menepuk. Kalau Yuka keguguran gimana? Keguguran jantung maksud Yuka mah.
”Lah elo, kerjaan lagi banyak-banyaknya masih sempat senyam-senyum.” Tika melihat ke monitor komputer Yuka yang menampilkan angka-angka. Kalau dikeluarkan pasti banyak banget rupiahnya. Sayang itu semua duit perusahaan, bukan untuk dia. Gajian juga masih lama. Ya nasib karyawan rendahan.
”Kerjaan lo kelar?” Yuka menyandarkan punggungnya di kursi empuk dan melipat tangan di d**a.
”Nggak. Belum. Gue mau ngasih ini, kuitansi pembelian cat dobo sama eeuhm kuitansi gergaji tangan dua unit.” Tika menyerahkan dua kuitansi beda warna kepada Yuka.
”Kenapa gergaji lama? Pada main debus apa sampe gergaji bisa patah segala?” Yuka sudah dengar gosip dari bagian produksi katanya dua gergaji patah dalam waktu bersamaan waktu mereka belum selesai memotong kayu.
”Pada buru-buru kali jadi main cepat aja dan nggak hati-hati deh,” jawab Tika sambil menaikkan kedua bahunya. Dia kembali ke kubikelnya.
”Kerja harus selalu hati-hati. Jangan jadiin alasan banyak orderan trus make sistem cepet jadi dan kulitas barang diabaikan. Kerja yang nggak hati-hati bisa bikin kualitas produksi kita lemah malah bisa gagal, tahu! Kasih tahu noh ke Kang Elok biar ngajak anak buahnya cepat tapi produksi berkualitas!” Yuka berorasi.
Kepala-kepala dari masing-masing kubikel terulur melihat gadis berambut pendek itu. d**a Yuka sampai naik turun saking semangatnya dia memotivasi.
”Barusan ada sirine kebakaran ya?” Tiwi tanya kepada Tika. Wanita yang ditanya tutup mulut takut tawanya menyembur.
”Ka laporannya udah diminta tuh sama Pak El.” Suara Vegas menyebabkan para karyawan sibuk lagi dengan pekerjaan mereka, menunduk banget ke keybord mirip ayam mematok padi yang dijemur Pak Apan.
Selain mengontrakkan rumah, Pak Apan juga punya sawah di Kabupaten Siak. Sebenarnya Yuka enggak perlu kuliah sambil bekerja. Hidupnya sudah senang. Namun semangat dan jiwa muda enggak membiarkan Yuka leha-leha menikmati harta ayahnya. Dia ingin menjadi anak berguna selagi bisa dan nggak mau menampung uang belanja. Nanti saja setelah jadi ibu rumah tangga, Yuka akan berhenti dan mengabdi kepada keluarga kecilnya bersama Dovan Elrangga.
By the way, tak ada yang sadar kalau dari tadi ada Vegas dan Elrangga yang berdiri di luar pintu memerhatikan Yuka and the gengs ula-ula.
Yuka pamer gigi gingsulnya lalu berdiri dari kursi empuk kesukaannya. ”Give me five minute, Duke Vegas.” Ia meletakkan tangan kanan di d**a kiri dan sedikit membungkuk hormat.
”Ya.” Vegas berlalu. Ia tak tahan lagi ingin tertawa karena Yuka kelihatan imut sekali main peran begitu. Kalau saja tak banyak yang melihat, Vegas akan menarik pipi putih wanita itu.
Vegas telah memanfaatkan wewenangnya untuk memindahkan Yuka ke kantor ini. Dengan penuh kesadaran ia memutasikan Yuka dari kantor cabang ke kantor pusat ini supaya bisa melihat wajah imut Yuka setiap hari. Hasilnya enggak merugikan sebab sejak Yuka datang, kantor ini lebih hidup. Kecuali bagi temannya satu ini.
”Ini kerjaan lo, haah?”
Tatapan curiga muncul di balik kaca mata Elrangga. Pria yang telah lama menjadi temannya itu menelisik wajah Vegas mencari kepastian.
”Gue? Gue ngapain?” Vegas pura-pura b**o saja.
”Jangan ngeles kayak bajaj! Lo yang mindahin anak itu ke sini!” Elrangga menutup pintu ruangan kerjanya tepat di depan hidung Vegas.
Vegas lebih memilih berjalan ke rungannya sendiri sebagai pemimpin organize dan staffing merangkap marketing.
Elrangga telah curiga sejak Yuka Sierra tiba-tiba dimutasikan ke kantor ini. Padahal sistem kerja di sini baik-baik aja. Walaupun Elrangga enggak bisa menutup mata jika hasil kerja Yuka bagus banget. Anak itu pekerjaannya bersih dari kesalahan dan bisa selesai tepat waktu.
Tok tok tok
Elrangga melihat arlogi di pergelangannya dan mengembuskan napas, apa dia bilang? Yuka memang tepat waktu. Lima menit yang diminta wanita itu memang benar-benar lima menit.
”Masuk.”
Yuka Sierra dengan rambut pendek dan poni selamat datang menyengir lebar. Ia membawa sebuah map di tangan kanan. Anak itu ke kantor hanya pakai kemeja kotak-kotak lengan panjang, celana jeans yang membalut kaki jenjangnya, dan sepasang sepatu sneakers putih andalannya.
”Ini laporannya, Pak.” Yuka menyerahkan map di tangannya kepada Elrangga. Dia deg-degan takut ada kekeliruan dari laporan keuangan yang dia bikin. Kalau sampai dia merugikan perusahaan ini dengan perhitungan yang salah, bisa karam kehidupannya. Penjara menunggu—padahal Yuka masih menunggu dipenjara bersama Elrangga dalam kamar supaya nanti waktu keluar akan ada Yuka Sierra dan Elrangga junior nan imut dan lucu.
Yuka menggetok kepalanya supaya fokus. Elrangga juga sedang serius mengamati pekerjaan Yuka. Diiletakkannya kertas itu di atas meja.
”Ada yang salah, Pak?” Yuka menelan ludahnya. Dia tak bisa berpikir yang aneh-aneh saat ini. Melihat Elrangga seperti itu, Yuka jadi seram. Ini pekerjaan loh, Yuka harus profesional apalagi bosnya adalah Elrangga. Bisa dipandang enggak becus oleh Elrangga kalau pekerjaannya nggak benar.
”Nggak ada yang salah.”
Jawaban Elrangga membuat Yuka menarik napas lega.
”Tapi—”
”Tapi apa?” Besok-besok Yuka enggak boleh langsung puas—kecuali kepuasan lain—karena selalu ada ‘tapi’.
”Boleh lanjut kerja lagi.”
Braaak.
Itu namanya pengusiran. Kurang ajar Dovan Elrangga! Dia sudah bikin jantung Yuka keguguran lalu main usir Yuka dengan kata ‘tapi’ yang mematikan itu. Nggak bisa dibaikin, Elrangga harus dikasih kepuasan—pelajaran.
”Yuka kamu mau apa?” Elrangga memundurkan kursinya—kursi kerja yang ada rodanya jadi mudah digeser kemana-mana—waktu Yuka berjalan mendekat dengan wajah yang eerrr sedikit kesal?
Yuka duduk di pangkuan Elrangga!
”Ka ini kantor, kamu mau ngapain?” Elrangga memegang pundak Yuka niatnya ingin menjauhkan Yuka.
”Terus?” Yuka tersenyum miring—smirk.
Gadis tak tahu malu itu mendekat, mendekat, dan semakin mendekat. Posisi mereka intim banget. Wajah Yuka telah berada di bawah telinga Elrangga. Ia berikan tiupan-tiupan penuh godaan di leher lelaki itu. Berhasil! Gundukan di leher Elrangga bergerak naik turun. Tangannya ia letakkan di d**a Elrangga hingga dapat ia rasakan jantung pria itu berdetak hebat. Masih sama, bisiknya di telinga Elrangga. Sekali lagi Yuka menampilkan smirk-nya.
Yuka menempelkan bibirnya di leher Elrangga. Dikecupnya batang leher pria itu.
”Aaaaach, sakit Yuka! Lepaskan!!” Jeritan yang diusakan pelan oleh Elrangga enggak membuat Yuka berhenti menggigit leher Elrangga. Dia benamkan giginya di leher pria itu dengan sepenuh hati.
Elrangga enggak bisa menjauhkan Yuka karena tangan gadis centil itu telah membelit kuat di belakang punggungnya.
Karena tahu Yuka mahir banget menyiksa—Elrangga enggak ada jalan lain. Ia menggigit telinga Yuka. Gigitan pelan tapi efeknya mujarab membuat Yuka melepaskan gigitannya. Erlangga mendorong tubuh Yuka dari atasnya.
”KAMU GILA! KASAR BANGET!” Yuka memegang telinganya yang berdenyut sakit.
Elrangga berlari ke kamar mandi mengecek lehernya takut dapat rabies.
”YUKA!”
Yuka keluar ruangan dengan wajah yang murung. Sumpah, telinga Yuka terasa mau putus! Yuka kembali ke kubikel kerjanya. Kedatangan Yuka menimbulkan kerutan di wajah-wajah kepo teman-temannya. Mereka perhatikan wajah Yuka yang merah seperti habis nangis.
***