Air Mata Pertama

1549 Kata
Air Mata Pertama   ”Yuk lo kenapa?” Tika menghampiri Yuka dengan wajah prihatin. Yuka pasti habis disembur oleh bos akibat kesalahan laporan keuangan. Wajah kuyu Yuka merupakan hal ajaib sejak ia pindah ke kantor ini. Yuka yang mereka kenal kalau enggak cengengesan ya petakilan suka lari-lari dan lompat-lompatan. ”Ini telinga gue sakit banget sumpah.” Berbondong mereka melihat telinga Yuka yang memerah. Telinga kalau dipegang agak kuat saja bisa merah apalagi digigit. ”Kenapa, Yuk?” Aldo, dari bagian produksi yang sedang mampir ke kantor, bertanya penasaran. Aldo langsung mengenali bekas gigi di telinga Yuka. Dia biasa menggigit telinga pacarnya tapi pacarnya enggak pernah bilang sakit. ”Nggak tahu, alergi gue kumat kali ya. Nggak sanggup gue, serius. Sakit banget.” Yuka terduduk. Dia yang dimanja Pak Apan dan Buk Siyah sejak kecil tidak bisa menahan luka gores sedikit saja. Tertusuk peniti saja dia menangis apalagi ini digigit. ”Lo beneran nggak tahu kenapa?” Aldo masih penasaran. Di kantor ini Yuka main gigit-gigitan sama siapa? ”Butuh air hangat nggak? Biar gue bawain buat ngompres telinga lo kalau mau.” Tiwi menawarkan jasanya. Dia murni ingin membantu Yuka. ”Beneran sakit ya, Yuk?” Tika memelas. Dia kasihan banget melihat ekspresi Yuka yang menyedihkan. Hello, ini Yuka lho, yang hari pertama saja terkenal dengan kekurangajarannya dan kekasarannya pada bos besar—gadis yang pemberani. ”Euuummh... ia tolong gue kompresin ya Tiw, enggak sanggup gue.” ”Anjaaay lo kata nama gue kwetiau dipanggil Tiw.” Walaupun protes seperti itu, Tiwi tetat berjalan ke pantry mengambil air hangat dari dispenser.   ***   Elrangga mencondongkan wajahnya sedikit miring ke cermin besar lalu meringis menahan nyeri, sakit, dan perih. Jejak gigitan Yuka dalam sekali di leher kirinya. Bekas gigi wanita itu mencetak dengan jelas pada kulit Elrangga mirip sabun yang dipakai oleh tukang duplikat kunci untuk membuat cetakan kunci asli. Dia sudah menduga jika anak itu dibiarkan berkeliaran, maka hal seperti inilah yang akan terjadi. Semua ini ulah si Vegas JJ—jomblo jamuran—yang menyalahartikan tanggung jawab. Benar-benar tidak profesional. Elrangga enggak bisa menebak apa yang ada dalam kepala Vegas. Untuk apa dia mutasikan Yuka ke kantor ini?! Dengan menutup bekas gigitan betina itu dengan tangan kiri, Elrangga keluar dari ruangannya. Ia turun ke lantai dua untuk menemukan si pembuat ulah. Grasah-grusuh di sekitar kubikel Yuka. Semua orang berniat melarikan diri. Tiwi pun angkat tangan dan kembali bekerja seperti semula. Yuka yang belum sadar akan kondisi bahaya justru menarik tangan Tiwi meminta dilanjutkan mengompres telinganya. ”Gue ada kerjaan, eeum minta yang lain aja ya, bye...” Tiwi telah duduk anteng di kursinya. Yuka berdiri mencari orang yang bersedia mengobati lukanya. Dalam pikirannya ia akan minta tolong kepada Elrangga. Namun ketika melihat Elrangga mendekat, Yuka berancang-ancang untuk lari. Elrangga semakin mendekat dan Yuka tersudut. Akhirnya dia naik ke atas meja Tika dan menggeleng-geleng seolah orang teraniaya sedunia. Karyawan lain penasaran kenapa Yuka sampai naik ke meja depan bos besar. ”Woy, Yuk! Lo tinggalin kepala lo di rumah, ya? Turun dong, ada bos tuh!” bisik Tika takut terkena getahnya. Moga saja enggak kena sial gue, doa Tika waktu Elrangga berdiri di depan kubikelnya. ”Yuka turun kamu!” Elrangga memegang lehernya menutupi bekas gigitan Yuka. ”Ampuun, Om eh Pak, enggak lagi lagi deh. Aku juga sakit ini, Pak. Kita imbang ya, piiis.” Yuka pasang isyarat damai pakai dua jari membentuk huruf V. Radar Aldo aktif begitu dengar kata ‘imbang’. Ia mulai mengarah-ngarahkan. Hipotesisnya akurat, lawan main Yuka adalah bos mereka. Dovan Elrangga. ”Turun, Yuka. Saya hitung sampai lima, kalau enggak turun saya tarik tangan kamu.” Ancaman Elrangga enggak bikin Yuka takut. Gadis Jepang KW itu justru bertambah kencang gelengannya. ”Jangan balas Om, please, sakiiit ini. Kalau mau gigit yang lain aja, boleh kok.” Yuka menutup mulutnya yang keceplosan. Wajah Elrangga memerah; kesal dan sebal campur malu. Dia tak peduli pada pandangan para karyawannya. Elrangga mendekat lantas memeluk kaki Yuka. Diturunkannya  tubuh Yuka dari meja. Dia banting perempuan itu ke lantai. Untung Yuka tidak sampai menjeplak di lantai yang keras. ”Mau kemana, OM? Adududuh... Tika Tiwi tolongin gue, ini gue mau dimutilasi sama si bos!” Tangan Yuka ditarik oleh Pak Bos hingga kini tersisa meja Tika yang berantakan akibat kaki-kaki nakal Yuka. ”Apa gue bilang! Itu Si Yuka gigit-gigitan bareng Bos El, lo pada lihat ’kan di leher Pak El ada jejak gigi! Ini jackpot, si Yuka emang beruntung banget bisa ngalahin Mbak Moona!” Aldo tertawa-tawa keras sambil memukul pahanya mendapatkan sebuah kebenaran—menurutnya. ”Itu Yuka mau dibawa kemana ya?” Tiwi bergumam. ”Jelas kemana aja yang bisa bikin mereka bebas buat teriak-teriak!”   ***   ”Kamu bayarin tagihan rumah sakit untuk luka ini.” Elrangga menunjuk lehernya. Mereka sekarang ada di depan rumah sakit.  ”Nggak papa nih ngasih tahu urusan kasur kepada dokter? Nggak malu Om?” Yuka mengedip culas sambil memasang wajah menggoda yang aduhai. ”Jangan ngomong sembarangan! Darimananya urusan kasur? Bicara nggak benar lagi, awas kamu!” Yuka mengikik pelan. ”Tahu tahu doktermya itu love bite dari aku. Nggak malu apa Om, masa cuma karena pemanasan, Om ngadu ke dokter sih?” Yuka mendekatkan wajahnya ke leher Elrangga yang terluka lalu mengecup tepat di bekas gigitanya. ”Dengan cara begini, lukanya akan cepat sembuh kok.” Tubuh Yuka didorong ke tempatnya kembali. Elrangga memasang seat belt-nya dan memutar balik mobil. ”Mau obat lagi nggak Om? Yuka bisa kasih lebih dari itu lho.” Yuka berkedip-kedip ganjen. Elrangga tak meladeni perempuan itu. Kalau sampai Elrangga terpancing emosi, bisa-bisa ia membanting setir dan menabrakkan mobil ke tiang listrik. ”Stop! Stop! Sto,p El!” Teriakan Yuka dibuat sedramatis mungkin hingga gendang telinga Elrangga sakit. Tangannya terulur ke depan seolah Elrangga ada di depan untuk ia berhentikan. ”Kenapa?” Elrangga meminggirkan mobilnya. Untung saja mereka berada di jalan yang sepi. ”Om harus ngantar Yuka ke kampus,” perintah gadis itu seenaknya. ”Ngapain?” tanya Elrangga dengan kerutan di sekitar dahinya. Yuka dengan polosnya minta diantar ke kampus untuk apa coba? ”Mau cari ayam kampus. Ya kuliah dong Elrangga tercinta.” Yuka tersenyum memamerkan gigi gingsulnya—tersangka penggigitan batang leher Elrangga siang tadi. Yuka tuh ingin gigit leher Om El hingga mendesah seperti dulu. Sehabis itu jika Elrangga minta diobati, Yuka pasti enggak akan menolak. Disuruh mengoleskan salep rabies pun Yuka mau. ”Aaaih kesal deh, masa Om El bilang mau ke dokter buat suntik rabies sih. Emang Yuka kucing?! Yuka hyena tahu, siap terkam Elrangga kapan saja.” ”Kamu kuliah, Ka?” Adududuh Om El makin gemasin. Kepo-kepo saja terus sama kehidupan Yuka supaya hati Yuka senantiasa bahagia. Yuka mengangguk. ”Iya El. Aku juga mau pintar supaya nanti anak-anak kita bangga punya ibu yang sekolah tinggi.” ”Dimana kampus kamu?” ”Jaya Sakti, Yang El.”   ***   ”Kuliah di sini tiap hari?” Mereka telah berada di lapangan parkir Kampus Jaya Sakti. Lampu lapangan menembakkan cahaya ke wajah mereka berdua. Yuka menghadap kepada Elrangga. ”Iya, Rangga. Kenapa? Cintamu nggak pintar ya karena enggak kuliah di tempat yang elit dan bagusan dikit? Jangan berpikiran seperti itu. Cintamu akan tetap menjadi anak bangsa yang pintar meskipun kampusku nggak bonafide. Yang penting Yuka rajin belajar dan sharing banyak-banyak. Yuka pasti bakal pintar dan bikin kamu bangga.” ”Ekeehm... bukan begitu, Ka.” Elrangga mengalihkan wajah dari Yuka. Ini ujian buat Elrangga karena Yuka ternyata punya inner beauty, bukan hanya cantik di luar aja. ”Kampus ini jauh banget dari kantor. Kamu pindah lagi aja ya ke kantor cabang?!” Kampus Yuka lebih dekat ke kantor cabang dan rumah Yuka. Jadi enggak ada salahnya Yuka kembali bekerja di kantor lamanya. Kasihan perempuan itu harus  bolak-balik kantor-kampus-rumah setiap hari. Bahaya sangat besar bagi gadis itu kalau perginya saja udah malam—apalagi pulangnya. Begitu yang Elrangga pikirkan namun diartikan lain oleh Yuka. Yuka mulai berdrama. ”Usir aja terus aku dari hidup, Om! Dua tahun aku usaha buat ngelupain Om. Aku kerja siangnya dan kuliah malamnya biar kepala aku nggak hanya mikirin kamu. Apa sih salah aku? Salah kalau aku mau, kamu lihat aku lagi? Salah ya kalau aku, mau lihat kamu tiap hari? Jijik banget sama aku, iya? Kamu pergi tanpa alasan kayak judul lagu. Lalu ngusir aku kayak lalat yang di atas nasi basi. Aku aja sanggup nakhlukin jalan raya tiap hari asal bisa melihat kamu, tapi—” Yuka menelan ludahnya. Tenggorokannya sakit bukan karena berteriak tapi karena ada yang mengganjal pertanda akan menangis benaran. Yuka enggak tahu kenapa dia merasa sedih diusir-usir terus. ”Makasih.” Yuka keluar dari mobil dan berlari ke kampusnya. Elrangga meninju setir. Kenapa Yuka itu harus sensitif banget? Yuka punya banyak sifat yang campur aduk dalam dirinya. Dia bisa meledak-ledak cerianya, meledak-ledak sedihnya, dan meledak-ledak amarahnya. ”Nanti kamu pulang naik apa?” Swiiing Elrangga menunggu Yuka sampai gadis itu selesai. Karena bagaimana pun, Yuka bukan orang lain lagi. Pertemuan mereka ini, memang sempat membuat Elrangga bingung harus bersikap apa kepada anak Buk Siyah itu. Hanya menjauh dari Yukalah yang waktu itu terpikirkan olehnya.  Namun, Elrangga enggak bisa mengabaikan Yuka terus menerus. Sebagian hati kecil Elrangga membutuhkan remake untuk menerima hati yang lain. Dia enggak ingin memberikan harapan kepada Yuka sebab nanti Yuka akan dapat zonk.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN