Khawatirin Aja Terus!
Yuka bersusah payah menahan mata waktu dosen menerangkan. Kepalanya bagai berayun—naik-turun—lalu tiba-tiba matanya terbuka saat kaget. Kuliah malam makhluknya seperti jamaah tarawih di tanggal dua puluhan Ramadhan. Sedikit banget. Dosen bisa melihat satu per satu mahasiswa yang memerhatikan dan yang tidak.
Coba saja ya Yuka bisa berubah jadi Tom yang bisa pasang gambar mata di kelopaknya. Tom juga bisa pakai lidi korek api mengganjal mata. Sumpah Yuka ngantuk banget. Kayaknya Yuka harus belajar sendiri untuk materi hari ini soalnya penjelasan dosen timbul tenggelam di telinga Yuka.
”Tumben lo udah teler jam segini?” bisik Kushi di sebelah Yuka.
Matanya yang hampir-hampir tertutup kembali terbuka dan tiba-tiba kuduknya merinding—ia kira suara Kushi jelmaan kuntilanak.
Yuka melihat ke depan, dosen menunduk ke monitor laptop.
”Kerjaan banyak, Kush. Lelah mata gue.” Yuka mendekatkan mulutnya ke telinga Kushi takut suaranya kedengaran oleh dosen. Yuka khawatir namanya entar di-black list sebagai mahasiswa teladan karena ketahuan mengobrol di kelas—iih amit-amit. Walau kuliahnya terlambat masuk—Yuka menganggur setahun sewaktu masih patah hati akibat talak satu—tapi Yuka bersungguh-sungguh untuk kuliah.
”Cuci muka gih!” Kushi memukul-mukul pelan bahu Yuka. Siapa tahu bisa mengurangi 60% kantuknya.
”Takut ketemu sundel bolong,” jawab Yuka polos. Ia mendapat satu gaplokan di wajahnya yang enggak tersentuh bedak itu.
”Jangan ngomongin setan napa? Ngeri gue, udah malam nih.”
Yuka menyengir. Dia pun heran kenapa bisa kepikiran lagu dedemit itu waktu dosen menerangkan materi.
Tak terasa dua jam pun berlalu. Begitu dosen keluar, Yuka menampar-nampar pipinya agar ngantuknya pergi.
”Lo pulangnya gimana? Bisa bawa motor nggak?” Kushi ragu melihat kondisi Yuka yang butuh tidur. Jangan-jangan nanti Yuka mengajak motornya tidur di jalan lagi ’kan nggak wow.
”Aaah, gue lupa. Motor gue masih di kantor.”
”Yaudah lo pulang bareng gue aja.” Kushi memutuskan.
Jelek-jelek begini Yuka tetap temannya. Ia punya sedikit welas asih untuk si jakula. Kasihan saja kalau sampai Yuka ketiduran dalam bus malam. Nanti ujung-ujungnya dia diperistri oleh jin tomang ’kan nggak elit ya.
Mereka berjalan ke parkiran. Yuka menunduk tidak memerhatikan jalan.
”Eh eh... Ka! Itu siapa? Heeeh ada yang dekat kemari woy! Lihat lo kenal kagak?” Kushi menarik-narik rambut Yuka.
”Sakiiit, bisa botak pala gue! Kenapa sih? Melek nih mata gegara lo!”
”Udah pulang?”
Yuka merotasi kepala sembilan puluh derajat dari Kushi untuk melihat orang yang baru mengajukan pertanyaan. ”Loh? Kok Ayang El masih di sini? Duuuh Kush Kush, pukul pala gue dong! Gue lagi mimpi atau gue udah mati makanya liat malaikat depan mata—Aduuuh!”
”Buset! Lo mukulnya niat benar!”
”Lo nggak mimpi dan ya lo masih idup Jakul—” Kushi enggak sempat meneruskan kalimatnya akibat shock atas kelakuan bar-bar sahabatnya itu.
Baru kali ini Kushi melihat si Jakula memeluk cowok. Mana tuh cowok kayaknya orang asing lagi. Apa Yuka terlalu kurang belaian ya makanya langsung nempel gitu sama orang asing?
”Om anterin ya, serah deh mau bawa aku kemana. Oh iya, daaah Kushi, gue pulang sama laki gue ya... bye.”
Yuka melambaikan tangan pada Kushi. Ia peluk pinggang Elrangga saat berjalan ke mobil.
”Om sayang istri deh.”
Yuka duduk di sebelah bangku kemudi.
”Kenapa nggak kuliah aja, Ka? Ambil yang siang, nggak usah kerja.” Elrangga mulai nyetir mobilnya.
”Memangnya Om mau nanggung biaya hidup Yuka kalau aku nggak kerja?” Okey, mereka lagi membahas masalah serius. Yuka hanya keceplosan karena kebanyakan becanda.
”Bahaya buat kamu jalan malam-malam, Ka.”
Sampai tahap ini sudah kelihatan perhatian Elrangga buat Yuka. Hanya saja si Jakula enggak sadar. ”Yak antarin dong El sayang. Kayak gini nih kan asyiiik, pulang pergi dengan kamu.” Tangan Yuka mulai gatal—sama seperti mulutnya—dengan lincah membelai lembut pipi Elrangga yang fokus nyetir.
”Tapi kalau kamu kerjanya di kantor cabang, jadi nggak jauh lho. Sudah pas kamu kerja di sana dan kuliah juga di daerah itu. Rumah juga dekat dari sana.” Elrangga kembali ke pembahasan yang membuat Yuka marah—rasanya Yuka pengin cmenium Elrangga sampai kehabisan napas. Serius. Dia enggak suka disuruh pindah lagi—kantor lama enggak ada Elrangganya.
”Boleh, tapi dengan satu syarat.” Yuka berkedip menarik bibirnya membentuk senyuman terkatup—tanpa kelihatan gigi—dan membengkokkan kelingkingnya. ”Mau nggak?”
”Kamu janji mau berhenti kerja atau pindah kerja ke kantor yang lama?”
”Pindah ke kantor lama. Ooooom! Om nggak bisa ngelarang aku untuk berhenti bekerja sebelum aku hamil anak Om. Makanya kalau mau minta aku berhenti, hamilin aku dulu!”
Ckiiiiit...
Rem mendadak! Perempuan itu nggak punya rasa malu apa, ya? Baru kali ini Elrangga dengar ada seorang wanita dengan mudahnya minta dihamili. Apakah ini tanda-tanda kiamat? ”Yuka jangan bicara sembarangan lagi”
”Eh tapi Om, aku sudah belajar loh supaya kita malam pertamanya lancar nggak kayak dulu. Coba deh Om, eh, maksud aku eeum Om nikahin aku lagi. Nanti Om tes deh aku akan tahan apa enggak.” Mata Yuka kelihatan berbinar-binar membayangkan adegan malam pertama mereka nanti.
Elrangga memutar tubuhnya kepada Yuka. Dicubitnya bibir merah wanita di hadapannya.
”U U UHM, UM!!”
”Sudah dilarang bicara sembarangan masih saja kamu terusin, rasakan ini!”
”EEMM... UDUH...” Yuka mencubit punggung tangan Elrangga. ”Om jahat banget sih! Sakiiiit, Om. Kenapa cubitnya pake jari? Jepit pake bibir Om aja kan nggak sak—udah udah iya ampuuun, jangan cubit lagi!”
Yuka enggak melanjut kalimatnya karena tangan Elrangga telah dibentuk seperti capit.
”Bengkak nih. Lihat aja ya, aku bakalan balas Om El nanti.” Yuka mendumel sendiri enggak peduli pada tatapan kesal Elrangga. Hello, yang harus kesal itu gue, gue yang tersakiti di sini ceritanya.
”Kurangin makan micin ya. Kepala kamu banyak bahan penyedap sepertinya.” Elrangga kembali menyetir.
Setibanya mereka di halaman rumah Yuka, Elrangga kembali menanyakan keputusan Yuka. ”Kamu pindah aja ke kantor lama, ya?”
Kantor lama maksud Elrangga tentunya kantor Yuka sebelum pindah.
”Syaratnya dulu setujui dong!” Yuka kembali bernegosiasi. Rugi dong kalau dia pindah ke kantor lama tapi enggak lihat Elrangga, unfaedah.
”Iya apa?”
”Gitu dong, Sayang. Syaratnya gampang kok. Kamu juga pindah kerjanya ke kantor cabang.”
Syarat yang tidak mungkin dapat dipenuhi. Elrangga berpura-pura tak pernah dengar syarat tersebut.
”Udah malem banget, Ka. Kamu istirahat ya, besok kerjaan nggak jauh beda dengan tadi pagi. Banyak sekali.”
Elrangga menggeser tubuhnya ke dekat Yuka lalu dibukanya pintu di sebelah gadis itu. Yuka menahan napas akibat gesekan tak sengaja antara tubuhnya dengan Elrangga saat lelaki itu membantu melepas seat belt. Timbullah gelenyar aneh di tubuh Yuka. Parfum Elrangga membuat jantung Yuka kelojotan ingin lompatan.
Yuka menarik tangan Elrangga dan membawanya ke balik kemejanya. Diajaknya tangan besar Elrangga mengelus kulit perutnya yang datar. ”Om... Dekatan sama kamu kok bikin jantungku kayak mau jatoh sih? Terus kenapa kok aku pengennya tangan Om di sini?”
Hangat suhu kulit perut Yuka menjadi pas ketika disentuh oleh tangan dingin Elrangga. Dibawanya tangan Elrangga menjelajahi perutnya dengan gerakan melingkar. Yuka memejam akibat sensasi yang ditimbulkan tangan pria itu.
”Kedengaran nggak Om suaranya?”
Yuka buka mata. Diliriknya Elrangga, pria itu melihat kepada tangannya yang berada di balik kemeja Yuka.
”Lapar Om.”
Setelah kalimat itu, cacing-cacing dalam perut Yuka mulai berdemo. Suara perutnya mengalahkan suara terompet tahun baru.
”He he he...” Yuka melebarkan bibirnya dan muncullah sederet gigi di balik bibirnya.
Elrangga menarik tangannya ke tempat yang aman. ”Kamu nggak makan siang tadi?” tanya Elrangga sambil garuk-garuk bawah matanya yang sebelah kanan.
Walaupun tahu Elrangga salah tingkah—Yuka hafal banget saat Elrangga garuk bagian bawah mata itu tandanya ia merasa nggak enak—Yuka nggak peduli.
Om El itu emang harus diingatkan seberapa ‘intim’ hubungan mereka dulu. Baru juga pegang perut, Om.
”Mana sempat makan, kerjaan banyak, terus Om El narik-narik tangan aku ke rumah sakit dan nggak nanya dulu aku udah makan atau belum.”
”Kamu mau makan apa?”
Yey akhirnya, perpisahan dengan Om El ditunda lagi.
***