Hamilin Aku!

2087 Kata
Hamilin Aku!   ”Udah jadi bos besar tapi selera makan Om El masih selera rakyat jelata, kantongnya anak kos-kosan. Ini mah sama aja waktu dia masih jadi anak kosnya Pak Apan, kayak orang nggak berduit. Hish ini sebenarnya niat ngajak makan istri atau enggak sih?” Kalimat itu dikoarkan Yuka dalam hati dengan bibir maju beberapa mili. Tangan bersedekap di d**a. Mereka duduk manis di sebuah warung makan tegal daerah Tebet. Yuka melirik tajam wajah Elrangga yang tenang seperti enggak punya salah. Pengin banget Yuka siram air kobokan itu wajah. Yuka mengembuskan napas lalu melihat daftar menu yang menempel di dinding. Dia pilih makanan yang paling mahal di warung itu. Namanya juga warteg, makanan termahal pun nggak akan sampai tiga puluh ribu satu porsi. Okey Yuka pilih makanan paling mahal dua porsi, jus paling mahal dua porsi. Pokoknya itu semua untuknya sendiri. Walau pesanannya double, enggak akan bikin kantong Elrangga kempis sih. Ngomong-ngomong soal kantong, Elrangga kalau lagi ‘mau’ dia buangnya dimana, ya? Apakah dia penganut ‘jajan sembarangan’ atau Elrangga membuang isi kantong celana di kamar mandi dengan bantuan sabun cair? Huh makanya jangan suka gantung status kita dong Om, kalo udah halal Yuka pasti mau jadi tempat pembuangannya Om. Hik hik hik Memikirkan yang aneh-aneh membuat perasaan Yuka sedikit terhibur. Ia melupakan niatnya morotin dompet Elrangga. Yuka enggak jadi pesan makanan double. Dia pilih ayam crispy sambal matah dan udang sambal balado. Untuk Elrangga, mau makan dimana saja pesanannya selalu sama; ikan goreng. Ponsel Elrangga berbunyi. Yuka bisa melihat yang menelepon adalah Ramoona. Yuka sendiri sudah mencatut nama Ramoona sebagai valakor yang harus dibasmi segera. ”Di luar.” Elrangga terima panggilan Ramoona di hadapan Yuka. Untunglah, berarti Om El nggak mau main rahasia, gitu tuh namanya suami terbaik. ”Iya bentar lagi pulang. Ada apa Mon?” Elrangga melihat ke Yuka dan Yuka enggak merasa bersalah karena terlihat ingin tahu isi obrolan Elrangga dan Ramoona. ”Mati? Iya nanti bentar lagi.” Telinga Yuka naik. Siapa yang mati? Walau begitu penasarannya, Yuka enggak mau membahas Ramoona saat ini—bikin sakit hati. ”Makannya sudah selesai, Ka?” tanya Elrangga yang lebih dulu selesai. Yuka menambah lama frekuensi makannya. Dia makan seperti putri keraton agar selesainya lama. Biarin Om El nunggu lama, gue nggak mau mereka ketemuan. Siapa sih emang Mbak Moona itu, bisa-bisanya merintah-merintah Om El seenak udel. Gue ulek tuh udel baru tahu rasa. Laki gue mau diambil, oh hell no! Gue letusin jeruk purutnya baru tahu. ”Kaza pasti belum makan juga, eum Om pesan dulu untuk dia sekalian bayar bill ini. Kamu terusin makannya.” Ketika Elrangga berdiri ke kasir, suapan Yuka berhenti. Dia cuci tangannya, lalu melihati punggung tegap Elrangga. Setitik air matanya jatuh begitu saja. Dia tersentuh oleh kebaikan pria itu. Yuka saja enggak pernah mikirin Kaza udah makan atau belum. Padahal Ibuk Siyah udah ngasih tanggung jawab buat Yuka supaya masakin Kaza. Tapi enggak sekali pun dia melakukannya selama Kazasaki tinggal bersamanya. Justru Yuka sering meninggalkan adiknya itu. Yuka mengeluarkan handphone-nya, mencari nama Kazasaki yang dia simpan dengan nama Upil Basah lalu men-diall nomor tersebut. ”Heeeum...” Kazasaki menjawab malas. ”Lo udah makan?” ”Tumben banget lo perhatian sama gue, lo dimana sekarang? Siapa yang nyuruh lo? Ibuk telepon ya?” ”Gue habis makan. Inih gue bungkusin juga buat lo.” Yuka menutup teleponnya. Matanya menatap layar ponsel yang kini berubah hitam. Gue kenapa? ”Sudah selesai ya? Ayo pulang.” Elrangga telah berdiri di sebelah Yuka. ”Kenapa bengong?” lanjutnya. Yuka mengedip dua kali lalu melebarkan bibirnya saat menengadah ke wajah Elrangga. ”Kekenyangan, Om.” Dia pamerkan deretan giginya. Untuk kali ini, Yuka bisa dibilang imut dan menggemaskan. Elrangga menarik pipi sebelah kanan Yuka lalu terkejut dengan perbuatannya sendiri. Sehabis itu dia garuk-garuk bawah matanya pakai ujung telunjuk dan meninggalkan Yuka. ”Suami gue perfect banget walaupun ngajak makan cuma di warteg!!” Yuka melompat-lompat tak tahu malu sambil lari ke luar menyusul Elrangga ke mobil. Pokoknya habis ini Om harus narik Yuka ke KUA!   ***   Yuka mengunci pintu kamarnya, mengabaikan teriakan Kazasaki di luar sana. ”Besok ada rapat wali murid, Kak! Awas kalo nggak datang!” Besok mah urusannya besok karena sekarang ada yang lebih penting dari itu—apa lagi kalau bukan mau cari pengalaman ‘metode nananana’ dari yutup. Kesibukan belakangan ini bikin janda perawan itu mulai melalaikan kebiasaannya memelototi sepasang anak adam mendaki gunung lewati lembah pada layar laptop. Pokoknya, nanti waktu Elrangga nikahin gue lagi, gue akan mengabdi kepada dia dengan memberikan apa yang selama ini ingin gue persembahkan untuknya. Yuka mengeluarkan smirk ketika laptopnya mulai me-loading video-video nananana itu. Namun baru saja menekan play video, ponselnya berteriak mengesalkan.  ”Duh, siapa sih ganggu aja?” ”Eh Ibuk, kenapa telpon malem-malem?” Yuka ganti wajah cemberutnya dengan senyum senang. Yuka menunda semua kegiatannya—sepenting apapun itu—kalau Buk Siyah telepon. Ibaratnya, misalnya, Yuka lagi ‘bobo-bobo bareng’ sama Om El—itu  impian Yuka banget—kalau Buk Siyah memanggil, Yuka akan suruh lelaki itu berhenti. Karena bagi Yuka, orang tuanya adalah dunianya. Enggak akan ada yang lebih penting daripada mereka berdua. Ibuk adalah segalanya buat Yuka, habis Ibuk Pak Apan, habis itu baru Elrangga. Nggak ada tempat untuk Kazasaki? Sebenarnya Yuka masih rada sebal karena gagal jadi anak semata wayang. Jadi Kazasaki itu enggak terlalu penting sih buat Yuka. ”Sudah makan Yu?” Ini yang paling Yuka suka. Ibuk ialah titisan Dewi Kahyangan banget, tutur katanya lemah lembut dan suaranya merdu sekali. Entah kenapa Yuka enggak mendapatkan tetes-tetes kelembutan dan keayuan Buk Siyah. Kadang kalau Yuka lagi kumat—gilanya—dia bertanya ke Buk Siyah apa benar dia anak kandung. Tapi Buk Siyah tidak marah, beliau mengelus rambut Yuka, menjelaskan bagaimana perjuangan Ibuk Siyah sewaktu mengandung dan melahirkan Yuka. Dengar cerita itu, Yuka jadi melankolis dan berjanji akan menjadi ibu yang kuat dan hebat seperti Ibuk Siyah—tentu anaknya nanti dia bikin bareng Om El dong. ”Sudah. Ibuk udah? Ayah mana Buk?” Yuka telentang di kasur sambil menatap plafon dan berjanji akan melakukan cat ulang untuk kamarnya supaya bernuansa beda. ”Ada ini. Gini lho, Yu, ada yang mau Ibuk bicarakan sama Yuka.” Eh by the way Ibuk Siyah dan Pak Apan adalah dua manusia kesayangan yang menyebut nama Yuka dengan Yu. Kesannya Yuka memang ayu seperti Ibuk Siyah—walau pada kenyataannya bertolak belakang. Ibuk Siyah istilahnya punya unggah-ungguh kalau Yuka pemegang seradak-seruduk. ”Apa Buk?” ”Kamu berhenti aja kerjanya, Nak ya.” Suara Buk Siyah seperti hantaman batu besar di d**a Yuka. Mendengar ibunya memelas seperti itu berhasil bikin Yuka kalang-kabut. Gimana enggak pusing coba, Yuka sudah jatuh cinta dengan pekerjaannya itu. Sudah suka tempatnya yang baru. Sudah bahagia bisa melihat Elrangga tiap hari. Point utamanya yang terakhir sih. ”Nggak mau, Yuka mau kerja.” Yuka merengek. Biasanya Buk Siyah selalu mengalah kalau Yuka mengeluarkan suara manjanya itu. ”Tapi kuliahnya malem, Yu. Ibuk takut kamu kenapa-kenapa di jalan nanti.” Yuka putar otak. Kok baru sekarang ibunya khawatir berlebihan—oke biasanya juga khawatir tapi Ibuk nggak sampai melarang Yuka kerja begini. ”Biasa aja kok, Buk. Aman. Yuka suka kerja Buk.” Yuka dengar ibunya mengembuskan napas. Biar Yuka tebak sekarang ini pasti Buk Siyah melihat Pak Apan mencari dukungan. ”Kamu nggak bilang ke Ibuk kalo kantormu pindah, Yu.” Melongo, mulut dan mata Yuka melebar karena rahasianya terbongkar. Dulu syarat dari Pak Apan kalau Yuka mau bekerja di Jakarta adalah cari tempat tinggal yang dekat sama tempat kerjanya. Karena Yuka juga melanjut kuliah, terpaksa dia cari tempat kuliah yang dekat juga. Nah loh, darimana orang tuanya tahu kalau dia pindah? ”El mampir ke sini, dia cerita katanya kamu kerja di kantor dia.” ”Ngapain Om El jauh-jauh ke rumah?” Habis makan di warteg, dua hari kemudian Elrangga pulang ke Padang—katanya ada urusan. Empat hari pria itu pergi dan artinya sudah seminggu lamanya Yuka tidak lihat wajah ganteng itu di kantor. ”Mau nengokin Ibuk dan Ayah sebelum balik ke Jakarta,” jawab Buk Siyah. Ah pasti ini akal-akalannya Om El aja. Bukannya Elrangga juga melarang Yuka bekerja dan kuliah aja. Laki-laki itu tahu banget, Yuka enggak bisa melawan Ibuk. Tapi dia enggak tahu, Ibuk lebih menurut sama Yuka. Ibuk enggak pernah menolak keinginan Yuka—contohnya saja Ibuk Siyah tidak  melarang- Yuka nikah muda. Semua keputusan ada pada Yuka. ”Om El datang sendiri?” ”Dengan temannya, namanya Moona. Yuka kenal dia?” ”Tuuuuh kan Ibuuuk. Nggak mau, Yuka nggak mau berhenti kerja pokoknya. Ibuk, Yuka senang banget akhirnya ketemu Om El lagi. Kalau Yuka berhenti, terus gimana? Om El nanti dekat-dekat terus sama Mbak Moona. Nggak mau nggak mau, Yuka mau kerja pokoknya.”  Yuka yang cengeng akhirnya kembali. Ia benamkan wajahnya di bantal. Satu tangannya memegang handphone di telinga. Terdengar di seberang sana Buk Siyah menarik napas dan mengembuskannya dengan sangat pelan. Yuka tahu, Buk Siyah pasti ikut sedih dengar tangisan Yuka. Tapi mau bagaimana lagi, dengar Elrangga pulang pergi dari Padang ke Jakarta—pakai singgah di Pekanbaru—bareng Ramoona itu bikin d**a Yuka sakit. ”Yuka mau sama Om El lagi, Buk. Yu—Yuka cinta sama Om El. Om Elnya nolak Yuka terus, Ibuk hiks. Ayah bantuin Yuka dong Yah, Yuka nggak mau kalo Om El sama Mbak Moona.” Yuka membersit hidungnya ke bantal. ”Tapi Yu, bahaya kuliah malam, pulangnya malam sekali. Kasihan anak Ibuk nanti diapa-apakan orang gimana?” ”Yuka bisa jaga diri, Yuka nggak takut. Yuka mau kerja pokoknya.” ”Ya sudah, kapan-kapan kita bicarakan lagi ya Yu. Udah ya jangan menangis, Ibuk sedih loh dengar kamu menangis.” ”Ibuk, Om El jam berapa naik pesawat dari Pekanbaru?” ”Sudah dari sore tadi, Yu. Sekarang pasti sudah sampai di Jakarta kalau pesawatnya nggak delay.” Yuka duduk lalu membersit hidungnya sekali lagi dengan sarung bantal. ”Udah dulu ya Ibuuk. Yuka mau ke tempat Om El.” ”Yu Yu sudah malam, Nak. Kamu mau ngapain malam-malam ke sana?” ”Yuka mau ketemu Elrangga, mau tanya sama dia ngapain Om El pergi bareng Mbak Moona. Udah dulu ya Buk, salam buat Ayah. Besok telpon lagi ya, Ibuk. Malam.” Yuka mematikan teleponnya. Sewaktu akan keluar rumah, langkah Yuka dihadang oleh upil basah—Kazasaki Ardana—si biang kerok. ”Mau kemana lo malam-malam?” Songong, bisik Yuka. Kazasaki memang mesti Yuka musnahkan. Dia selalu mau tahu urusan Yuka. Dia terlalu berisik, dan terlalu mengesalkan buat Yuka. ”Minggir lo dari pintu!” Kazasaki menunduk buat mengamati wajah Yuka lalu dia berdecak. ”Tuh kan habis nangis. Bisa nggak lo sehari aja jangan bikin Ibuk khawatir!” Kazasaki mengunci pintu utama supaya Yuka nggak bisa keluar. ”Bisa nggak lo jangan ganggu gue! Buka pintunya, Upil!” Yuka mengulang kalimat awal Kazasaki sambil memutar kenop pintu yang dia yakin sudah dikunci Kaza dan kuncinya ada pada cowok itu. ”Mau kemana?” Kazasaki mainkan kunci pintu rumah di tangan kanannya. ”Siniin kuncinya, gue ada urusan. BUKA PINTUNYA, KAZA!” Yuka menendang tungkai Kazasaki membuat remaja tinggi itu sedikit membungkuk kesakitan. Kunci yang dia pegang terjatuh di lantai. Yuka secepatnya mengambil kunci itu lalu membuka pintu tapi ia kalah cepat. Tubuhnya digotong dan dicampakkan ke atas sofa. ”KAZA!” Yuka bangkit dari sofa, mengejar Kazasaki yang sedang mengunci pintu. Anak itu memasukkan kunci rumah ke dalam celananya, bikin Yuka mau muntah saking jijiknya membayangkan saat ini kunci rumah bergesek-gesekan sama dedeknya Kazasaki. Iiiih! ”Gue nggak akan biarin elo pergi ke sana malam-malam. Gue akan kurung lo di kamar kalau lo masih berniat buka itu pintu!” ”Ke sana kemana memangnya?” Oh iya, ada pintu belakang. Yuka berlari ke belakang. Seingatnya pintu dapur kuncinya tergantung di pintu. Namun ia kecewa begitu sampai di dapur, kunci itu sudah engak eemplok lagi di pintu. ”KAZA!” ”Gue mau ke sana, gue mau ketemu Om El, gue mau ketemu, bukain pintunya.” Yuka duduk berselonjor di lantai sambil nangis menjerit-jerit. ”Kaza lo ngapain nyusahin gue? Gue nggak suka lo atur-atur. Gue nggak suka elo disini. Sumpah elo ganggu gue banget di sini. Gue mau ketemu Om El hiks... gue mau nanya—” Kazasaki menutup telinganya lalu meninggalkan Yuka sendirian. Ia kunci pintu kamarnya lalu duduk bersandar di pintu. ”Gue cuma mau ngelindungin elo, gue cuma nggak mau lihat Ibuk sedih mikirin kelakuan lo di sini.” Kazasaki memakai headphone dan menyetel musik kuat-kuat supaya tak mendengar jeritan Yuka di luar sana.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN