Udah Sampai Cibulan

1433 Kata
Udah Sampai Cibulan   Yuka berjalan gontai masuk kamarnya. Dia tak bisa kabur ke apartemen Elrangga karena tidak memiliki jalan keluar. Setibanya di kamar, ia menangis lagi. Ini di rumahnya sendiri dan dia enggak boleh keluar. Yuka menarik-narik rambutnya dan mencubit-cubit lengannya. Dengan melakukan hal itu biasanya rasa sedih dan sakit hatinya bisa hilang. Ketika dia menyakiti dirinya sendiri, alam seolah kasihan. Kulit lengannya yang putih telah penuh oleh bercak kemerahan. Karena ia menikmati cubitan, tak salah kalau hobi Yuka pun mencubit orang. ”Ngapain Om pulang ke Padang bareng Mbak Moona? Kalian ada hubungan apa? Kenapa Om jahat banget sama aku? Kenapa Om ninggalin aku? Kenapa Om nggak suka deket-deket aku? Gimana caranya supaya kamu tahu kalo cinta aku nggak pernah berubah semenjak aku kenal kamu? Gimana caranya aku melupakan kamu?” Yuka Sierra tertidur setelah menangis lama. Paginya hanya bengkak pada matanya dan bercak-bercak merah di lengannya yang menandakan bahwa semalam Yuka down. ”Lo berangkat bareng gue atau mau duluan?” tanya Yuka saat Kazasaki keluar dari kamarnya masih pakai pakaian tadi malam. Sepertinya juga tuh anak belum mandi pagi. Ckckck. ”Elo mau hadirin rapat itu?” Kazasaki melewati Yuka yang berdiri diam melihat tak suka ke arahnya. ”Terus lo punya wali cadangan kalo gue nggak datang? Lo mau seret tangan bapak orang buat lo jadiin wali pengganti gitu?” Tangan berada di pinggang mirip mandor. ”Nggak punyalah.” Kazasaki ngeloyor masuk ke kamarnya hingga darah Yuka naik ke ubun-ubun. ”Nggak sopan banget jadi bocah,” jerit Yuka yang merasa tidak dihargai sebagai kakak. Gini-gini umur Yuka lima tahun lebih tua daripada si upil. Kadang Yuka heran, kenapa Kazasaki punya sifat yang nyebelin banget. Tadi malam dia memaksa Yuka untuk datang. Sekarang acuh tak acuh begitu. Padahal Yuka sudah siap ke sekolah. Lama-lama Yuka bisa struk tinggal bareng tuh upil. Setengah jam kemudian Kazasaki keluar dengan seragam sekolahnya. Sekarang Sabtu jadi Kazasaki datang untuk ekskul. Mereka tiba di sekolah Kazasaki.  ”Rapatnya di sana, Yuk.” Kazasaki mengarahkan Yuka ke aula. Mereka berpisah di depan pintu aula. Remaja berseragam putih biru itu melangkah naik anak tangga. Yuka persis tukang pijat dengan kacamata hitam dalam ruangan. Padahal kacamata itu untuk nutupin matanya yang bengkak. Ini aja dia lihat dari sudut mata ada beberapa bapak yang melihati dia penuh nafsu. Idiiih. Nggak sadar lokasi banget deh. Emang gitu ya, susah jadi orang cantik. Rapat membahas kenaikan SPP dan kemajuan sekolah. Setengah perhatian Yuka adalah merencanakan cara kabur ke apartemen Elrangga. Pucuk dicinta banget, tiba-tiba Yuka dapat pesan dari Kazasaki kalau si Upil itu latihan basket. So, Yuka bebas. Yes.   ***   Ketika pintu unit apartemen Elrangga terbuka, Yuka Sierra anaknya Pak Apan dan Buk Siyah menyelonong masuk tanpa ucap salam. Dia berdiri di tengah-tengah ruangan dengan tangan terlipat di d**a. Elrangga berjalan ke arahnya dengan bingung. Tapi begitu melihat tanda-tanda kebiruan di lengan Yuka, Elrangga pun tahu jawabannya. Yuka habis menangis dan menyiksa dirinya. Lagi. ”Sini dong, El. Jangan jauhin aku.” Elrangga yang tadinya berjalan membelakangi Yuka pun berbalik. Dilihatnya Yuka masih pada posisinya—dekat pintu. Elrangga membuang napas. Ia jalan mendekat kepada Yuka. ”Ada apa?” ”Peluk aku.” Yuka mengurai tangannya lalu meluruskannya di sisi tubuh persis peserta upacara yang paling tertib. Elrangga ragu tapi akhirnya dia bawa tubuh kecil mantan istrinya itu ke dalam pelukan. Elrangga tak tahu sihir apa yang dipakai Yuka hingga ia menuruti keinginan gadis itu. Pun yang terjadi dahulu. Dia selalu terperdaya untuk mengiyakan segala keinginan aneh gadis berponi selamat datang itu. Tinggi mereka tak terlalu jauh. Wajah Yuka berada di bawah pundak Elrangga. Jika digeser sedikit saja, jatuhnya pas di ketek Elrangga. Yuka enggak bisa membedakan mana ketiak mana bibir karena baginya sama saja. Dia suka keduanya. Apalagi Elrangga tuh enggak bau—wangi banget malah—dan Yuka suka. Yuka mencubit punggung Elrangga dari balik kaus pria itu tapi sayangnya susah banget. Elrangga membiarkan Yuka walaupun dia jelas tahu banget kalau Yuka sekarang lagi ingin melakukan sesuatu terhadap tubuhnya. Yuka juga menarik rambut depan Elrangga hingga wajah pria itu sedikit menunduk dan Yuka menggigit dagu pria itu. ”Udah puas?” Elrangga melepas pelukan mereka dan mengusap dagunya yang terasa perih. Mau dibilang keturunan monyet, Elrangga enggak enak sama kedua orang tua Yuka. Nggak mungkin Elrangga mengatai mereka berdua monyet kan? Jelas-jelas di sini hanya Yuka yang seperti monyet. Elrangga tahu ada sesuatu yang ingin disampaikan Yuka. Pria dengan kaus polo hitam dan celana kargo selutut itu mendayung langkahnya ke sofa lalu duduk di sofa single. ”OOOM!” Kesel sama Om El yang santai banget, nggak ngerasa udah salah lagi. Yuka berlari ke arah Elrangga dan menerjang pria itu. Mereka himpit-himpitan di sofa kecil itu. Yuka melipat kakinya seperti duduk di masjid di atas paha Elrangga. ”Tempat duduk lain masih banyak, loh Ka. Nggak enak kalau mau ngomong tapi kamunya di sini.” Elrangga melepaskan kaca mata Yuka. Lalu menjauhkan tubuh Yuka yang nemplok di pangkuannya. ”Baiklah. Tapi Om harus jawab aku, nggak boleh ngeles!” Yuka pindah duduk di bawah sofa yang diduduki Elrangga kayak Inem habis meletakkan minuman. ”Ngapain aja Om El sama Mbak Moona di Padang?” ”Ngapain? Ketemu mama,” jawab Elrangga santai. ”Kenapa harus ketemu mama mertua bareng dia?” Yuka bertolak pinggang lalu mendongak. Dilihatnya Elrangga menatap jauh ke depan. Mau bohong ya? ”Mama sakit, Ka.” ”Ouuuh,” Yuka menunduk. Dia enggak akrab dengan mama mertuanya karena ibu Elrangga  itu tidak menyukai Yuka. Pertemuan mereka di waktu akad nikah dan resepsi saja. Itu juga wajah mama Elrangga masam banget. Yuka bukan menantu idaman mama mertua. Di hari resepsi pernikahan mereka, pacar Elrangga datang dan wajah mama mertua cerah banget. Dari sana Yuka tahu kalau mama mertua lebih menyukai sang mantan kekasih anaknya. Bagaimana Yuka mengambil hati mertua kalau status jadi menantunya saja hanya empat puluh hari. Selama menikah, Yuka tinggal di rumah Pak Apan dan enggak pernah bertemu mertuanya itu. Okey, lupakan, orang sakit harusnya didoakan. Nanti Yuka akan cari waktu bertemu mama mertua. Semoga waktu melihat Yuka, mama mertua jatuh suka. ”Lagi mikirin apa?” Yuka mendongak. ”Kawin lagi yuk, Om.” Sang Jakula mengambil tangan Elrangga. Dia satukan kelima jemari mereka saling bertautan. ”Atau Om El masih ragu ya sama Yuka? Om El tenang aja, aku pasti bisa mendaki gunung lewati lembah sampai kita berdua bisa membuat sungai mengalir indah ke samudra, bersama kita bertualang. Kalau nggak percaya ayo kita coba bertualang berdua!” Satu hal yang bikin Elrangga kewalahan adalah refleks Yuka dalam hal melakukan serangan. Baru saja dia melontarkan rayuan, tubuh wanita itu lagi-lagi telah naik ke pangkuan Elrangga lalu spontan menyatukan bibir mereka. Yuka melakukannya seperti apa yang dia pelajari selama ini. Dia harus melakukannya dengan halus dan perlahan-lahan, bikin ritme yang cocok untuk menggoda bibir kemerahan Elrangga. Istilahnya, Yuka enggak boleh sampai Cibubur alias ‘ciuman buru-buru’—ingat ini Elrangga yang belakangan sudah menganggap Yuka seperti virus yang harus dihindari—so Yuka enggak boleh terlalu agresif saat mencium. Dimiringkan kepalanya sesuai intruksi yang ia lihat di pranala pencarian. Dirabanya bibir Elrangga dengan lidahnya pelan, pelan, dan pelan—kalau Yuka yang diginiin pasti dia merasa geli tanpa sabar membuka sedikit bibirnya. Tangan Yuka juga ikut membantu memberikan kesenangan untuk Elrangga dengan menelusuri di sepanjang garis rahang  pria itu. Kabar yang baru diterima Elrangga sewaktu pulang ke rumah mamanya—yang menyebabkan wanita tersayangnya itu sakit—membuat kepala Elrangga kosong. Kemarahan kepada dirinya sendiri, penyesalan atas kesalahannya di masa lalu, dan keinginan besar mamanya membuat Elrangga ingin melupakan sejenak semua masalah itu. Elrangga tidak membiarkan Yuka kerja sendirian. Dialah kini yang memimpin, mengulang kembali getaran yang dulu mereka rasa, memenuhi keinginan satu sama lain, dan menikmati rasa manis masing-masing. Mereka berdua kini sudah sampai Citarik aka ‘ciuman tarik menarik’. Dua tangan Yuka ada di kepala Elrangga, meremas-remas rambut Elrangga persis kerjaan si Imey tukang salon langganannya dulu. Elrangga menggigit lalu menarik pelan bibir bawah Yuka. Wanita cerdik itu juga melakukannya. Ketika Elrangga menelusuri garis bibirnya, Yuka juga melakukan hal itu tak kalah hebatnya. Inilah yang dikhawatirkan Kazasaki. Jauh sebelum kedua orang itu menikah, Kazasaki pernah melihat adegan serupa di kontrakan Elrangga. Dia enggak memberitahukan kepada orang tuanya. Sejak saat itu dia selalu mengganggu Yuka dan Elrangga kalau sudah berdua-duaan. Tapi namanya juga manusia, tidak selamanya Kazasaki bisa mengawasi sang kakak. Seperti saat ini enggak akan ada yang menghentikan pasangan itu kecuali mereka sendiri. ”Kayaknya kita udah sampai ke Cibulan deh El.” Yuka berbisik di depan bibir Elrangga saat jeda ambil napas. ”Ciuman butuh lanjutan,” ucap Yuka terkikik seperti kunti.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN