Akhirnya Nikah Juga

1983 Kata
Akhirnya Nikah Juga   Dovan Elrangga yang anak rantau banget—kuliah di Pekanbaru dan bekerja di Batam—saat ini sedang pulang ke rumah mamanya di Padang. Dia harus rajin menengok ibunya karena hanya dirinya yang dimiliki sang ibu sebab ayahnya sudah tiada. Nah, selama Elrangga di Padang terjadilah drama perpisahan Yuka Sierra dengan lelaki itu. Berpisah dari Elrangga membuat Yuka uring-uringan enggak jelas. Yuka kenal Elrangga sejak umur sepuluh tahun, lama ‘kan? Sejak Yuka masih suka pakai kaus dalam dan celana short saja keluar rumah dan sejak badannnya masih setipis kain gorden. Jadi dia enggak bisa enggak melihat wajah Elrangga barang sehari saja. Untuk sekolah jauh saja dia rela berpisah dengan Ibuk dan Ayah demi dekat dengan Elrangga. Begitu selesai Ujian Nasional, Yuka pulang ke Pekanbaru—Yuka sekolah SMK di Batam ikut Elrangga. Dia akan minta izin pergi ke Padang sama Pak Apan dan Buk Siyah. Kedua orang tua Yuka berat banget hatinya melepas anak mereka tapi bagaimana lagi, Yuka nggak bisa ditidakkan. Keinginannya harus ia dapat—dia menangis semalaman dan mogok makan sehingga Buk Siyah meloloskan izin Yuka pergi ke Padang bertemu Elrangga. Sekarang di sinilah dirinya duduk memeluk lutut di atas ranjang hotel dengan selimut melilit erat seluruh tubuhnya. Tadinya Yuka hanya minta ditemani saja. Lagi pula, tujuan dia ke Padang memang untuk menemui Om El ‘kan? Jadi Yuka meminta lelaki itu menemui Yuka di hotel. Elrangga pun datang dan sekarang sedang berdiri membelakangi Yuka dengan gestur tubuhnya yang kelihatan marah. ”Jangan balik badan dulu, aku mau pakai baju.” Yuka menyibak selimutnya lalu turun ke lantai untuk mengambil pakaiannya satu persatu. Sementara itu, Elrangga kelihatan sedang mengepalkan tinju. ”Rileks, Om,” ujarnya sambil memasukkan tangan ke lengan baju kausnya. ”UDAH BOLEH BALIK BADAN! SUDAH RAPI LAGI.” Yuka selingi dengan tertawa. Pokoknya nggak ada guncangan di jiwanya karena kejadian barusan. Tahu ‘kan, kalau cewek dan cowok terkurung bersama dalam sebuah kamar terus pakai cium-cium, muaranya kemana lagi kalau bukan ‘mendaki gunung lewati lembah’ dalam tanda kutip. Nah tadi itu mereka hampir ‘kebablasan’. Kalau bukan Yuka yang ingatkan Elrangga supaya berhenti, pasti besok pagi Yuka bukan anak perawannya Pak Apan lagi. ”Masih bisa ketawa?” Elrangga balik badan. Wajah Yuka tanpa beban. Apa yang ada dalam pikiran gadis kecil itu hingga tak cemas? Kenapa ketika berada di sekitar Yuka rasanya ia selalu saja lepas kontrol? Elrangga merasa b******n kotor yang hampir saja merusak anak orang! ”Terus aku harus teriak kayak di drama-drama gitu, ya? Tolooong... tolooong lepaskan akuuu! Gitu?” Yuka melipat tangan di d**a. Ia duduk lagi di atas ranjang king size hotel itu. ”Yang enak-enak kok dimasalahin sih? Tapi tadi itu kalau bablas ya nyebur sekalian, susah amat!” ”Yuka! Bisa nggak kamu serius? Kayaknya kamu nggak boleh dekat-dekat aku lagi habis ini.” Elrangga memutuskan seenak udel. Aaaih awas yaa Yuka nggak akan biarin Elrangga ngomong begitu. ”Enaak aja sih Om mau ngindarin aku! Om itu udah lihat seluruh aset masa depan aku, udah raba-raba semuanya juga, nggak adil dong kalau Om mau pergi gitu aja!” Intinya: lo udah grepe-grepe gue, lo harus tanggung jawab nikahin gue! ”Yuka kamu udah tahu ‘kan, Om pulang sekarang ini ingin melamar Fey. Kami sudah saatnya mutusin buat serius.” Fey adalah kekasih Elrangga sejak setahunan ini. ”Terus gimana sama aku, Om? Masa aku nyari orang lain lagi? Nggak asyik dong, yang suka buka-buka baju aku ‘kan Om El, masa aku masih nyari orang lain juga buat tanggung jawab, memangnya masih ada yang mau apa?” Skakmat! Yuka dan Elrangga punya hubungan tanpa status, pacaran enggak, adek kakak enggak, om ponakan juga enggak. Mereka nggak bisa disebut adek kakak atau om ponakan karena mereka sering tukaran enzim ptialin. Pacaran juga enggak karena tak ada kata ‘jadian yuk.’ ”Kamu masih sekolah—” ”Udah tamat,” sambar Yuka. ”Masa depan kamu masih panjang, memangnya kamu mau terkurung di rumah nggak dapat main kesana-kemari sama teman sebaya kamu? Om nggak mau menghilangkan kesempatan itu dari kamu.” Elrangga memijat keningnya yang terasa berat. Sungguh ia memang harus menjauh dari Yuka Sierra kalau tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa mereka berdua. ”Telat aah Om, ngomongin masa depan aku. Kalau Pak Apan sampai tahu anaknya sering main desah-desahan sama Om, bakalan dinikahin juga lho kita pada akhirnya. Kalau udah nikah, aku juga masih bisa kuliah kok. Tapi kalau Om El mau kita punya anak dulu, oke aku tunda dulu kuliahnya.  “Om nggak mau merusak masa depan kamu—” “Telaat!” Yuka jawab dengan santai tapi di telinga Elrangga seperti bom bunuh diri. Terlambat bagi Elrangga membahas masa depan Yuka jika dari dulu dia telah ‘mendewasakan’ Yuka sebelum waktunya—sekadar tukaran enzim ptialin dan pijatan di tubuh depannya Yuka—yang mana memang sangat kelewatan untuk mereka yang tidak punya status apa-apa. Elrangga berencana akan melamar kekasihnya. Ia mencintai kekasihnya dan berjanji akan menikahi wanita itu jika ia sudah mampu secara finansial. Maka inilah waktunya, lagi pula mamanya sangat senang dan selalu bertanya kapan ia akan melamar kekasihnya. Tapi semuanya gagal hanya karena kehadiran si kecil Yuka Sierra. ”Maafkan Om, Yuka.” Elrangga harus bertanggung jawab kepada Yuka tapi bagaimana kekasihnya? Dia juga berjanji akan menikahi kekasihnya setelah mengambil sesuatu yang paling berharga dari kekasihnya itu. Dalam kekalutannya, handphone Elrangga berbunyi. Yuka memanjangkan lehernya untuk mendengar suara orang yang menelepon Elrangga. Kalau sampai yang menelepon itu pacarnya, Yuka akan berdrama dengan menciptakan erangan menjijikkan supaya pacarnya Om El curiga, terus mereka bertengkar dan putus deh. “Siapa Om?” Karena wajah Elrangga seperti habis ditimpa mangga busuk—ditimpa beton dan ditimpa tangga sudah mainstream—Yuka pikir yang telepon barangkali bukan Fey tapi penagih utang. Elrangga baru buka usaha, siapa tahu dia pinjam modal ke rentenir dan orang itu sekarang menagih. ”Iya, aku akan jaga Yuka Pak.” Yuka mendekat kepada Elrangga, menempelkan telinga di telinga Elrangga. Akibat kedekatan itu, ‘elang’ yang tertidur dalam tubuh Elrangga sekarang bangun lagi. Gesekan Yuka mujarab banget bagi Elrangga tapi gadis delapan belas tahun itu enggak sadar. ”Kaza ya? Aduh tenang, Om El ada di sini kok, kita lagi cerita-cerita aja,” jawab Yuka santai banget bohongnya. Telepon itu dari Pak Apan—ayahnya. Kazasaki ikut bicara di sebelah Pak Apan. Eentah apa maksudnya menanyakan Yuka sedang ngapain, posisi dimana, duduk, tegak, berbaring, dan pakai baju warna apa? ”Pulang ke sini, lo harus selamat ya. Awas kalau sampai ada yang kurang! Suruh pulang itu Om Elang kalau udah selesai ceritanya. Jangan bolehin tidur di sana! Apalagi kalau sampai ngulang apa yang kalian lakuin di kamarnya Om El!” ”Memangnya Yuka sama El ngapain aja di kos El?” Itu tuh pertanyaan Pak Apan bikin ngeri Yuka dan juga Elrangga. ”Udah dulu ya, Yah. Yuka udah ngantuk tapi masih ada yang mau Yuka omongin sama Om El. Jadi nelponnya udahan dulu ya, daaah Ayah dan Kaza, salam untuk Ibuk ya.” Yuka putuskan panggilan dari Pak Apan di HP Elrangga. “Yuka.” Om El suaranya seksi sekali. Yuka jadi panas dingin. ”Om?” Pikiran kotor Yuka bermain lagi di kepalanya. Dikiranya Elrangga mengaajak dia nananana. ”Kita menikah aja, ya.”   ***   Paginya, mereka bertandang ke rumah mama Elrangga. Setibanya Yuka di sana, mama Elrangga senyum pada Yuka, tanya nama, dimana sekolah, dan pertanyaan umum yang biasa ditanyakan waktu baru kenalan. Sambutan mamanya Elrangga baik sekali. Padahal makhluk seperti Yuka biasanya selalu bikin orang pengin lempar dia pakai sandal. Kalau lawan bicaranya asyik, Yuka enggak takut dan malah ikut larut dalam pembicaraan. Tak sampai sejam, Elrangga membuat spot jantung si mamah. Yuka mendapat tatapan super kejam dari wanita itu. Elrangga minta izin untuk melamar Yuka ke Pak Apan. ”Kamu kenapa? Ada masalah sama Voni? Hah? Kalau ada masalah, selesaikan! Jangan kabur sama orang lain!” Yuka baru tahu ternyata orang ramah kalau sudah marah bikin mati separuh badan. Yuka rasanya ingin tenggelam di kolam belut biar nggak dengar sindiran demi sindiran. Mamanya Elrangga membandingkan Yuka dengan Voni—nama pacar Om El. Yuka juga sadar kok nggak ada bagusnya. Yuka tuh bisanya hanya ‘nyenengin’ Elrangga dalam tanda kutip saja. Masak makanan atau cuci baju Elrangga belum tentu bisa. ”El selesaikan semuanya sama Fey dan El akan nikah sama Yuka. Tolong ya Mama ikut El bertemu ayah Yuka.” Ya ampun, sayang ada mamahnya Om El. Kalau enggak, Yuka pengin uyel-uyel tuh bibir yang manis lumer-lumer. Akhirnya, Yuka nikah juga sama Om El kesayangan—cinta mati Yuka.   ***   Yuka telah menjadi istri Elrangga dan Elrangga menjadi suami Yuka. Tamu yang datang di pesta resepsi mereka sangat ramai. Teman-teman Yuka enggak menyangka dia menikah benaran. Mereka kira Yuka sedang berbohong sewaktu Yuka menyebarkan undangan. Itu bikin Yuka sebal. Mereka kayak enggak terima banget jodoh Yuka datangnya cepat. Pada sirik aja sih. Lihat, didorong rasa penasaran, mereka jauh-jauh datang dari Batam dan Pekanbaru ke Padang. ”Yuka cantik nggak Om?” tanya Yuka saat nggak ada tamu yang mereka salami. ”Cantik dong, cantik banget.” Jawaban Elrangga bikin Yuka manjat ke atas langit dan nggak turun-turun saking senangnya. Ditambah lagi senyuman yang manis banget. Yuka mau Yuka simpan Elrangga buat camilan. ”Om sayang nggak sama Yuka?” Elrangga cuma senyum. Obrolan mereka terhenti waktu ada tamu datang. ”Jawab dong, sekarang!” Tamu kosong lagi. Yuka enggak menyia-nyiakan kesempatan. Elrangga mengambil tangan kanan Yuka lalu dia genggam. ”Kok tanya seperti itu?” ”Om nikahin aku bukan karena tanggung jawab atau merasa bersalah sama Pak Apan ‘kan?” “Kalau aku nggak sayang kamu terus ngapain kita berdiri di sini? Udah sekarang jangan mikir yang macam-macam ya, siapin aja diri kamu.” Elrangga berbisik di telinga Yuka dan itu bikin Yuka panas yaampun. Telinganya sampai memerah. ”Aduuuh, suami kesayangan Yuka.” Yuka mulai ganjen dan memeluk lengan Elrangga. Setelah mereka sadar bahwa masih ada tamu yang ingin bersalaman, Yuka melepas tangannya. Ia memasang senyuman ramah kepada tamu yang datang. ”Om, Yuka lihat Kak Voni deh kayaknya.” Yuka hafal dengan wajah pacar Elrangga karena sering dia lihat di HP Elrangga. ”Foto pacarnya Om El emang cantik banget sih sebenarnya tapi masih cantikan Yuka kok,” bisiknya memuji diri sendiri. ”Dia sama cowok tuh lagi pelukan.” ”Tuuh kan, Voni pasti sedih. Kamu ini El dan kamu gadis cilik kecentilan. Elrangga itu sudah punya pacar masih saja dirayu.” Mama Elrangga datang-datang marah kepadanya. Yuka sedikit sedih. Yuka enggak bisa dikasarin atau dijahatin seperti ini, dia nggak tahan. ”Ma, Yuka istri El sekarang. Jangan begitu sama Yuka ya, Ma.” Ada Elrangga yang memegang tangan Yuka lalu merangkul tubuh Yuka. Sedih Yuka pun hilang sebab ada pangerannya yang siap menjaganya. ”Aaaah... Mama pusing, Mama mau bicara sama Voni. Kasihan anak itu! Udah lama Mama tunggu dia jadi mantu, sekarang dapat menantu antah berantah begini.”  “Udah ya, jangan sedih. Ini hari bahagia kita lho. Mana senyumannya? Mau dibilang jelek sama teman-teman kamu?” Elrangga mengeratkan rangkulan di bahu Yuka ketika mamanya jauh. ”Mama Om El maunya Kak Voni yang jadi menantunya bukan aku. Iya aku yang salah ya ‘kan Om?” Elrangga membuang napas. ”Dengar Yuka, kamu harus kuat dengan ucapan-ucapan dari luar. Ini satu pelajaran untuk kamu. Di luar sana banyak banget yang akan melukai kamu hanya dengan kalimat, kamulah yang harus menguatkan hati kamu sendiri supaya nggak mudah jatuh. Jangan dimasukkan ke hati ya? Katanya hati Yuka cuma buat aku? Terus masih muat memangnya untuk masukin kata-kata mama? Mama lagi nggak senang hati aja, nanti juga baik lagi kok.” ”Kok kedengarannya Om El sayang sama Yuka.” Elrangga mencubit bibir bawah Yuka. ”Ya ampun, Sayang... Kamu harus dijelasin secara jelas ya atau Om harus teriak nih supaya semua orang tahu kalau Elrangga sayang sama istrinya?”   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN