Sayang-Sayangan

1771 Kata
Sayang-Sayangan   Ciuman di bibir yang buru-buru ialah ciuman tanda si cowok sudah bernafsu ingin ke tahap hubungan badan yang lebih lanjut. Nah, selama ini ciuman Yuka dan Elrangga memang didominasi oleh ciuman bibir, telinga de el el yang buru-buru. Ciuman di kening, tandanya si cowok sayang sama cewek. Katanya si cowok ingin menjaga ceweknya. Jadi, selama ini enggak ada rasa sayangdari suaminya Yuka gitu?  Ini nih baru saja, Yuka mendapatkan ciuman kening dari suami Yuka—jangan protes dengan sebutan Yuka untuk Om El deh, Elrangga suami Yuka kok.  Rasa hangat mengaliri darah Yuka. Rencana jual mahal pada Elrangga pun gagal total. Yuka meleleh duluan. Artinya Yuka harus selalu berjuang mendapatkan Elrangga dengan cara bersih tanpa metode jual mahal. ”Ya ampun, Sayang... Kamu harus dijelasin secara jelas ya atau Om harus teriak nih supaya semua orang tahu kalau Elrangga sayang sama istrinya?” Sewaktu menikah, Elrangga memang bilang dia menyayangi Yuka. Yuka kira itu hanya usaha Elrangga untuk menghiburnya. Yuka menatap Elrangga yang kini sedang memisahkan nasi dari sambal dengan pandangan sendu. Ya ampun, tapi rasanya Yuka masih saja kotor. Yuka enggak bisa melupakan bagaimana bibir bau tengik bapaknya Permata mencium bibirnya, telinganya, dan lehernya. Bagaimana tangan kasar seperti parutan kelapa Buk Siyah itu menyentuh bagian dadanya dan pinggulnya yang halus. Akhirnya air mata Yuka mengalir lagi. Elrangga menyendok nasi dari piring untuk Yuka. Tangannya berhenti di udara saat melihat wanita cantik yang biasanya ceria di hadapannya kembali menangis. Dia letakkan lagi sendoknya. Dia jauhkan piringnya lalu meraih gelas dan memberikan kepada Yuka. “Minum.” Yuka menurut. Dia sesap air putih itu perlahan lalu menyerahkan gelas ke tangan Elrangga. “Yuka mau sendirian, Om.” Yuka berubah jadi orang teraniaya sejagad raya. Biasanya Yuka enggak pernah menolak kehadiran Elrangga. Jangankan menolak, dia justru yang gencar banget ‘mepetin’ suaminya itu. Jantung Elrangga mendadak rasa pedih. Enggak, dia enggak biarkan Yuka menyakiti dirinya lagi. ”Apa yang harus aku lakukan supaya kamu lupa sama kejadian itu?” Elrangga enggak mau menjauhi Yuka yang lagi butuh sandaran. Perhatiannya memang selalu berlebihan untuk Yuka yang tanpa disadari justru membuat Yuka semakin berharap dicintai. Yuka menggeleng. Dia juga enggak tahu, mungkin Yuka hanya butuh waktu. Jadi sekali lagi dia minta Elrangga meninggalkannya. Elrangga berdiri. Dia gulung lengan kemejanya hingga siku. Yuka menelan liur melihat lengan kekar itu. Tambah lagi lelakinya Yuka itu membuka dasinya dan dia ikat ke kepala.   Dan bila kutak di sini Tetaplah kau bernyanyi Dan bila ku tlah pergi Kenanglah yang terjdi Pastikan padaku bahwa kamu Akan baik-baik saja Karna di setiap mimpiku Pasti slalu ada kamu   Dengarkan dan rasakan Lagu yang kuciptakan untukmu Walau mungkin terdengar nggak merdu Tapi hanya untukmu Kita pernah bersama di sini Lalui hari penuh warna-warni Meski tak seindah pelangi Tapi kita pernah bermimpi   ”Tunggu tunggu, Om El barusan ngapain? Om El menyanyi, buat Yuka?” Yuka mengucek matanya, takut salah lihat. Masalahnya sekarang ini, Om El sedang menyanyi dengan menjadikan sendok makan Yuka sebagai mikrofonnya. Yuka congkel lubang telinganya, barangkali sudah infeksi kronis karena dicium bibir hitam seperti jelaga si bapak sinting itu. Masa iya sih Om El menyanyi? Lagunya lagu lama banget pula. Tapi liriknya bikin perasaan Yuka enak. Boleh enggak Yuka peluk Om El sekarang karena sudah berhasil menghibur Yuka?   Percayalah padaku Meski digelap malam Kamu nggak sendirian Dan semua bintang yang kutinggalkan Temani kau sampai akhir malam   Elrangga menarik napas lalu mengembuskannya dan tersenyum malu-malu sesudahnya. Dia menggaruk bawah matanya lalu membuka dasinya yang mengikat kepala seperti ikat kepala seorang karateka. Di saat itulah, Yuka jalan pakai lutut mengingsut maju, turun  dari tempat tidur lalu menghambur kepada Elrangga. Elrangga yang tangannya sedang di belakang kepala enggak bisa mencegah Yuka memeluk dirinya. Lagi pula, entah kenapa tubuhnya kaku. ”Om Yuka sayang banget sama Om tahu. Yuka enggak bisa lupakan Om selama ini karena Om itu baik banget sama Yuka. Yuka enggak bisa melupakan kebaikan Om hanya dengan sikap kasar Om belakangan ini, enggak. Nggak bisa. Walaupun kamu enggak bisa balas perasaan aku, aku akan tunggu Om.” Dihirupnya aroma Elrangga yang dia rindukan. Lumayan buat terapi otak Yuka supaya tenang. ”Om juga sayang Yuka.” Yuka melepas pelukan, lalu dia angkat kepalanya sedikit untuk melihat mata Elrangga. ”Benar nggak nih, jangan bohong loh Om!” ”Benar.” Elrangga melihat bola mata Yuka, ditatapnya kedua mata wanita itu, mengukur kedalaman pemahaman Yuka akan rasa sayang yang ia ucapkan. Yuka bisa melihat kejujuran di mata itu. Elrangga memang menyayangi jandanya itu. Dia enggak suka melihat Yuka sedih. Elrangga sadar banget kebanyakan Yuka itu sedihnya karena dia. Dia yang selalu saja mengabaikan Yuka. Anak manjanya Pak Apan dan Buk Siyah itu dulu—dulu sekali—selalu datang dengan banyak cerita dari sekolahnya, tentang teman-temannya yang Yuka ceritakan dengan wajah berbagai ekspresi—sebal, marah, gemas, lucu, datar, dan lain-lain—supaya didengar oleh Elrangga. Namun apa, yang ada dalam benak Elrangga justru bagaimana keadaan kekasihnya di sana. Ia rasa belum sanggup mencurahkan segala perhatiannya untuk Yuka. Makanya setelah menikah, Dovan Elrangga memutuskan untuk menjauhi Yuka. ”Selama kamu hidup di sini, sendirian, gimana kamu bisa melewati satu hari tanpa bikin masalah?” Elrangga memangkas jarak di antara mereka. Ia merangkul Yuka dengan sebelah tangan. Ia telengkan wajahnya untuk ditumpukan di atas puncak kepala Yuka. ”Jangan sedih lagi, ya Sayang.” Hangat itulah yang Yuka rasakan.    ***   Pak Handi pelit banget masa Yuka enggak boleh pindah lagi ke kantor lamanya? Padahal dia berjanji katanya kalau Yuka enggak sanggup kerja di tempat baru, Yuka boleh balik lagi ke kantor lama. Terus, Yuka juga bilang bahwa yang menyuruh dia pindah adalah bos mereka, Dovan Elrangga, tapi edannya Pak Handi enggak percaya. ”Terus gimana? Lo masih mau kerja di tempat yang ada mantan laki lo itu?” Kushi yang sedang membongkar isi laptop Yuka bertanya. Dia saat ini sedang menelungkup di atas tempat tidur Yuka. Kushi ingin mencari film yang bisa bikin dia melupakan Kazasaki, ah si berondong adiknya Yuka itu memang manis tapi terlalu muda untuk Kushi Malaikata. ”Ya enggak mungkin gue berhenti, gue malas cari kerjaan baru. Sekarang tuh gue bingung. Dia kadang baik kadang ribet, plin plan gitu deh. Gemes tahu nggak!” Yuka menjatuhkan pantatnya ke tempat tidur lalu memukul pinggul Kushi kuat-kuat membuat ia menerima sumpah serapah dari sahabatnya. Tapi Yuka malah tertawa. ”Iya sih, nggak konsis banget. Kenapa nggak nyari laki baru aja sih? Lo masih muda ini, ting ting lagi. Ee eeh tapi gue bingung deh. Kenapa dia nggak beneran nyerein lo kalau dia nggak cinta sama lo?” Kushi menemukan drama Taiwan Aaron Yan lalu melonjak kegirangan. ”Kenapa lo?” Kushi duduk kembali. ”Nemu drama pacar gue.” Kushi meng-klik episode pertama. ”Siapa?” Yuka melongok ke layar laptop. Drama yang dihore-hore oleh Kushi ternyata Refresh Man. ”Ada noh di kantor gue, mirip Aaron Yan.” Yuka teringat Om Vegas yang sekarang jadi ganteng sejak potong rambut. Baik pula, nggak jaim kayak suaminya Yuka. ”Kenalin ke gue kalau gitu. Gue mau nikahin dia.” Kushi mendapatkan satu pukulan di kepalanya dari Yuka Sierra. Gadis yang hanya mengenakan tank top itu mengaduh dan menyumpahi Yuka sekali lagi. ”Dia nggak bakalan mau kawin sama lo, dia itu tipenya cantik kayak gue.” Yuka mengibaskan rambutnya. Dia tahu kalau Vegas ada perhatian khusus untuknya. Tapi maaf, hati Yuka hanya untuk Om El saja enggak bisa dibagi dua. Kata Buk Siyah kita harus sadar sama pesona kita sendiri. ”Jangan maruk, duda lo lo kejar-kejar. Aaron Yan lo embat juga. Gue sumpahin nggak dapat satu pun—ADUH!!” Janda ulat bulu menekur-nekurkan wajah Kushi ke kasur seperti sedang main bola basket. ”Penasaran gue, duda lo lo apakan sih kira-kira kalau lo kayak gini. Sumpah lo kasar banget jadi jakula—eits awas lo main tangan lagi!” Saat melihat tangan Yuka mulai beraksi, Kushi menjauhkan tubuhnya lalu pasang kuda-kuda. ”Ya gitu. Urusan nananana nggak boleh dibawa keluar!” Yuka berkata jumawa. Kushi mencibir. “Heeh, sebenarnya bukan lo yang nolak laki lo kan? Jujur aja, laki lo yang nggak mau manjatin elo kan?” Sekali lagi Kushi mengaduh kesakitan hingga kali ini ia ingin menangis. Tangan Yuka Sierra itu gampang banget gerakannya, tahu-tahu sudah mencubit bibirnya. ”Kalau gue ceritakan urusan kawin gue, lo bakalan becek tahu. Gue tuh nggak mau kalau dia main enak-enak sama gue tapi masih gantung status gue. Jadi stop pikir yang gue enggak menggairahkan!” ”Ya ampun mulut lo itu, Jakula. Bisa nggak lo saring dikit kata-kata lo, dengar Kaza mati lo Ka!” ”Kaza udah besar, udah tahu dia masalah perkawinan. Sering mergokan gue sama laki gue sih dulu. Ih awas aja kalau dia ganggu momen intim gue sama laki gue lagi, gue sunat sampai habisnya burungnya!” Kushi menyumpalkan ujung selimut ke mulut Yuka—sekalian balas dendam karena dia dari tadi di-KDRT oleh Jakula satu itu. Yuka menjambak rambut Kushi hingga Kushi melepaskan tangannya, matanya berang. Walau begini-begini juga dia enggak pernah kapok berteman dengan Yuka. Kushi enggak pernah dendam atau marah walaupun Yuka sering mencubit atau memukulnya. ”Ka, menurut gue duda lo masih kasih kesempatan untuk kalian supaya bersatu lagi.” Kushi kali ini serius. Sebenarnya dari tadi ia ingin menyampaikan hal itu. Namun, bicara dengan Yuka pasti mutar-mutar dulu kemana-mana. Yuka menyugar rambutnya. “Nggak tahulah Kus. Gue juga bingung. Gue udah merasa nggak pantas buat dia. Gue aja jijik banget dengan tubuh gue ini.” Melihat pandangan Yuka yang berkaca-kaca, Kushi jadi penasaran. ”Kenapa dengan lo?” ”Gue hampir diperkosa, Kus. Tubuh gue ini disentuh dimana-mana oleh tua bangka.” Yuka menceritakan malam penistaan itu. Kushi menangis. Dia enggak bisa bayangkan berada di posisi Yuka. Nasib baik Yuka ada yang menolong gadis itu. Jika itu Kushi, siapa yang akan menolongnya? Kushi hidup sebatang kara di kota ini, dia juga kuliah sambil bekerja. ”Jangan merasa rendah diri, Ka. Itu cuma kemalangan. Jangan mikir begitu ah. Walau kejadiannya buruk sekali pun. Pasti masih ada yang akan menerima lo kok. Jangan melow dong, lo kayak bukan Jakula aja kalau gini.” Yuka tersenyum masam. Ia menoleh ke pintu kamar saat didengarnya Kazasaki memanggil namanya dari ambang pintu kamar. Kushi yang duduk di sebelah Yuka cepat-cepat menutup tubuhnya dengan selimut untuk melindungi mata Kazasaki supaya enggak ‘ngiler’ melihat tubuhnya yang aduhay bohay menggoda mata jaka ”Kak Yuk, ada Om Elang tuh di depan.” Yuka Sierra yang punya gulungan rindu untuk suaminya itu langsung melupakan kebimbangannya. Yang terpenting ketemu dulu sama Om El, begitu pikirnya. Saat tiba di dekat Kazasaki, Kushi menahan langkah Yuka dengan memanggil namanya. ”Siapa, Ka?” ”Laki kesayangan gue.”   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN