Sisi Gila Elrangga

1678 Kata
Sisi Gila Elrangga   ”OOM!!” Yuka Sierra menerjang tubuh Elrangga hingga telentang di karpet. Yuka mengimpit tubuh mantan suaminya itu. Dia kalungkan tangannya di leher Elrangga dan dia benamkan wajahnya di cerukan leher Elrangga. Perfect, Yuka Sierra menggila lagi. ”KAK YUKA! MALU DIKIIT!” Kazasaki berniat menarik kaus Yuka supaya angkat badan dari tubuh Elrangga. Kakaknya ini kenapa enggak tahu adab banget sih? Kenapa ada cewek yang suka banget melenting ke arah cowok coba? ”Awas lo, Kaza, diem aja di sana. Jangan ganggu gue!” Sebelum Kazasaki yang melakukannya, Yuka lebih dulu duduk di sebelah Elrangga yang lebih dulu membenari posisi. “Ckckckkc, dasar jakula.” Kushi berdiri dengan posisi tangan kiri di pinggang dan tangan kanan di pelipis. Ia malu melihat kelakuan janda zaman now itu. For your information, Kushi sudah pakai baju yang sopan. ”Kaza, lo jaga deh itu si janda bar-bar, malu-maluin kaum wanita aja dia.” Kushi menggeser tubuhnya ke sebelah Kazasaki. Jadilah mereka berdua saat ini seperti lagi menonton akrobat janda dan duda kebelet kawin. ”Ekheeem.” Vegas yang dari tadi melihat tingkah gila Yuka akhirnya berdiri dari bangku sofa, malangnya enggak ada yang sadar akan kehadirannya. ”Woaaah Aaron Yan!” teriak Kushi girang. ”Dah ah sana kalian, jangan ganggu gue!” Yuka pura-pura merapikan kemeja Elrangga. Dia menyugar rambut Elrangga, membenari rambut depan Elrangga yang saat ini dibiarkan menutupi dahinya. Suami Yuka kalau tampilan santai gini makin yahud aja deh. ”Gimana luka di bibir kamu?” Elrangga memperhatikan bibir Yuka yang merupakan kesalahan tentunya. Ia jadi mebayangkan manisnya bibir itu di bibirnya. “Lihat.” Yuka memperlihatkan bibir bawah bagian dalamnya. “Jadi sariawan, Om.” Dikedipkan matanya dengan modus dapat obat spesial. ”Sariawan itu obatnya, ya ciuman Om.” Elrangga mengelus bibir bawah Yuka dengan ujung ibu jarinya. ”Lain kali jangan digigit lagi, ya. Kalau ada masalah, jangan sakiti diri kamu.” Elrangga enggak sadar tangannya yang satu lagi ternyata sedang menggenggam tangan kecil Yuka Sierra. Kushi, Kazasaki, dan Vegas dilupakan oleh kedua kedua orang itu. Bagi Yuka dan Elrangga  ‘dunia serasa milik berdua, yang lain jamaah singgah, boleh pergi kalau sudah’. Ketiga manusia yang berdiri dengan pandangan nelangsa itu batuk berjamaah untuk mengganggu pasangan janda dan dudanya itu. ”Abang Yan, kita cari tempat lain yuk. Iri ah lihat mereka berdua.” Kushi mencetuskan ide pendekatannya. Lumayan ‘kan, Kushi jomblonya  sudah keterlaluan—sudah lama banget. Sejak tinggal di Jakarta dia belum pernah pacaran lagi. Vegas yang sudah melihat keadaan Yuka ternyata baik-baik saja itu akhirnya memilih ikut saran tersebut. Dia enggak mau mengganggu Elrangga dan Yuka karena melihat kedua orang itu hanya bikin hatinya erupsi. ”Kak, kalian mau kemana?” Kazasaki mencegah kepergian Kushi dan Vegas. ”Nggak mau jadi nyamuk, Za,” kata Kushi. ”Mau nyari yang dingin-dingin, Za,” timpal Vegas.   ***   Suami kesayangan Yuka ini kok semakin tampan saja ya? Sore ini dia pakai kemeja kerja yang ujungnya dikeluarkan dari celana. Kancing terbuka dua biji dan kancing kemeja di lengannya telah dilepaskan juga. Elrangga is very perfect husband deh. Yuka berhadapan dengan Elrangga, kedua lututnya berada di atas paha Elrangga. Tangan Yuka naik ke kancing kemeja Elrangga ingin mengelus kulit di balik kemeja tersebut. Yuka suka sekali  menyentuh bagian apa saja dari tubuh Elrangga ketika mengobrol. Ngobrol ya lanjut, grepe ya lanjut. Janda satu itu memang mesti dikawinkan segera. ”El, masa ya aku nggak boleh kerja di kantor lama? Kamu yang bilang, katanya aku pindah aja ke kantor lama supaya dekat dari rumah. Aku bilang gitu sama Pak Handi eh dimarahin.” Sejak setengah jam yang lalu mereka sudah mengobrol banyak hal. Walaupun kebanyakan Yuka yang berbicara dan Elrangga yang jadi pendengar. Elrangga hanya bertanya satu-satu, jawabanYuka panjang banget, melantur kemana-mana. ”Nggak usah pindah.” Elrangga menjauhkan tangan Yuka, tapi tangan nakal itu balik lagi memelintir-melintir kancing baju Elrangga di bagian atas. ”Kenapa?” ”Ngapain kamu pindah-pindah terus?” tanya Elrangga. ”Kamu suka akunya pindah sampai bela-bela datang ke rumah dan bilang gimana-gimana sama Ibuk dan Ayah.” Cantik. Elrangga memperhatikan wajah jandanya. Kekurangan Yuka, enggak ada. Elrangga enggak bisa membuat wanita manjanya Pak Apan itu disakiti olehnya. ”Enggak, kamu nggak usah pindah.” Elrangga memutuskan seenaknya bikin Yuka menggeram bingung. Dia rasa Elrangga mulai pikun deh, sudah kayak orang tua saja pelupanya. Kemarin saja dia keukeuh banget menyuruh Yuka pindah ke kantor yang dekat dengan rumah Yuka lalu tiba-tiba minta Yuka enggak usah pindah. ”Om maunya apa sih? Aku bingung jadinya. Jadi aku tetap kerja jauh gitu? Atau maksudnya aku disuruh berhenti kuliah?” Mengingat misteri statusnya, Yuka mengalihkan pertanyaan kepada hal yang super penting. ”Om mau kita balikan lagi ya?” ”Maunya kamu!” Elrangga menjauhkan tangan Yuka dari lehernya. Wanita itu memang benar-benar enggak bisa dibiarkan main-main. Tangan putih dan halus itu hobi banget merayap kemana-mana. Dia pria dewasa. Jika area sensitifnya dielus oleh tangan gadisnya, akan ada perubahan dalam ‘dirinya’. Jandanya mungkin enggak sadar seperti apa efek sentuhannya bagi Elrangga. Atau Yuka memang sengaja memancingnya? Elrangga menahan tangan Yuka dengan memegang kuat-kuat kedua tangan wanita berkaus kebesaran itu. ”Loh memang itu mauku, masa enggak tahu. Selama ini sudah sering bilang sama Om. Aku mau kita balik lagi.” Yuka berusaha melepaskan tangannya dari Elrangga, tapi enggak bisa. ”Lepasinlah, El!” Yuka membuang napas. ”Terus kenapa masih gantung status aku?” Pertanyaan yang sama yang selalu keluar kala Yuka bingung dengan Elrangga. ”Kenapa enggak mau mutusin benar-benar?” Kenapa Elrangga enggak mengurus surat perceraian supaya perasaan Yuka bisa dia ubah walaupun susah? ”Kamu itu masih muda, Yuka. Masih belum dua puluh, masa iya kamu janda di umur segitu. Lebih baik ‘kan begini?” ”Endasmu, lebih baik! Nikah enggak, cerai enggak! Mau kawin lagi enggak bisa!” Keceplosan! Mana bisa Yuka cari lelaki lain untuk dia ajak kawin. Bikin Elrangga bersedia ngawinin dia saja susahnya berkuadrat-kuadrat. Apalagi harus mencari pria lain yang tentunya harus lebih segalanya dari Elrangga dong—itu pasti lebih sulit lagi. Elrangga gila. Dia berubah jadi pria enggak waras! Akal sehatnya disedot oleh suara manja anaknya Pak Apan dan Buk Siyah. Mendengar Yuka menyebut kawin lagi, telinganya berdenging. Suara rajukan Yuka selanjutnya ia bungkam dengan menyatukan bibir mereka. Ia sesap bibir merah muda yang sejak tadi berbeda-beda bentuk karena pemiliknya—Yuka Sierra—seringkali memanyun-manyunkan bibirnya saat berbicara atau kadang-kadang membuat bibirnya segaris tipis atau juga mencebik. Oh, sungguh, ia menyukai mencium Yuka seperti ini. Ia jalankan telapak tangan kirinya untuk mengelus wajah Yuka dimulai dari kepala, pipi, hingga dagu wanita itu. Tangan kanannya ia gunakan untuk menekan punggung Yuka merapat kepadanya sambil membuat pola abstrak di sana. Sementara itu lidahnya menekan bekas luka di bibir dalam Yuka Sierra, pelan, lembut, dan hati-hati. Yuka meringis antara dua perasaan, perih dan nikmat sekaligus. Keduanya menyerang kesadarannya dan mengotori otaknya hingga tanpa sadar melenguh seperti orang mengi* dan kedua tangannya dikalungkan ke belakang leher Elrangga. Dia naik ke pangkuan Elrangga.  Lepas sejenak untuk memberikan mereka kesempatan menghirup udara, Elrangga pindah ke sudut bibir wanita di pangkuannya. Kalau sudah begini, sulit untuknya berhenti. Banyak banget perasaan hingga tumpang tindih yang biasanya selalu ia abaikan. Ia malas mencari tahu bagaimana sebenarnya perasaan yang dia miliki untuk wanita itu. Mereka sama-sama butuh bernapas kali ini. Yuka lebih dulu menjauhkan wajah. Tangannya masih mengalung di leher Elrangga dan ia juga masih duduk di pangkuan pria itu. Jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. ”Jejaknya udah hilang, El.” Yuka berbisik tepat di depan bibir Elrangga. Elrangga diam menunggu kelanjutan ucapan Yuka karena dia sama sekali enggak mengerti jejak apa yang dimaksud wanita itu. ”Dia cium aku, aku jijik. Yang ini tadi udah bikin jejak dia kelindas. Sekarang adanya jejak Elrangga.” Yuka tersenyum. ”Tapi—” Matanya hampir memanas. ”Masih ada lagi yang lain.” Yuka tersenyum kecil berusaha menahan air mata. Yuka enggak mau menangis depan Elrangga. Dia tak mau jadi wanita yang lemah. Dia enggak boleh terlihat menyedihkan di hadapan Elrangga. Yuka memejamkan mata waktu Elrangga mengulang lagi proses menghapus jejak di bibirnya. Kali ini Elrangga enggak hati-hati lagi seperti tadi. Dia menerapkan cibubur—ciuman buru-buru. Yuka sudah biasa mengimbangi Elrangga yang kalap begini.  Tangan Elrangga juga sudah enggak sopan-sopan lagi. Tangannya menjelajah kemana-mana, bermain di bukit dan lembah dari atas hingga bawah menerbangkan Yuka ke surga. Di sudut ruangan tinju Kazasaki mengepal. Dia enggak berani mengganggu. Dia tahu ada sesuatu yang telah terjadi kepada Yuka. Kakaknya enggak mau bercerita, tapi dia juga enggak bisa memaksa Yuka jujur kepadanya. Dia ini hanya adik kecil yang enggak disukai kakaknya. Akhirnya, Kazasaki masuk kamar dan mengunci pintu. Dia pasang earphone dengan musik kencang. ”Jakula ckckck.” Kushi merangkul siku Vegas lalu mengambil tasnya di bangku sofa ruang tamu. Segera mereka keluar dari rumah itu. Vegas enggak menolak. Dia patuh banget sama kemauan Kushi. Mereka tuh sebenarnya haus sehabis bercerita panjang lebar sambil tertawa. Niat mereka ingin ke dapur cari minuman dingin di lemari es. Tapi karena suguhan delapan belas plus di ruang tengah, terpaksa mereka cari minum di luar. Takut pengen, Kushi cengar-cengir kepada Vegas. Di tempat mereka, Yuka menumpu sikunya di d**a Elrangga. Mereka telah mengubah posisi dari duduk menjadi berbaring dengan Elrangga jadi kasurnya. Baru saja Elrangga bertanya, dimana saja b******n tua itu menyentuh Yuka. Yuka terus menggeleng hingga rambutnya bergoyang mengibas wajah Elrangga. ”Aku nggak akan biarkan dia bebas keliaran.” Elrangga murka kepada b******n yang menyentuh ‘miliknya’. Karena miliknya hanya boleh disentuh dan dimiliki olehnya sendiri. ”Kamu nggak jijik apa sama aku?” Yuka menatap mata Elrangga, enggak mau dibohongi dengan kata-kata manis hiburan saja, no dia enggak terima dimanisi dengan kata-kata. Elrangga melingkarkan tangannya di punggung Yuka. Dia rebahkan diri mereka berdua menghadap ke samping dan menjadikan Yuka gulingnya. ”Enggak pernah sekali pun.” Elrangga memejamkan matanya untuk tidur. ”Makasih ya Om.” Yuka berkata pelan. Suaranya enggak bisa kuat karena bibirnya menempel di d**a Elrangga. ”Kasihan elangnya Om.”     ***     me.ngi n penyakit sesak napas; penyakit bengek
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN