Sakit yang Kesekian

1732 Kata
Sakit yang Kesekian   ”Yuka! Yuka!” Vegas mengejar Yuka yang sedang berjalan menjauh dari ruang kantor Elrangga. Raut wajah janda yang dipanggil Vegas itu sedikit tak puas karena enggak bisa bertemu dengan suami kesayangannya. Yuka ingin melihat wajah yang gantengnya kayak Ryo Yoshizawa itu. Tadi pagi Yuka dijemput oleh Elrangga. Mereka ke kantor bareng. Sweet sih sebenarnya, bagaimana Yuka enggak kelemer-kelemer coba? Kayaknya musibah yang Yuka alami kemarin membawa berkah. Buktinya, sekarang Elrangga perhatian sama janda gesrek itu. Siang ini semangat Yuka hilang. Rencananya Yuka ingin mengajak suami tercinta yang jago membawa Yuka mengawang itu makan siang tapi dia nggak ada. ”Apaan Om Pegas?” ”El lagi ketemu klien baru, kamu nggak tahu?” Vegas melihat jam tangannya. ”Udah makan belum? Makan bareng yuk?” ”Gue enggak laper, Om,” jawabnya dengan suara lesu. ”Ah, lo bisa tinggal tulang kalau enggak ngisi perut.” Vegas tersenyum mengejek ketika dilihatnya Yuka memperhatikan tubuhnya. ”Lo yang nraktir gue yah Om sekali-sekali. Jangan pelit lho buat temen lama.” Yuka mengelus perutnya yang sekarang baru terasa laparnya. ”Makan di warung tenda depan kantor?” Yuka menendang kaki Vegas. Wajahnya enggak sedap dipandang. Vegas mengajak makan anak perawan di warung untung bukan warung remang-remang, bisa dikejar Pol PP mereka. Harusnya tuh seorang cowok keren, seperti Vegas ini, mengajak Yuka makan siang di tempat high class, ‘kan asoy. ”Enggak jadi.” Yuka balik badan. Tapi kerah kemejanya ditarik oleh Vegas hingga Yuka tak bisa jalan. “Setaan, lo ah!” “Iya iya, lo mau makan apa? Gitu aja ngambek lo ah, kayak masih puber aja!” Vegas melepaskan kemeja Yuka lalu meletakkan tangannya di bahu Yuka. Tak sampai nol koma nol lima detik, Yuka mencubit tangannya. Vegas mengusap bekas cubitan wanita yang berkemeja lengan panjang itu sambil melirik kebengisan Yuka. Yuka membenari kemeja lalu meniup poninya supaya enggak jatuh ke mata. ”Ayo berangkat sebelum gue cakar muka lo yang udah lumayan itu buat ngilangin laper gue.” Yuka berjalan dengan mengentak di depan Vegas. Mengembanglah senyuman di wajah Vegas sebab melihat Yuka kembali jadi Yuka yang ceria. Hari ini Yuka cantik banget. Wanita yang telah mencuri perhatiannya itu mengikat rambutnya asal-asalan, tapi di sanalah letak keistimewaannya. Beberapa rambut yang nakal, yang enggak menurut untuk diikat mencuat di pelipis wanita itu. Sedangkan poninya yang enggak pernah ketinggalan jadi daya tarik gadis Jepang KW itu. Dia juga memakai aksesoris anting-anting mutiara yang membuat Vegas diam-diam merekam kecantikan Yuka Sierra dalam memorinya. ”Loh katanya enggak mau makan di warung tenda?” ”Gue lapernya sekarang, kalau jalan dulu buat nyari makanan yang mahal, kelamaan ntar laper gue hilang. Nggak jadi makan deh gue, kalau kurus nanti laki gue marahin lo lagi!” Vegas buang napas. “Pede banget sih lo! Elrangga keluar makan siang bareng Moona. Lah lonya aja ditinggal.” “Buk, sotonya satu dong pakai nasi, banyakin sambel ya, Buk.” Yuka berdiri untuk mengambil keripik yang letaknya di meja paling sudut di warung itu. Vegas memukul kepalanya. “Yuka, lo boleh gantung leher gue!” Vegas menggerutu enggak jelas. Saat Yuka sudah balik lagi duduk di depannya, dia pun mengerucutkan bibirnya sok imut supaya Yuka memaafkan. “Elo kenapa, Om? Kebanyakan nelan cabe?” Yuka duduk dengan santai, seperti lupa dengan info dari Vegas tadi. “Nggak kebanyakan itu sambelnya?” tanya Vegas balik saat soto Yuka diantarkan ke meja mereka. Liurnya serasa mencair karena membayangkan soto panas dengan cabai rawit pasti bakalan membuat mulutnya kebakaran. ”Enak kok, lo mau coba?” Yuka menggeser sotonya. Vegas menganga, ini anak enggak salah apa? Masa mereka mau makan sepiring berdua? ”Gue sudah pesan nasi. Mana sanggup perut gue makan soto buat makan siang, bisa-bisa tumbang jam tiga nanti karena lapar,” alasannya. Yuka mengaduk-aduk sotonya. ”Ya sudah kalau enggak mau, gue juga cuma basa-basi kok.” Mereka selesai makan siang. Yuka mengipas-ngipas dirinya dengan robekan kertas air mineral lima ratusan. ”Yuk Om Pegas, balik kantor. Kali aja Om El sudah balik, kangen gue sama dia.” Yuka berjalan lebih dulu ke luar dari warung. Dia menunggu Vegas selesai membayar makanan mereka. ”Lo nggak apa-apa?” tanya Vegas saat melihat Yuka keringatan di wajahnya. Yuka menggeleng, ”Memangnya gue harus kenapa-kenapa? Ah pertanyaan lo nggak kreatif banget!” Yuka memukul kepala Vegas dengan kertas kipasnya. ”Yang kreatif seperti apa?” Vegas merebut kertas Yuka lalu dia kipasi wanita cantik itu. Vegas boleh kan mengelap keringat di pelipis Yuka? Melihat ke  bibir Yuka, alamak merah banget. Itu pasti akibat kepedasan. Tolong sembuhkan Vegas dari keterpesonaannya kepada dewi kecantikannya ini. Yuka merebut kertas itu sambil jalan dia menjawab, “Ya apa kek, tanya gue mau nggak diajak shopping. Lo jomblo pasti ya, makanya nggak tahu gimana cara memperlakukan wanita.” Yuka mengusap keringat di pelipisnya dengan punggung tangan. Wajah putih wanita itu memerah oleh teriknya matahari. Bicara dengan Yuka pasti melantur kemana-mana, Anak kecil yang dia jumpai di rumah Buk Siyah saat menanyakan kos-kosan dulu kini sudah berubah menjadi wanita paling cantik dengan kelakuan maha aneh. Sekali lagi, di sanalah letak pesona Yuka Sierra. Sayang sekali, hati wanita itu sudah dicuri oleh sahabatnya sendiri. Alangkah nelangsanya nasib Vegas sejak dulu sampai sekarang. Dia memindahkan Yuka ke kantor ini dan berharap bisa dekat dengan Yuka tapi wanita itu justru tanpa malu-malu mengejar sahabatnya—lagi. ”Kasih tahu aja kapan lo mau gue belanjain.” Vegas menyanggupi. Loh rezeki itu namanya, kalau Yuka mau sekalian saja sehabis belanja, mereka dinner ‘kan? ”Tenang, gue punya banyak waktu buat bikin lo bangkrut!”   ***   “OOOM!” Yuka berlari saat dilihatnya Elrangga berjalan akan masuk ke kantor. Dia peluk tubuh suaminya itu dari belakang. Untungnya kali ini Yuka enggak salah memeluk si OB seperti waktu itu. Ini memang benar punggung suami Yuka kok, wanginya juga Yuka hafal—campuran  jeruk mandarin, sage, geranium, dan musk. Kadang ada aroma lemon juga bikin Yuka pengin makan Om El saja. Kalau biasanya pelukan Yuka pasti diurai atau sadisnya Yuka didorong sampai jatuh duduk cantik di lantai tapi sekarang ini enggak. Lelaki tercintanya itu menumpuk tangannya di atas tangan Yuka. Meremas tangan Yuka sedikit lalu melepaskan pelukan. Elrangga balik badan menghadap Yuka. Lelaki itu menjalankan matanya ke wajah Yuka. ”Sudah makan siang?” ”Soto satu mangkok pakai nasi.” ”Bagus.” Elrangga enggak tahan untuk menyibak poni Yuka yang berkeringat. “Kamu makan sambal lagi? Gimana lukanya, perih?” ”Enggak, udah sembuh. Kan sudah diobatin.” Yuka mengedip-ngedipkan matanya seolah melempar kode kalau obatnya itu mujarab banget dan Yuka mau lagi. Elrangga menyentil kening Yuka pelan. ”Ya sudah, lanjut kerja sana. Nanti kuliah ‘kan?” Mata Yuka berbinar senang. Ini tanda-tanda baik kalau Om El mau mengantarkannya ke kampus dan pulang ke rumah. ”Kok tanya itu? Mau anterin aku?” Elrangga mencubit hidung Yuka. ”Iya, sudah sana kerja yang rajin!” Yuka melompat ria. Dia pegang kedua tangan Elrangga lalu mencium kedua belah pipi Elrangga. Sebelum diamuk oleh bosnya itu, Yuka berlari masuk ke dalam kantor. Elrangga menyusul ke arah Yuka lalu menoleh ke samping saat Vegas memukul bahunya. ”Ini kantor, El. Jangan bikin tontonan aneh-aneh di sini.” ”Nggak ada yang suruh lo lihat juga.” Elrangga membalas. Tika dan Tiwi yang tadi di lobby juga habis makan siang di luar langsung menjejeri langkah Yuka. Walaupun harus ikut Yuka naik tangga darurat—mereka biasanya memakai fasilitas lift herannya Yuka selalu naik tangga—rela capek demi memuaskan rasa penasaran mereka. Mereka ingin interogasi si Yuka yang sablengnya udah kelewatan sejak masuk kantor ini. ”Kalian berdua ada apaan sih?” Tika melirik Yuka. Yuka menoleh, menunjuk dirinya sambil berkata, ”Gue? Sama dia?” Kemudian dia menunjuk Tiwi. ”Bukaaan, oon dua belas. Bukan dengan Tiwi, Nong, tapi sama Bos El!” Tika melakukan gerakan ingin mencekik di hadapan Yuka. ”Oh.” Yuka tersenyum saja. Giginya yang gingsul itu menyembul cantik dari bibir. ”OH? Sableng! Please Yuk, lo berdua ada hubungan apa sih? Jawab dong! Lo nggak mau ‘kan besok pagi-pagi ada berita seorang perawan mati karena penasaran di kamar apartemennya,” jawab Tika sarkas. ”Bisa gitu?” Yuka membuat bibirnya menjadi kotak. “Kan udah gue bilang, dia laki gue.” ”Ngaco lo, Yuk.” ”Mimpi ketinggian, ah.” Keduanya dapat tampolan di bibir mereka dari tangan manis milik Yuka Sierra. ”Tadi tanya, udah gue jawab tanggapannya begitu.” ”Jawaban lo ngasal banget.” Tika menjauh saat Yuka akan memukulnya lagi. ”Lo ‘kan waktu itu yang anter gue ke ruangan Vegas waktu pertama kali datang ke sini. Hari itulah gue lihat dia ada di sini juga. Karena lo semena-mena ngajak gue di waktu gue mau ngejar laki gue, sekarang gue mau kasih pembalasan buat lo. Tika!” Enggak menunggu lama, Yuka mengacak rambut Tika. Bukan mengacak karena sayang seperti yang sering Elrangga lakukan, yang ini benar-benar mengacak tatanan rambut Tika hingga enggak keruan lagi. ”Biadab banget tangan lo, Yuk!” Tika menarik ikat rambut Yuka kemudian dia balas perbuatan Yuka tadi sama persis. Jadilah mereka tiba di lantai dua dengan rambut kusut masai seperti habis diterjang badai gurun pasir. ”Tapi bukannya Pak El pacaran sama Mbak Moona, ya?” Pertanyaan Tiwi membuat Tika dan Yuka berhenti berdebat. ”Siapa yang bilang?” Ketus dan tajam pertanyaan yang keluar dari bibir Yuka. Awas saja kalau memang benar, Yuka botakin rambut Mbak Moona biar enggak cantik lagi. ”Orang sekantor udah tahu kalau mereka dekat.” Tiwi kembali ke kubikelnya. Dia enggak heboh seperti Tika, mau Yuka istri Elrangga atau bukan itu bukan urusannya. ”Lo harus rebut tuh pangeran lo, jangan cuma menghayal dibanyakin!” ucap Tika mencibir. Dia tak percaya Yuka istri bosnya. Lihat saja bagaimana kelakuan Yuka selama ini, bertolak belakang dengan pribadi bos mereka yang serius itu. Mana mungkin Bos El jadi suami Yuka Sierra. Sampai pisang berubah warna pink hal itu enggak bakalan terjadi. Yuka bergegas naik ke ruangan Elrangga di lantai tiga. Masih tanpa menggunakan lift, kaki berbalut jeans hitam itu mengentak kesal menjajaki anak tangga dua-dua. Tanpa ketuk pintu dulu dia masuk ruangan suaminya. Pandangan matanya langsung menembak pemandangan yang mendidihkan otak, dimana suami kesayangannya dengan Ramoona sedang terlibat percakapan. Apa-apaan mereka berdua-duaan dalam ruangan Elrangga? Hati Yuka kembali porak poranda. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Tiwi. Setan itu Elrangga! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN