* Demi perdamaian dunia, Andra menjemput Kristal pagi ini. Menyeret gadis berambut kusut itu dari kasurnya dan memintanya segera bergegas, mereka harus tiba disekolah lebih cepat mengingat Andra bahkan belum membagikan kartu ujian dan Kristal sama sekali belum tahu letak ruangannya. "Kristal." "Sabar ngapa, Pak!" Kristal memakai sepatunya, sepatu yang Pak Andra berikan beberapa waktu lalu yang entah bagaimana ada dirumahnya. "Pakai helem." "Kaga, deket juga!" Kristal yang pagi itu hanya membawa bulpoin dan karet gelang disakunya lalu duduk dengan manis dijok Andra. "Ara." "Ngeselin, ih!" Kristal meraih helem yang diangsurkan Andra, mendumal dalam hati saat motor matic itu membelah lautan kendaraan yang saling berdesakan dijalan. Saat mereka akan berbelok

