26. ASKAI

916 Kata
       Menahan diri untuk tetap kuat, menahan diri untuk tidak terlihat rapuh dan lemah. Kaira, masih merasakan tubuhnya yang sakit. Dia mengutuk dirinya sendiri yang terlahir dengan nasib seperti ini. Tidak ada orang yang benar- benar tulus menyayanginya sekarang. Dulu Kakek, sekarang Kakek tidak ada dan benar-benar hampa hidupnya. Takdir, menjadi anak yang tidak di harapkan orang tuanya. Harus hidup sebatang kara di usianya yang masih muda, dan harus menikah dengan cowok yang modelannya seperti Aska. Kaira menahan diri untuk tidak segera kabur dari rumah ini. Ingin sekali hari ini juga, setelah mendengar perdebatan keluarga barunya, Kai ingin pergi dan meninggalkan tempat ini. Jauh, pergi jauh asal tidak lagi bertemu dengan orang yang bernama Aska. Tapi itu semua hanya akan menjadi impiannya. Impian semu. Kai tidak bisa pergi sekarang, tidak mudah meninggalkan rumah yang di pagar tinggi dengan dua satpam yang berjaga di gerbang depan dan belakang. Apalagi kehadiran seorang Mama yang menemaninya seharian ini di rumah dengan tampang biasa saja. Seolah tidak terjadi apa apa. Kai tau, Mama berusaha menyembunyikan masalah yang tadi pagi sempat dia dengar. Kai tau wanita itu menyimpan dan menanggung beban masalah yang berat di pundaknya. Kai harus kuat, setidaknya dia harus sembuh hari ini. Dan kembali Sekolah besok pagi. Kai sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk pergi. Pergi jauh dari kurungan emas dan ikatan tali pernikahan. Tidak peduli dengan statusnya setelah ini. Seorang janda atau gadis janda atau apapun itu. Yang terpenting dia sudah muak dan lelah. Topeng itu kembali terpasang. Topeng ceria dan datar. Kai berusaha menahan sekuat tenaga emosi yang membakar dadanya sendiri. Berusaha bersikap sopan dan manis seperti Kaira biasanya. Jam menunjukan pukul setengah empat sore. Kai dan Mama sibuk di dapur. Kai harus bergerak agar tidak bosan hanya karena duduk diam seharian, itu semua ia lakukan karena larangan orang tua barunya untuk tidak masuk sekolah hari ini. Tidak masalah dengan janjinya di Kedai Kopi. Kai tidak peduli itu sekarang. Lagi pula soal itu masih bisa dia kunjungi lain waktu. Baginya sekarang adalah waktunya menikmati hari terakhir bersama Mama, wanita terbaik yang memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu. "Kai, masukin ikannya ke dalem wajan. Biar mama yang aduk," katanya sambil mengaduk tumisan bumbu di dalam wajan. Kai mengangguk kemudian memasukan ikan tongkol ke dalam wajan. Rencananya sore ini mereka akan masak Sambalado Tongkol kesukaan Papa. "Nah sekarang kamu bisa potong-potong kangkungnya. Sambil di bersihin," Kai menganggukan kepalanya lagi kemudian mulai memetik daun kangkung dan membersihkannya. "Ma? Mama bisa jago masak sejak kapan?" tanya Kai iseng dengan tangan yang sibuk bekerja. "Dari SMA, Mama udah suka di ajarin masak sama Eyang buyut Mama dulu. Jadi, sampe sekarang Mama terapin semua resep yang dia ajarin," Kai mengangguk anggukan kepalanya paham. Entah kenapa basa basi itu berubah menjadi rasa kepo yang luar biasa. "Jadi, waktu Mama nikah sama Papa. Mama udah pinter masak dong?" "Iya, mungkin juga sebenernya Papa itu nikahin Mama karena masakan Mama," kekeh Mama iseng. "Ish Mama bisa aja, ya enggak lah. Mama kan cantik.." kata Kai menggoda. "Hahaha, percaya aja kamu Kai. Cerita sebenarnya bukan cinta karena Sambalado kok. Jadi, dulu itu Papa suka banget kalo mama masakin Sambalado Jengkol, padahal dulunya Papa nggak doyan Jengkol. Tapi, pas Mama yang masakin, dia jadi doyan." Jadi inget lagunya Ayu ting-ting. Colek colek sambalado ala mohay di colek sedikit cuma sedikit asek asek.. Kai menggelengkan kepalanya sejenak. Sekarang bukan saatnya untuk bercanda. Bahkan dia lupa kapan Kai tertawa lepas karena sebuah candaan yang dulu sering di lontarkan kakek. "Oh jadi papa suka masakan yang ada bumbu Sambalado, ya Ma?" Mama menganggukan kepala kemudian menuangkan makanan ke dalam piring saji. "Kalau Aska, dia suka banget tumis kangkung. Atau sayur bayem." Kai berhenti memetik daun kangkung di tangannya. Mendengar ucapan Mama membuatnya kembali mengingat cowok itu. Dalam hati, jujur sebenarnya Kai sangat kesal. Dan Kai mulai tidak suka mendengar nama itu, "Oh," Kai menanggapinya dengan malas kemudian menyuci daun Kangkung ke arah wastafel. "Bik, ini langsung di taro di atas meja. Siapa tau Aska pulang laper. Biar dia makan duluan nggak nunggu papanya." Mama memerintah ke salah seorang pembantu kemudian menghampiri Kai. "Kamu yang sabar ya sama Aska, dia emang anaknya gitu. Pemberontak. Jadi, sebelum dia meng-iyakan sesuatu, atau menerima sesuatu. Dia bakal memberontak dulu," Kai tidak tau apa maksudnya, tapi Kai  menganggukan kepala dengan senyum kecil di sudut bibir. "Mama sebenernya juga berharap sama kamu. Kamu bisa ngubah sikap dingin dan keras kepala dia," Kai menggeleng cepat. "Enggak, Ma. Kai nggak bisa," "Kenapa?" "Itu masalah diri Aska sendiri dan Kai nggak mau rubah apapun itu," Mama menghela napas, tampak mengerti. Kai mulai memasak tumis Kangkung untuk hidangan makan malam. Dan Mama memperhatikan menantunya tanpa sepatah kata membuka pembicaraan. Kai juga terlihat sibuk dengan aktivitasnya. "Mama berharap sama kamu, Kai. Mama tau kamu bisa," Ucapan itu keluar bertepatan saat Kai menuang tumis kangkungnya ke dalam piring saji. Setelahnya, Kai berjalan ke arah Mama yang duduk di sebrang meja pantri. "Ma, Kai nggak mau ambil resiko apapun di saat Aska dan Kai nggak bersikap baik. Maaf, tapi mungkin Kai ngecewain Mama, Kai nggak bisa.." "Iya, Mama.." "Askaaa pulaaaaang..." Suara itu menghentikan percakapan mereka. Kai menoleh ke arah pintu dapur begitu juga dengan Mama yang membalik tubuhnya untuk melihat ke arah sumber suara. Tidak biasanya, tidak biasanya Aska bersikap seperti itu saat pulang sekolah. Cowok itu biasanya dingin dan datar, langsung masuk kamar atau pergi bermain Game di ruang keluarga. Tidak pernah menyapa apalagi dengan nada ceria. Ada apa? Jawaban itu ada seketika, saat mata indah Kai menangkap seseorang di balik punggung suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN