25. ASKAI

924 Kata
Pagi Hari, di Rumah. "Ini semua salah Papa dan Mama. Aska masih pengen kuliah ke Singapore. Aska masih punya mimpi yang harus Aska raih! Aska punya cita-cita tinggi! Kenapa kalian harus jodohin Aska sama cewek lemah itu!" Kai meringis kesakitan. Bukan karena sakit di tubuhnya yang ia tahan. Tapi, rasa sakit di ulu hatinya. Sakit yang entah dari mana mencabik-cabik keras hingga meninggalkan rasa perih. Aska sedang berusaha mengeluarkan sebuah pemberontakan. Dan Kai tau itu, tapi entah kenapa hati Kai rasanya sangat sakit. Mendengar kalimat yang keluar dari mulut cowok itu terdengar sangat kejam di telinganya. Aska yang biasanya cuek, pendiam dan dingin kini menjadi cowok keras kepala dengan ego yang tinggi. Apa benar semua ini terjadi karena Kai? Lalu bagaimana sebaliknya? Siapa yang pantas di sebut sebagai penyebab Kai berubah? Bukannya keduanya memiliki sisi masing-masing? Keduanya secara tidak sadar saling mengubah diri dan menutup diri dari hubungan ini. Tidak ada dasar apapun, dasar cinta, kesetiaan, kepedulian. Apa jadinya hubungan tanpa dasar? Hancur, ya mungkin sebentar lagi hubungan ini akan hancur. "Aska! Jaga ucapan kamu!" "Emang bener kan Pah?! Dia itu penghalang di rumah ini! Aku masih pengen kuliah, masih pengen seneng -seneng. Ini semua salah kalian! Kalian ngehancurin masa depan anak kalian sendiri!" PLAK Kai memejamkan matanya. Tamparan hebat itu di layangkan di pipi Aska dari tangan besar milik Papa. Mama Nita sudah tak kuasa menahan air matanya sambil terisak di belakang Papa. Mereka sedang berada di ruang tamu. Dan Kai yang di-paksa- untuk tidak Sekolah saat ini masih berada di dalam kamarnya, lantai dua. Melihat pertengkaran hebat keluarga barunya yang terjadi pagi ini. Membuat Kai di selimuti rasa bersalah. "Kenapa, Pah? Bukannya Aska bener? Papa udah hancurin masa depan dua anak sekaligus. Kenapa harus dengan perjodohan? Kenapa? Kami punya mimpi masing-masing! Dan karena ikatan konyol yang di sebut pernikahan, Aska terpaksa ngikutin kemauan kalian. Sekarang apa? Kurang? Kurang apa lagi?!!" kata Aska dengan tatapan meremehkan ke arah Papa. "Pernikahan bukan main-main Aska! Jaga ucapan kamu!" Bentak Mama tak terima. "Bukan main- main? Terus apa yang kalian lakukan sekarang? Mempermainkan pernikahan? Kalian mengikat anak remaja buat menikah. Dan ini adalah main-main! Kita belom saatnya nikah, Ma!" "Cukup! Pernikahan kamu dan Kai bukan main-main. Papa tegasin sekali lagi, ini semua serius. Yang bikin kayak gini juga kamu sendiri! Kamu menganggap pernikahan kamu sama Kai itu main-main dan sekedar hal konyol. Sadar Aska! Semua ini nyata!" "Cih! Terserah! Yang aku tau, kalian ngehancurin masa depan anak kalian sendiri demi nurutin kakek- kakek tua yang ngemis ke Papa buat jagain cucunya kan!" Kai benar benar tidak percaya dengan ucapan Aska. Cowok itu menyimpan dendam di hatinya. Dendam yang selama ini tertahan. Rasa sakit yang selama ini juga Kai rasakan. Karena sebuah keterpaksaan. "Kamu nggak tau apa alasan Papa! Jaga ucapan kamu Aska! Kamu nggak tau apa-apa!!" kata Papa dengan tatapan yang menggelap. Rahang mengetat dan tangan mengepal menahan amarah. "Kasih tau Pa! Kasih tau Aska apa yang Aska nggak tau. Papa sembunyiin apa sebenernya?!!" "Aska," "Nggak, Ma! Maafin Aska. Tapi, ini udah kelewatan. Masa depan Aska jadi korban." "Aska, bukan itu maksud kami. Kamu masih bisa kuliah di Singapore. Kami nggak mengorbankan apapun dari kamu. Tapi, hanya aja kamu.." "Apa! Sama aja kalian mengorbankan kebahagiaan Aska. Dan Aska harus punya tanggungan cewek lemah itu? Beban, Ma. Dia itu beban buat Aska. Dia penyakitan, dia lemah," "Selama ini dia kuat Aska. Kamu nggak tau beban apa yang dia tanggung sendirian. Jangan pandang dia sebelah mata. Kamu nggak tau apa- apa!" tegas Mama sambil mengusap air matanya. "Tadinya hidup Aska baik-baik aja. Tadinya hidup Aska nggak kayak gini semenjak kehadiran dia di rumah ini. Semanjak Kartu Keluarga kita ada nama dia. Semuanya jadi berubah! Papa dan Mama lebih sering bela dia dari pada Aska. Kenapa? Apa karena dia yatim piatu?  Jadi, kalian kasian?" "Aska!! Dia bukan yatim piatu. Dia masih punya orang tua!" "Cukup, Pa! Semua yang aku bilang adalah bener! Orang tua dia buang dia kan! Karena mereka nggak menginginkan dia lahir. Kalo kalian cuma kasian sama anak kayak gitu, ambil aja dari panti asuhan tanpa harus ada kata Perjodohan!!" "Kurang ajar kamu!! Jaga ucapan kamu!!" Bentak Papa dengan suara baritonnya. Aska menggemertakkan giginya. Mengepalkan tangannya penuh amarah. Tidak takut dengan tatapan Papa yang jelas sangat marah. "Terus! Terus aja bela dia terus!!" Aska berjalan keluar rumahnya meninggalkan Mama yang kini duduk di Shofa dengan kaki yang melemas. Sedang Papa yang memijat pelipisnya. Kai menahan air matanya. Dia harus bertindak, tidak boleh tinggal diam. Tidak mau merepotkan keluarga yang mau menampunya terlalu dalam. Rasa sakit di keningnya membuat Kai semakin hilang kendali. Tapi, tidak untuk hari ini dan seterusnya. Kai harus berusaha mengalahkan rasa sakit itu. Kai harus kuat. Kai harus menjadi gadis kuat yang menghapuskan segala pandangan buruk Aska untuknya. Kai menutup pintu kamarnya lagi -kamarnya dengan Aska- Kai duduk diam di shofa. Dengan tatapan lurus kedepan. Tatapan kosong lebih tepatnya. Kai mulai perpikir dengan cara apa ia mencairkan hati yang beku itu?  Suara Aska kembali terbayang, membayangi isi kepalanya. Ini sudah benar- benar kelewatan. Kai tidak bisa tinggal diam. Aska yang cuek dan datar bisa marah seperti itu, alasannya hanya karena Kai. Itu semua karena Kai. Kai kembali beranjak dari duduknya. Mengambil tas sekolah miliknya. Kemudian berjalan ke arah lemari pakaian dan membuka isinya. Tidak mungkin membawa semua, tapi Kai mau membawa beberapa pasang. Dan meninggalkan yang ada. Kai mengambil ponsel di atas nakas dan dompet miliknya. Dia harus pergi, pergi dari rumah ini. Setidaknya, mengurangi beban Aska dan keluarganya. Kai tidak mau hidup menjadi beban orang lain. Ini sudah takdirnya, takdir hidup sebatang kara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN