24. ASKAI

791 Kata
Kai membuka matanya perlahan, semuanya masih berkabut saat tatapan matanya tertuju pada seorang wanita yang kini melihatnya dengan raut wajah kawatir. Kesadarannya mulai kembali perlahan- lahan. Kai masih merasa pusing dan berdenyut di sudut kepalanya. Mama yang pertama kali menyadari kesadaran Kai di ruangan itu. "Kai? Nak? Kamu nggak papa?" Jelas Kai merasa sakit saat ini. Tapi, untuk menenangkan Mama mertuanya itu Kai menganggukan kepalanya lemah. "Syukur kamu nggak papa sayang," kata Mama lagi sambil mengelus puncak telapak tangan Kai yang terasa panas. "Kita semua kawatirin kamu," kata Mama lagi sambil melirik ke arah Papa dan Aska. Papa kini beranjak dari sofa di kamarnya -tempat yang biasanya Kai tiduri- dan berjalan ke arahnya. "Gue nggak!" jawab Aska ketus menyanggah ucapan Mamanya. Mama menoleh ke arah anaknya itu sambil memberikan tatapan kesal. "Besok lagi kalo masih sakit jangan masuk Sekolah dulu," kata Papa mengimbuhkan sambil mengusap puncak kepala Kai. Kai menganggukan kepalanya lagi. "Tau sakit malah keluyuran, dasar nggak tau diri!" "Aska! Diem kamu!!" bentak Papa ke arah putrahya yang masih menampilkan raut wajah dingin dan datar. "Kenapa? Bukannya bener? Dia harusnya sadar dia siapa! Bukannya malah pulang malem di boncengin cowok." Aska tersenyum miring, sambil memberikan tatapan jijik ke arah Kai yang kini menghela napasnya. "Jangan sekarang Aska!" bentak Mama tak kalah serius. "Sadar diri dia siapa di sini? Cuma numpang kan? Jadi nggak perlu di rawat sebaik ini," Kata katanya memang sangat menyakitkan. Tapi, bagi Kai yang sudah sering mendapatkan hinaan dan kata kata pedas. Kai bisa menerimanya. "Aska! Cukup!!" "Bela aja terus! Anak nggak tau di untung!!" lanjut cowok itu sambil berjalan keluar kamar. Membanting pintu itu keras sebelum menutup pintunya matanya menatap tajam ke arah Kai. Kai memilin jarinya di bawah selimut tebal. Menahan air mata yang sebentar lagi siap menggenang. Lupakan fakta bahwa dia berusaha terlihat dingin dan datar. Itu tidak bisa, bawaan nya memang seperti ini. Dia gadis ceria dan kecil hati. "Kai, sayang.. jangan di masukin hati ya kata-kata Aska," kata Mama dengan tatapan memohon. "Biar Papa yang tanganin," kata Papa yang hendak pergi tapi di cegah cepat oleh Kai. "Enggak perlu, Pa. Kai nggak papa," katanya dengan sebuah senyum paksaan. "Dia keterlaluan," "Mungkin Aska emang kesel sama Kai, Ma. Wajar dia gitu," jelas Kai menenangkan wanita yang sangat baik. Yang mengisi kekosongan hatinya dengan kehadiran seorang Mama. Dan wanita ini yang memberikan kasih sayang seorang Mama untuknya, Kai sangat bersyukur. "Sekarang kamu bisa jelasin, Kai? Kenapa kamu pulang semalam ini?" tanya Papa dengan tegas. Kai menghela napasnya kemudian mulai kembali bersuara. "Ceritanya panjang, Pa, Ma." Mama dan Papa saling pandang. Mengisyaratkan sebuah kilat yang tidak bisa di jelaskan. "Aska pamit mau main ke rumah temennya. Kai naik Taxi online, tapi ban Taxi bocor jadi Kai turun di jalan. Kai mau cari Taxi online lain tapi HP Kai mati. Kai udah sampe jalan yang banyak kedai-kedai nya itu. Nanggung kalo balik arah cari Taxi biasa. Dan posisinya nggak ada kendaraan umum. Kai nggak mungkin jalan kaki pulang ke rumah karena jaraknya juga lumayan jauh. Kai nggak tau harus apa, Kai coba nungguin Aska siapa tau dia belom pulang, Kai nunggu sekitar dua jam setengah di depan kedai Kopi, bodohnya Kai juga nggak hafal sama alamat rumah ini. Kai cuma tau ini di perumahan Putri Indah. Selebihnya Kai nggak tau," Kai menghela napasnya. Memberi jeda di antara ceritanya. Matanya menerawang jauh ke depan. Tidak memperdulikan tatapan kasian dari dua orang di hadapannya. "Kai ketemu sama Barista baik. Namanya Kak Jordan, dia mau nganterin Kai kerumah. Nganterin muter-muter perumahan karena Kai nggak hafal alamat rumah. Kai nggak tau jalanan, Kak Jordan akhirnya anterin Kai. Tapi, Aska.. Aska.. Aska tadi, kasar sama kak Jordan, padahal kak Jordan baik," katanya dengan suara gemetar. Mama mengusap punggung tangan Kai mencoba menenangkan anak gadis yang sudah menjadi menantunya. "Jadi? Dia bukan pacar kamu kan?" Kai menggeleng cepat mendengar pertanyaan dari Papa membuat hati Kai sakit. Ya, meskipun Kai tidak menyukai Aska, bukan berarti Kai bisa berpaling seenaknya. Dia sudah terikat ikatan suci. Dan Kai tidak akan mengingkarinya. "Kata Aska tadi kamu di anterin cowok pacar kamu, makannya kamu pulang sampe malam begini?" "Enggak, Pa. Kai pulang malem karena nunggu kendaraan. Kai bener-bener nggak bohong.." kata Kai dengan wajah seriusnya. "Iya sayang. Kami tau. Sekarang kami ngerti. Maafin Aska ya, maaf udah buat kamu nunggu dan kawatir." Kai menganggukan kepalanya dengan sedikit senyum kecil ke arah Mama. Wanita yang sabar. Wanita yang selalu ia harapkan menjadi Mama nya yang sesungguhnya. Mama yang penuh kasih sayang. "Mungkin Aska nggak tau, makannya dia kayak gitu," Dia nggak perlu marah kalo aku di anterin siapapun. Toh dari awal dia nggak peduli kan? Kita sama sama memutuskan untuk nggak perduli. Jadi, menurutku mau dia marah atau enggak itu bukan urusanku. Karena kita punya urusan masing masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN