23. ASKAI

720 Kata
Malam hari, di kediaman Reno. Sampai di depan rumah Aska, satpam membukakan pintu gerbang menyadari kedatangan Kai di bonceng seorang pria menggunakan  sepeda motor vespa. Kai turun dari motor Jordan dengan sedikit gerakan pelan. Kemudian tersenyum kecil sebelum Jordan membuka mulutnya. "Akhirnya ketemu rumah kamu setelah muter-muter setengah jam," katanya membuat Kai merasa bersalah. Selain merepotkan Jordan-cowok yang baru saja dia kenal- Kai juga berhutang budi pada cowok itu. Kalau saja tidak ada Jordan, mungkin Kai sudah mati beku di pinggir jalan. "Bagus ya! Pulang malem sama cowok baru, dari mana aja lo?" Suara itu seolah mengintrupsi keduanya. Aska menatap tajam ke arah Jordan yang balas menatapnya bingung. Dengan melipat kedua tangannya di depan d**a Aska memberikan sorot wajah dingin dan datar. Tidak ada yang tau kilat amarah hampir memenuhi netra coklatnya. "Aska," "Kenapa? Kaget?" Sejak kapan Aska jadi kayak gini? Aska tidak henti-hentinya memberikan tatapan tajam ke arah Jordan. Tatapan  yang mengintimidasi dan seolah memberikan sebuah penekanan ketidak sukaan. Arti sebuah bendera di layangkan tanda permusuhan. "Aska, kamu apa-apaan sih. Dia udah-'' "Udah apa? Anterin lo malem hari? Jam berapa sekarang?" Tanyanya tegas. Jordan balik menatap Kai dengan tatapan tidak mengerti. Semakin membuat Kai merasa bersalah dan tidak enak. "Tunggu apa lo? Pergi!" kata Aska tajam ke arah Jordan yang masih berdiri pada posisinya. "Aska! Apa-apaan sih!" "Kenapa? Nggak terima?!" kata Aska sambil menaikan sebelah alisnya. Memberikan tatapan rendah ke arah Kai yang menatapnya kesal. "Mau apa lo? Ini rumah gue! Peraturan ada di tangan gue!" katanya final membuat lidah Kai kelu untuk membalas ucapannya. Di tengah tubuhnya yang lemah Kai masih berusaha sekuat tenaga berdiri tegak. Tidak mau terlihat rapuh di hadapan dua cowok ini. Kepalanya menoleh ke arah Jordan yang balas menatap Aska dengan tatapan datar. Kai tau Jordan kesal karena niat baiknya tidak di terima dengan baik oleh Aska. "Jordan, thanks udah ngaterin pulang. Aku punya hutang budi sama kamu. Maaf juga udah ngrepotin malam-malam.." Belum juga Jordan membuka mulutnya ingin membalas ucapan Kai, Aska sudah menyahut. "Banyak basa-basi lo berdua. Lebay!" lanjutnya dengan tatapan merendahkan. Apalagi melihat motor vespa yang di kendarai cowok itu. Aska semakin merasa menang. "Aku pergi, Kai.." kata Jordan sambil mengulas senyum paksa di wajahnya. Kai semakin tidak enak hati. Aska benar benar keterlaluan. "Hati-hati, sekali lagi terima kasih.." Jordan menganggukan kepalanya sambil tersenyum kemudian berlalu dari sana meninggalkan Kai dan Aska yang masih berdiri di luar dengan suasana dingin. Kai menundukan kepalanya. Rasa sakit dan pusing, mual dan lemas membuat tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan semua itu. Bersyukur, bersyukur sekarang dia sudah sampai rumah. Meskipun sudah sangat malam. Kai ingin segera merebahkan tubuhnya untuk beristirahat dengan nyenyak. "Lo udah berani macem macem? Emang nggak tau diri!" Kata- kata itu menghantam hatinya. Kai mengangkat kepalanya. Pertama kali Aska mengucapkan kata-k********r, saat biasanya cowok itu memasang wajah dingin dan datar. Kai menghela napasnya. Menatap lurus kedepan. Lebih baik sisa tenaganya dia gunakan untuk berjalan masuk ke dalam rumah. Dari pada menanggapi ucapan Aska yang mungkin tidak ada habisnya. "Baru bentar tinggal di sini aja udah dapet cowok, gimana nanti-nanti?" Kai sangat bersyukur Aska bicara lebih dari lima kata. Tapi, di lain sisi Kai sakit hati dengan semua kata-kata itu. Kenapa Aska selalu memandangnya rendah? Seakan Kai adalah gadis buruk yang tidak mempunya kebaikan sedikitpun. Kai berjalan melewati Aska. Cowok itu masih melipat kedua tangannya di depan d**a. Kai berjalan lemas. Tidak memperdulikan tatapan tajam Aska yang tertuju padanya. Di lain waktu dia akan takut dengan tatapan maut itu. Tapi, untuk sekarang Kai tidak peduli. Di benar- benar tidak peduli. Yang hanya ada di pikirkan hanya tubuhnya. Tubuhnya yang benar-benar sakit. "Mau kemana lo?" Bentak Aska kesal karena tidak mendapatkan respon dari Kai. Kai tidak peduli, dia tetap acuh dengan ucapan Aska sekalipun cowok itu membentaknya. Kepalanya pusing, berat dan berdenyut sangat sakit. Kai merasa kekuatannya habis untuk sekarang. Tubuhnya semakin hilang kendali dan melemas. Sampai dia tidak berpikir apa resikonya saat tidak bisa lagi menahan diri. Menahan diri untuk tidak terjatuh dan terkulai lemah. Tidak peduli bagaimana sakitnya tubuhnya nanti saat terbentur tanah. Atau yang paling parah kepalanya pecah. Kai sudah tidak tahan dan kuat lagi. Sampai akhirnya tubuh mungil dan kecil itu benar-benar hilang kendali. Matanya berkunang, dan seketika semuanya gelap. Tidak ada lagi yang terasa dan di lihat. Hanya ada sesuatu memeluk tubuhnya possessive sebelum jatuh ke bawah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN