22. KAIRA

999 Kata
      Malam hari.      Setelah membuang Kopi yang belum sempat dia minum banyak. Sekarang yang Kai pikirkan hanya bagaimana caranya pulang. Bajunya yang basah, saat ini tertutupi jaket tebal abu-abu yang masih melekat di tubuhnya. Kai mengeratkan pelukannya lagi. Waktu semakin malam, dan semakin larut. Kai tidak tau bagaimana dia bisa pulang. Apa menunggu di tempat ini dan berharap Aska datang? Atau semoga saja cowok itu belum pulang dari rumah Rayno. Kai pilih menunggu di depan kedai itu. Duduk di  trotoar jalanan sambil meratapi nasipnya yang buruk. Entah sampai kapan Kai duduk di sini, menunggu suaminya- temannya- maksudnya saudaranya itu mungkin saja lewat di depannya. Kai melirik sekilas ke arah jam tangan yang bertengger manis di pergelangan tangannya. Jam delapan malam, dia sudah duduk terpaku di tempat ini sekitar dua jam lamanya. Tapi tidak melihat mobil Aska lewat di sana. Pengunjung Kedai juga sudah semakin menyusut. Kai seperti gadis bodoh yang tidak tau arah, masih menggunakan seragam sekolahnya yang sudah lusuh dan kotor. Bahkan, tas sekolahnya sudah dia letakkan secara asal. Tubuhnya menggigil kedinginan. Salahnya tadi memesan es kopi di kedai itu. Saking terkesiapnya melihat barista tampan, dia jadi lupa diri kalau sedang sakit. Suhu tubuhnya masih panas. Rasa lemas yang tidak bisa dia pungkiri kembali menjalar mengoyak tubuhnya yang rapuh. Kai kini harus benar-benar bertahan. "Kakek," gumamnya menahan pedih di sudut matanya. Dia berharap sebuah ojek melintas di hadapannya, tapi sepertinya kebaikan tidak berpihak padanya hari ini. Kai putus asa. Matanya berat, tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Kai memutuskan untuk menenggelamkan kepalanya di sela lipatan tangan mungil itu. Tidak peduli tatapan orang yang menatapnya aneh dan penuh selidik. Tiba-tiba seorang menepuk bahunya lembut. Membuat Kai terbangun dari tidurnya. Kai mengangkat kepalanya, cowok itu tersenyum manis ke arahnya. "Kamu ngapain di sini? Kok nggak pulang?" Menyipit, Kai berusaha sekuat tenaga menjawab pertanyaan itu di tengah tubuhnya yang kedinginan. Kepalanya menoleh ke belakang, ternyata Kedai yang tadi sangat ramai sudah tutup. Lampunya juga sudah padam. Benar-benar sudah sepi. Kai baru sadar, berapa lama dia duduk di sini. Yang pasti sangat lama. "A..aku.. aku nggak tau harus pulang naik apa. Aku..aku tadi naik Taxi tapi bannya bocor. Aku turun di sini, mau cari kendaraan umum tapi nggak ada," jelasnya panjang lebar. Apa harus sejujur ini pada orang baru? Tapi, tidak ada salahnya Kai mengatakan masalahnya saat ini. Siapa tau cowok berparas tampan itu mau membantunya. Cowok itu duduk di sebelah Kai. Sambil mendengarkan cerita Kai. "Di sini emang udah jarang di lalui kendaraan umum setelah jam empat. Karena sepi, dan menuju lokasi perumahan elite. Jadi, di atas jam itu nggak ada yang menggunakan kendaraan umum. Biasanya cuma driver Gofood aja," jelas Barista di Kedai kopi tadi sambil tersenyum menenangkan Kai. Kai menganggukan kepalanya. Ternyata itu sebabnya dia tidak menemukan kendaraan umum. Jadi, agak susah ya kalau mau keluar masuk lingkungan perumahan Aska kalau nggak punya kendaraan pribadi. "Kenapa nggak order Gojek aja?" "Batre HP ku habis. Jadi, nggak bisa.." "Kamu orang baru ya? Maksudnya, belom lama tinggal di kota ini?" tanyanya lagi membuat Kai mengangguk cepat. "Kenalin, namaku Jordan.." Kai mengamati cowok di depannya dengan teliti. Dia terlihat lebih dewasa, apalagi dengan penampilannya. Jordan rapih, wangi, rambutnya tertata rapih dengan balutan kemeja santai berwarna coklat tua. "Kaira," kata Kaira sambil menyambut uluran tangan Jordan. "Aku bisa anterin kamu pulang kalo mau," "Eh, eng..enggak usah.." "Tenang aja, aku bukan orang jahat. Aku nggak akan macem-macem sama kamu, by the way rumah kamu ada di lingkungan perumahan Putri Indah?" "Kok tau?" tanya Kai dengan senyum ragu di wajahnya. Jordan tersenyum kecil. Dan Kai sama sekali tidak melewatkannya. Senyum Jordan terlihat sangat tulus. Dan itu membuatnya semakin, tampan. "Iya tau. Jalanan ini kalo lurus kan cuma ngarah ke sana. Ke mana lagi selain itu? Lagian kalo bukan arah sana kamu nggak bakal tersesat di sini," jelas Jordan lagi membuat Kai membeo. "Kamu tinggal di Putri Indah beneran? Berarti kamu sering lewat sini kan? Kai mengangguk. Bodohnya dirinya tidak tau lengkapnya alamat tumah Aska. Dia hanya tau letak perumahannya. Tapi tidak tau nomor berapa. Bahkan beberapa  hari tinggal di rumah itu tidak membuat Kai hafal alamatnya. Tadi saja, saat dia memesan taxi online dia hanya mengetik nama perumahan Aska di google maps. Dan berniat memberi tahu arahnya pada driver setelah mereka sampai. "Terus rumah kamu, alamatnya?" Lanjut Jordan lagi. Kai menggeleng polos membuat Jordan menghela napasnya. "Terus kenapa kamu berani pulang sendiri? Kenapa nggak minta di anterin keluarga kamu?" Itu dia masalahnya. Kenapa dia berani pulang tanpa Aska? Bahkan dengan mudah meng-iyakan ucapan Aska. Hanya bermodal ponsel dan uang dia anggap bisa membawanya pulang. Tapi, semua tidak berjalan semudah itu. "Ask...ekhmm..Kakakku tadi main sama temennya. Terus katanya aku harus pulang sendiri, aku pikir kalo aku udah pakai Taxi semua bakal aman," jawab Kai seadanya. Jordan mendengus membuang napasnya panjang. Kai tidak yakin dengan ucapannya. Dia tidak suka berbohong. Tapi, menyebut Aska sebagai -suaminya- sama saja bunuh diri. Mungkin Kai naif. Di sekolah dia menyembuyikan keramahaannya di balik topengnya yang datar dan cuek. Di rumah dia berusaha sekuat tenaga menahan semua ucapannya yang sebenarnya dia adalah gadis yang cerewet. Tapi, semenjak tinggal dengan Aska dia menahan semua suara itu di ujung tenggorokan. Agar terlihat lebih cuek dan terkesan bodo amat. Tapi, kenapa saat bertemu orang asing yang baru baginya membuat Kai kembali pada sifat aslinya. Ada apa? Ada apa dengan Jordan? Dia menularkan keramahannya pada Kai. Sampai Kai tidak mampu menolak tularan positif itu. "Yaudah, yang penting aku anterin kamu sekarang. Kita cari alamatnya nanti kalau udah sampai di Perumahan. Lagian ini udah malem, nggak baik buat kesehatan kamu," kata Jordan panjang lebar. Baru saja kenal, Kai bisa merasakan Jordan ini orang yang lembut dan baik. Selain tampan dia juga ramah. Itu sisi positif yang Kai tangkap dari pertemuan pertama mereka. Mungkin Jordan lebih tua darinya, setahun mungkin, atau dua tahun. Tapi, sifatnya yang terbuka membuat Kai dengan mantap meng-iyakan tawaran Jordan. Baginya tidak ada pilihan lain, lebih baik dia pulang sekalipun dengan orang asing. Atau sama sekali tidak? Dan membusuk di keheningan malam pinggir jalan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN