21. ASKAI

766 Kata
     Malam hari, di kedai kopi.      Saat melewati sebuah kedai kopi, Kai memutuskan berbelok arah dan mampir untuk sekedar membeli minuman. Dan mengihilangkan rasa haus yang membuat tenggorokannya terasa kering. Kedai kopi itu tidak sepi. Ternyata arah jalan ke rumah Aska ada Kedai Kopi yang cukup kekinian dan hits di kalangan remaja. Bahkan kedai itu buka di jalanan yang lumayan sepi dari kendaraan umum. Kai tidak peduli, dia kembali memasang tatapan datarnya. Berusaha cuek dengan keadaan sekitar kemudian masuk ke dalam. Kai tercengang, ternyata penampian kedai ini cukup menarik. Pantas saja ramai di kunjung anak muda seusianya. Kai berjanji, suatu hari nanti ia akan datang kembali ke tempat ini. Berjalan menuju pantri kemudian membaca menu yang terpampang  di hadapannya. Menu itu di tulis di atas papan kayu yang menggantung. Lumayan menarik. Dan sedikit asik, mungkin tempatnya bisa sedikit menghibur suasana hatinya saat ini. Sebentar saja, melihat orang-orang tertawa kembali meningkatkan moodnya. "Mau pesan apa, kak?" Kai mengangkat kepalanya. Meluruskan pandangannya ke arah seorang Barista yang bertanya padanya. Dalam sekali tatapan, manik mata mereka bertemu. Mata bernetra hitam pekat yang mencolok menatapnya membuat Kai salah tingkah. "Ah, mau Coffe Vanilla late. Topingnya puding coklat ya.." kata Kai mengakhiri tatapan mata mereka. Hanya satu kata yang bisa Kai ucapkan saat melihat cowok itu. Tampan. Putih, tinggi, rapih, dan terlihat ramah. Berbeda dengan Aska, mungkin keduanya sama sama tampan, meskipun Kai malas mengakuinya tapi memang Askalah yang lebih tampan dari cowok di hadapannya ini. "Atas nama siapa?" "Kaira," jawab Kaira seadanya. Padahal tidak ada yang tau kalau saat ini gadis itu berusaha keras mengontrol detak jantungnya. "Okey, di tunggu kak.." jawab cowok itu dengan nada sopannya lagi. Kai menganggukan kepalanya sambil tersenyum sungkan. Matanya menyapu suasana Kedai yang semakin ramai di datangi pengunjung. Beberapa orang juga mengantri di belakangnya. "Jadi berapa?" tanya Kai ke arah kasir wanita yang menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa. "Dua puluh enam ribu," katanya berusaha ramah dengan senyum yang di paksakan. Kai memberikan selembaran uang dua puluh ribu dan sepuluh ribu. Setelah mendapatkan kembalian dari kasir judes itu Kai mengambil minuman yang sudah jadi. "Atas nama Kaira," panggil barista ganteng yang sekarang mengulurkan kopinya. Kaira tersenyum kemudian menganggukan kepalanya menerima Kopi itu. "Terima kasih," katanya kemudian berbalik pergi. Kai membaca tulisan yang di coret menggunakan spidol berwarna hitam di gelas plastik. Sebuah senyum kecil melengkung di sudut bibirnya. Hello Kaira, see you soon ^_^ Tanpa pikir panjang Kai segera menancapkan sedotan dan meminum es Kopi yang dia pesan. Saat tangannya bergerak membuka pintu kedai hendak keluar, tubuhnya terdorong ke belakang karena membentur d**a seseorang yang bersamaan masuk ke dalam kedai. Kai merutuki tubuhnya yang kecil dan mungil, sampai sampai mudah terpental saat bergesekan dengan orang lain. Atau mungkin saja tubuhnya tidak terlihat? "Aww," katanya saat sebagian kopi di tangannya muntah keluar dan menumpahi bajunya. "Aduh, sorry sorry kak. Maaf gue nggak sengaja, aduh maaf ya kak. Gue bakal ganti kopinya. Maaf," kata cowok tinggi di depannya dengan raut wajah merasa bersalah. Kai heran, kenapa orang-orang sangat tinggi? Bahkan cowok di hadapannya sekarang. Umurnya terlihat di bawahnya. Itu tandanya tua Kai, tapi tubuhnya besar cowok itu. "Eh iya nggak papa kok," kata Kai sambil menyesali baju seragamnya yang kotor karena kecerobohannya sendiri. "Enggak kak gue salah. Gue bakal ganti kopi lo. Maafin gue, gue tadi nggak hati-hati," katanya terusan merasa bersalah membuat Kai tidak enak hati. Kai melihat ke arah cowok yang mungkin umurnya berselisih dua tahun darinya. Cowok itu juga tampan, putih, dan tinggi. Bola mata mereka sama. Warnanya cokelat terang. Mata itu seperti mata Kakeknya dulu.. "Kakak nggak papa kan?" Kai menggelengkan kepalanya, berkedip dua kali sebelum akhirnya sadar sepenuhnya dari lamunannya. "A..aku nggak papa," kata Kai sambil mengulas senyum kecil. "Biar gue ganti kopi kakak ya?" katanya lagi penuh penyesalan. "Nggak perlu kok, lagian aku mau pulang. Udah malem," tolak Kai dengan sopan. "Oh kalo gitu besok ketemu lagi di sini biar gue ganti minuman kakak. Gue tunggu besok di sini, ya kak." Lanjut cowok itu dengan senyum tulus. Entah tapi ada sesuatu yang membuat hati Kai hangat saat melihat senyuman itu. "Nggak perlu-'' "Ayolah kak. Jangan bikin gue makin nggak enak," potong cowok itu. Kai semakin bingung, teman-teman cowok itu memandanginya, menunggu jawaban darinya juga. Kai tidak mau memperpanjang masalah dan ingin segera pulang. Kai sudah malu menjadi tatapan empuk beberapa orang di sini. "Okey, besok sore.." jawab Kai apa adanya. Cowok itu tersenyum senang. Tidak lagi memperlihatkan kerutan di wajahnya. Dan entah kenapa senyuman itu menular pada Kai. Gadis itu ikut tersenyum tulus. "Oke. Nama gue Gionino," katanya lagi sambil mengulurkan tangan. "Namaku Kaira," balasnya dengan senyum yang tak kalah manis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN