20. ASKAI

925 Kata
      Pulang, sore hari.        Kai berdiri di halte Sekolahnya. Masih di balut jaket tebal dan besar seperti pagi tadi saat dia datang ke Sekolah. Sore ini Kai pulang sendiri. Mau tau alasannya? Karena Aska pergi ke rumah Rayno untuk main ke sana bersama Kikin. Dan Kai tidak mau ikut campur masalah itu. Kai meng-iyakan Aska untuk pergi bersama teman- temannya dan ia memutuskan untuk menunggu Taxi online yang dia pesan sepuluh menit yang lalu untuk pulang. Pikirannya kembali pada Aska, Kai kira cowok itu berangsur peduli padanya. Nyatanya, dalam keadaan sakit pun Aska tega membiarkannya pulang sendirian. Kai mengeratkan pulukan pada jaket tebalnya. Udara sore semakin dingin, langit yang tadinya cerah berubah perlahan pekat menyelimuti awan. Tubuhnya belum sepenuhnya sehat, kadang rasa lemas dan mual membuatnya harus menahan diri untuk kuat. Setelah menunggu agak lama, akhirnya Taxi yang dia pesan datang. Kai bersyukur sambil berucap lega, akhirnya dia tidak menunggu lebih lama lagi dan akan segera pulang. "Atas nama mbak Kaira?" Kai mengangguk di balik kaca yang terbuka lebar menampakan seorang driver berperawak bapak-bapak ke arahnya. Setelah mendapatkan anggukan juga dari supir, Kai akhirnya masuk ke dalam mobil. "Sesuai aplikasi ya, mbak?" "Iya," jawab Kai seadanya Kepalanya pusing, mungkin bersandar pada jok mobil sedikit membantu meringankam sakit di kepalanya. Itupun yang Kai lakukan. Akhirnya Kai mengambil posisi nyaman. Bayang- bayang Aska kembali menghantui pikirannya. Bayangan sikap Aska kemarin sedikit memberikan cahaya putih di hati Kai. Aska sebenarnya adalah laki-laki baik, dia mempunyai sisi baik yang selama ini jarang dia tunjukan pada orang lain. Aska punya sisi lembut, tapi entah apa yang membuatnya tumbuh menjadi cowok dingin. Di tengah lamunannya, tiba-tiba mobil yang dia tumpang berhenti di tengah jalan. Kai melirik sekilas, bukan sebuah perempatan yang ada lampu merahnya. Lantas mengapa mereka berhenti? "Kenapa berhenti, pak?" tanya Kai sambil mengatur posisi duduknya kembali tegak. Driver Taxi Online itu terlihat agak panik sambil melepaskan sabuk pengaman yang mengikat tubuhnya. "Kayaknya ban saya kempes deh, mbak.." kata driver itu semakin membuat Kai panik. Driver pun keluar dari mobil sambil mengecek ban mobilnya. Kai tidak tinggal diam, dia ikut turun dari mobil dan mendapati ban mobil yang kempes. Kai mendengus kesal, kenapa nasibnya sesial ini hari ini? Kai mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaket. Berusaha menghubungi seseorang yang bisa membantunya. Atau setidaknya membawanya segera pulang, karena kondisi tubuhnya yang semakin lemah. "Pak, saya bayar sekarang aja ya," kata Kai sambil menyodorkan uang lima puluh ribuan ke arah bapak-bapak driver itu. "Tapi, mbak? Mbaknya pulang gimana?" tanya bapak itu merasa bersalah. "Saya bisa order lagi, pak." Kai tersenyum ramah, senyum yang hanya ia tunjukan untuk orang-orang tertentu. "Yaudah, saya minta maaf ya mbak. Terima kasih." Kai menganggukan kepalanya kemudian berjalan beberapa meter menjauh dari tempatnya semula. Membuka ponselnya. Dan sialnya, batre ponselnya drop. Dan Kai merutuki kebodohannya itu. "Kalo gini Kai harus cari Taxi. Tapi, ini kan jalanan kecil," gumam Kai sambil mendengus kesal. Hari sudah semakin petang. Kai tidak mau mengambil resiko apapun walaupun pada kenyataannya Kai harus menghadapi resiko itu. Kai harus berjalan kurang lebih dua kilo meter memutar balik langkahnya untuk menuju jalan besar yang di lewati Taxi biasa. "Apa keburu ya? Apa aku jalan aja ya?" gumamnya lagi. Kai belum terlalu hafal jalanan rumah Aska. Perkiraannya sekitar lima sampai tujuh kilo lagi baru dia bisa sampai di rumah Aska. Selama di kota ini, Kai hanya menghafal jalan menuju sekolahnya. Dan tidak tau g**g-g**g kecil yang mungkin saja bisa mempercepat langkahnya. Berbeda dengan kotanya dulu, Kai hampir hafal setiap sudut g**g-g**g kecil. Karena Kai selalu iseng jalan-jalan sebelum pulang ke rumah. Meskipun jalan kaki, tapi Kai kecil bersama teman- temannya suka menjelajahi jalanan kota. Senyum terukir di bibir tipisnya. Kai mengingat masa kecilnya dulu. Meskipun tidak ada kehadiran orang tua, meskipun Kai tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua, didikan orang tua, Kai tidak menyimpan dendam di hatinya. Kai tidak membiarkan luka itu menganga semakin lebar. Karena Kai sadar dan beryukur ada kakek dan nenek nya yang memberikan kasih sayang itu. Mengganti kewajiban kedua orang tuanya yang sudah tega mencapakkan Kai sendiri Rasa sakit mungkin ada, jauh di lubuk hatinya. Kai benci orang yang sudah membuangnya, tidak menginginkan kehadirannya. Bahkan, hidup selama belasan tahun tidak pernah berusaha untuk mencarinya. Sudah pasti, Kai bukan anak yang mereka inginkan. Mengingat itu membuat d**a Kai sesak, gemuruh hebat menggoncang tubuhnya. Rasanya sakit dan matanya memanas merasa perasaan sakit itu muncul lagi. Semua kebenciannya pada kedua orang tuanya tidak sebesar rasa sayangnya pada orang yang sudah membuangnya. Meksipun menyakitkan, Kai mencoba menerima jalan hidupnya. Dia tidak tau apa alasan kedua orang tuanya membuangnya, tidak menginginkannya, menyingkirkannya. Yang dia tau, mamanya benci melahirkannya, mamanya tidak mengharapkan kelahirannya. Kai tau, Kai sangat tau. Air matanya menetes tanpa diminta. Langkah kakinya terus menapak menyusuri jalanan yang gelap dengan sela cahaya lampu remang. Tatapannya lurus kedepan, memberikan tatapan kosong dan sakit. Sakit, apalagi saat dia sendiri seperti ini, semua pikiran di masalalunya kembali singgah tanpa di minta. Jalanan ramai, tapi tidak ada Taxi yang lewat. Hanya mobil pribadi dan sepeda motor yang melewati jalan ini. Jalanan ini hanyalah satu satunya jalan yang mengarah ke arah perumahan Aska. Tidak ada belokan tempat lain. Hanya perumahan itu tujuan jalan ini. Kai benar-benar lelah. Dia merasa payah, baru jalan sebentar tubuhnya sudah lemah. Di tambah lagi langit malam yang sudah mulai muncul membuat Kai menghela napasnya.  Berapa lama lagi dia harus jalan kaki jika kondisinya saja seperti ini? Menunggu dan diam di tempat? Bagaimana kalau besok pagi keadaanya sudah tidak utuh lagi? Menunggu keajaiban Aska mencarinya dan menjemputnya? Mustahil. Dia tidak akan peduli. Sekali lagi, dia tidak akan peduli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN