Di Sekolah.
Sakit, mungkin adalah alasan sebagian seseorang untuk tidak masuk sekolah. Bahkan, tak jarang dari mereka yang sehat memaksa diri untuk sakit agar lepas dari jeratan tugas yang ada di Sekolah. Itu adalah sebuah pelarian yang salah. Dan tidak baik di lakukan.
Saat ini pun, Kaira dengan tubuhnya yang masih lemas karena sempat demam kemarin, memaksakan dirinya untuk masuk Sekolah. Sudah banyak nasehat yang keluar dari mulut Mama dan memaksanya istirahat di rumah. Tapi percuma, gadis itu tetap berniat masuk Sekolah hari ini dengan alasan tidak mau ketinggalan sedikitpun pelajaran dari pihak Sekolah.
Kai duduk di bangku lapangan basket. Lapangan utama SMA nya. Gadis itu duduk di balut jaket Hoodie tebal berwarna abu-abu tua. Tubuh kecilnya tertutup kain baby Terry.
Kai sengaja duduk di bawah sinar matahari langsung untuk mencari keringat. Badannya yang masih demam, membuat suhu tubuhnya naik. Kai hanya ingin sedikit merasa panas.
"Kai? Kamu yakin nggak papa?" tanya Anni yang baru saja datang sambil membawa dua botol air mineral di tangannya.
Kai menoleh ke arah Anni dengan tatapan sendunya. Matanya tidak sebening biasanya. Kulitnya tidak bersinar seperti biasanya. Kulit putih itu terlihat sedikit pucat.
"Kamu kayaknya harus ijin pulang aja deh Kai,"
Kai menggelengkan kepalanya cepat. Kemudian menerima sebotol air mineral dari Anni dan meminumnya sendikit.
"Aku nggak papa, Anni." jawab Kai cepat.
"Yaudah kalo kamu nggak mau pulang, nanti kalo sakit bilang ya. Jangan di paksain,"
Kai menganggukan kepalanya lagi. Pandangan matanya kembali tertuju pada halaman lapangan yang luas.
Beberapa anak sengaja bermain Basket di luar jam pelajaran olah raga. Beberapa anak juga asik berkumpul mengerjakan tugas di sisi lapangan. Dan masih banyak lagi. Cahaya matahari bergerak semakin naik, membuat cuaca semakin terik. Kai bisa merasakan tubuhnya yang perlahan merasa gerah.
Matanya menangkap seorang cowok berkulit putih, berbadan tinggi berjalan di tengah dua orang cowok yang sedang tertawa girang.
Menyipitkan matanya, mau di lihat dari sisi manapun, cowok yang menyandang status sebagai suaminya memang sangat tampan. Bahkan tanpa sedikit senyum yang terulas di sudut bibirnya Aska tetap tampan. Dengan wajah dingin sekalipun, wajah pahatan bak Dewa Yunani itu tetap membuat siapapun tergila- gila.
Kalo Kai punya anak sama Aska nanti anaknya kayak gimana ya? Bisa mirip Justien Bieber atau Zayn Malik nggak ya? Batin Kai.
Dengan gerakan tiba-tiba tangannya menepuk keningnya sendiri cukup keras.
"Awwww," keluhnya sendiri merasa sakit di bagian keningnya.
"Heh kamu kenapa Kai?" tanya Anni panik.
"Ha? Nggak papa kok, Anni.." kata Kai dengan seringai di wajahnya.
Kai malu dengan pikirian kotornya. Bagaimana bisa pikirannya mengarah soal itu. Sedangkan mereka masih SMA. Apa lagi soal hubungannya dan Aska yang belom bisa di bilang baik.
"Aneh deh kamu Kai. Masa tiba-tiba tepuk jidat? Emang ada nyamuk ya?" tanya Anni lagi sambil mengibaskan kedua telapak tangannya di depan wajah. Denga gerakan mengusir seekor nyamuk seolah ada nyamuk di sana.
"Kamu ngapain malah ngibas-ngibasin tangan gitu?"
"Nyamuk. Aku takut ada nyamuk yang gigit kamu makannya kamu aneh,"
Kai mengedikan bahunya acuh. Tidak peduli apa yang di lakukan Anni selanjutnya. Kai beranjak dari duduknya kemudian pergi melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kelasnya.
"Eh kemana Kai?" tanya Anni sambil menyusul langkah Kai yang bergerak menjauh.
"Kelas," jawab Kai cuek.
"Buru-buru amat? Kan nggak ada PR?"
"Emang masuk kelas harus ada PR?"
Anni menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menghentikan langkahnya. Mencerna ucapan Kai yang memang benar adanya.
"Kai ya?" tanya seorang cowok berpenampilan nerd yang tiba-tiba datang ke arahnya.
Kai menaikan sebelah alisnya. Melihat cowok yang berdiri di depannya saat ini. Berkaca mata tebal, dengan gigi di behel, berpenampilan rapi yang memberikan kesan positif bahwa cowok ini adalah anak baik-baik. Tapi, bukan hal itu yang membuat Kai bingung.
"Ya? Kenapa?"
"Ini buat kamu," kata cowok itu lagi sambil menyodorkan dua batang coklat berukuran besar ke arahnya.
Kai semakin penasaran sekaligus bingung. Apa maksud cowok di hadapannya ini. Jujur saja Kai agak kaget. Tapi, setelah dengan susah payah mengontrol ekspresi wajahnya Kai bisa terlihat tenang dan cuek. Mungkin kebingungannya terjawab juga mulai saat ini.
"Buat aku?" tanya Kai kembali memastikan.
"Iya, ini buat kamu.." katanya lagi.
Kai melirik sekilas ke arah dua coklat yang di tali dengan pita berwarna merah. Ada surat kecil yang menggantung di sana.
"Oh okey, thanks.." kata Kai tanpa berniat memperpanjang percakapan mereka.
Cowok itu menganggukan kepalanya kemudian berlalu pergi. Bertepatan dengan kedatangan Anni dari arah belakang tubuhnya.
"Wih dapet coklat. Enak tuh, sini mintak.." kata Anni sambil merebut asal coklat di tangan Kai.
"Makan aja tuh," kata Kai sambil memberikan dua coklat itu ke Anni. Pikirannya masih berputar-putar. Mencari siapa pengirim coklat itu.
Kalau cowok nerd tadi? Mana mungkin? Dari gelagat yang bisa Kai baca bukan dia orangnya. Lagi pula dari ekspresi wajah cowok tadi jelas tidak ada raut wajah gugup. Ah Kai mengedikkan bahunya acuh.
"Kamu punya secret admirer ya Kai?" tanya Anni yang sudah memakan coklat batangan itu.
"Nggak tau," kata Kai tanpa ingin peduli lagi.
"Eh bentar. Ada suratnya nih?" ucap Anni saat Kai hendak pergi meninggalkan tempat itu.
Ah ya, tadi Kai juga melihat surat kecil yang tergantung. Dan Kai lupa untuk membacanya.
"Coba mana," minta Kai sambil mengambil surat kecil itu.
Hey
Aku berharap kamu suka coklat ini.
F"