Di rumah.
Aska memarkirkan mobilnya tepat di saat seorang satpam berseragam membuka gerbang tinggi berwarna hitam untuknya dan mempersilahkan dia masuk. Aska melepas sabuk pengaman kemudian melirik sekilas ke arah jok belakang mobilnya. Gadis itu masih memejamkan mata.
Mungkin tidur, batin Aska dengan wajah datarnya.
"Lo nggak mau turun?" kata Aska berusaha membangunkan Kai yang diam tidak bergeming.
Aska mengangkat sebelah alisnya. Menatap wajah cantik nan damai yang memejamkan matanya. Terlihat tenang, gadis itu tidak pura pura. Mungkin Kai benar benar tertidur.
"Heh bangun," kata Aska lagi namun tidak ada pergerakan sama sekali dari Kai.
"Gue tinggal," lanjutnya kemudian membuka pintu mobil dan turun mendahului Kai yang masih tidur di dalam mobil.
Aska melangkahkan kakinya ke arah pintu rumah besar berukir kayu yang menjulang tinggi. Dengan langkahnya yang ragu, akhirnya Aska menghentikan langkahnya lagi.
Aska membalikan tubuhnya, melihat ke arah mobilnya. Pintu mobil bagian Kai belum juga terbuka. Setelah mempertimbangkan pikirannya, akhirnya Aska membalikan tubuhnya sambil berjalan ke arah mobilnya lagi.
Aska membuka pintu mobil bagian Kai. Matanya membulat sempurna, gadis itu berkeringat di tengah ruangan ber AC di dalam mobil yang sengaja belum dia matikan karena Kai masih berada di dalam mobilnya.
Seketika tangan Aska reflek menyentuh kening Kai. Dan kembali terkejut merasa telapak tangannya yang sangat panas saat menyentuh kening itu.
Dengan cepat, Aska menggendong tubuh Kai kemudian menyuruh satpam untuk mematikan mesin mobilnya.
Aska menggendong Kai keluar dari dalam mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah. Raut wajahnya kembali dingin dan datar, menandakan raut wajah yang sangat serius. Tidak ada yang tau, sesuatu yang menggelitik di perutnya membuatnya sekuat tenaga harus menahan degub an jantung itu.
"Astaga, Aska. Kai kenapa?" tanya Mamanya dengan raut wajah panik saat Aska menggendong Kai menaiki tangga.
"Badannya panas, Ma."
Mama Aska ikut mengekori di belakang anaknya yang membawa menantunya menuju kamar mereka.
Aska meletakkan tubuh Kai perlahan lahan di atas tempat tidur. Kemudian bergerak beberapa langkah ke belakang. Memberikan ruang untuk Mama mendekat ke arah Kai.
"Kai pingsan," kata Mamanya yang mengoleskan minyak kayu putih di kening Kai.
" Telpon Dokter, Aska!" Perintah Mamanya yang menyentak Aska keluar dari lamunannya sendiri.
Aska pergi menghubungi Dokter untuk datang ke rumahnya.
dua puluh menit berlalu. Kini Kai sudah sadar setelah kepergian Dokter yang di panggil untuk memeriksa keadaanya.
Mamanya dan Aska masih tinggal di kamar saat Kai membuka matanya.
"Mama,"
"Kamu kenapa sayang? Kok bisa sampai pingsan?" tanya Mama dengan raut wajah kawatir.
"Kai nggak papa, Ma."
Kai melirik ke arah Aska yang berdiri tanpa melihat ke arahnya. Seolah mengerti, wanita paruh baya itu melihat ke arah anaknya yang berdiri dengan tatapan data dan dingin menghadap ke arah pintu. Seperti tidak peduli dengan keadaan Kai.
"Aska yang bawa kamu ke sini. Kamu pingsan di mobil tadi,"
Kai menatap tak percaya ke arah Aska. Bahkan dia dan cowok itu tidak pernah bicara. Kalau bukan karena hal penting, itu pun sangat kepepet. Tapi kata Mamanya? Aska yang membawanya ke sini.
"Badan kamu panas, Kai. Kamu besok besok kalau nggak enak badan bilang ya. Jangan diem aja, Mama kawatir kalo kamu kayak gini," kata Wanita itu menyentuh hati Kai dengan ucapannya.
Kai menganggukan kepalanya kembali menatap Mama dengan tatapan lembut. Meskipun dia menahan sakit di kepalanya dan berusaha sekuat tenaga terlihat kuat di tengah tubuhnya yang lemas.
"Yaudah, Mama suruh bibi buat anterin makanan kamu ke sini ya."
Kai menganggukan kepalanya sembari wanita itu pergi meninggalkan kamar mereka.
Aska masih berdiri dan tidak bergerak sama sekali. Tatapannya seperti biasa, datar dan dingin. Seolah hanya dirinya yang berada di tempat ini.
"Thanks," kata Kai pelan. Bagaimana pun juga dia harus berterima kasih pada suaminya-eh Aska. Kalau bukan karena cowok itu, mungkin Kai masih berada di dalam mobil saat ini.
"Lain kali jangan nyusahin orang," jawab Aska cuek sambil berlalu dari tempatnya.
Kai tersenyum kecil. Setelah beberapa hari mereka tidak saling menyapa, akhirnya Aska membalas ucapannya juga. Entahlah, sesuatu membuat hati kecilnya merasa senang, sekaligus lega.
"Iya, maaf."
"Lo tau lo berat,"
Kai kembali tersenyum kecil. Membayangkan seorang Aska yang dingin dan tidak peduli padanya tengah menggendong tubuhnya dan meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Iya, besok besok gue diet kok.." jawab Kai sambil mencoba duduk di atas tempat tidurnya.
"Nggak usah lebay. Badan sekecil itu mau diet."
Sepertinya Aska tidak sadar dengan ucapannya barusan. Cowok itu berbicara lebih dari tiga kata. Kai baru mendengarkan ini lagi setelah beberapa waktu yang lalu. Kai hanya mendengarkan Aska bicar banyak saat pertemuan keluarga dulu, saat pernikahan dan saat Aska bicara pada Papa untuk tinggal di Aspartement.
Mata Kai terus mengekor ke mana Aska pergi. Cowok itu masuk ke dalam kamar mandi kemudian menutup pintunya. Jangan lupakan ekspresi datar itu. Karena Kai tidak akan melewatkan ekspresi dingin dari Aska meskipun itu sama sekali tidak mengganggu atau mengurangi kadar ketampanan seorang Aska.