28. ASKAI

1017 Kata
Makan malam bersama, di Rumah. Kai duduk diam di kursinya, sebelah Mama yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Kai tidak peduli dengan celotehan yang keluar di depannya. Aska sedang asik bersama Rara. Aska mengambilkan lauk di piring Rara begitu juga sebaliknya. Kai melihat piring kosong di depannya. Rasanya sudah tidak ada lagi napsu untuk makan. Kesal, Aska membawa Rara pulang ke rumah. Apalagi, sekarang Aska terlihat lebih bahagia. Tidak seperti Aska biasanya yang cuek dan dingin. Aska sekarang terlihat ceria dan penuh senyum menghiasi wajahnya, begitu juga dengan Rara. "Di makan, Ra. Jangan malu malu," kata Aska sambil menyendok makanan dan memasukannya ke dalam mulutnya. "Iya sayang. Aku juga kebetulan laper banget," balas Rara sambil memberikan senyum manis ke arah Aska. Mereka berdua bicara seolah dunia milik mereka. Tidak peduli dengan kehadiran Kai dan Mama yang sibuk mengamati seluruh gerak gerik mereka. "Ih sayang, udah ah udah banyak.." kata Rara manja saat Aska menambahkan lauk di piring Rara. "Nggak papa, kamu harus makan yang banyak biar gendut," jawab Aska sambil mengunyah makananya. "Tapi, aku nggak mau gendut. Nanti aku nggak sexy lagi," kata Rara dengan wajah kesal yang di buat buat. Kai menahan asam lambungnya yang tiba tiba saja naik tampa di minta. Mual, itu yang ia rasakan saat ini. Tiba tiba Mama berdehem, berusaha menyadarkan dua sejoli yang asik dengan dunia mereka sendiri. Rara melihat sekilas ke arah Mama yang menatapnya penuh dengan aura intimidasi. Kai menelan ludahnya, baru kali ini melihat ekspresi dingin dari wajah Mama yang biasanya memperlihatkan senyum yang tulus. "Eh tante, makan tante.. btw masakan tante enak banget," puji Rara sambil menikmati kunyahannya. "Mama aku emang pinter masak.. dia juga suka masak," tambah Aska berusaha memuji Mamahnya yang terlihat tidak suka. Kai menghela napasnya. Sangat tidak tertarik berada di sini. Ingin segera pergi, tapi waktu seakan berjalan melambat dan tidak mengijinkannya lari. Bukan, bukan untuk lari dari masalah. Tapi, ini bukan suatu Masalah yang Kai lakukan atau dia buat sendiri. Tapi, Kai terjebak dalam sebuah masalah yang mengarah pada kehidupannya. Ya, hidupnya hanya bisa dia tentukan sendiri. Dan tidak ada orang lain yang bisa memaksanya, termasuk Kakek. Maaf untuk ini, tapi gadis itu harus bertindak tegas. Bayangan pernikahan tidak baik di lakukan di usia muda. Dan Kai sudah merasakannya. Rasa tidak nyaman, dan tersiksa. "Semua yang masak Kaira," kata Mama dengan suara yang di pertegas. Kai menoleh ke arah Mama yang berubah menatapnya dengan senyum tulus seperti biasanya. Tangan wanita tua itu terulur untuk mengelus puncak kepalanya. Rara terlihat sedikit terkejut. Kunyahan di dalam mulutnya berhenti seketika. Begitu juga dengan Aska, cowok itu meletakkan sendok dan garpu di atas piring secara sepontan. Mama kembali menatap ke arah dua orang di depannya. Kembali memasang ekspresi dingin dan datar. Sama seperti Aska biasanya. Kai jadi tau, dari mana sifat Aska terturun sebenarnya. "Dia?" tunjuk Rara dengan alisnya. Jangan lupakan raut wajah tidak suka itu terlihat jelas. Seakan bersiap memulai sebuah pertarungan dengan Kai. Rara malah memberikan senyum mengejek dan merendahkan. "Iya. Dia gadis yang pandai memasak, bukan hanya makan." Kai benar benar terkejut. Mendengar ucapan Mama yang pedas itu keluar seperti sebuah sindiran untuk Rara. Rara ikut meletakkan sendok dan garpunya. Terlihat enggan menyentuh makanan itu lagi. "Ma," panggil Aska dengan wajah yang di pasang datar. "Ya, memang benar kan Kai jago masak. Dia juga gadis baik yang mau berusaha sebelum mendapatkan apa yang dia mau." Kai memejamkan matanya. Bukannya merasa di tinggikan dengan ucapan Mama. Kai justru takut, sebentar lagi akan terjadi perdebatan sengit seperti pagi tadi. Mama jelas mengibarkan bendera merah. Tanda dia benar benar tidak suka, apalagi dengan sikap Aska yang tiba tiba membawa anak gadis lain pulang ke rumah. Padahal dia sudah punya Kai sebagai istrinya. Meskipun hubungan mereka belum bisa di bilang hubungan suami istri, tapi setidaknya mereka mempunyai setatus yang harus di hormati. Anggap sama Aska adalah pacar Kai dan sebaliknya. Bukannya dengan enak hati Aska membawa cewek lain ke rumah. "Cukup, Ma!!" "Kamu yang Cukup!!! kamu kurangajar ya!!" bentak Mama tak kalah keras membuat Kai kembali memejamkan matanya kuat kuat. Rara terlihat kaget, melihat kemarahan Mama Aska dan Aska yang saling beradu tatap. "Apa sih? Kan Aska cuma ajak Rara ke rumah. Apa salahnya? Kenapa Mama harus bilang kayak gitu seakan nyudutin Rara?" "Kamu bilang mama nyudutin dia! Sekarang kamu pikir Aska! kamu udah nyakitin hati Kai!!!" Aska melirik ke arah Kai yang menundukan kepalanya. Jarinya saling bertautan tanda dia ketakutan. "Ada apa? Kenapa harus jaga hati dia?" tanya Rara ikut campur, semakin membuat Mama marah. Mama tiba tiba berdiri dari duduknya dan menatap horor ke arah Rara. "Kamu!!! Berhenti ikut campur urusan keluarga saya. Kamu nggak ada sopan santun ya? Harus cari tau masalah orang lain? Apa kamu nggak malu hah?!" Mama terlihat kesal. Berusaha melindungi Kaira dari masalah yang mungkin saja datang. "Tapi, saya kan.." "cukup! Asal kamu tau ya, jangan pernah kesini lagi. Karena Aska sudah saya jodohin. Dan Kaira ini adalah tunangan Aska," kata Mama membuat Kai kembali menoleh dengan wajah kaget. "Apa tante? Tapi, kan saya sayang sama Aska.." "Cukup! Pergi kamu dari rumah saya!" bentak Mama sambil mengacungkan jarinya ke arah luar. Rara terkejut, begitu juga dengan Kai. Kai salut dengan sikap tegas Mama kali ini. Berbeda dengan Mama tadi pagi, Mama yang menangis di hadapan Aska yang memberontak. Tapi, saat Mama berdebat dengan Aska di depan Kai, Mama terlihat kuat dan melindunginya. "Tapi," "Pergi kamu dari sini!!" Tegas Mama lagi dengan napas yang tidak beraturan. Rara mengusap sudut matanya yang berair. Melihat ke arah Kai dengan tatapan benci. Kemudian pergi meninggalkan ruang makan dengan langkah yang tidak seimbang. Kai tidak peduli dengan tatapan itu. Apalagi tatapan Aska yang juga menatapnya dengan sorot mata tidak suka. Yang terpeting sekarang adalah meredam emosi Mama yang masih memuncak. Kai berjalan mendekat ke arah Mama kemudian merangkul tubuh tua itu ke dalam dekapannya. "Mama tenang," kata Kai sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Mama. Aska berusaha menyusul langkah Rara yang keluar ruangan dengan sedikit isakan tangis. "Aska! Berhenti kamu!" perintah Mama saat wanita itu sudah kembali terduduk. Aska menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke belakang dengan rahang yang mengetat dan tangan mengepal. Membuat Kai merasa sangat takut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN