"Lariii Kai.. Larii!!!" Sekuat tenaga Kai berlari meninggalkan pagar besi menjulang tinggi di belakangnya. Tanpa menengok lagi, kali ini Kai harus benar benar yakin dia bisa pergi, entah kemana yang pasti tidak ada siapapun yang tau rencananya.
Bruk
"Aduuh,"
Sialnya, seuatu yang keras menghantam keningnya yang lebar.
Sakit dan sedikit terhuyung pusing, Kai sudah memastikan tidak ada apa apa yang menghalanginya termasuk tembok kokoh ini.
"Kamu nggak papa?" tanya seorang cowok dengan suara seraknya membuat Kai tersadar dari khayalannya itu.
"Hah?" kata Kai masih gagu sambil mengangkat kepalanya melihat siapa yang berani menghalanginya.
"Kamu nggak papa?" tanya seorang cowok dengan raut wajah kawatir memastikan gadis berkulit putih itu baik baik saja.
"Nggak," jawab Kai apa adanya. Dengan tekat yang kuat akhirnya Kai kembali tersadar dengan tujuan awalnya. Kabur, ia harus segera pergi dari Sekolah ini sebelum jam istirahat di mulai.
"Maaf ya, gue nggak sengaja.." kata cowok itu sambil tersenyum kecil membuat siapa saja yang melihatnya harus menahan degup jantung yang membuat tubuh meremang.
"Oke," jawab Kai cuek kemudian hendak melangkahkan kakinya pergi. Matanya tidak lepas dari sisi tembok tinggi itu. Kai harus segera keluar dari penjara itu.
"Eh mau kemana?" tangan cowok itu menahan bahu Kai yang hendak pergi membuat Kai kembali tertahan dengan langkahnya.
"Apasih!"
"Kenalin gue Ferry," katanya sambil mengulurkan tangan ke depan.
Tanpa melirik uluran tangan dari si pemilik. Kai menjawab singkat ucapan cowok itu kemudian kembali berlari.
"Kai," jawabnya segera pergi.
Kai berlari dengan langkah kakinya yang tidak seimbang, tak beraturan, sambil menggendong ransel besar di punggungnya.
Keberuntungan kali ini berpihak padanya. Rupanya Tuhan mendengarkan doa Kai selama ini. Pintu gerbang belakang sekolah terbuka lebar. Memudahkan Kami untuk keluar dengan sangat mudah.
Kau mempercepat larinya kemudian keluar dari gerbang dengan mudahnya. Mencari sesuatu yang bisa ia tumpangi agar lebih jauh berjarak dari halaman Sekolah.
Sayangnya kali ini dia harus kembali berlari. Tidak ada angkutan umum yang bisa dia tumpangi. Mencari Taxi yang mungkin lewat sangat jarang. Dia harus memesan Taxi online, tapi apa mungkin waktunya cukup sebelum beberapa satpam menyadari kepergiannya.
"Capeeekkk...huuuhhh... Capeeekkk..." Gumamnya sambil menghentikan langkah kakinya yang mulai terasa sakit.
Kai mengedarkan pandangannya. Melihat kesekelilingnya, sudah lumayan jauh dari sekolah. Dan saat ini Kai butuh tempat yang teduh untuk memesan Taxi online.
Kai berjalan di bawah pohon rindang, duduk bersila di sana sambil memangku tas ransel berisi pakaian ganti nya. Kai mengotak atik benda kotak pipih itu kemudian tersenyum saat sebuah pesan otomatis masuk melalui layar ponselnya.
Menunggu beberapa menit, sebuah mobil berwarna abu abu berhenti tepat di hadapannya. Seorang driver pria membuka pintu kaca sambil tersenyum ramah ke arahnya.
"Mbak Kaira?"
Kai menganggukan kepala antusias sambil tersenyum. Lega, rasanya sebentar lagi Kau akan keluar dari semua beban masalahnya. Sebentar lagi kebebasan berpihak padanya.
"Silahkan masuk, mbak. Sesuai aplikasi ya,"
"Iya pak," jawab Kai sambil menutup pintu mobil setelah dia duduk diam di dalamnya.
Kai mengatur napasnya. Merilekskan tubuhnya yang gemetar. Rasanya sesuatu di dalam dadanya bergelintir aneh. Membuatnya sedikit takut melakukan ini semua. Entah hal bodoh atau jalan menuju kebenaran. Yang jelas, Kai berpikir bahwa ini sudah benar. Ini pantas dia lakukan.
"Sekolah udah pulang mbak jam segini?" tanya Bapak Driver yang membuat Kai berlonjak kaget.
"Ah, iya pak. Kebetulan saya ijin ada pertemuan keluarga.." jawab Kai ngaco.
Bapak itupun tertawa. Membuat Kai mengerutkan keningnya.
"Mbak ini, pertemuan keluarga.. seperti sudah berkeluarga saja. Ngomong ngomong soal berkeluarga. Memang masih ada ya mbak? Jaman sekarang, anak SMA yang sudah menikah? Saya suka heran kalau dapet penumpang anak SMA yang pacaran manggil Ayah Bunda hahaha,"
Seketika tawa bapak itu pecah membuat Kai berkeringat dingin.
"Menurut mbak, masih ada nggak ya pernikahan dini di Indonesia?"
"Haaa..me..me..nurut saya.. mungkin..masih, pak."
"Agak aneh sih mbak. Tapi, mungkin biasanya pernikahan dini itu terjadi karena aturan adat, atau perjanjian perjanjian dari leluhur. Saya sih nggak percaya, itu di jaman saya dulu. Kalau sekarang anak muda malah memilih nggak menikah tapi menjalani kehidupan seperti sepasang suami istri. Meniru gaya barat saja," sambung bapak Driver membuat Kai kembali berpikir keras
Bukan ketentuan adat, bukan perjanjian leluhur, tapi karena surat wasiat dan sebuah rasa sayang seorang cucu pada kakeknya
Yang belum menikah malah menjalani kehidupan seperti sepasang suami istri. Sedang, yang sudah menikah malah menjalani kehidupan semacam ini.
Apa bener dunia nggak adil?
Kai menatap keluar jalanan dengan pikiran dan hati yang bergulat. Memikirkan bagaimana nasip kehidupannya. Kai tidak tau hidup semacam apa yang dia jalani saat ini. Semuanya berantakan. Tidak ada yang semulus yang di lakukan orang lain. Hidup bahagia bersama keluarga, tidak terlibat perjodohan, pernikahan dini, dan hidup sebatang kara.
Aku hanya ingin, duduk di sebuah meja makan bersama keluargaku. Minum secangkir teh di pagi hari sambil menikmati kemacetan jalanan di balkon rumah. Dan merasakan pelukan ibu, yang katanya membuat damai hati siapapun itu.
Tanpa di sadari, sebulir air matanya jatuh tanpa di minta. Matanya yang menatap kosong di luar jendela membuatnya semakin merasa sengsara. Merasa kekosongan hidup yang selama ini dia jalani sangat sia sia.
Untuk siapa aku hidup?
Tidak ada siapapun yang menjadi alasan aku hidup.
Bahkan, kalau sekarang aku mati pun tidak akan ada yang peduli.
Kai berdecih.
Cih!
Memang dasarnya aku nggak berguna.
Tapi aku hidup untuk diriku sendiri. Aku hidup untuk membuktikan pada mereka, bahwa gadis yang mereka buang ini masih bisa bertahan tanpa kasih sayang seorang pun kecuali kakek dan nenek, dulu.
Mobil berhenti di lampu merah. Bapak sopir mengerem mobil membuat Kai kembali tersadar dari lamunannya. Kai mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Bahkan menangis pun tidak akan mengubah semuanya. Semuanya sudah terjadi.
Kai kembali melihat keluar jendela mobil. Melihat senyum senyum tulus dan tawa seolah tidak ada beban di pundak mereka. Baju baju lusuh dan kumuh yang menutupi tubuh ringkih kecil itu seolah menutupi semua kesedihan yang mereka alami. Bahkan mereka seperti tidak menanggung beban sama sekali, mereka menghibur setiap pengemudi yang lewat dengan nyanyian dan senyum ikhlas yang terpancar.
Tanpa sadar Kai tersenyum kecil. Anak anak jalanan itu sangat lugu, ceria dan seolah mereka baik baik saja.
Kai tau mereka kekurangan segalanya, tapi mereka punya segalanya saat mereka bahagia. Saat anak lain sibuk untuk sekolah, mereka sibuk mencari rupiah untuk bertahan hidup.
Beban mereka lebih berat dari Kai. Dan itu membuat sesuatu dalam hati Kai kembali terbuka, ini bukan akhir dari segalanya. Ini hanya sebuah jebakan dunia, Kai harus melewati proses nya. Dan Kau pasti bisa.
Kai tersenyum, menghapus air mata itu sekali lagi. Menarik napasnya panjang panjang kemudian menghembuskan ya secara perlahan.
Terima kasih kalian, senyuman itu membuat aku sadar. Hidup bukan hanya tentang sakit dan kesedihan. Bahkan seharusnya aku masih bisa tersenyum saat masalah seberat apapun nanti.