30. ASKAI

839 Kata
Kai turun dari mobil abu-abu yang baru saja  ia tumpangi. Setelah membayar dan memberikan senyum an kecil untuk si pengemudi, kini Kai dapat bernapas lega. Ia terhindar dari segala pertanyaan dan ke- kepoan pengemudi online itu. Kali ini, kakinya berpijak di depan rumah minimalis dengan halaman yang di penuhi rumput. Rumah itu sudah tidak sebersih dulu lagi. Kai tau, mungkin tidak baik kembali ke rumah dulu nya. Tapi, Kai tidak punya tempat tinggal lain selain rumah ini. Kai harus berhemat dengan uang yang masih dia punya sekarang. Sebelum pengacara Kakek menyadari kepergiannya dari keluarga Reno. Dan sebelum semua orang mencarinya. Kai menghembus kan napasnya kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju teras rumah. Sayang sekali, keberuntungan tidak berpihak padanya. Rumah Kakek yang dulu sangat indah, bahkan pintunya selalu terbuka lebar untuknya hari ini tertutup rapat. Bahkan terhalang sebuah gembok besi rantai berukuran besar. Kuncinya entah kemana. Kai tidak sadar dengan ini semua, bahkan dia tidak tau sejak kapan rumah ini dibiarkan terkunci rapih. Kai memutar otaknya lagi. Kemana dia harus pergi? Lagi pula, rumah yang dulu sangat aman ini mungkin tidak seperti dulu lagi. Memang benar, waktu mengubah segalanya. Rumah yang kokoh kini terlihat rapuh. Dan rumah yang dulu penuh dengan tawa kebahagiaan, kini sepi tak berpenghuni. "Kalo aku di sini. Pasti mereka gampang tau. Dan nyari aku di sini. Tapi kalo mau ke tempat lain aku harus kemana? Nyewa kamar kos untuk dua bulan mungkin uangku cukup, setelah itu aku harus kerja.." gumamnya kemudian mengangkat kepalanya menatap kearah rumah di hadapannya. "Hey, kamu adalah saksi selama aku hidup. Maaf ya aku nggak bisa mempertahankan keutuhan kamu. Jangan pernah hilang ya, karena segala kenangan tentang aku ada di kamu," kata Kai seolah berbicara pada seseorang. Kai tersenyum kemudian membalikan tubuhnya. Pergi dari halaman rumah tua itu. Kai berjalan menyusuri trotoar jalanan yang agak sepi dengan kendaraan yang berlalulalang. "Kangen kakek," gumaman nya lagi kemudian berjalan ke sebuah tempat perjumpaannya terakhir kali dengan kakek. Kai berjalan dengan kaki mungilnya, langkah gadis itu membawa nya ke sebuah tepi pantai dengan ombak yang cukup besar. Masih berbalut seragam sekolah, Kai bahkan tidak menyadari hal itu. Beberapa wisatawan menatap aneh ke arahnya, ada beberapa yang terkagum dan ada beberapa juga yang melihatnya dengan penasaran. Kai berjalan ke tepi pantai. Melepas sepatu sekolahnya lalu membawanya menggunakan tangan. Kai tersenyum. Terpaan angin yang kencang membuat rambut indahnya menari bebas. Rasanya tidak pernah setenang ini. Kai seolah berdamai dengan alam. Mereka seolah tau segala beban Kai. "Kakek, Kai dateng. Kakek kangen Kai nggak? Kai juga kangen Kakek.." katanya sambil menyentuh permukaan air laut. "Kek, maaf ya Kak nggak bisa nepatin janji buat bertahan dan nurutin maunya kakek. Maaf ya kakek.." Kai tersenyum, seolah tengah berbicara pada seseorang yang mendengarkan keluh kesahnya dengan baik. Tatapan matanya kosong, menatap jauh kesebrang yang sudah tidak terlihat. Kai melangkahkan kakinya mundur untuk menjauh dari tepian ombak yang akan membuat baju seragamnya basah. Kai duduk di atas pasir putih. Menghilangkan kedua kakinya, kemudian memeluk kakinya sendiri sambil menenggelamkan wajahnya di sela itu. Tubuh kecilnya yang ringkih menangis terisak, tak bersuara, Kai masih waras, tidak mau di anggap aneh atau gila oleh orang orang di sekitarnya. Rasanya sangat menyedihkan. Rasanya sangat menyakitkan. Dia benar benar sendiri, hidup sebatang kara tanpa keluarga. Orang tua yang sangat dia sayangi bahkan tidak tau wujutnya seperti apa. "Emang yang paling enak kalo lagi sedih itu nangis sendirian ya?" Bahunya bergetar, Kai terkejut dengan suara serak milik seseorang yang saat ini sudah duduk di sampingnya. Kai mengangkat wajahnya sambil menoleh ke arah cowok berseragam sama dengan dirinya yang duduk bersila tepat di dekatnya. "Jangan sedih Tuan Putri," kata cowok itu sambil memberikan sapu tangan ke arah Kai. Tanpa segera mengambil sapu tangan yang di ulurkan cowok tersebut, mata Kai hanya menyelidiki dan menaruh curiga pada sapu tangan pemberian cowok itu. Kai harus hati hati, siapa tau ini adalah modus kejahatan baru. Tapi, rasanya wajah itu tidak asing baginya. "Tenang aja, sapu tangan baru. Nggak ada obat biusnya.." kata cowok itu sambil terkekeh membuat Kai semakin di buatnya bingung. Kai mengambil sapu tangan itu kemudian mengusap air matanya. Tidak lupa mengusap ingusnya yang sudah banjir dan terasa penuh di dalam hidung. Tanpa rasa malu, Kai mengeluarkan lendir putih itu di samping cowok yang baru saja dia kenal. Cowok itu pun kembali terkekeh. Melihat gemas dengan senyum manis ke arah Kai yang masih sibuk dengan sapu tangan yang dia pakai. "Kalo lagi sedih jangan sendirian. Bahaya, mending cari orang lain. Seenggaknya buat nemenin atau dengerin lo ngomong," kata cowok itu lagi sambil menatap lurus ke depan. Kai selesai dengan urusannya. Metanya menyipit tidak suka dengan cowok sok tau dan sok kenal yang tiba tiba mendatanginya. "Lo sendiri ngapain di sini?" tanya Kai penuh curiga. "Lah, gue tanya sekarang. Lo juga ngapain di sini? Bukannya sekolah," balik cowok itu membuat Kai gelagapan. "Tunggu..kok gue nggak asing sama muka Lo ya," "Eh emang udah pernah ketemu?" Elak cowok itu dengan senyum mengejek. "Jangan lo kira gue pikun, lo kan yang tadi nabrak gue sampe jatoh? Ngapain lo di sini? Ngikutin gue ya Lo?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN