"Jangan lo kira gue pikun, lo kan yang tadi nabrak gue sampe jatoh? Ngapain lo di sini? Ngikutin gue ya lo?"
Cowok itu tersenyum kecil, tidak dapat di pungkiri cowok berlesung pipi dengan kulit putih dan bola mata hitam ini sangat manis. Apalagi saat tersenyum, hal itu sedikit membuat Kai merasa tenang.
"Saat lo pikir sendiri lebih menyenangkan? Apa lo pernah berpikir, masalah lo nggak bakalan selesai saat lo diem kayak gini,"
Kai menoleh ke arah cowok itu dengan tatapan kesal. Merasa tidak nyaman dengan seorang cowok yang tiba- tiba datang lalu berbicara seolah dia tau segala masalahnya.
"Tapi, saat orang lain sama sekali nggak peduli sama kita, kita masih punya Tuhan. Emang sih, mereka hanya sekedar kepo dan cari tau masalah kita. Selebihnya mereka nggak akan peduli, manusia emang gitu. Tapi, Tuhan akan selalu jadi pendengar yang baik.."
Kai mulai tenang, mendengarkan ucapan cowok di sebelahnya yang memandang jauh ke depan. Kai melihat wajah tampan itu dari samping. Bak dewa yang tiba tiba datang membuat hatinya tersentuh.
"Dan jangan pernah berpikir, masalah kamu lebih berat dari masalah orang lain. Setiap masalah ada jalan keluarnya, Kai."
Kai sedikit terkejut, bahkan dia lupa dengan nama orang di sebelahnya.
"Nama gue Ferry, jangan lupa lagi."
Huftt
Sekali lagi dia tau isi pikiranku.
"Yaudah yuk, jangan di sini. Nanti lo masuk angin lagi.." ajaknya sambil bangkit berdiri. Ferry menunggu Kai mengikuti gerakannya.
Sedikit bingung, akhirnya Kai ikut berdiri juga. Kai membersihkan pasir yang ada di roknya kemudian menenteng sepatu sekolah dan tas ranselnya.
"Lo bawa barang banyak amat kayak mau kabur aja," kekeh Ferry sekali lagi menggoda Kai.
"Apasih lo, ini buku pelajaran!" Kesal Kai.
"Jangan lo pikir gue nggak tau yaa Hahahaha," kekeh Ferry lagi sambil berlari mendahului Kai.
"Lo siapa sih ngeselin!!!" Teriak Kai dengan sekuat tenaga.
"Anggap aja gue pangeran yang di kirim sama Tuhan buat jaga lo," jawab Ferry.
Angin semakin berhembus kencang, membawa efek dingin sekaligus panas. Matahari masih menyengat di atas sana. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk tetap berteduh.
Sambil menikmati pemandangan yang indah, melihat beberapa wisatawan bermain pasir dan ombak di laut. Kai menikmati es Kelapa muda sambil duduk di atas kursi kayu bersama Ferry di sampingnya.
Kai menikmati minumannya dengan mata yang terus menyapu pandang. Sedang, Ferry menikmati minumannya sambil menikmati keindahan di sebelahnya.
"Jadi, lo pindahan? Kok bisa pindahan udah kelas 12? Nggak nanggung?" tanya Kai membuat Ferry terseret dari lamunannya.
"Ya bisa lah, gue gitu.." jawab Ferry percaya diri.
"Heleh, paling nyuap kepala Sekolah kan? Huuu mentang mentang kayaa!!" Ejek Kai sambil menjulurkan lidahnya.
"Hahaha nggak lah. Orang pinter nggak perlu kayak gitu," kekeh Ferry.
"Trus kenapa lo pergi dari Sekolah? Bukannya masih jam pelajaran?" Lanjutnya lagi.
"Lah, lo sendiri kenapa juga pergi dari Sekolah? Bukannya masih jam pelajaran?" kata Kai bertanya balik ke pada Ferry.
"Lah, gue tanya kenapa lo balik nanya sii," kesal Ferry sambil mengusap wajahnya frustasi.
"Hahahahaa," kekeh Kai tanpa sadar dia tertawa siang ini. Dan Ferry menikmati wajah cantik yang tertawa lepas itu.
"Apa lo liat liat gue?" Kesal Kai menyadari tatapan Ferry ke arahnya.
"Yaelah pelit banget. Kagak kurang juga tu muka gue liatin."
Kai tersenyum menanggapi ucapan Ferry. Tangannya sibuk mengaduk isi kelapa muda di pangkuannya.
Rasanya sudah lama dia tidak tertawa lepas seperti ini. Hanya karena hal sepele dan hal kecil membuatnya tersenyum. Padahal, ini bukan tujuannya. Kai mungkin lupa, tapi rasanya ini lebih baik.
"Serius nanya lo ngapain di sini? Lo ngikutin gue ya?"
"Gue takut aja cewek jalan sendiri pas lagi frustasi, takutnya nanti lo bunuh diri. Kan serem,"
"Hahahaha siapa yang pruzztaazi sih Bambang. Orang gue baik baik aja,"
"Lah, siapa yang bilang Lo yang prustasi. Gue kan gak bilang itu lo. Berarti bener kan itu lo?"
Dan kali ini Kai pun kena jebakan ucapan Ferry. Cowok misterius yang tiba- tiba datang menemaninya.