"Jadi, lo nggak mau pulang?" tanya Ferry memastikan sekali lagi. Senja sudah mulai terukir indah di hadapan mereka. Dan mungkin sebentar lagi, si Raja cahaya akan tenggelam di telan bumi.
Gadis itu masih setia duduk menatap jauh ke depan sana. Tidak peduli dengan dinginnya angin pantai. Tidak peduli dengan tubuhnya yang mulai menggigil, dan rambutnya yang kusut berantakan. Rasanya, Kai masih ingin berlama lama duduk diam di samping kakeknya. Berkeluh kesah di dalam hati sambil bercerita banyak hanya sekedar untuk mendapatkan kelegaan.
"Lo kalo mau pulang. Pulang aja," jawab Kai santai tanpa memalingkan pandangannya.
"Nggak sih. Gue nggak mungkin ninggalin anak orang sendirian apalagi malem-malem di pantai kayak begini," jawab Ferry santai.
Kai tersenyum miring. Menoleh ke arah Ferry yang tengah melihat lurus ke depan.
"Anak orang?" Tanya Kai.
Cih!
"Bahkan gue nggak tau gue anak siapa," jawab Kai apa adanya. Rasanya sangat lucu bahkan seumur hidupnya, Kai tidak pernah tau bagaimana paras malaikat cantik yang tega menelantarkannya. Bagaimana wajah Dewa yang tega tidak mengakuinya. Tapi, memang seperti itu kenyataannya. Kenyataan pahit yang selalu saja menghantam ulu hatinya. Sakit, sangat sakit.
"Heh, siapa bilang?" kata Ferry cepat. Membuat Kai menoleh ke arah cowok berlesung pipi itu.
"Ma..maksud gue, siapa bilang lo kayak gitu. Buktinya lo ada, brarti lo di lahirkan.."
"Gue di lahirkan tanpa di inginkan,"
Ferry diam. Tidak berani menjawab ucapan Kai.
"Gue nggak tau lo siapa. Bahkan kita baru kenal hari ini. Jadi, maaf nggak seharusnya gue ngomong gitu," lanjut Kai dengan nada tidak enak hati.
"Nggak papa kok. Santai aja santai.. Lo mau cerita apa? Gue pasti dengerin," jawab Ferry sambil tersenyum tulus.
"Gue nggak pernah cerita sama orang lain. Gue jarang cerita,"
Ferry menganggukan kepalanya. Menghela napas panjang kemudian tersenyum kecil sebelum melanjutkan ucapannya.
"Kalo lo nggak mau cerita, biar gue aja yang cerita.."
Kai masih tetap melihat lurus kedepan. Melihat perlombaan indah ombak ombak dengan pasir putih membuatnya sedikit tenang.
"Keluarga gue broken home. Mama dan Papa gue pisah sejak gue kelas empat SD. Dan perpisahan itu karena ada orang ketiga di antara Mama dan Papa gue."
Kai mengedipkan matanya, tangannya yang semula menopang tubuhnya di bagian kanan dan kiri kini mulai menggenggam erat sisi kursi kayu yang terasa hangat.
"Gue nyaksiin gimana mereka setiap hari berantem dan adu pendapat. Bahkan, gue liat sendiri waktu itu Papa gue mukul Mama gue. Yang bisa gue lakuin saat itu? Nangis, gue cuma bisa nangis di belakang pintu kamar gue."
"Setiap hari yang gue liat cuma perdebatan Mama dan Papa gue. Dan pada suatu hari, Papa gue dateng bareng satu cewek saat itu. Mama gue makin marah, akhirnya Mama gue pergi sambil bawa koper buat keluar rumah. Gue gatau apa apa. Mama gue akhirnya pergi gitu aja ninggalin gue sendirian. "
"Nggak lama dari itu, Papa gue nikah sama perempuan yang usianya beda sepuluh tahun sama Papa. Dia masih bener bener muda waktu itu. Apa yang gue rasain? Gue benci perempuan itu. Semenjak saat itu, gue nggak pernah ketemu Mama. Mama nggak pernah lagi dateng ke rumah. Papa sibuk sama istri barunya. Bahkan, gue tumbuh tanpa adanya kasih sayang orang tua. Gue selalu sendiri, nggak punya temen, bahkan jadi korban bully di Sekolah. Dan yang gue lakuin selama itu cuma belajar dan belajar."
Ferry menghela napasnya, membuat Kai akhirnya menoleh ke sebelahnya. Melihat wajah cowok tampan yang ternyata menyimpan seribu misteri.
"Saat gue mulai SMP, gue menang lomba. Gue berharap Papa dateng kayak orang tua murid lainnya. Gue nungguin Papa di sekolah. Berharap Papa seneng pas gue tunjukkin Piala pertama gue. Tapi, Papa nggak dateng. Gue tunggu Papa di rumah sampai gue ketiduran di ruang tamu, Papa nggak pulang sama istri barunya. Sampai akhirnya Mama tiri gue melahirkan anak bokap gue. Disitu gue benci diri gue sendiri."
"Ferry," panggil Kai ikut sedih mendengar cerita teman barunya itu.
"Mulai saat itu, gue nggak peduli lagi sama Papa. Gue berusaha membangun sikap dingin dan acuh, gue nggak pernah peduli juga sama istri baru Papa. Gue sekolah, pulang sore, gue ikut banyak kegiatan biar gue jadi cowok yang kuat dan nggak lemah. Tapi, sayangnya gue jatuh ke kenakalan remaja. Gue ngrokok, bahkan gue minum minuman keras. Tapi, malaikat kecil yang nggak tau apa apa. Gue nggak pernah benci dia."
Kai mengangkat kedua alisnya. Meminta agar Ferry melanjutkan ceritanya lagi.
"Adik tiri gue, perempuan. Andai dia ada, sekarang mungkin masih lima tahun. Seandainya dia masih hidup. Gue mau berterima kasih sama dia. Dia yang bikin gue lepas dari rokok dan Alkohol. Bocah itu nggak tau apa apa. Tapi, karena kebodohan orang tuanya dia sakit, dia cacat."
"Ferry,"
"Dari situ gue belajar. Saat gue ada masalah, selalu ada masalah yang lebih berat dari masalah gue, Kai. Bener kata orang, Tuhan memberikan cobaan nggak lebih dari batas kita. Dan saat itu, gue terbentuk jadi orang yang kuat. Gue nggak lembek dan mudah sakit hati. Karena, setiap masalah ngajarin kita buat lebih kuat.."
"Gue nggak nyangka, Lo juga.."
"Saat orang tua nyari seneng sendiri, biasanya korbannya adalah anak. Dan saat itu gue bener bener di buang. Nggak ada yang peduli sama gue. Nggak ada yang mau tau tentang gue. Tapi, gue selalu berusaha untuk tidak menjadi korban."
"Gue ngerti, lo juga mau nasehatin gue. Lewat cerita lo itu,"
"Gue tau masalah lo berat, Kai. Kuncinya lo sabar dan ikhlas. Gue yakin, pasti bakalan ada jalan keluarnya."
Ferry menghela napasnya.
"Gue yakin, cepat atau lambat lo bakal segera bertemu orang tua kandung lo. Dan semua itu bakal seperti kejutan yang nggak pernah lo bayangin selama ini,"
Kai menganggukan kepalanya sambil tersenyum ke arah Ferry. Hari yang cukup panjang membuatnya merasa sangat lega. Sedikit pengalaman baru, pelajaran baru, dan nilai baru yang dia dapatkan hari ini.