14. ASKAI

755 Kata
Malam pun tiba. Tugas rembulan yang gantian berjaga. Matahari sudah mulai meredup dua jam yang lalu. Saat selesai menuntaskan makan malam mereka, Kai ijin untuk pergi terlebih dahulu ke kamar. Gadis itu berdiri di atas balkon kamarnya yang ia tempati dengan Aska. Sendiri, menikmati hembusan angin malam yang dingin. Balutan baju salur kuning tidak mampu membendung kehangatan untuk menutupi tubuhnya yang mungil. Mata indahnya melihat pekat ke arah langit dengan kekosongannya yang berwarna gelap. Malam ini tidak ada banyak bintang yang menghiasi langit malam seperti biasanya. Hanya ada dua bintang dan satu bintang di sebelah bulan yang Kai kenal dengan bintang kejora. Matanya menatap lurus bintang yang bergemerlapan dengan cahaya yang kian meredup. "Kai kangen," gumam Kai sambil mengeratkan pegangannya pada pagar Balkon. "Kakek, nenek.. Kai kangen. Kai takut hidup sendiri kayak gini," Mata Kai memanas, hidungnya terasa gatal. Sebentar lagi cairan kristal akan jatuh menimpa kulit wajahnya. "Kai udah jadi istri Aska. Tapi, Aska sama Kai seakan musuhan. Nggak pernah akur, bahkan Aska tunjukin sikap kalau dia nggak suka sama Kai. Aska juga punya pacar, Kek. Namanya Rara, dia cantik. Kai nggak tau harus apa? Harus marah atau harus seneng, Kek. Marah karena suami Kai punya perempuan lain. Atau Seneng karena Aska nggak ikut campur urusan Kai. Kek, Kai udah janji mau jadi diri Kai sendiri yang kuat, jadi perempuan yang tahan banting dan nggak gampang nangis kayak Kai yang dulu," Pipinya sudah basah di penuhi cairan bening yang keluar dari matanya. Kai rindu Kakek dan Neneknya. Kai tidak tau harus menyampaikan keluh kesahnya pada siapa. Kai tidak punya siapapun di dunia ini. Kecuali keluarga barunya, keluarga Aska. Dan Kai yakin, Aska sendiri tidak mungkin menjadi bagian dari kisahnya. Cowok itu terlalu dingin bila di libatkan dengan hal seperti ini. "Kai capek. Kai tau ini semua bahkan belum di mulai. Kata Kakek Kai bisa ketemu sama Mama kandung Kai. Tapi, Kai takut Kai nggak kuat dan berhenti di tengah jalan. Kakek tau? Aska pacaran di depan mata Kai. Terus siapa yang harus Kai percaya di dunia ini, Kek? Kalau nggak ada orang yang peduli sama Kai. Bahkan, orang yang punya ikatan sama Kai, pun malah berpaling dari ikatan suci itu." Kai mendudukan tubuhnya di atas lantai sudut balkon. Memeluk tubuhnya sendiri dengan isak tangis yang ia tahan agar tidak terdengar siapapun. Kai tidak kuat, dia benar benar rindu suasana bersama Kakek dan Neneknya dulu. "Kai harus jadi gadis kuat di depan Aska, keluarganya, dan di sekolah. Kai harus jadi gadis cuek dan bersikap bodo amat. Kakek tau kan? Kai itu cerewet dan nggak bisa diem. Terus Kai harus apa? Kalau Kau nahan buat nggak ngomong padahal udah pengen ngomong?" gumam Kai lagi seolah seseorang mendengarkan keluh kesahnya. Kai menangis dalam dinginnya malam. Bahkan, saat tidak ada seorang pun yang merengkuh tubuhnya, tangan mungil itu masih sanggup untuk memeluk dirinya sendiri. "Kai kangen kakek.. Kai kangen..hiks..hiks.." Dengan sisa isakannya, Kai segera mengusap air mata yang masih saja menetes. Kai teringat sesuatu, Kai tidak ingin matanya menjadi pusat perhatian orang-orang di rumah ini. Kai harus kuat. Melanjutkan hidup di dunia yang Fana.. Kai harus mendapatkan keadilan. Menemukan kedua orang tuanya. Dan meminta penjelasan dari mereka. Itulah semangat Kai. Kai harus bangkit dan mencari identitas diri. "Kai nggak boleh cengeng. Kai harus kuat! Kai harus semangat!!" katanya sambil bangkit berdiri. Sebelum meninggalkan Balkon, Kai melihat sekilas ke arah langit. Kemudian tersenyum seolah dia sedang tersenyum ke pada seseorang. Setelahnya, Kai benar-benar pergi dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Kai menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar lebih segar. Kakinya berjalan untuk keluar dari kamar mandi. Aska datang dari balik pintu kamar dengan wajah kusut dan penampilan berantakan. Kai mengambil napasnya kemudian menghembuskan nya perlahan. Kakinya kembali melangkah. Memasang topeng dengan wajah datar dan cuek untuk malam ini dan seterusnya. Kai berjalan ke arah meja yang di tata buku-buku pelajarannya dan Aska. Kai memasukan buku-buku yang akan dia bawa besok pagi tanpa memperdulikan Aska yang duduk diam bersandar di punggung ranjang. Setelah selesai dengan tugasnya. Kai berjalan mengambil bantal di sebelah Aska tanpa melihat sedikitpun ke arah Aska. Kemudian berjalan ke arah Almari mengambil satu selimut yang biasa dia pakai tidur beberapa hari di rumah ini. Langkah kakinya membawa Kai menuju Shofa kamar. Tempat tidurnya kemudian mulai menata bantal dan merebahkan tubuhnya. Kai tidak peduli dengan Aska. Matanya memejam. Memilih untuk beristirahat tanpa menaruh rasa curiga pada orang lain yang melihat keadaan matanya. Diam-diam, dengan tatapan datarnya. Cowok itu melihat setiap gerakan yang di lakukan Kai. Hingga mata gadis itu memejam. Dan saat itu juga Aska mendengus kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN