15. ASKAI

787 Kata
Kai berjalan santai memasuki halaman Sekolahnya. Menyebrang lapangan basket untuk memotong jalan dan lebih cepat sampai di kelasnya yang berada di sebrang sana. Pagi ini cukup cerah. Mood Kai juga membaik. Meskipun kantung mata terlihat jelas di bawah matanya yang indah. "Kai," Kai tersenyum sambil melambaikan tangannya. Anni menyapanya di depan kelas sambil ikut melambaikan tangan ke arah Kai. Saat Kai melangkah kan kakinya. Sebuah bola menggelinding tepat di bawah kakinya. Beberapa cowok yang bermain basket menghentikan aktivitasnya dengan tatapan mata ke arah Kai. Seorang cowok berkulit bersih, dan berbadan tegap berjalan ke arah Kai untuk mengambil bola basket yang menggelinding. Kai mengambil bola itu kemudian memberikannya pada cowok yang kini tersenyum ke arahnya. Kai balas tersenyum kemudian berlalu dari sana dengan sikap cuek dan bodo amat. "Kai," panggil Anni lagi saat mereka sudah berhadapan. "Apa sih? Kamu panggil panggil terus," kata Kai mulai kesal. "Ya, aku kan seneng akhirnya kamu udah berangkat," kekeh Anni yang di hadiahi dengusan dari Kai. "Kai, kemarin aku lihat Rara pulang bareng sama kamu sama Aska ya? Ngapain tuh orang?" tanya Anni penuh curiga. Kai berjalan acuh masuk ke dalam ruang kelasnya. Kai meletakkan tas putih miliknya kemudian bersandar pada sisi meja dengan tangan yang terlipat di depan d**a. "Sebenernya kamu itu siapanya Aska? Kalian tinggal satu rumah ya?" Dalam hati Kai terkejut. Namun, gadis itu sangat pandai menyembunyikan raut wajahnya dan mimik mukanya. "Aku dari kota sebelah. Terus ikut tinggal di rumah Aska. Wajar kan? Namanya saudara." Anni menganggukan kepalanya dan Kai mulai merasa tersudutkan dengan pertanyaan Anni berikutnya. Maka dari itu Kai putuskan untuk menyudahi percakapan mereka. "Heh mau kemana?" tanya Anni saat mulutnya sudah bersiap terbuka dan melayangkan sebuah pertanyaan lagi. "Mau kerjain PR," jawab Kai cuek. Anni menepuk jidatnya keras. Dia baru menyadari ternyata hari ini ada Pekerjaan Rumah yang belum dia kerjakan. "Kai? Tumben kok kamu belom ngerjain PR? Beberapa hari kita duduk satu meja kamu selalu beres soal PR?" tanya Anni setelah duduk di samping Kai. Kai mengangkat bahunya acuh sambil menjawab pertanyaan temannya itu. "Semalem ketiduran," Anni terlihat puas dengan jawaban Kai. Dan tanpa berpikir panjang lagi, Kai segera mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya kemudian membuka buku paket berukuran besar dan tebal. "Heh? Ngapain kok pakek buku Paket?" tanya Anni kaget. "Ngerjain soalnya lah. Kan soalnya di buku paket?" kata Kai dengan kerutan di keningnya. "Halah, aku udah punya foto jawabannya. Jadi, santai dikit nggak usah ngerjain sendiri. Buang-buang waktu," kata Anni sambil menujukan sebuah foto jawaban di layar ponselnya. Menghela napasnya kemudian menghembuskannya secara kasar. Gadis itu memutar bola ke arah Anni yang menatapnya dengan tatapan bingung. "Ini nih, yang bikin orang Indonesia nggak maju-maju. Nggak mau berusaha sendiri, percaya sama diri sendiri. Maunya yang Instant dan cepet, dan suka mengandalkan orang lain. Padahal belum tentu yang di andalkan lebih baik kemampuannya dari kita," "Haa?" kata Anni tercengang dengan tangan membenarkan letak kacamata. "Kamu percaya sama jawaban mereka? Gimana kalau salah? Bakal ketauan guru kalo kita nyontek? Lagian bohongin guru itu dosa, selain itu kita bohongin diri sendiri dan nggak percaya sama kemampuan kita sendiri. Kamu harus percaya kamu bisa kerjain soal itu tanpa bergantung ke orang lain, Anne.." Anne membulatkan mata dan mulutnya. Tercengang dengan ucapan Kai barusan. Benar benar pedas. Dan sangat tepat hingga mampu menyentil ginjalnya hingga bergetar. (Oke maap lebay wkwk) "Aku salah ngasih contekan ke anak rajin kayaknya," kata Anni sambil menepuk jidatnya sendiri. Kai menggelengkan kepalanya acuh tak acuh kemudian mulai mengerjakan soal soal yang tercantum di lembaran kertas besar itu. "Jadi? Kamu yakin nggak mau nyontek Kai?" "Enggak Anni.." "Tapi? Kamu nggak perlu repot-repot kerjain lagi Kai. Lagi pula ini jawabannya bener kok.." Kai mengalihkan pandangannya dari buku tulis dan kembali melihat ke arah Anni dengan tatapan malas. "Dari mana kamu tau kalo itu jawabannya bener? Sedangkan kamu sendiri nggak ngerjain itu PR pakek otak kamu?" Anni harus meneguk ludahnya berulang kali. Benar juga yang di katakan Kai. Gadis itu benar-benar pandai dan cerdas membalikan ucapan orang lain. "Ya..ya kan, tadi.. anak-anak. Ah tapi kan ini udah pasti ada jawabannya Kai. Pasti bener," sanggah Anni mencoba meneguhkan pendapatnya. "Aku nggak mau Anne. Kamu aja, aku nggak pernah nyalin PR dari orang lain. Lagi pula aku percaya sama diriku sendiri," Anni benar benar pasrah saat ini. Jawaban Kai memang benar. Dan itu sangat menampar hatinya. Selama ini dia bergantung dari jawaban orang lain karena tidak bisa mengerjakan soal- soal itu, lebih tepatnya malas. Apalagi matematika yang sangat-susah- ah sudah pasti sangat rumit. Kai sudah mulai mengerjakan PR matematika di hadapannya yang mematikan. Dia benar-benar salut dengan prinsip Kai. Gadis itu  memiliki sikap tanggung jawab yang tinggi. Akhinya Anni ikut mencoret lembaran kertas bersih itu dengan deretan angka yang ia salin dari foto di layar HP nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN