16. ASKAI

1153 Kata
Di kantin Sekolah.      Aska duduk di bangku kantin bersama dua temannya. Kikin dan Rayno. Tiga cowok itu sibuk dengan makanan di depan meja mereka masing-masing. Berbeda dengan Aska sudah menyudahi makanannya yang belum sepenuhnya habis. Dua temannya itu masih asik memasukan beberapa gelinding bakso ke dalam mulut mereka hingga penuh. "Lo kok udah?" tanya Kikin sambil melirik ke arah Aska. "Nggak napsu gue," jawab Aska cepat sambil menggeser mangkuknya menjauh. "Kenapa lo? Tumben? Galau?" Aska mendengus kesal mendengarkan pertanyaan dari Kikin. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Yang jelas, Aska sedang malas melakukan apapun, walaupun aroma bakso yang mengepul masuk ke dalam indera penciumannya tidak mampu menggugah seleranya untuk makan. "Lo kenapa, Ka?" tanya Rayno yang mulai menyadari perubahan sikap Aska. "Nggak papa. Gue males makan aja," "Kenapa? Atau mau pesen cirengnya mbak Ayu aja?" Ulang Kikin yang semakin penasaran. "Ah lo berdua kepo! Nggak, gue kenyang." kesal Aska dengan tatapan malasnya. "Ya biarin lah. Gue kan heran masa lo galau? Muka kayak lo bisa galau?" "Bener tuh Kin. Setau gue Aska nggak pernah galau. Soalnya dia nggak punya hati.." Mendengus kesal, di akhiri dengan tatapan tajam. Matanya terpaku menatap kesal ke arah sahabatnya yang saat ini cekikikan. Membuang wajahnya ke arah lain. Dan tidak sengaja tatapan matanya bertemu dengan mata coklat milik seorang gadis yang -mungkin- membuatnya tidak napsu makan. Gadis itu tampak terkejut melihat ke arah Aska. Matanya yang sedikit membulat  seakan memberitahu bahwa gadis kaget. Segera menyudahi tatapan mereka, Aska  memalingkan tatapannya pada Kikin yang masih asik dengan Bakso di mangkuknya. "Gue liat lo makin deket aja sama si boneka Anabel?" Mengerutkan keningnya  ke arah Rayno. Seolah tidak paham dengan ucapan temannya itu. "Siapa yang lo maksud?" tanya Aska tidak mau bertele-tele. "Itu, boneka Anabellll yang suka nempel sama lo.." Aska masih tidak mengerti, cowok itu mengedikan bahunya sambil menyendok es batu dari dalam gelas kemudian memakannya. "Cewek yang pulang bareng sama lo?" Siapa? Kai? Batin Aska. "Siapa?" tanyanya pura-pura tidak tau. "Rara, Riri, Roro Jonggrang," jawab Rayno cepat dengan nada kesal. Aska mendengus, bagaimana dia bisa berpikir Kai yang ada di pikiran temannya? Kenapa malah Kai? Sedangkan akhir-akhir ini dia juga pulang bersama Rara. "Oh," Kikin meletakkan sendok dan garpunya. Melipatnya dengan posisi tengkurap di dalam mangkuk. Kemudian meminum es dalam gelas putih sambil sesekali mengelus puncak perutnya yang terasa membucit. "Gue kenyaaang buanget eh buseet," kata Kikin sambil bersendawa membuat Aska dan Rayno menutup hidung mereka sepontan. "Njir gilaa nggak sopan lo bau!!" Kesal Rayno sambil menjitak kepala Kikin di sebelahnya. "Ya kayak gitu nggak boleh di tahan. Ntar gue kembung, begah, masuk angin lah.." jawab Kikin seadanya. "Yang masuk angin lo, ya terserah lo," Aska mengibas ngibaskan telapak tangannya di depan hidung. Mencoba menghilangkan bau tak sedap yang di timbulkan Kikin pada mereka. "Beteweeee kalian tadi bahas siapa? Riri?" tanya Kikin penasaran. "Riri pala lo?" "Riri kanan ku lihat saja banyak pohon cemara Hah haahhh..." kata Kikin semakin membuat kedua temannya jengkel. Aska kembali menutup hidungnya. Meskipun tidak melayangkan protes namun dengan gerak-gerik tubuhnya semua orang tau bahwa dia merasa terganggu dengan bau nafas Kikin. "Njir jigong lo bau!!! Nggak tau diri amat sih, nyet!" Kesal Rayno lagi. "Ya kan gue nanya. Kenapa sih salah lagi?" tanya Kikin kesal. "Bukan Riri, Rara b**o!" jelas Rayno sambil membuka tangannya yang menutupi Hidung. Sama seperti Aska. "Oh ya Rara. Sejak kapan namanya jadi Rara b**o?, tapi kan gue perasaan si Aska kalo berangkat sama pulang bareng Kaira itu deh," Aska menatap dingin ke arah Kikin. "Namanya Rara nggak pakek b**o! Yang b**o itu lo, nyet!" Kesal Rayno sambil mengelus d**a. Aska mendengus kesal. Matanya kembali melirik sekilas ke arah gadis berambut sebahu yang duduk bersama seorang temannya. Tatapan mereka bertemu lagi, gadis itu tampak cuek dan bersikap seolah tidak peduli. Aska memutar bola matanya kemudian kembali fokus pada teman-temannya. "Eh iya gue mau tanya itu kemarin. Lupa mulu. Jadi lo kenal sama Kaira, Ka?" tanya Rayno sambil menyedot es teh di hadapannya. Aska mengedikan bahunya acuh menanggapi pertanyaan temannya yang semakin penasaran. "Katanya lo nggak kenal. Cuma sebatas tau. Kalo cuma tau nggak mungkin pulang bareng," curiga Kikin dengan tatapan penuh selidik. "Atau jangan jangan lo coba modusin Kaira si cantik ya!!" Tuduh Rayno yang semakin menyudutkan Aska. Aska terbatuk, tersedak es batu di tenggorokannya yang dari tadi sudah ia makan. "Modus apaan sih lo!" "Ya itu buktinya. Dia pulang bareng lo, lo pura-pura nggak kenal dia padahal lo kenal. Lo sengaja nggak mau kenalin dia ke kita kan? Wah parah lo temen macem odong-odong lo, Ka.." kata Kikin menggebu nggebu. "Gue nggak kenal," jawab Aska kembali acuh. Rayno menyipitkan matanya menatap ke arah Aska. Menaruh curiga pada pria dingin yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri. "Kin," panggil Rayno cepat sambil mengakhiri tatapannya ke arah Aska yang pura pura acuh. "Syap bos," kata Kikin yang mengerti kemudian beranjak dari tempat duduknya membuat Aska membulatkan matanya. "Heh mau kemana lo?" tanya Aska kesal. "Melancarkan tugas," jawab Kikin santai dengan tatapan menantang ke arah Aska. Kikin berjalan menuju meja Kai yang duduk bersama teman perempuannya. Aska mendengus kesal sambil menggelengkan kepalanya. Tangannya terulur untuk memijat keningnya yang mulai berdenyut. "Hay cantik," sapa Kikin sambil duduk di hadapan Kai yang nampak terkejut. "Pepet Kin.. pepet.." teriak Rayno. "Pepet lo kira trek gandeng!!" kesal Kikin sambil berteriak di seberang sana. "Neng cantik sendirian aja? Nggak ada temen cowoknya? Hayu atuh neng, bareng sama abang aja duduk di sana," goda Kikin sambil menarik turunkan alisnya. "Lo anggep gue apa, Bambang? Gue temennya dari tadi di sini." Protes Anni kesal dengan wajah kesalnya. Kai menggelengkan kepalanya sambil mengernyitkan kening. Menatap aneh ke arah cowok yang sebenarnya tampan dan manis. Namun berkelakuan menggelikan. Dia adalah teman Aska, yang bernama Kikin. "Kenapa? Ikut aja ayok ke sana. Biar abang yang bayar nanti," Anni berdiri dari duduknya kemudian berusaha menarik tangan Kai untuk pergi meninggalkan Kikin sendiri. "Eh mau kemana?" tanya Kikin tidak terima. "Ke kelas," jawab Anni jujur. "Kenapa buru-buru?" tanya Kikin. "Males ada lo, terusikkk jadinya!!" jawab Anni kembali jujur. "Gue kan pengen ngomong sama Kaira. Kenapa sih lo nyaut terus?" "Terserah gue dong," "Udah-udah, Anni.." sela Kai menghindari perdebatan di hadapannya. "Mulai Kin mulai!!" Teriak Rayno lagi membuat Aska menundukan kepalanya sambil memijat pelipisnya sendiri. "Beli tahu harga lima ribu. Lanjut beli keripik sambil di pangku. Hey kamu yang rambutnya sebahu. Neng cantik mau nggak jadi pacarku?" "MANTUUUULLLLL!!!" teriak Rayno girang dengan tepuk tangan kencang di mejanya. Aska menggelengkan kepalanya dengan tatapan dingin dan datar ke arah Kikin yang saat ini masih mencoba menggoda Kai. "Najis lo!" kata Anni melemparkan tatapan kesalnya ke arah Kikin. "Makan gula di campur merica. Heh lo kacamata, bisa diem nggak!!" kesal Kikin sambil menatap tajam ke arah Anni yang mendengus kesal. "Udah, Kai. Lebih baik kita pergi dari sini," ajak Anni dengan tangan menyeret tubuh Kai. Kai pasrah, dalam hati Kai malu. Saat ini mereka menjadi pusat perhatian di kantin Sekolah. Dengan kelakuan cowok itu yang berusaha menggodanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN