Selama perjalanan, Davina hanya duduk diam sembari menatap lurus jalanan. Davina yang kini berada di jok belakang bertanya-tanya apa yang Rajendra ingin bicarakan dengannya? Mengapa Rajendra begitu memaksanya untuk pergi bersama sepulang sekolah?
Dirinya hanyalah seorang siswi yang selalu mendapat bully-an dari para murid dan juga guru di sekolahnya, lalu mengapa seorang Rajendra rela dan tanpa malu mengajaknya?
"Je," panggil Davina dari belakang. "Kita mau kemana?"
Rajendra tak mengindahkan pertanyaan Davina dan terus fokus mengendarai sepeda motornya, semilir angin menerbangkan rambut Davina yang kebetulan tak memakai helm karena Rajendra hanya membawa satu helm.
Dengan perasaan yang masih diselimuti banyak pertanyaan, Davina turun dari motor Rajendra yang berhenti tepat di depan salah satu kafe di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai.
"Mau pesen apa?" tanya Rajendra menyodorkan kertas menu kepada Davina.
"Es teh aja." jawab Davina.
Tampak Davina tak suka neko-neko. Ia memesan yang memang ia biasa pesan, dan kebetulan juga uang sakunya tadi diambil paksa oleh ketua kelasnya yang juga selalu mem-bully-nya.
"Jus Mangga 2." ujar Rajendra kepada waiters dan melangkah mendahului Davina untuk memilih meja yang nyaman.
"Mmm, Mbak, jus mangganya diganti es teh 1 ya." kata Davina mengubah pesanan Rajendra.
Setelah mendapat anggukan dari waiters, Davina segera menyusul Rajendra yang sudah menemukan meja. Davina duduk di hadapan Rajendra lalu menatap manik mata tajam pria itu.
"Aje, mau ngomong apa?" tanyanya.
Tak tau harus darimana Rajendra memulai topik percakapan, ia sebenarnya ragu untuk membahas tentang hal ini terlebih dirinya dan Davina masih terlalu muda.
"Tentang perjodohan--" jawab Rajendra jujur.
"Perjodohan siapa?" tanya Davina mengernyitkan alisnya dan memotong ucapan pria sang pemilik mata tajam itu.
"Kita. Gue gak tau harus bilang ini perjodohan atau bukan, tapi intinya ada yang mau gue omongin." Rajendra melanjutkan perkataannya.
"Oh, terus?" seru Davina santai.
Mulut Rajendra membulat sempurna dengan reaksi yang Davina berikan. Gadis itu terlihat begitu santai dan tidak takut sama sekali.
"Lo paham kan maksud gue?" tanya Rajendra menatap ragu mata Davina.
Dengan mantap Davina menganggukan kepalanya. Melihat reaksi Davina, Rajendra hanya tersenyum simpul dan keheranan dengan semua ini. Mengapa Davina tampak begitu santai dan tanpa beban? Tidak seperti dirinya yang terus menerus dihantui dengan wasiat terakhir Dira, mamanya.
"Terus lo gimana? Emm, maksud gue kita bakal gimana?" tanya Rajendra pada Davina.
"Aku gak ambil pusing, karena aku tau jawaban akhirnya, kamu gak akan mau sama aku." jelas Davina memberikan senyum manisnya pada pria yang ada di hadapannya itu.
Rajendra menghela nafasnya, mengusap wajahnya dengan kasar, karena ternyata Davina tak ambil pusing dengan semua ini.
"Je, kenapa ngomongin perjodohan kita? Maksud aku wasiat Mama kamu." tanya Davina kikuk.
Dengan lemah Rajendra menggeleng dan menatap hangat gadis cantik si pemilik bibir tipis yang tengah duduk di hadapannya.
"Gak apa-apa, Dav, lo terima perjodohan ini?" Rajendra menanyakan inti dari niatnya bertemu dengan Davina.
"Aku ngikut kamu, karena aku tau kamu gak akan terima perjodohan ini." jawab Davina. Hal itu sontak membuat Rajendra menunduk dan menimang-nimang keputusan yang akan ia ambil.
Ia tak mau keputusannya akan menyakiti Davina, bagaimanapun juga ia harus menghargai keputusan Davina. Karena Rajendra dan keluarganya berhutang budi kepada gadis itu sebab ia telah membawa almarhumah Dira ke rumah sakit kala itu.
"Gue terima." ucap Rajendra dengan mantap.
Deg!
"Gue terima, Dav, demi almarhumah Mama."
"Mama di surga juga karena gue, dia berusaha cegah gue buat--" ucapan Rajendra terhenti karena ia tersadar bahwa dirinya hampir saja mengungkap jati dirinya sebagai ketua GOJA.
"Buat apa?" tanya Davina penasaran. Ia menatap Rajendra dengan tatapan menginterogasi.
Rajendra menggeleng cepat."Gak, Dav. Gue terima perjodohan ini."
"Lo sendiri gimana?" Rajendra melemparkan pertanyaannya pada Davina.
"Aku gak mau jadi beban buat kamu, Je." jawab Davina jujur dari lubuk hatinya. Toh mereka masih muda, masih 18 tahun dan duduk di bangku kelas 3 SMA.
"Finansial gue cukup kok buat hidupin lo."
"Ralat, keluarga kita." Sambung Rajendra meralat ucapannya tadi.
"Kamu udah kerja?" Davina penasaran.
Tampak pertanyaan Davina tadi dibalas dengan sebuah anggukan dari Rajendra. "Udah."
"Kerja apa?"
"Ada deh," alibi Rajendra yang berusaha menutup rapat perihal GOJA dari Davina.
"Urusan bisa cinta enggaknya gue ke lo itu urusan belakangan. Jalanin aja dulu yang penting gue udah penuhin permintaan Mama." ujar Rajendra. Diliriknya Davina oleh Rajendra, ia mengerti jika Davina kini tengah bimbang dan ragu dengan keputusan yang akan ia ambil.
"Tapi, Je, kita masih muda. Masa depan kita masih panjang. Kenapa kita gak nikah besok aja?" tolak Davina dengan alasan logis.
"Besok? Besok kita sekolah, Dav." balas Rajendra dengan terkekeh diikuti Davina yang juga ikut terkekeh merutuki ucapannya tadi yang cukup ambigu.
"Papa minta secepatnya."
"Yang penting kita rahasiain pernikahan kita dari orang-orang." kata Rajendra menjelaskan semua rencananya.
Davina memejamkan matanya sejenak, dan menarik nafas dalam-dalam. Gadis itu terlihat berusaha meyakinkan dirinya. "Gimana kalo kita bikin kesepakatan pranikah di kertas?"
"Oke." Rajendra setuju.
Davina tersenyum membalasnya dan melepas tas yang ia gendong untuk mengambil buku namun,
Rajendra mengerutkan keningnya dan bertanya-tanya mengapa kini raut wajah Davina sedikit berubah menjadi lesu?
"Kenapa, Dav?"
"Kok bisa basah?" Rajendra terkejut dan membelalakkan matanya saat melihat buku-buku Davina yang basah.
Baiklah, ia mengerti apa yang sudah terjadi dan membuat buku Davina basah seperti itu, pasti kasus bullying lagi. Rajendra memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan dengan mengambil buku tulis yang ada di dalam tasnya.
"Pake buku gue." kata Rajendra.
"Makasih."
Rajendra tersenyum tipis, ia menatap Davina yang terlihat lebih baik saat tidak berada di sekolah. Ia juga yakin bahwa Davina adalah murid yang pandai bisa dilihat dari cara dia berbicara, namun ada oknum nakal di sekolah yang membuat Davina selalu berada di peringkat akhir.
Bagaimana Rajendra tahu tentang semua itu? Ya, karena semua murid di SMA Lentera Bangsa pasti tahu tentang kabar dan informasi tentang sosok Davina, gadis cantik yang selalu menjadi bahan bullying di sekolah.
"Kita mau sepakat apa nih?" tanya Davina pada Rajendra.
Rajendra menyenderkan punggungnya di kursi, dan menyerahkan semuanya pada Davina. "Lo duluan aja, nanti gue jawab setuju atau gak."
Senyum tipis merekah di bibir tipis Davina. "Emm, gini aja kita tulis apa yang kita mau di sini."
"Boleh." jawab Rajendra mengiyakan ucapan Davina.
"Aku duluan ya?"
Rajendra mengangguk. "Lo nulis apa? Bacain biar gue denger." tanya Rajendra.
Davina menggeleng cepat, ia mendongakkan kepalanya menatap Rajendra yang kini juga tengah menatapnya. Tatapan mereka saling bertaut, dan untuk sepersekian detik Davina berhasil dibuat kikuk dengan tatapan tajam khas milik sang ketua GOJA.
"B-b-belum nulis apa-apa. Oh iya kita bakal tinggal dimana setelah nikah?"
"Lo mau dimana?"
"Aku ngikut kamu aja," ujar Davina.
"Oke, apartemen." balas Rajendra.
Davina mengangguk lalu menulis hal itu dan juga keinginannya di buku milik Rajendra,
Rajendra tampak begitu antusias untuk mendengarkan apa yang Davina inginkan setelah mereka menikah nanti. Dan ya, datang seorang waiters menghampiri meja Rajendra dan mengantarkan pesanan. Davina menoleh ke arah waiter dan memastikan waiters telah menjauh dari meja mereka.
"Oke satu, kita pisah kamar." Davina mulai membacakan apa yang ia tulis kepada Rajendra.
"Dua, jangan unboxing aku dalam waktu dekat."
Ucapan Davina tadi sukses membuat Rajendra menaikkan satu alisnya. "Apa? Unboxing?"
"Hahahaha." Rajendra tertawa puas mendengar hal itu, Davina sangat polos menurutnya.
"Lanjut!"
"Aku belum siap punya anak dalam waktu dekat."
"Oke, lanjut!" ucap Rajendra sembari terkekeh kecil.
"Dan yang terpenting jangan ganggu aku kalo udah di depan laptop." papar Davina panjang lebar menjelaskan semua keinginannya.
"Kenapa? Nonton drama Korea?" selidik Rajendra.
"Bukan."
"Terus?"
"Ada lah."
"Udah." Davina mengatakan hal itu dengan mantap di hadapan Rajendra. Tak lupa gadis itu juga memberikan senyum manisnya kepada pria yang tak pernah ia sangka-sangka akan menjadi suaminya.
"Segitu doang?" tanya Rajendra memastikan.
"Iya."
"Ya udah sini giliran gue," Rajendra merebut buku dari Davina, tak lupa ia juga merebut pulpen berwarna hitam itu.
"Permintaan pertama diterima." ucap Rajendra.
Rajendra memberi tanda centang pada poin kesatu. "Permintaan kedua, unboxing? Mmmm.. boleh nego?" Rajendra menawar.
Kening Davina mengerut. "Apa?"
"Buat permintaan poin ke dua sama tiga, gue sedikit keberatan. Karena gue laki-laki. Gue normal, gue punya nafsu, gue juga mau punya anak, dan kapan aja bisa khilaf." jelas Rajendra mengungkapkan keinginannya.
"Tapi aku belum siap, Je, aku gak mau lakuin itu tanpa dasar cinta." tolak Davina.
"Oke, boleh gue nego lagi?"
"Boleh."
"Buat poin ke dua dan tiga. Gue akan lakuin itu saat gue udah cinta sama lo, intinya kalo gue lakuin itu ke lo itu artinya gue udah berhasil cinta sama lo." kata Rajendra menatap manik mata Davina yang sayu itu dengan tatapan penuh hipnotis.
"Gimana?" tanya Rajendra.
"Boleh." baiklah Davina setuju.
"Oke poin terakhir, diterima. Dan gue juga minta ke lo jangan penah ganggu gue kalo gue lagi rapat."
"Rapat apa?" rasa penasaran Davina mencuat di permukaan hati dan pikirannya. Rapat apa yang dimaksud Rajendra tadi?
"Dan dilarang kepo." sambung Rajendra memotong Davina yang sudah bisa ia tebak akan menanyakan apa rapat yang dimaksudnya tadi.
"Hehehe oke,"
"Mau beli materai gak?" tawar Davina.
"Gue ada." Rajendra mengeluarkan materai yang biasa ia bawa untuk berjaga-jaga dengan klien dadakan yang mempercayai GOJA untuk menyelesaikan suatu urusan.
Rajendra dan Davina pun menanda tangani kertas itu secara bergantian.
"Dav, ayo balik, gue anter."
Drrrd drrd!
"Halo, Vin?" sapa Rajendra dari telepon.
"Oke, oke."
Davina terkejut saat Rajendra tiba-tiba bangkit lalu melangkah keluar kafe tanpa mengatakan sepatah katapun, namun sebelum itu Rajendra menyempatkan diri untuk membayar minuman yang mereka pesan. Tanpa ragu Rajendra memasang HT earphone yang biasa dipakai oleh agen sekelas FBI di kedua daun telinganya.
"Aje is talking!"
"Tiger Tiger Tiger biasa ya!" ujar Rajendra yang Davina sendiri tak mengerti apa makna dari ucapan Rajendra tadi.
"Ayo, Dav, naik!" perintah Rajendra dengan tegas.
Davina naik ke atas motor dan betapa terkejutnya Davina saat Rajendra mengendarai motornya dengan begitu cepat. Membuat rambut Davina terbang kesana kemari tak beraturan.
Ia dibuat bertanya-tanya dengan apa yang Rajendra lakukan tadi, lalu mengapa pria itu menggunakan HT earphone FBI?
Tapi di balik semua itu Davina senang akhirnya dirinya mendapat teman di sekolah yang juga akan menjadi suaminya karena permintaan Dira yang mengalami kecelakaan waktu itu.
Mama Rajendra kritis selama beberapa hari sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
"Dav," panggil Rajendra.
"Iya?"
Davina mencoba menjernihkan dan mempertajam indera pendengarannya agar bisa mendengarkan apa yang Rajendra hendak katakan karena suara Rajendra terpecah oleh kencangnya angin.
Dan sayangnya Rajendra tak mengatakan hal apapun setelah memanggil namanya.
"Makasih," ucap Davina setelah dirinya tiba di depan rumah dengan selamat.
Tanpa mengucap sepatah katapun Rajendra menancap gasnya dengan cepat dan terlihat begitu terburu-buru.
"Astaga HP aku!" Davina merutuki dirinya sendiri saat menyadari bahwa ponselnya masih bersama Rajendra.
*****
Sementara itu di apartemen Rajendra kini sudah kedatangan banyak sekali orang, perwakilan dari ke 20 timnya. Dan pada tahun ini GOJA telah memiliki lebih dari 300 anggota yang tersebar di seluruh SMA yang di penjuru kota ini.
"Kak Aje!"
"Kita udah selidiki dan bener keluarga klien jadi korban dari dendam lama pelaku." ujar Sabrina adik perempuan Rajendra yang juga menjabat sebagai wakil ketua tim Wolf di GOJA.
Rajendra telah mempercayai Sabrina dan juga tim Wolf untuk menjadi penyelidik untuk suatu kasus di GOJA.
"Oke." balas Rajendra segera berdiri di tengah-tengah timnya.
"Sab, biar gue baca datanya." pinta Rajendra membuka telapak tangannya.
Sabrina memberikan beberapa lembar kertas yang berisi data-data keluarga korban maupun tersangka dan kronologis kejadian kepada sang kakak.
Dengan cermat Rajendra membaca semua isi data-data tersebut.
"Je, mana seragam lo?" tanya Kevin menyadari ada yang aneh dari penampilan Rajendra kali ini.
"Lo udah tau keadaan lagi genting pake tanya mana seragam lagi!" Rivo memukul lengan Kevin, Kevin sendiri hanya terkekeh tanpa dosa kepada Rivo.
"Oke bagi tim!" ujar Rajendra memberikan perintah.
"Kabarin juga buat anggota baru, inget dan paham semua kode yang bakal gue, Kevin, Rivo kasih." lanjutnya.
"Kapan mulai aksi?" Tanya salah satu anggota bernama Jacob.
"Gue besok ada ulangan," ucap salah seorang anggota yang sepertinya anggota baru GOJA terlihat dari pin yang dikenakan pria itu.
"Gue yakin sebelum lo masuk GOJA lo udah baca semua aturan yang ada." balas Rajendra sembari tersenyum hambar.
Rajendra segera mengambil kertas dan menulis agenda yang akan ia lakukan bersama timnya.
"Klien minta apa, Sab?"
"Kali ini kata Paman, klien cuma minta GOJA buat tangkap pelaku, bukan nyawa dibalas nyawa kaya biasa." jawab Sabrina memberitahu sang kakak apa permintaan klien.
Rajendra mengangguk tanda ia mengerti.
"Oke, besok jangan ada yang pake atribut mencurigakan kaya biasa aja." ucap Kevin memberikan arahan.
Rajendra sendiri masih sibuk menulis agenda apa saja yang akan ia jalankan untuk penyerangan esok hari.
"Kak, klien minta waktu 1 minggu." Sabrina memberitahukan hal yang hampir saja ia lupakan.
Lagi-lagi Rajendra hanya menganggukkan kepalanya dan masih fokus mencatat rencana penyerangan.
"Cukup 1 hari kita bakal tangkep pelaku."
"Besok sebelum jam 10 kumpul di markas biasa buat ambil perlengkapan juga senjata, gue minta kalian udah lepas seragam atau apapun yang berbau identitas sekolah."
"Tim Eagle sama Wolf tim kepung, berpencar di segala sisi gedung."
"Sisanya Tim Tiger, ikut masuk ke dalem gedung tangkap pelaku dan lumpuhkan semua anak buahnya!" Rajendra memberikan semua perintah dan juga rencananya kepada perwakilan setiap Tim di GOJA yang kebetulan hari ini hadir dengan formasi lengkap dan tidak ada satupun yang berhalangan hadir di rapat GOJA kali ini.
"Oke, Je!" jawab semua orang serempak.
"Tim Tiger bagi arah penangkapan. 3 kubu masuk dari pintu timur, 2 dari barat, 4 dari selatan, dan 1 tim dari pintu utama!"
"Tim kepung jaga semua titik mulai dari titik aman sampe titik rawan!"
"Jangan lakuin apapun sebelum gue kasih aba-aba. Inget kita mau lawan kejahatan bukan melakukan kejahatan!"
"Gunain senjata kalian saat nyawa kalian terancam bukan untuk menyakiti orang yang gak bersalah!" papar Rajendra memaparkan semua perintahnya kepada seluruh anggotanya.
"Oke, Je!" seru mereka serempak.
"Inget, HT selalu nyala!"
"Oke siap, Bos!"
"Sebelum berangkat, gue minta ketua tim buat absen siapa aja yang ikut!"
Rajendra mengangguk dan membagikan kertas dengan header logo GOJA kepada setiap ketua mulai dari Tim Eagle, Wolf, tanpa terkecuali. Untuk tim Tiger Rajendra lah yang akan mengabsen seluruh anggotanya.
"GOJA, gue minta kerjasamanya!"
**********
Malam harinya di rumah orang tua Rajendra, terlihat Rajendra tengah sibuk membaca semua dokumen klien yang putri kecilnya telah dibunuh secara tidak manusiawi oleh seorang pria yang dahulu adalah mantan kekasih dari ibu korban yang bernama Susi.
Semua foto bukti dan juga foto lokasi tempat kejadian berlangsung sedang Rajendra cermati dan teliti siapa tau ia bisa mendapat petunjuk dan informasi lain.
Polisi sudah mengurus kasus ini namun pelaku bisa lepas karena anak buah pelaku menebusnya dengan uang jaminan.
"Purnomo Tirto." geram Rajendra penuh dendam saat membaca nama pelaku dan semua tindak kejahatan yang pernah dilakukannya.
"Dia bandar," ucap Sabrina yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Rajendra.
"Bandar apa? Bandar togel?" tanya Rajendra dibalas kekehan dari Sabrina.
"Bandar begal sama perampokan. Kejahatan yang sering terjadi disini itu ulah dia sama anak buahnya." jelas Sabrina menjawab pertanyaan sang kakak.
"Kok bisa lepas terus dari hukum?"
"Duit lah, Kak, biasa."
"Gak akan gue biarin lo lolos lagi. Darah harus dibalas darah" tegas Rajendra menekan setiap kalimat yang ia ucapkan.
Drrd drrrd!
"Kak, HP baru?" seru Sabrina menaikkan satu alisnya.
"Hah?"
"Itu HP-nya bunyi."
Rajendra meletakkan foto target sasaran yang akan ia serang besok. Tangannya terulur untuk mengambil ponsel yang berbunyi dari arah meja yang ada di belakang tubuhnya.
Tertera nama 'Mama' layar hp itu. Rajendra mengernyitkan alisnya, bukannya mamanya sudah berada di surga?
"HP siapa ini?" batinnya.
"Halo,"
"Je!"
"HP aku kebawa kamu." ucap seseorang.
"Siapa?" Rajendra bingung.
"Aku Davina."
Rajendra terkekeh dan menepuk wajahnya, ia lupa jika tadi ia sempat mengambil ponsel Davina dan memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya.
"Gue balikin nanti, Papa, Sabrina, gue mau ke rumah lo." balas Rajendra menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Oke. Aku tutup ya telponnya." kata Davina.
Pip!
Panggilan terputus secara sepihak, Davina lah pelakunya.
Rajendra menatap foto wallpaper Davina yang begitu cantik dan juga manis. Senyuman manis dan bahagia terpampang nyata di wajah Rajendra.
"Kok bisa orang bully dia karena kecantikannya?" Batin Rajendra.
Ia membuka w******p Davina untuk mencuri nomor ponsel Davina diam-diam. Ia tahu ini tidak sopan namun hanya inilah satu-satunya cara agar ia bisa berkomunikasi dengan Davina.
Hingga akhirnya tatapannya tertuju pada beberapa nomor tak dikenal yang meneror Davina dengan perkataan jahat dan sangat hina.
"Dav, kok lo kuat sekolah disini?"
Rajendra segera memasukan ponsel davina kedalam saku celananya. Ia segera turun ke lantai bawah dan menemui papanya dan juga adik perempuannya--Sabrina--yang kini duduk di kelas 1 SMA.
"Ayo, Je!" ujar Hasan yang sudah menunggu di garasi mobil.
****
Selama perjalanan menuju rumah Davina, semua hening tak mengeluarkan suara apapun. Hanya ada suara radio yang mengisi kesunyian di mobil ini.
"Udah mau jadi suami harus bijaksana, bimbing istri, jaga istri. Jaga amanah mama kamu" ujar Hasan pada putra pertamanya itu.
Posisi Rajendra saat ini duduk di samping Hasan sementara Sabrina duduk di jok belakang sendirian.
"Pah,"
"Beda banget ya rasanya, dulu Mama yang duduk di samping Papa, sekarang Kakak yang gantiin Mama." ucap Sabrina begitu lirih dan sedih melihat keadaan kali ini begitu berbeda.
"Papa sama Kakak bakal jaga kamu kaya Mama sayang sama kamu. Walaupun posisi Mama gak akan pernah bisa diganti," kata Hasan menenangkan Sabrina.
"Kak,"
"Hmmm?"
"Kakak udah ngomong sama Kak Davina?" tanya Sabrina penasaran.
Rajendra mengangguk, Hasan tersenyum lebar dan begitu bahagia melihatnya.
"Terus gimana kata dia?"
"Dia ngikut"
"Kamu gimana? Terima?" tanya Hasan.
Rajendra menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Aje terima demi Mama."
Sabrina pun terlihat menganggukkan kepala, ia setuju dengan ucapan sang kakak.
"Iya, Kak, bener, kalo Kak Davina waktu itu gak ada buat nolongin Mama ke rumah sakit pasti Mama meninggal di jalan, dan kita gak bakal tau siapa pelaku yang tabrak Mama."
"Tapi, Pa," potong Sabrina di sela-sela omongannya. "Kak Davina sering banget di-bully sama anak-anak di sekolah. Kasian banget.." Sabrina seakan mengadu pada Hasan.
Sontak Hasan mengernyitkan alisnya, "Loh di-bully kenapa?"
"Karena Kak Davina cantik." jawab Sabrina apa adanya.
"Astaga anak sekarang cantik di-bully jelek di-bully" kesal Hasan menghela nafas kasar. Ia tak habis pikir dengan kelakuan anak jama sekarang yang semakin hari semakin aneh saja.
"Aku juga heran, Pah, padahal Kak Davina baik banget. Waktu itu aku telat gara-gara papa kesiangan bangun, dan kebetulan Kak Davina juga telat waktu itu. Dan upacara udah di mulai, dia rela pinjemin topi sama dasinya ke aku."
"Aku aman, tapi kak Davina yang kena hukuman." jelas Sabrina kepada sang papa. Mendengar hal itu Hasan tersenyum iba, ia melirik putra pertamanya yang kini sibuk menatap jalanan. Terbesit perasaan yakin di hatinya jika Rajendra akan menjaga Davina.
"Je, udah cinta sama Davina?" tanya Hasan sedikit menggoda putranya.
"Baru juga kenalan tadi siang, Pa." jawab Rajendra terlalu jujur.
"Hahaha ya udah besok juga cinta," ledek Hasan.
"Kalo gak?" Rajendra berbalik bertanya.
"Tetep jaga dia jangan tinggalin dia," ujar Sabrina ikut menimbrung pembicaraan.
"Gimana klien A1?"
"Besok nyerang, Pa." Rajendra memberitahukan apa adanya tentang rencananya terhadap kasus yang ia dapatkan.
Hasan sudah mengetahui soal GOJA satu bulan sebelum istrinya meninggal dunia, istrinya lah yang memberitahu kepadanya tentang sisi gelap putra pertamanya itu.
Hasan tak marah justru ia senang karena dirinya juga membutuhkan GOJA untuk mengurus perusahaannya. Dan kebetulan juga--Aris Dirgantara--Kakak Hasan menjabat sebagai anggota kepolisian yang turut menangani berbagai kasus kriminal yang membutuhkan bantuan GOJA. Oleh karena itu saat Hasan mengetahui jika putranya membangun GOJA ia merasa sangat bangga terhadap putranya dan akan terus mendukung GOJA sepenuhnya.
"Semangat kalo besok ada yang ketangkep bilang ke Papa biar Papa urus," kata Hasan dibalas anggukan dari Rajendra.
Tak terasa kini keluarga Rajendra sudah tiba di rumah Davina, Keluarga Davina sudah berkumpul di ruang tamu begitu juga dengan dengan gadis cantik berdarah Indonesia-Russia yang bernama Davina.
Kedua keluarga ini sengaja bertemu malam ini untuk membahas pernikahan kedua anaknya karena mereka sudah sama-sama setuju.
Rajendra terus menatap Davina yang duduk di seberangnya, gadis itu tengah menunduk seraya memainkan kukunya.
"Dav, HP lo,"
Davina mendongakkan kepala ke arah Rajendra dan mengambil ponsel miliknya yang tadi tak sengaja kebawa oleh pria itu. "Makasih, Je."
"Syukurlah udah kenal sama ngobrol bareng," puji mama Davina begitu sumringah melihat putrinya ternyata sudah mulai mau mengobrol dengan Rajendra.
"Jadi gimana kesepakatannya?" tanya Hasan to the point.
"Gimana kalo hari rabu?" sambungnya mengutarakan ide.
"Data nikah Davina sama Rajendra udah diurus kok."
"Gimana, Je, Davina?" tanya Hasan memperhatikan Rajendra dan juga Davina bergantian.
"Aje setuju." ucap pria bermata tajam itu dengan mantap.
Deg!
Davina membelalakkan matanya, bagaimana bisa Rajendra dengan begitu mudah mengucapkan setuju tanpa bertanya bagaimana pendapatnya?
"Davina gimana?" Hasan melemparkan pertanyaan itu balik pada Davina.
"Eee-"
Davina sempatkan untuk melirik sejenak Rajendra yang ternyata tengah menatap dirinya dengan tatapan tajam dan dingin hal itu membuat Davina ketakutan.
"I-i-iya boleh,"
Davina sungguh tak habis pikir dengan fakta yang menampar dirinya bahwa ia akan segera menikah dan menjadi seorang istri dengan begitu cepat. Terlebih di usianya yang belum saatnya untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
"Urusan biaya pernikahan biar kita yang urus sesuai permintaan almarhumah istri saya," papar Hasan kepada seluruh anggota keluarga Davina.
"Mmm, Om," panggil Davina pada Hasan dengan ragu.
Davina mencoba menyuarakan keinginan dan kata hatinya dengan begitu hati-hati.
"Iya, Davina, ada yang mau disampein?"
"Boleh gak kalo acara nikahannya rahasia aja jangan ada yang tau selain keluarga juga temen deket?"
Hasan mengangguk cepat. "Boleh nanti kita urus."
Tentu saja Hasan mengangguk karena pernikahan ini bukan hanya tentang wasiat Dira semata, ini tentang nasib Rajendra dan Davina, juga tentang hubungan keluarga Dirgantara dan juga keluarga Evans.
"Permisi, Om, Davina mau ke dapur dulu." Davina bangkit dari posisinya dan segera melangkah ke arah dapur.
"Dav, toilet dimana?"
"Hah!" ucapan itu membuat Davina terperanjat kaget. Suara bariton khas milik Rajendra itu berhasil membuatnya terkejut. Davina membalikkan badannya mendapati Rajendra tengah berdiri di belakang tubuhnya dengan wajah kebingungan.
"Kenapa, Dav?" tanyanya.
Davina menggeleng kikuk. "Enggak, Je."
"Oh iya, toilet di mana?" tanya Rajendra.
"Di belakang," kata Davina menunjukkan di mana letak toilet kepada Rajendra.
Davina putuskan meminum beberapa gelas air putih untuk mengurangi rasa gugupnya yang begitu parah, ia belum pernah segugup ini sebelumnya.
"Dav,"
Sial! Sejak kapan Rajendra sudah kembali dari toilet? Apa yang dilakukan pria itu di toilet? Mengapa cepat sekali?
"Iya, Je?"
"Lo kenapa?" tanya Rajendra penasaran saat ia melihat dengan jelas keringat bercucuran di kening Davina.
"Gak apa-apa kok." jawab Davina berbohong.
Mendengar jawab Davina, Rajendra hanya ber'oh' ria, ia tak memusingkan hal itu.
"Oh iya kertas kesepakatannya udah gue pasang figura," ujar pria itu diikuti dengan alis yang saling bertaut dari Davina.
"Hah?"
"Ada di kamar gue di apartemen,"
"Buat apa?" Davina masih tak habis pikir dengan semua yang Rajendra lakukan. Pria itu sungguh membuat dirinya penasaran. Dan ia yakin bahwa banyak yang Rajendra sembunyikan dari Davina.
Terbukti dari awal mereka mengobrol di kafe tadi saat Rajendra tiba-tiba keluar lalu memakai HT earphone dan juga sorot mata tajam Rajendra yang sepertinya menyembunyikan banyak hal darinya.
"Biar gue inget dan bisa hargai lo sebagai perempuan dan istri gue." jawab Rajendra apa adanya.
****
To Be Continued