Kini Ia sedang duduk di ruang tunggu dokter menunggu giliran, tak lama suster memanggilnya untuk melakukan pemeriksaan. Setelah hampir 15 menit pemeriksaan pun selesai, Ia langsung berjalan keluar rumah sakit. Tak jauh dari situ sebuah ambulance datang membawa pasien gawat darurat, entah kenapa Mutia merasa begitu penasaran terhadap pasien itu. Ia begitu ingin melihat wajah pasien itu namun terhalang oleh para perawat yang membawanya. Mutia sudah sampai di rumahnya, tapi Ia merasa bingung saat melihat semua saudaranya menatap penuh rasa empati padanya. Alvian meraih tangannya, Mutia menyadari bahwa ada yang sedang terjadi. “Mutia…..” ujar Alvian dengan suara bergetar menahan tangis. “Kenapa Kak?” tanya Mutia masih dengan senyum. “Mutia..Kamu yang tabah ya” ujar Alvian lagi. “Tabah,

