Haven tertawa.
Victoria mendelik kesal ke arahnya, "padahal tidak ada yang lucu!" bisiknya dengan kesal. Dan Fiona dapat mendengar itu.
"Kau mengancam orang tua ku?"
Fiona menatap datar Haven, "kau pikir hanya kau yang bisa mengancam mereka?"
Haven semakin tertawa, "lihat wanita ini. Kalian yakin akan menikahkan aku dengannya?"
"Hentikan Haven," Simon memperingatkan.
Haven memutar matanya dan punggungnya menyandar ke sandaran sofa.
"Iya, aku akan memenuhi syarat yang kau berikan."
Wajah Fiona berubah kaku. Simon sanggup memenuhi syarat yang ia berikan?
"Dad!"
Simon menatap Haven, "syaratnya hanya 2. Yang pertama bisa langsung aku penuhi." Simon kembali menatap Fiona. "Tapi untuk yang kedua, sepertinya butuh waktu untuk bisa aku kabulkan."
Fiona meneguk ludahnya dengan gugup. Jadi... Ia akan menikah dengan Haven?!
"Jadi pernikahannya tetap terjadi?"
Haven menatap Denzel. Dengan gerakan yang cepat sebelah tangannya langsung mencekik leher adik keduanya itu.
"Diam kau!"
"Haven!!" bentak Helena.
Haven langsung melepaskan tangannya dari leher Denzel.
"Pria gila! Kau mau membunuhku?!" Denzel terbatuk-batuk.
Haven tidak menjawab ucapan Denzel. Ia menatap tajam Fiona yang mematung di tempatnya.
"Sepertinya kau memang sangat ingin menikah denganku! Jika begitu, akan ku buat kau hidup bak di neraka! Kau tidak akan bisa tenang dan damai hidup satu atap bersamaku! Lihat saja apa yang bisa aku lakukan kepada mu nanti!"
***
Hari yang tidak Haven inginkan terjadi.
Ia tidak percaya. Ia akhirnya menikah, namun bukan dengan pilihannya.
Sebelum pemberkatan, ia kembali berdebat dengan Simon tapi orang tua itu selalu bisa membuat dirinya tunduk bahkan kedua saudaranya berubah bak pengawal yang selalu mengawasinya.
Beberapa anak buah Simon juga berdiri di depan gereja untuk memantau area sekitar. Di setiap sudut ada mereka, sehingga Haven merasa sulit untuk bergerak.
Jangankan kabur dari sana, untuk pergi ke toilet saja mereka mengikuti Haven hingga ke dalam toilet.
Sial!
Haven mengutuk semua orang yang sudah mempermainkan perasaannya. Ia sudah memiliki kekasih! Tapi mengapa bukan orang yang ia cintai yang berdiri di depannya?!! Kenapa malah orang asing yang tiba-tiba muncul dan masuk ke dalam keluarganya?!!
Haven hanya bisa berteriak dalam hati saat cincin pernikahan yang tidak ia harapkan itu terpasang di jari manisnya.
Jas dan kemeja putih formal terpasang di tubuh besarnya. Rambut coklat keemasan miliknya di tata serapi mungkin hingga memperlihatkan keningnya.
Fiona yang berdiri di depannya dengan gaun putih yang menjuntai hingga menyentuh lantai merasa gugup saat menatap wajah Haven.
Ia memang marah atas semua perlakukan Haven kepadanya. Tapi, kalau soal pesona Fiona harus jujur. Hari ini Haven terlihat sangat tampan. Lebih tampan dari biasanya.
Fiona merona.
Haven menyematkan cincin di jari manisnya.
Semua orang bersorak.
Fiona menelan ludah saat suara Victoria bergema.
"Dia mulai lagi!" gumam Haven melihat ke arah Victoria.
"Ciuman!! Ciuman!!"
Teriakan Victoria membuat semua orang mengikutinya.
Fiona yang merona semakin memerah dan malu mendengar kalimat itu. Ia yakin Haven tidak akan mau melakukannya.
Teriakan semakin keras.
Haven menatap Fiona yang sepertinya sudah malu. Bisa ia lihat kedua pipi wanita itu yang memerah.
Fiona bergerak sedikit ke arah Haven. "Tidak perlu di dengarkan," bisiknya tepat ke telinga Haven.
Haven yang kaget karena Fiona tiba-tiba bergerak ke arahnya langsung mematung. Ia kira Fiona akan melakukan apa yang diminta oleh tamu undangan.
Haven berdehem saat wajah Fiona menjauh darinya.
Haven menatap sekeliling. Para tamu undangan masih meneriakkan satu kalimat itu.
Perhatian Haven kembali pada Fiona yang menggelengkan kecil kepalanya. Tanda, jika Fiona tidak ingin mereka melakukan apa yang diminta oleh tamu undangan.
Haven mengedipkan mata sekali. Lalu sebelah tangannya menarik pinggang ramping Fiona lalu mendaratkan ciumannya ke bibir wanita itu.
Teriakan dan tepuk tangan terdengar di ruangan itu.
Fiona mencoba untuk menyadarkan dirinya sendiri. Jika apa yang dilakukan Haven hanyalah pura-pura. Yang dirasakan di bibirnya hanyalah ibu jari pria itu.
Fiona mendorong d**a Haven, "sudah ku bilang! Tidak usah dilakukan!" bisiknya menatap marah Haven.
Tangan pria itu masih bertengger di pinggangnya.
Haven tersenyum manis ke arah Fiona. Sebelah tangannya yang bebas menyentuh sisi wajah Fiona.
"Bukankah kita harus terlihat sebagai pasangan yang bahagia dan romantis?" bisiknya, lalu memutar tubuh Fiona ke depan. "Lihat. Orang tua ku terlihat sangat bahagia di sana!" bisiknya tepat ke telinga Fiona. "Kita tidak boleh menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi kepada orang lain kan?"
Fiona menatap Haven melalui bahunya.
"Jangan permalukan keluarga ku," setelah mengucapkan itu Haven mengecup leher Fiona.
Fiona yang terkejut dengan kecupan kecil itu langsung memutar tubuhnya menghadap Haven.
Pria itu hanya tersenyum ke arahnya tanpa tahu kalau saat ini Fiona sudah sangat berdebar atas apa yang dilakukan oleh Haven.
***
Mobil sport milik Haven berhenti di depan bangunan besar bertingkat 3 dengan cat berwarna coklat. Di luarnya di hiasi 2 pohon besar yang berada di setiap sisi. Halamannya luas dan besar yang ditumbuhi oleh bunga-bunga yang berwarna-warni.
Di sana juga ada beberapa pria yang memakai baju serba hitam yang sudah menunggu kedatangan Haven dan Fiona.
Salah satu dari mereka membukakan pintu mobil untuk Fiona.
Fiona turun dan menatap bingung sekelilingnya. Haven berdiri di sampingnya.
"Perkenalkan pak. Saya James. Saya ditugaskan bapak Simon untuk menjadi asisten sekaligus pengawal kalian berdua."
Haven menyambut jabatan tangan dari James.
James juga memperkenalkan beberapa anggotanya pada Haven.
"Mari, saya antarkan ke dalam."
Haven mengangguk. Fiona mengikutinya dari belakang.
James menjelaskan satu persatu ruangan yang ada di bangunan besar itu.
Salah satu syarat yang Fiona berikan kepada Simon dengan begitu mudah dipenuhi oleh pria tua itu.
Helaan nafas berat keluar dari bibir Fiona.
"Kau tidak suka dengan rumah ini?"
Fiona langsung menatap Haven yang berdiri di depan tangga.
"Aku..."
"Sudah terlambat untuk menolaknya. Harusnya sebelum kita menikah kau menolak semua ini." ucap Haven dengan ketus. Lalu menaiki anak tangga.
James yang berada di sana menatap bingung Fiona yang hanya diam di tempatnya.
"Nyonya harus segera istirahat."
Fiona tersadar. Ia tersenyum hangat ke arah James. Lalu mengangguk kepala.
"Kamar kita dimana?" Fiona yang di belakang Haven bertanya.
Mereka masih menaiki anak tangga.
"Kita? Kau mau sekamar denganku?" Haven berhenti dan memutar tubuhnya menghadap Fiona.
"T—tidak—"
Suara Fiona berhenti saat Haven turun dan berdiri di depannya.
"Tidak usah bermimpi untuk tidur sekamar denganku! Pernikahan ini hanya sementara! Setelah semuanya selesai! Kau dan aku akan kembali jadi asing dan tidak saling kenal! Camkan itu!"
Haven pergi dari hadapan Fiona yang hanya bisa terdiam di tempatnya.