HAVEN - Part 16

819 Kata
Haven berdiri di lantai 2 rumah. Di sana ada 2 kamar yang posisinya berada di pojok kiri dan kanan. Ia mendekat ke arah tangga yang menuju ke lantai 3. Bersamaan dengan itu James dan kedua temannya datang membawa semua barang milik Haven dan Fiona. "Bawa barangku ke lantai 3," ucap Haven sembari menaiki anak tangga. James yang bingung sempat terdiam selama 3 detik. Hingga suara Haven kembali terdengar dari atas. "C'mon James," James tersadar dan langsung membawa barang Haven menuju lantai 3 bersama salah satu temannya. Fiona yang juga sudah berdiri di0 lantai 2 menatap bingung kedua kamar yang ada di sana. Salah satu dari ketiga pria tadi membawa barang Fiona yang hanya 2 koper. "Kamar utamanya yang mana?" tanya Fiona menatap pria itu. "Yang sebelah kanan nyonya," jawabnya dengan menunjuk kamar sebelah kanan mereka. Fiona melangkah ke kamar itu. Ia buka pintu bercat coklat kehitaman di depannya. Pertama kali yang ia lihat adalah kamar yang dihias dengan lilin yang mengelilingi tempat tidur. Di atas ranjangnya ada taburan bunga mawar merah yang tersebar. Fiona tertawa kecil melihat hiasan aneh yang ada di kamar itu. "Anda kurang suka dengan hiasan kamarnya nyonya?" Fiona menoleh, "siapa namamu?" "Nama saya Ronald, nyonya." ucapnya dengan kepala yang sedikit menunduk. "Panggilan nyonya terlalu berat untuk ku," Fiona mengambil kopernya yang ada di tangan Ronald. "Tapi Anda istri dari boss saya," "Istri?" Fiona meletakkan kopernya ke atas ranjang. "Sejak kapan seorang istri harus tidur terpisah dengan suaminya?" Kepala Ronald langsung terangkat saat mendengar ucapan Fiona. "Lagi pula kami tidak saling mencintai. Mungkin nanti kalian akan sering mendengar keributan dan pertengkaran kami berdua," Haven berdiri di depan jendela dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya. "Berapa pengawal yang ada di rumah ini?" "Kurang lebih 50 orang, pak." jawab James yang berdiri 1 meter dari posisi Haven. "Mereka sudah sangat terlatih?" "Sudah pak. Mereka juga sudah dilengkapi dengan senjata masing-masing. Haven menganggukkan kepala. Kedua mata hazel nya terus tertuju keluar. Entah kenapa ia merasa area di sekitar rumah ini terasa tidak aman. "Apa ada yang terlihat mencurigakan di sekitar rumah ini?" "Sebenarnya, sebelum Anda tiba. Ada 2 mobil sedan warna hitam yang lalu-lalang di depan pagar rumah pak." Tubuh Haven langsung menghadap ke arah James. Prang!!!! Bunyi pecahan kaca begitu terdengar sangat keras. Haven langsung berlari keluar kamar dan James yang mengikutinya dari belakang. Dari arah kamar Fiona, Ronald langsung menyusul mereka berdua. Sesampainya di lantai bawah, semua orang sudah berkumpul di dekat jendela yang pecah. Haven mendekat ke arah jendela, dan ada satu buah batu yang cukup besar dibalut kertas yang diikat dengan karet gelang. Haven mengambil batu itu. Membuka kertas yang menutupinya dan membaca tulisan yang ada di kertas itu. "Wrathborn." James mendekat, "apa mungkin mereka sedang mengawasi kita pak?" "Depan pagar ada kamera pengintai?" "Ada pak," "Aku ingin lihat rekamannya." *** Haven berdiri di depan layar komputer yang menyajikan rekaman jika Wrathborn memang sedang mengawasi mereka. Bersamaan dengan itu, ponsel Haven yang ada di dalam saku celana berdering. "Halo Denzel," "Jangan bilang saat ini Wrathborn sudah membuat kekacauan." Ujung bibir Haven sedikit terangkat. "Instingmu memang sangat kuat. Mereka sudah memecahkan jendela rumah ku," "Kau tidak merasa curiga?" "Curiga?" "Darimana Wrathborn bisa tahu tempat tinggal barumu?" "Bukankah mereka tersebar dibeberapa tempat selain New York, LA, dan Manhattan?" "Tapi untuk di Chicago aku rasa mereka tidak bisa memasuki kota itu. Di sana di jaga oleh Obsidian." Haven diam sejenak. Ia memikirkan satu hal, "apa mungkin ada anggota mereka di sini?" Kedua alis James naik ke atas saat mendengar itu. "Aku rasa juga begitu. Tidak mungkin mereka bisa menghancurkan jendela rumahmu kalau posisinya tidak sedekat itu. Lagi pula pagar rumahmu sangat tinggi. Sulit bagi orang lain untuk bisa melihat bangunan itu dari luar." "Kau benar. Pasti salah satu dari mereka ada di sini." *** Langkah lebar milik Haven membawanya kembali ke ruang tengah rumah mewah dan besar itu. James dengan setia terus mengikutinya. "Kumpulkan semua anak-anak. Malam ini penyusup itu harus tertangkap." "Baik, pak." James pergi dari sana. Tatapan mata Haven berubah datar dan tajam. Pergerakan dari Wrathborn ternyata cepat juga. Ia tidak memikirkan jika kelompok itu tidak main-main dengan apa yang sedang mereka lakukan. "Sepertinya ini akan sangat sulit," "Apanya yang sulit?" Haven langsung memutar tubuhnya ke belakang. Fiona yang sudah berganti pakaian dengan gaun tidur selutut miliknya. Mata Haven menatap lekat Fiona yang berdiri cukup jauh dari posisinya. "Tidak mau menjawab pertanyaan ku?" Fiona mendekat. Haven mengalihkan perhatiannya ke arah lain, "sepertinya kau tipe orang yang suka menguping," Fiona yang sudah berdiri di depan Haven tersenyum sinis ke arah pria itu. "Aku bukan menguping. Suaramu terdengar, makanya aku bertanya." "Aku jelaskan pun, kau tidak akan mengerti." ucap Haven pergi dari sana. Fiona hanya menatap datar Haven yang pergi meninggalkannya. Kedua tangannya terkepal di samping tubuh. "Aku harus bertahan sampai ayahku ditemukan. Hingga hari itu tiba, maka hidupku akan kembali seperti dulu lagi." Fiona menutup kedua matanya, "sabar Fiona. Ini hanya sementara. Hanya sementara."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN