Haven menghisap rokoknya hingga habis. Ia buang puntung rokok itu dengan menginjaknya hingga hancur.
Dengan penampilan yang sama sebelumnya, masih memakai pakaian setelah acara pernikahannya selesai bahkan tatanan rambutnya masih bertahan hingga sekarang.
Ia memutar tubuhnya ke belakang.
Di halaman rumah yang besar itu. Sudah berkumpul 50 orang pengawal yang dikirimkan Simon untuk mengawasi dan membantu Haven.
Kedua mata hazel itu menatap satu persatu wajah yang ada di depannya.
Ternyata tak hanya pria, wanita pun juga ada. Namun jumlahnya tidak sebanyak anggota pria.
Haven menggerakkan perlahan kedua kakinya. Ia menatap dari bawah ke atas setiap wajah yang ia lewati.
Mereka berbaris ke samping. Dan setiap baris berisikan 10 orang.
Haven masuk ke barisan keempat, matanya bergerak menatap salah satu orang yang menurutnya berbeda dari orang-orang yang dikirimkan Simon.
Orang yang dikirimkan oleh Simon memiliki tato bintang di bawah telinga kanan mereka.
Tetapi untuk orang yang kini ada di depan Haven tidak memiliki tato itu.
Haven membandingkannya dengan orang yang disebelahnya, yang memang memiliki tato itu.
Senyuman menakutkan muncul di wajah Haven. Dengan gerakkan yang cepat, ia langsung menjatuhkan tubuh pria itu ke tanah.
Ia menginjak leher pria itu, "beraninya kau masuk ke wilayahku!"
Dari arah kamarnya, Fiona melihat semua apa yang Haven lakukan di bawah sana.
Ia yang berdiri di balkon kamar menatap kaku apa yang Haven lakukan saat ini. Kedua tangannya jatuh ke samping tubuh saat melihat Haven menghajar pria itu dengan membabi buta.
Tiba-tiba rasa takut menerpa Fiona. Haven menghajar pria itu tanpa ampun.
"Jawab!!!" teriak Haven di depan wajah pria itu.
Wajahnya sudah berlumuran darah.
"Siapa yang menyuruhmu?!" ucap Haven dengan tajam.
Pria itu hanya tertawa.
Haven yang tidak suka diremehkan kembali menghajar pria itu hingga tubuhnya terjerembab ke tanah.
"Sial!!" teriak Haven. "Berikan,"
James langsung menyerahkan apa yang Haven inginkan.
Haven menyulut rokok yang James berikan kepadanya, setelah itu ia berjongkok di depan pria itu. "Masih tidak mau bicara?"
"Lebih baik aku mati daripada aku harus memberitahukannya kepadamu!"
Haven tertawa, ia tatap rokoknya lalu mengarahkannya ke wajah pria itu.
Pria itu menjerit. Haven tertawa melihat ia yang kesakitan.
"Kau yang memilih untuk mati kan! Dan sekarang kau temui ajalmu!"
Dor!!!
Tembakan itu mendarat tepat di jantung pria itu.
Haven yang mudah tersulut emosi tidak mampu menahannya lagi. Ia terpaksa mendaratkan pelurunya ke jantung pria itu karena sudah main-main dengannya.
"Kau membunuhnya?"
Haven memutar tubuhnya ke belakang. Fiona tiba-tiba sudah ada di sana.
James dan beberapa anggotanya dengan sigap membawa jasad pria itu yang sudah kaku dan bersimbah darah.
"Kemana akan kalian membawanya—"
Haven menahan tangan Fiona yang hendak mengikuti anak buahnya.
"Lepas!"
"Kau mau melakukan apa? Menyelamatkannya?" Haven tersenyum sinis.
Tatapan marah milik Fiona terarah ke Haven. "Kenapa kau bunuh dia?!"
Haven melepaskan tangan Fiona, "apa perlu aku memberitahumu?" tatapan Haven berubah datar.
Kedua alis Fiona bertaut.
Haven mendekatkan wajahnya ke arah Fiona. "Dengarkan aku baik-baik! Kau itu bukan siapa-siapa! Kau pikir setelah pernikahan ini terjadi maka kau berhak tahu tentang semua yang aku lakukan?!"
Fiona mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh.
"Sepertinya aku harus mengingatkanmu tentang posisi mu di sini! Kau bukan bagian dari keluargaku! Kau juga bukan bagian dari hidupku! Sebaiknya kau jaga jarak dan tahu batasan tentang apa yang aku lakukan!"
Kedua mata Fiona berkaca-kaca.
"Orang asing seperti dirimu tidak berhak bertanya tentang apa yang sudah aku lakukan!"
Haven pergi dari sana dan sengaja menyenggol bahu Fiona dengan begitu keras.
Air mata Fiona mengalir di pipinya.
Dan untuk kesekian kalinya, ia menangis karena ucapan dan perlakukan Haven yang kasar kepadanya.
***
Matahari belum naik sepenuhnya. Tetapi Haven sudah sangat berkeringat pagi ini.
Setelah terbangun di jam 5 pagi, Haven memutuskan untuk berolahraga dengan berlari mengelilingi halaman rumah yang begitu luas.
Dan sudah 1 jam ia melakukan itu tanpa jeda.
"Boss begitu kuat,"
James menoleh ke arah Ronald yang berdiri di sampingnya.
"Sudah 1 jam dia berlari tanpa henti," tambah Ronald lagi.
"Mungkin boss sudah terbiasa melakukannya,"
Ronald mengangguk mendengar jawaban James.
"Aku baru tahu kalau boss dan nyonya di jodohkan,"
James kembali melirik Ronald. Lalu kedua matanya menatap sekeliling.
Mereka saat ini berdiri di depan pintu rumah dan sendang mengawasi sekitar.
"Kau bergosip dengan anggota wanita ya,"
Ronald tersenyum kecil, lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga James. "Boss membuat nyonya menangis semalam,"
Ronald kembali ke posisinya.
"Nyonya juga bilang, mungkin kita akan sering mendengar keributan dan pertengkaran mereka,"
James menarik nafas dengan panjang, "sebaiknya kau jaga mulutmu itu supaya tetap tertutup, Ronald." jawab James lalu bergerak menuju pintu karena melihat Haven yang sudah selesai berolahraga dan hendak masuk ke dalam rumah.
James membukakan pintu untuk Haven.
Haven melangkah dengan cepat menuju tangga yang bersamaan dengan itu ada Fiona yang baru saja turun dari lantai 2.
"Kau berolahraga?"
Haven mengacuhkan Fiona. Ia melewati wanita itu.
"Kenapa tidak ajak aku? Aku juga ingin berolahraga,"
Kaki Haven berhenti bergerak di anak tangga. Dari belakang bisa Fiona lihat kalau pria itu menghela nafasnya dengan begitu panjang.
Sepertinya Fiona kembali membuat kesalahan.
Haven memutar tubuhnya, tatapan datarnya terarah pada Fiona yang menunggu kata-kata apa lagi yang akan pria itu ucapkan untuknya.
"Seingat ku, kau bekerja sebagai dosen kan?"
Ekspresi Fiona berubah, kedua alisnya naik ke atas, "kau ingat?" ucapnya dengan semangat.
"Jika kau dosen, pasti otakmu sangat hebat dalam mengingat satu hal!"
"A—apa?"
"Kau lupa dengan apa yang aku katakan semalam?"
Kedua bahu Fiona turun.
"Aku tidak akan mengucapkannya 2 kali! Jangan sampai aku membuatmu menyesal karena telah mengganggu kehidupanku!"
Fiona hanya bisa menatap punggung Haven yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Ia menarik nafasnya dengan panjang.
Ia hendak kembali melangkah, namun tubuhnya mematung saat melihat James dan Ronald menatapnya dengan lekat dari depan pintu.
Fiona tersenyum kecil, "kalian mendengarnya?"